Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Tirkelgen kanattar


__ADS_3

'Tirkelgen kanattar !"


Aku mengucapkan mantra kuno dari bahasa kuno. Itu adalah bahasa dari wilayah Benua Tengah, benua dari mana penyihir-penyihir kuat berasal.


Asap tebal muncul menyelimuti dua bilah Rainbow Wing.


'Benda itu bereaksi !


Ini tanda kalau sayap Pelangi itu tidak mati. 'Roh di dalamnya masih masih hidup' batin ku girang.


Aku buru-buru melepaskan semua pakaian ku, polos tanpa sehelai benang menutupi tubuh ini. Proses transplantasi membutuhkan tubuh telanjang, agar penyatuan tulang Rainbow Wing di punggung ku berjalan mulus.


Lagipula, dengan melepas semua pakaian di tubuh, hawa panas yang timbul akibat penyatuan sepasang benda asing itu akan cepat pudar karena gesekan udara dingin.


Memang sengaja aku melakukan proses ini malam hari agar udara ekstrim gurun, cukup untuk meredakan panas akibat sihir transplantasi.


Aarrgghh


Aku menjerit sangat keras, ketika dua sayap itu masuk secara sihir ketika proses transplantasi sihir berlangsung.


Aku ingin pingsan saja, ketika sayap Pelangi itu menerobos, membongkar daging di tulang belikat ku - Scapular Spine. Aku merasa aka mati saja tatkala selesai mengebor daging tulang belikat ini, sayap itu kemudian mematahkan tulang belikat guna menyatukan diri dengan tulang di sayap itu.

__ADS_1


Aku sudah memperhitungkan kondisi kritis seperti saat ini, jauh-jauh hari. Itulah sebab nya aku hanya mau menerima Shana - perempuan sebagai asisten laboratorium ku.


Ketika dalam kondisi kritis seperti saat ini, tanpa mengenakan apa-apa, tugas Shana sebagai gadis kecil yang merawatku, tanpa perlu aku merasa malu dan ketakutan ketika pingsan nanti.


Tiga hari lamanya aku demam tinggi, akibat penyatuan Rainbow Wing di punggung ini. Luka akibat pengeboran yang dibuat Wing Rainbow, mulai menutup, tampak agak mengering. Rasa demam pelan-pelan berkurang dan suhu tubuhku tidak sepanas beberapa hari yang lalu.


Hari ke tujuh, keadaan ku mulai pulih, meski tidak seratus persen langsung kembali normal.


Aku menatap diriku di cermin besar. Mata ku terbelalak melihat penampilan ku sekarang ini.


'Apakah Malaikat muda di depan cermin ini adalah diriku?' bisik ku lemah, tak percaya dengan apa yang aku lihat.


Yang aku lihat di cermin adalah, penampakan seorang malaikat berwajah pucat, tampak lelah dengan rambut lurus sedikit acak.


Aku mengagumi penampilan ku yang hanya mengenakan kain penutup dada seadanya - terlihat tak nyata menyerupai makhluk abadi.


Shana yang sejak berdiri menatap ku penuh pemujaan, tak kuasa menahan diri untuk berkomentar.


"Nona..


Anda terlihat sangat menakjubkan. Jika saja aku belum mengenal anda sebelum ini, aku akan berpikir kalau nona adalah makhluk abadi, datang dari negeri para dewa"

__ADS_1


Aku tersenyum, tak mengelak pujian Shana. Ku akui kalau aku memang terlihat menakjubkan.


"Terima kasih pujian nya Shana.


Akan tetapi dengar lah penjelasan ku. Simpan dulu pujianmu itu, ucapkan sekali lagi setelah aku melakukan gerakan uji coba dengan Rainbow Wing ini" kata ku berusaha merendah.


"Sekarang lihat kemampuan terbang ku"


Aku mengepakkan sayap Pelangi itu. Aku sungguh terkejut ketika aku mampu melayang - terbang.


"Shana.. lihat aku dapat terbang" teriakku bersemangat.


'Mari kita coba terbang tinggi'


Wush !


Tubuhku terbang, kemudian aku merentangkan sayap itu. Tidak perlu menunggu dia kedipan mata.


Tabu-tahu saja aku melesat cepat keluar dari rumah itu. Aku tahu-tahu telah terbang mendekati awan. Hatiku masih tak percaya kalau aku dapat terbang.


Bersambung.

__ADS_1


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2