
Pada akhirnya meskipun aku sudah kehilangan minat dan tidak terlalu memikirkan mantra teknik transplantasi organ makhluk hidup ini, ternyata Tuan Hamit yang langsung datang sendiri mengantar buku itu dan meminta ku membayar setengah harga.
Tentu saja aku mau membelinya jika di jual setengah harga. Lagipula aku menganggap bahwa buku ini adalah satu teknik yang unik. Mungkin saat ini belum aku butuhkan, tapi kedepannya, siapa yang akan tahu.
Aku pun membayar salinan mantra yang katanya sulit dan tidak berfungsi pada bantak orang. Bukankah Aku adalah seorang penyihir afinitas api? Mungkin pertuntunganku akan berbeda.
Aku kembali ke penginapan, menyimpan buku itu baik-baik di dalam Tas Antariksa. Sesudah nya tertidur nyenyak, mimpikan aku sedang bertarung melawan makhluk Harpiest, dan aku menang.
******
Pagi itu cerah, angin berhembus lembut. Belum lagi ada debu berterbangan seperti ketika siang angin mengamuk marah membawa debu dari gurun membuat perih wajah.
Aku bersama Arash, Hadi dan Sataar berjalan mengendarai kuda melalui lintasan jalur sutra menuju ke tanda cross yang dibuat oleh Mansour, tanda yang dibuat di peta untuk menunjuk sarang tempat tinggal makhluk Harpiest itu.
Langit masih cerah tanpa awan. Pelan-pelan matahari mulai meninggi, dan menyiram cahaya panas mulai membakar kulit.
Menjelang tengah hari, rombongan kami mulai meninggalkan Jalur Sutera utama berbelok ke arah utara menyusuri lembah dan gunung berbatu di gurun Atulla. Ini sesuai petunjuk peta.
Meskipun berusaha bergerak cepat, akan tetapi karena medan yang kami lewati di lembah berbatu ini masih alami, berkombinasi jurang dan hal-hal tak terduga seperti makhluk gurun ular dan lainnya yang memaksa bertempur, menjelang sore hari barulah kami tiba di tempat sesuai tanda silang yang ditandai Mansour pada peta.
"Arash... coba kau lihat lagi peta ini. Menurutmu, apakah kita sudah dekat dengan lokasi sarang Harpiest itu?" tanya ku mulai kesal. Sejak tadi naik dan turun lembah berbatu, tapi belum juga kami melihat tanda-tanda serupa sarang makhluk itu.
Arash menjawab, mencoba menenangkanku.
"Sepertinya kita sudah hampir sampai. Aku melihat tebing kering di gua di depan kita".
Tanpa sadar aku mengernyitkan kening. Mataku melihat ada beberapa lubang di tebing-tebing itu, dan aku tidak dapat membedakan yang mana sarang makhluk itu.
"Apakah itu yang kamu maksudkan? Aku tak melihat adanya perbedaaan antara satu gua dengan gua yang lain" kata ku kesal.
"Aku berani menjamin. Sebagai tentara bayaran dan juga pemburu, aku memiliki insting khusus yang dapat membedakan gua kosong dengan gua berpenghuni, meski dari jarak jauh sekalipun" kta Arash membanggakan diri.
Mendadak anak buah Arash, Sataar berteriak..
"Wow, lihatlah gua ini! Apakah kalian berpikir itu adalah sarang tempat tinggal makhluk itu?"
Aku mendongak, mencoba melihat dari kejauhan. Memang benar. Gua yang ditunjuk Sataar, terlihat beda. Ada banyak ranting-ranting pohon kering yang berserakan di depan gua, bahkan kelihatannya ada batu-batu tersusun rapi, tinggi yang digunakan untuk menyamarkan lubang itu, jika dilihat dari jauh.
Beruntung kami sudah dekat, sehingga muslihat kanak-kanak itu tidak dapat mengecoh tentara-tentara pengalaman ini.
"Tepat sekali tebakan anda Sataar. Gairahku meningkat ketika melihat gua ini.
Kawan-kawan semua.. Apakah kamu telah siap untuk menjelajahi gua ini?"kata Arash sambil mencabut pedang bermata dua.
Aku mengangguk pertanda setuju, sementara dua anak buah Arash berbicara penuh semangat.
"Tentu saja! Ini adalah kesempatan yang langka.
Kita harus mengambil kesempatan ini, mungkin makhluk itu sedang tidak berada di sarangnya!"
Kami berempat kini berjalan hati-hati, pelan- pelan menelusuri satu lubang gua yang diperkirakan merupakan sarang dari makhluk Harrpiest itu.
Semakin dalam masuk ke dalam lubang itu gua, kami mendapati kenyataan bahwa semua keadaan di dalam Goa itu terlihat bersih, rapi seperti tempat tinggal manusia.
__ADS_1
"Sepertinya makhluk Harpiest itu sangat rajin membersihkan tempat tinggalnya ini" batin ku sambil berjalan waspada.
Akhir perjalanan kami menyusuri lorong gua itu, pada akhirnya sampai pada suatu ruangan lapang besar.
"wow..!"
"Amazing..!"
"I-ini bukan seperti sarang tempat tinggal makhluk terkutuk bukan?" kata ku terbata-bata.
Yang membuat kami terkejut berlebihan, karena pada kenyataannya di ujung lorong itu, ada ruangan besar seperti is dalam satu rumah yang lengkap dengan dapur dan semacam tempat eksperimen.
Ini adalah sebuah bekas satu laboratorium. Aku memeriksa satu demi satu benda-benda di laboratorium ini...
"Tak aku sangka kalau Harpiest itu ternyata tinggal di bekas laboratorium.
Bahkan semua peralatan seperti tabung reaksi kecil, perangkat ritual pemanggilan roh dan lain-lain, semua masih lengkap disini" Batin ku girang.
"Jika saja aku memiliki tempat ini, mungkin akan banyak eksperimen mantra dan ramuan yang dapat ku racik.
Jadi benar seperti apa yang dikatakan oleh Mansour penjahat itu...
Makhluk ini adalah hasil uji coba dari seorang Magus Kegelapan, ratusan tahun yang lalu. Magus sesat itu gagal menciptakan penggabungan makhluk, alih-alih malahan menciptakan satu monster, makhluk terkutuk seperti Harpiest" kesimpulanku setelah berkeliling melihat-lihat.
Sementara itu, tiga tentaraku itu terlihat diam, tak bergerak sama sekali dari pintu masuk ke ruang lapang sini.
"Hey, Arash, apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa kalian bertiga terlihat sangat takut?" tanya ku
Berusaha tetap tenang namun waspada, Arash menjawab.
Lagi pula, ini adalah sebuah laboratorium Dark Magus ratusan tahun lalu. Aku berpikir melihat ada sesuatu aura di dalam sana yang sangat mengerikan." kata Arash.
"Dia benar. Kami melihat satu-satunya jalan masuk hanyalah disini, dan sekat batu ini adalah pintu.
Kami takut bahwa kami terjebak di sini, lalu pintu batu ini bergeser dan kita semua akan mati karena tidak dapat keluar." anak buahnya yang bernama Hadi menambah cerita seram.
Aku baru saja akan mencela rasa ketakutan mereka, tapi Sataar menyerocos dengan wajah pucat, tak memberiku kesempatan.
"Aku pun demikian. Aku takut sampai-sampai berdiri mematung disini untuk berjaga kemungkinan buruk yang terjadi."
Rupa-rupanya tiga tentara sewaan itu ketakutan. Aku memang menyadari. Aura di dalam laboratorium tersebut terasa kental dengan hawa membunuh yang mungkin sengaja diciptakan,dan ditinggalkan dengan sengaja oleh Harpiest itu.
Biar bagaimanapun dia adalah satu makhluk sihir. Makhluk sihir biasanya memiliki ciri khas yang membuat mereka dapat menciptakan mantra-mantra, beda dengan manusia yang memerlukan kata-kata tatkala merapal mantra sihir. Makhluk-mahluk sihir seperti itu, selalu meninggalkan jejak khusus guna menakut-nakuti manusia makhluk Fana atau hewan buas pengganggu biasa.
Aku tidak marah dengan tentara sewaanku itu.
"Baiklah, kalian jangan takut. Tetap berdiri di jalan masuk dan berjaga-jaga. Beri kode khusus jika terjadi sesuatu"
Aku mulai melangkah ke sudut-sudut di ruangan berbentuk laboratorium itu, mulai mengamati satu demi satu catatan-catatan dan buku-buku peninggalan magus.
Ada banyak sekali buku-buku yang tidak penting. Itu adalah kisah-kisah tentang makhluk- makhluk mitologi dan makhluk makhluk legendaris, bahkan didalamnya ada terdapat juga catatan khusus tentang makhluk harpist.
"Makhluk legenda Harpiest?"
__ADS_1
Ku baca baik-baik buku tentang makhluk mitology yang menjelaskan tentang Harpiest.
"Harpiest atau Harpy adalah makhluk legendaris yang berasal dari Negeri nun jauh di tepi lautan.
Makhluk Harpiest ini sesungguhnya adalah burung setengah wujud wanita cantik yang kemudian menjadi mahluk terkutuk dengan kesukaan menebar maut.
Harpiest dapat di rekayasa dengan teknik mantra transplantasi tubuh burung ke tubuh seorang wanita... !"
Aku terhenti membaca buku makhluk mitologi itu. Aku kembali teringat dengan pesan dari mansour yang mengatakan bahwa sesungguhnya Harpiest itu hanyalah seorang wanita biasa.
Dia manusia seperti kami juga akan tetapi ke malang datang menimpa, dan dia dijadikan bahan percobaan oleh satu Magus Gelap peringkat tinggi.
Percobaan yang gagal mengakibatkan Harpiest itu hidup terkatung-katung dalam kutukan seperti sekarang. Hidup dalam kehinaan oleh manusia, namun mati pun tak bisa karena dia menjadi abadi. Membunuhnya adalah cara membebaskan dia dari derita.
******
Aku melanjutkan browsing atas buku-buku peninggalan sang magus.
Mata ku tertarik dengan satu buku yang tebal, dengan sampul gelap dan tulisan emas di bagian depannya. Ini adalah sebuah buku harian bertuliskan 'Dark Magus Catatan Penting'.
Aku tidak bisa menahan rasa penasaran. Aku harus membaca buku harian ini dengan hati-hati untuk mengetahui apa yang dikatakan di dalamnya. Aku berharap ini dapat mengungkapkan rahasia ajaib kekuatan Dark Magus.
Aku membuka buku harian itu dan melihat isinya.
"Wow, ini luar biasa! Ini catatan penting dari penelitian di Laboratorium Magus Gelap di Gurun Atula.
Aku bisa menggunakan catatan ekperiment ini, untuk menemukan lebih banyak tentang Dark Magus dan mungkin sedikit cara menjadi lebih kuat lagi?" Aku mulai membaca dan mencari tahu apa yang terjadi!
Aku membaca semakin asyik, tidak peduli dengan keadaan sekitar, kalau malam telah menjelang. Magus pemilik tempat ini telah membuat shir permanen yang membuat ruangan selalu terang, menyala akibat lentera-lentera yang berpendar secara sihir.
Aku membaca lebih lanjut tentang pengalaman eksperimen sang magus di buku harian itu. Aku lalu menemui kenyataan ada banyak petunjuk untuk memungkinkan seseorang ahli sihir mentransplantasi anggota tubuh, dengan mantra dari satu makhluk ke makhluk lain dengan cara yang aman.
Aku tak percaya dengan apa yang aku baca..
"Ini ada kaitannya dengan buku sihir teknik transplantasi yang kubeli dari Hamit.
Apakah ini hanya kebetulan semata?" batinku meluap dalam kegembiraan.
Sementara itu,
Ketika aku tengah asyik membalik-balik catatan harian sang magus, mendadak dari arah pintu masuk, muncullah badai angin yang menerbangkan Arash, Hadi dan Satar, membuat mereka melayang membentur dinding batu. Aku juga melayang terkena badai, lalu terpental membentur dinding.
Aku tidak sempat memperhatikan tiga orang tentara itu, apakah telah tewas atau hanya pingsan. Yang jelas benturan di dinding amatlah keras.
"Harpiest" batin ku ngeri.
Tak pernah aku menyangka kalau Harpiest itu dapat menimbulkan badai angin yang begitu dahsyat.
Sambil menahan sakit, tulang-tulangku terasa mengerti, aku berusaha keras untuk menstabilkan diri. Diam-diam tanganku mulai mengepal dan mencoba merapalkan mantra.
Aku ,melepaskan mantra Fire Arrow tapi terhenti Di tengah jalan ketika badai angin kuat itu membuat mantraku tidak bekerja sepenuhnya. Ku tatap mantraku yang meledak di tengah jalan saja, karena badai angin masih terus bertiup, masuk ke dalam laboratorium ini.
Bahkan pipiku terasa seperti akan copot dari tulang wajahku, karena badai angin yang amat kencang. Di Tengah ketakutan penderitaanku itu, aku berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari badai yang diciptakan Harpiest terkutuk itu.
__ADS_1
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..