Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Ternyata Dia Magus


__ADS_3

"Tolong katakan apa maksud anda, mengundangku ke Paviliun Musim Panas ini?" kata ku blak-blakan.


"Lalu kita akan menyudahi basa-basi ini, dan aku akan mengurus urusanku sendiri" dingin terdengar, di barengi dengan wajah yang terlihat kurang senang.


Sejujurnya aku tidak suka diundang oleh orang yang tidak aku kenal. Mortezza Fallah ini, dia adalah sosok yang sama sekali aku tidak pernah mendengar namanya. Jika tidak menghormati nona Anna dari Drexx Inn Hotel aku enggan untuk bertemu pria hidung belang ini.


"Harap bersabar Nona Lea aku tidak bermaksud buruk dengan mengundang Anda di paviliun pribadiku ini.


Aku mendengar kisah-kisah heroik anda, tatkala berperang melawan Dark Elf di Kepulauan di Samudra Kalumish" jawabnya memuji. Tapi aku semakin berhati-hati.


"Kelompok Konglomerat Emas kami membutuhkan tenaga tenaga handa, muda usia, terlebih seorang calon Magus besar seperti anda" pungkas Mortezza Fallah.


Aku sedikit tersanjung mendengar penuturan pria itu. Biar bagaimanapun aku merasa bangga karena namaku menjadi perbincangan hingga ke Benua Upios ini.


"Maksudmu bahwa kamu ingin aku bekerja di bawah kelompok Konglomerat Emas kamu?" tanya ku memastikan.


Bukannya menjawab dan menjelaskan bahwa dia ingin merekrut ku, melainkan Mortezza Fallah itu hanya mengangguk kepala sambil tersenyum memamerkan raut wajah yang mempesona itu.


Sesungguhnya aku merasa terganggu setiap kali menatap matanya yang begitu tajam, bibirnya yang merah merekah mirip bibir anak gadis, dan entah mengapa aku merasa hatiku berdebar-debar tidak jelas.


Aku pernah bisa semua perasaan tak jelas itu dan mengatakan hal ini keras-keras.


"Akan tetapi sayang sekali aku adalah tipe orang yang hanya mau bekerja pada seseorang yang mampu menaklukkanku di dalam pertempuran" tantangku dengan wajah yang sengaja kubuat seangkuh mungkin.


"Bagus !" kata Mortezza Fallah.


"Aku juga tidak ingin membeli kucing di dalam karung, dengan mempekerjakan seseorang yang kehebatannya hanya kudengar dari mulut ke mulut, bercerita tidak pasti bahwa dia orang hebat.


Dan aku adalah tipe orang yang tidak mudah percaya hanya mendengar cerita-cerita burung atau kabar angin semata-mata" wajahnya kini tersenyum penuh ejekan dan entah mengapa perasaan tidak senang muncul di hatiku


Entah kenapa aku seperti terbawa emosi. Sebilah pedang secara ajaib, tiba-tiba telah terhunus di tangan kananku..


"Kalau begitu mari kita buktikan sesuatu yang anda katakan hanya kabar-kabar burung semata" tantang ku pada Mortezza Fallah.


Dengan senyum mengejek yang tak jua hilang dari wajahnya, pria itu berkata.


"Mari kita mulai ujicoba ini !"

__ADS_1


Sosoknya lantas berubah menjadi bayangan, tiba-tiba ruangan menjadi gelap, dia mengubah siang menjadi malam seolah-olah ada awan hitam menyelubungi seisi aula itu.


"Seorang pengendali cuaca" desisku sambil mengayunkan pedang.


Tapi menyala dalam warna biru putih membuat ruangan yang awalnya gelap kini berubah remang-remang, Warnanya unik kebiru-biruan.


Secara tiba-tiba satu tangan terlihat seperti mencekik leherku, membuat aku terkejut bukan alang kepalang.


'Dia bahkan mampu berteleportasi, penaklukan ruang dan waktu' di dalam hati.


Pedang berapi biru itu lantas kutebas ke tangan yang muncul dari Kehampaan, kini berubah menjadi asap gelap yang memudar tidak tersisa sama sekali.


Aku meneteskan keringat dingin, kebingungan tidak melihat lawan berada di sebelah mana.


'Ini adalah hal yang berbahaya. Musuh seperti ini dapat menebas leher kita sewaktu-waktu tanpa kita ketahui sama sekali' batinku ngeri.


Magic Fire !


Aku memerintah api untuk datang lantas membuat benteng api di sekeliling tubuhku, dengan was-was menunggu serangan tiba-tiba berikutnya.


Akan tetapi secara tidak terduga dari dalam tanah muncul satu tangan gelap mirip seperti tangan sebelumnya, itu menarik tubuhku hingga terbenam di dalam lantai marmer setinggi lutut.


Namun sayang seribu sayang. Rupa-rupanya Mortezza Fallah ini adalah seorang penyihir yang tingkat kemampuannya masuk kategori Magus level rendah, yang kemampuannya jauh berpuluh kali lipat dibanding kemampuanku hanya seorang Asisten Sihir level 13 belaka.


Pada akhirnya pertempuran itu terhenti ketika tangan Hitam tersebut melepaskan kakiku dan semua sihir ilusi pudar seketika.


Aku terjatuh dan terduduk setelah dikalahkan Morteza Fallah, Magus level Satu.


Dalam sistem peringkat Magus, seorang dengan kemampuan yang lebih tinggi dapat mengambil nyawa ahli sihir di peringkat bawahnya jikalau lawannya itu berhasil ditaklukan.


Aku beruntung, Mortezza Fallah Magus level satu itu tidak berniat menghabisi ku, melainkan ingin merekrut ku sebagai asisten dan pelayan pribadinya.


Dengan lesu aku terpaksa menerima semua ini setelah Morteza Fallah menjampi-jampi, agar kelak aku tidak memberontak dan berniat membunuhnya.


Kini Meskipun aku hidup bebas seperti biasa namun, sesungguhnya diriku telah disegel dan bersumpah untuk bekerja pada Morteza Fallah.


Aku baru menyadari dan paham mengapa Zalrin gadis keturunan Vampir itu menjadi budak atau bahasa halusnya adalah kekasih Morteza Fallah.

__ADS_1


***


Hari Berlalu dengan lambat tanpa terasa telah seminggu lamanya aku bekerja menjadi pengawal pribadi Mortezza Fallah di paviliun musim panas.


Tugasku sehari-hari tak lebih daripada duduk-duduk atau melihat-lihat keadaan sekitar. Mortezza atau magus itu belum sedikitpun memberikan tugas kepadaku sehingga waktuku masih banyak yang luang.


Jika kamu menanyakan bagaimana dengan sana gadis yang kuangkat menjadi pengikutku itu, dia juga aku boyong untuk tinggal di paviliun musim panas.


Memasuki minggu kedua pekerjaanku masih tetap seperti semula hanya mengamati dan duduk-duduk atau berjalan di taman semata. Aku bahkan belum tahu siapa Mortezza Fallah itu dan apa pekerjaannya yang sesungguhnya, sampai-sampai dia disebut sebagai pemilik kelompok konglomerat emas.


Hingga pada suatu ketika aku memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap dengan gadis Vampir itu, Zalrin.


"Mengapa kamu menceritakan kisah diriku dalam peperangan di Lautan Kalumish pada Mortezza Fallah itu.


Lihatlah kini dia telah menawanku dan menyegel ku untuk kemudian diubahnya menjadi senjata perangnya" maki ku pada Zalrin. Pembicaraan itu kami lakukan diam-diam di Hutan Osmanthus buatan.


Bukannya merasa bersalah yang ada malahan Zalrin balas mencaciku.


"Kamulah yang bodoh lemah dan tidak kompeten. Sebagai seorang pemanggil api Aku terlalu berharap banyak pada dirimu.


Perlu kamu ketahui keberadaanku disini juga sama seperti dirimu. Aku juga berada di bawah kendali dengan disegel oleh magus cabul itu, yang kemudian menjadikanku kekasihnya" kata Zalrin jijik.


"Setidaknya kau tidak perlu berpura-pura untuk selalu tersenyum kepada pria menjijikkan itu" kata Zalrin kini sedih.


Aku lantas berpikir bahwa diriku jauh lebih beruntung dibanding Zalrin. Di luar dari perhitunganku dia sebagai makhluk Abadi yang usianya mungkin telah ratusan tahun, akan tetapi adalah seorang gadis yang memiliki martabat dan tentu saja terhina ketika dijadikan Kekasih gelap oleh magus cabul itu.


Dengan lembut kini suaraku berubah.


" Dapatkah kamu menceritakan bagaimana hingga kamu bisa berada di tempat ini, Benua panas bernama Upios ini?


Dan Berapa jauh tempat ini dari Samudra Kalumish dan Benua casiopea kami?" tanya aku harap-harap cemas.


Salrin lalu menceritakan satu kejadian atau disebut konspirasi yang membuatku terkejut Tak Sanggup berkata-kata lagi.


Begini ceritanya... tutur Zalrin.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2