
Langit cerah tidak berawan. Sejauh mata memandang hanya hamparan langit biru seperti permadani diatas kepala, menyelubungi tanAh berpasir, terkadang bukit-bukit terjal penuh batu. Masih cukup lama waktu untuk langit menjadi gelap.
Aku membuka peta Padang Gurun Atulla, peta yang yang kudapat dari Mansour. Mengamati peta berwarna kuning kecoklatan - terlihat tua itu, aku menemui kenyataannya. Ternyata kami selama ini berjalan jauh dari yang dinamakan dengan Jalur Sutra.
Jalur Sutra adalah sebuah jalur perdagangan antar wilayah di Benua Upios, dimana Jalur Sutra dari Kota Sahireb, hanya memiliki satu tujuan yaitu Kota Azkabh, Ibukota Negri Chambat.
Dari Ibukota Azkabh lah, jalur sutra itu berkembang, menuju ke negri-negri tetangga di Benua Upios itu.
Demikian informasi yang diperoleh dari Arash. Namun aku tidak percaya seratus persen penjelasannya. Perjalanan hidup Arash sebagai tentara bayaran, hampa seputaran Kota Sahireb, Gurun Attulla dan kota-kota kecil dekat sini, yang namanya bahkan tidak tertulis di peta,
Kemudian aku memerintahkan Arash untuk menuntun kami berpindah jalur melewati jalur sutra tadi. Pertimbangan ku adalah, malam sebentar lagi akan datang, sementara tidak ada tempat yang pantas untuk kami jadikan tempat menginap nanti, selain tempat yang di peta jelas tertulis Pasar Gelap - The Bazaar of Wonder.
Ketika aku kebingungan dan tidak mengerti tak tahu pasti apa itu pasar gelap Gurun Atulla. Akan tetapi Arash menjelaskan bahwa di pasar gelap itu ada banyak sekali pedagang mulai melakukan transaksi barang-barang impor dari Negeri lain di luar Negri Chambat, dimana pedagangnya menjual barang selundupan itu dengan harga yang relatif murah.
Bahkan menurut Arash, disana juga tersedia akomodasi dan tempat makan, yang menjual jasa kuliner tidak terlupakan, dengan bahan-bahan makanan dan rempah yang unik, di samping kedai dan toko penjual berbagai macam benda-benda kuno atau yang disebut artefak.
Arash menambahkan bahwa di pasar gelap itu ada banyak sekali dijual bahan-bahan langka yang semuanya menjadi barang penting untuk digunakan oleh para alkemis atau para ahli sihir
Mendengar penjelasan Arash, dalam hatiku semakin bersemangat. Aku membayang kan menemukan harta karun unik yang tak pernah disentuh siapapun, tersedia di The Bazaar of Wonder.
Dengan tegas aku berkata pada Arash
"Ayo Arah, kita berpacu lagi. Aku berharap sebelum matahari terbenam nanti kita telah sampai di The Bazaar of Wonder itu.
Aku sudah membayangkan hidangan panas dan minum arak, memuaskan rasa lapar dan haus Ini...
Dan lagi, aku tak rela untuk tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit malam" kataku Dan disambut dengan gelak tawa tentara tentara bayaran itu
"Ayo kita berpacu" teriak Arash diikuti kami semua, pergi meninggalkan debu.
Sore telah berlalu, matahari hampir tenggelam di ufuk barat dan langit terlihat berwarna kemerahan, tak lama lagi malam akan tiba.
Kami berempat berdiri di suatu lokasi yang cukup besar, terdengar hiruk pikuk dari bagian dalam. Di pintu gerbangnya ada papan nama di atasnya tertulis besar the bazaar of Wonder.
Tak kusangka sama sekali, jauh di tengah sepinya Padang Gurun Atulla, ada satu kawasan perdagangan bebas pajak, yang ramainya mengalahkan Kota Sahireb.
__ADS_1
Aku terkagum-kagum, melihat banyak orang berseliweran, dalam balutan pakaian unik, seperti orang asing yang berasal bukan dari Negeri Chambat ini.
Kami berempat berjalan memasuki Ke The Bazaar of Wonder diiringi suara teriakan pedagang atau pelayan gerai yang menjual banyak bahan-bahan dan benda-benda aneh.
Aku memperhatikan tiap-tiap pedagang yang barang yang berbeda-beda. Ada perdagangan yang dengan wajah berkilauan terpantul cahaya, dia mempertontonkan kristal bersinar.
Ada juga yang menjual bubuk herbal, yang katanya diciptakan khusus untuk ramuan pengobatan. Bahkan ada yang terang-terangan berteriak bahwa dia memiliki artefak kuno yang dijual dengan harga bersahabat.
"Harga bersahabat?" tanya ku mengernyit kening
Sesungguhnya aku adalah individu yang tidak terlalu percaya pada pedagang bermulut besar, yang berteriak-teriak keras, yang menjual barang dagangannya terlalu murah.
Karena kebanyakan benda yang dijual murah itu adalah barang-barang imitasi, yang berfungsi tidak normal. Aku mengabaikan pedagang barang murah itu.
Mendadak satu suara dengan narasi yang menarik perhatianku, terdengar. aku memalingkan kepala dan melihat gerai milik si pembuat suara. Tertegun... ada banyak sekali barang dagangan berupa lembar-lembar kulit dan buku-buku tua di etalase tokonya.
"Apakah anda seorang petarung, atau ahli sihir peringkat pemula?
Mari mampir dan berbelanja di Toko Cakrawala Gurun. Ada banyak sekali buku-buku menari dan salinan-salinan kuno.
Jika anda beruntung, mungkin akan menemukan harta karun terselip di dalam salinan tua ini"
Aku berencana untuk kembali ke gerai bernama Cakrawala Gurun itu, yang menjual buku-buku dan salinan kuno itu.
Tapi itu nanti, setelah kami mendaftar untuk semalam tidur. Lebih baik aku tidak memberitahu Arash, Hadi atau Sataar, agar mereka tidak tahu ketika mantra sihir ku bertambah lagi satu.
Setelah selesai melakukan pembayaran administrasi penginapan bernama Purnama padang, pasir, aku bergegas kembali di Bazaar untuk melihat-lihat.
Tentara-tentara itu ku ijinkan istirahat atau melancong, setelah aku meninggalkan empat Eliksir Kristal, setengah pembayaran biaya sewa mereka.
***
Di Bazaar..
Aku berhenti di salah satu gerai
yang membuat mataku tertarik akan dagangannya. Rasanya ada aura mistis yang memanggil- manggil jiwaku untuk melihat bahkan menyentuh buku0buku tebak itu.
__ADS_1
"Ah.. ini dia, Toko Cakrawala Gurun yang tadi aku lihat" batinku senang.
Sementara aku melihat-lihat barang-barang istimewa di etalase, tiba-tiba seseorang menghampiri dan berkata,
"Selamat datang di toko Cakrawala Gurun kami. Apa saya bisa membantu anda untuk mencari sesuatu?"
Dia adalah seorang laki-laki setengah umur, mungkin 45 tahun usianya. Dengan ramah dia langsung mengajakku bercakap-cakap sambil mempertontonkan koleksi barang yang dia jual, di etalase pamer yang terlihat jelas dari luar.
Ada banyak sekali bahan-bahan yang terlihat kuno, itu adalah buku-buku atau salinan salinan teks kuno di lembaran kulit.
"Mari silahkan masuk di Toko Cakrawali Gurun ini nona. Perkenalkan, namaku Hamit. aku pemilik gerai Cakrawala Gurun ini" kata pria itu ramah.
Disapa Ramah seperti itu tentu saja membuat pembeli nyaman. Aku langsung mengajukan pertanyaan..
"Namaku Lea. Aku mencari sesuatu tentang Mantra Penyerangan atau Pertarungan bagi seorang asisten ahli sihir.
Aku Asisten Sihir level tiga" kataku.
"Ah .. anda seorang penyihir. Mari aku tunjukkan beberapa mantra serangan yang istimewa" kata Hamit masuk ke dalam toko itu.
Aku mengikuti Hamit, yang lantas mengeluarkan satu demi satu mantra pertempuran kelas tiga.
"Ini adalah mantra perusak berat khusus level tiga. Namanya adalah Mantra Kutukan Pedang
Ketika anda menguasai mantra ini, niscaya serangan mengerikan berupa irisan pedang panjang sebanyak tiga kali akan di pelaskan untuk mengutuk lawan anda. Aku jamin lawan anda akan langsung tewas, tak sempat disembuhkan bahkan oleh healer.
Syarat menguasai mantra ini adalah memiliki kekuatan sihir di angk 15. Jika anda memiliki nilai kekuatan sihir di bawah 15, aku sarankan jangan membeli mantra ini, meskipun anda adalah asisten sihir level tiga" jawab Mansour.
DIa melanjutkan..
"Konsumsi energi cukup banyak etika merapalkan mantra ini, oleh sebab itu, aku sarankan anda memiliki Eliksir cair yang cukup, jika menggunakan mantra ini dalam pertempuran"
Aku tertegun. Ini adalah mantra sihir kuat yang diperlukan ketika bertempur jarak pendek. Selama ini aku hanya memiliki Mantra serangan jarak jauh.
Tanpa berpikir panjang lebar, aku lantas membayar Mantra serangan Kutukan Pedang itu.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..