
Aku melangkah cepat-cepat untuk menghindar tatapan mata pria yang menurut sangka ku, adalah orang yang sama yang ku lihat kala itu di Kota Scorpio. Aku pada akhirnya dapat bernafas lega setelah pada akhirnya pria bermata tajam itu hilang dari pandanganku.
Namun masalah baru kini muncul. Kini aku berada di tempat yang berbeda dibanding tempat aku berdiri sebelumnya yang jauh lebih asing. Jika di tempat kereta kami berhenti tadi adalah jalanan yang rapi dan bersih, kini aku sepertinya berada di sisi lain Kota Virgo yang bertolak belakang dibanding tempat sebelumnya. Tempat ini meski terlihat modern dibanding Kota Scorpio, namun terasa sedikit lebih kumuh.
Kaum pejalan kaki pun tidak serupa dengan kaum pria maupun wanita yang aku lihat sebelumnya. Disini meskipun mereka terdengar berbicara dalam logat yang menurutku keren dan modern, akan tetap aku merasa dari dari tutur kata orang-orang itu, mereka seperti agak lebih kasar dibanding orang-orang menarik di tempat sebelumnya aku berdiri tadi.
"Semua gara-gara si mata hijau itu !" aku mengutuk di dalam hati atas kemunculan pria tampan bermata hijau tadi, yang menyebabkan aku lebih tersesat lagi di kedalaman ibukota Dorado ini.
Namun seseungguhnya aku tidak peduli dengan suasana ini. Yang aku pusingkan saat ini adalah bagaimana cara dapat tiba di Akademi Militer Dorado. Satu-satunya tempat yang aku tahu adalah Akademi Militer Dorado, meskipun aku sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang akademi itu.
Yang aku tahu bahwa di akademi itu aku harus mencari Tuan Tuan Shaakir El-Bacchus. Kepada Tuan Shaakir lah aku akan memperoleh tiket sekali jalan untuk mengubah nasibku dari seorang gadis yatim piatu, untuk menjadi seseorang yang setidak nya berarti dengan menjadi abdi negara.
Langit belum juga gelap, dimana cahaya terang masih terlihat seperti siang hari, kendati ini telah jam setengah tujuh malam. Semua di tempat ini begitu berbeda dengan kondisi di Kota Scorpio kami. Jika di kota tempat kelahiranku itu dengan jam yang sama, sudah dapat di pastikan semua telah menjadi gelap segelap tinta.
Aku lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang gadis pelayan yang bekerja di sebuah tempat minum-minum bernama Tavern. Menurutku wajah gadis itu terlihat lugu dan dapat diajak bekerjasama.
Kulihat gadis itu sejak tadi berdiri dalam wajah sedih, dan selalu menyapa dan sepertinya tengah berusaha menggaet pelanggan Tavern tempat dia bekerja. Dia berharap dengan wajah polosnya itu, akan ada calon pelanggan yang tertarik dengan penawarannya, lalu mereka akan mampir dan minum-minum di dalamnya, menghabiskan waktu di sore nan indah ini.
__ADS_1
"Salam nona, er aku adalah pendatang di kota ini. Kebetulan aku..." alangkah terkejutnya aku. Gadis yang menurutku berwajah lugu itu dengan amat keras meneriaki ku dan mengusirku pergi.
Namun apa yang aku harapkan adalah terbalik seratus delapan puluh derajat dibanding apa kenyataan yang terjadi.
"Pergi sana kau perempuan peminta-minta !" pekik gadis lugu itu. Tentu saja aku tersentak kaget.
"Apakah dia memakiku? Salahku apa?" tanyaku didalam hati.
"Apakah kau buta dan tidak tahu kalau aku juga tengah mengadu nasib dengan bekerja membanting tulang? Lihatlah karena keberadaanmu yang begitu memilukan ini, sampai-sampai semua pelangganku jadi enggan untuk mampir" gadis itu meludah ke tanah. Wajah lugunya berubah menjadi wajah iblis yang galak. Dia jelas-jelas menyalahkanku atas ketidak beruntungannya.
"Ok, aku memang perempuan desa. Sudah puaskah kau mencaciku?" batinku dengan perasaan campur aduk.
Kalian membentuk komplotan kejahatan yang selalu berpura-pura terlihat seperti manusia teraniaya, lalu ketika kita lengah dan iba atas kemiskinan kalian, di saat itulah kalian akan menggondol semua barang milik kita, sampai kita jatuh bangkrut dan terpaksa ikut-ikutan menjadi pengemis seperti kau !"
Aku semakin terkejut dengan kekasaran dan sikap tidak sopan gadis berwajah lugu itu. Di Kota Scorpio kami, walaupun kami miskin dan penuh dengan berbagai orang-orang semisal para pelaut dari berbagai negeri, namun kami masih memiliki sikap ramah. Tidak seperti gadis berwajah lugu ini.
Aku baru saja akan membalas kata-kata gadis penjual jasa dengan penjelasan ala diriku - wanita dusun dari kota pelabuhan Scorpio, ketika itu aku mendengar suara geraman binatang.
__ADS_1
"Oh Tuhan !" batin ku dalam hati. Aku berdoa semoga suara geraman itu bukan suara anjing.
Aku pelan-pelan membalikkan badan.
"Mati aku !" aku menangis di dalam hati ketika melihat apa yang ada di belakangku.
Gadis lugu itu melepaskan seekor anjing bertubuh tinggi, berwarna hitam dengan kaki-kaki yang panjang. Mulutnya menganga dalam suara menggeram, dimana gigi-gigi runcing muncul menghias wajah hitam legamnya.
"Gigit dia !" titah gadis yang ku sangka lugu itu kepada anjingnya.
Aku langsung berlari tanpa menunggu hitungan kedua kalinya. Sementara itu di belakangku, suara anjing menggonggong terdengar.
Aku berlari membabi buta, entah kemana sudah aku pergi, itu aku tak tahu. Yang ada di dalam pikiranku adalah selamat dari anjing galak itu.
Brak !
Aku terjatuh ketika di tikungan toko-toko bernuansa suram itu, muncul seorang laki-laki. Laki-laki bertubuh tinggi langsing, berwajah tampan dengan mata yang tajam berwarna hijau emerald.
__ADS_1
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.