
Zemir si foliot, mahluk roh yang berjanji kontrak denganku, malam itu menghampiriku dalam wujud tentara perang Dorado.
"Apakah kau telah memperoleh informasi?" Tanya ku berbisik pada Zimmer foliot itu, takut kalau yang lain mengetahui kalau aku memiliki mahluk halus kontrak.
Sesungguh nya di dalam dunia magus kami, ada lima lapisan di dunia mahluk halus. Imp di lapisan paling rendah, menyusul foliot, jin afrit dll.
Manusia fana tidak bisa melihat keberadaan makhluk halus di tingkat- Tingkat itu. Penyihir atau magus, mampu melihat di lapisan pertama, sehingga Imp sulit bersembunyi meskipun menggunakan sihir.
Foliot di lapisan kedua, sehingga tukang sihir dan magus memerlukan kacamata khusus yang dibuat Alkemis untuk melihat lapisan kedua dan ketiga. Makhluk halus seperti jin, Afrit dan seterusnya, hanya dapat dilihat oleh Magus level tinggi yang kekuatan sihir nya sangat ditakuti.
Zimmer berkata lawan perang kami adalah Kekaisaran Aquila, dari Utara.
"Apa? " Aku hampir melompat
seketika aku menggigil tulang-tulang ku doakan meronta-ronta ketika mendengar bahwa lawan yang akan kami hadapi adalah tentara-tentara dari Negeri Aquila.
"Apakah kau tidak salah informasi?" Tanya ku menolak percaya.
Tentu saja aku pantas untuk terkejut. Pada kisah-kisah terdahulu, yang selalu diturunkan dari mulut ke mulut, cerita tentang perang antara empat Negara di Benua Casiopea ini, Negeri Aquila adalah satu-satu negeri yang tidak pernah kalah dalam berperang.
Negeri Aquila itu ini adalah negeri yang sangat kuat sangat, mereka amat mendominasi dengan pasukan tentara yang terlatih serta memiliki disiplin tinggi/
Konon pada perang-perang sebelumnya, Kekaisaran Aquila ini menyapu rata Negara Indus di Barat, hanya dalam satu malam peperangan. Konon mereka menggunakan sihir yang dibantu oleh orang-orang Negeri Hydra.
Kekaisaran Aquila selalu meminta bantuan Negeri Hydra, karena sihir Hydra adalah yang terkuat dengan jumlah Magi yang amat banyak
Itulah sebabnya Negeri Aquila itu hanya merasa takut dengan tentara tentara dari negeri Hydra yang rata-rata adalah tukang sihir serta magus magus peringkat tinggi.
Pernah dahulu sekali, ketika perang terjadi antara Hydra dan Aquila, tentara Hydra tak kenal takut meski jumlah mereka jauh lebih sedikit.
Zemir terlihat tersinggung dengan keraguanku. Dengan terlihat kesal, dia berkata kalau dirinya hampir dibunuh oleh Foliot dan Imp yang menjadi budak master sihir disana. Beruntung Zemir melarikan diri cepat-cepat.
Zemir Foliot itu meneruskan dengan melaporkan bahwa pasukan dari negeri Aquila mengerahkan 8 ribu tentara Infantri, setara 1000 pasukan kavaleri berkuda, 20 tukang sihir dan 1 Magus level 2 Pengendali Cuaca dengan kemampuan memanggil Petir.
Malam itu di tenda kami Meskipun aku duduk di depan api unggun namun rasa dingin yang asalnya bukan dari udara, melainkan rasa takut dari dalam diriku menjalar hingga ke kepala.
Seluruh sel-sel di tubuhku meronta-ronta mendengar cerita Zemir tentang jumlah pasukan Aquila serta berapa jumlah tukang sihir mereka.
Aku membayangkan betapa sedikitnya jumlah pasukan kami yang hanya terdiri dari 3 ribu pasukan Infanteri 500 Pasukan Kavaleri dan segelintir penyihir, yang semuanya masih berstatus siswa di Akademi Dorado dan Akademi Cahaya Primordial.
__ADS_1
Panglima Perang kamipun, Tuan Zachary Patani hanya seorang Magus di level 1.
"Kita hanya membawa diri menuju kepada kematian !" kataku kepada semir dengan menggigil.
Namun Zemir menyela. Katanya,
"Master, semua belum cukup.
Anda Bahkan belum mendengar keterangannya dengan lengkap" kata Zemir tanpa bermaksud menakut-nakuti.
Wajahku terlihat horor mendengar masih ada yang perlu aku dengar. Sesungguhnya aku merasa enggan untuk mendengarkan penjelasan dari hasil mata-mata Zemir. semua telah jelas bukan? Kekalahan di depan mata batinku loyo.
Aku berusaha menghargai makhluk halus kontrak ku itu karena dia menceritakan, setelah tadi mendengar dia dikejar-kejar oleh para penyihir dan Foliot Negeri Aquila dalam misi mata-mata itu.
Setelah melihat aku mereda, dan rasa takut ku sedikit menghilang, Zemmir melanjutkan.
"Yang aku dengar, bahkan pihak Kekaisaran Aquila telah melakukan kerjasama atau aliansi dengan mahluk Ras Vampire untuk menjadi pasukan penyerang udara.
Penyihir-penyihir dan Magi mereka konon telah melakukan kontrak darah dengan banyak sekali Imp dan Foliot untuk menjadi tentara perang khusus."
Tentu saja aku bertambah lemas mendengar penjelasan Zemir.
Kita akan mati !" kataku kepada semir bersungut-sungut.
"Kita ini ibaratnya anak domba lugu yang dibawa ke tempat pembantaian menyerahkan leher untuk dipenggal dan menjadi korban dari Kaisar Dorado" kataku kesal.
"Mengapa pula Kaisar kami tidak memenuhi tuntutan Aquila itu?" kata ku makin bersungut-sungut.
Zemir tak menyahut, lalu aku larut dalam lamunan, membayangkan kehidupan sebagai gadis dusun di Kota Scorpio. Meskipun miskin, namun tidak ketakutan seperti saat sekarang.
******
Malam masih berlanjut, langit semakin gelap ketika awan hitam menutupi bintang-bintang dan cahaya makin minim menerangi lapangan rumput tempat kami berkemah.
Aku memandang ke depan, ke arah padang rumput luas yang menjadi arena peperangan antara dua negara Benua Casiopea.
Aku berharap rembulan akan menampakkan cahayanya, dengan lingkaran Halo menghiasi Purnama, agar kami tidak menggigil dalam gelap seperti sekarang ini.
Sesekali terdengar suara burung gagak yang jumlahnya makin lama semakin banyak saja, berkaok-kaok seperti nyanyian kematian. Aku tahu betul. Makhluk itu selalu saja menebak dengan pasti, bahwa akan terjadi pembantaian serta nyawa-nyawa yang akan putus dalam pertempuran.
__ADS_1
"Diam kau ! "teriak ku kesal dalam hati.
"Sabar menunggu lebih baik ketimbang bersuara mengerikan seperti itu. Toh sebentar lagi mimpimu menjadi kenyataan. Ribuan mayat akan kau santap sebagai hidangan makan malammu" caciku dalam hati.
Sekonyong-konyong lamunanku buyar. Sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"Duar !"
Kedengaran suara ledakan samar- samar dari kejauhan. Ledakan keras yang arahnya berasal dari perkemahan tentara-tentara Negeri Aquila di jarak Dua kilometer itu.
Semua pasukan dari negeri dorado kami lantas siap-siap berdiri dengan kuda-kuda perang mendengar ledakan itu.
"Bersiap- bersiap semuanya"
"Siap-siap... Pasukan infanteri !"
"Pasukan Kavaleri!" teriak panglima perang kepada tentara dan kaum Knight
"Penyihir garis depan.. apakah telah siap?"
"Penyihir jarak jauh, perapal mantra.. apakah siap?" tanya Zachary Patani kepada kami.
semu serempak berteriak keras-keras. "Siap. Tentara akan bertarung hidup atau mati !"
Aku ikut-ikutan berteriak, membakar semangatku, guna mengusir rasa horor yang melanda awal-awal tadi.
Nyala api mulai meluap, menyebar dan langit di sebelah Utara lapangan rumput. Arena perang mulai berwarna kekuning-kuningan, terpantul nyala api yang dibakar tentara Aquila.
aku memperhatikan baik-baik. Ketika itu nyala api dari arah Utara dengan pendarnya yang demikian besar, menyinari sosok sosok tentara Negeri Aquila, sehingga bayangan panjang-panjang mengiringi terdengar suara derap kaki kuda, serta langkah-langkah kaki dalam hantakan sepatu dan bunyi baju-baju besi bergesekan, aku betul-betul merasa ada rasa takut yang belum pernah aku alami.
Namun di satu sisi, keinginanku untuk hidup membuat aku bersemangat untuk membunuh.
"Fire !" bentak ku keras-keras. Api menyala tinggi dari tanganku..
Aku berteriak menyemangati diri mengikuti yel-yel tentara yang mulai mengacungkan tombak-tombak perang.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.
__ADS_1