Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Peta Gurun Atulla


__ADS_3

Aku masih merunduk, bertahan hidup karena pengaruh asap racun membuatku lesu. Jadi... meskipun tubuhku terasa lemas. Namun aku bersyukur bahwa daya tahan sihirku berdasarkan statistik, sebagai penyihir level 3 ada pada angka 10. Itu sangat membantuku untuk menawarkan semua racun yang berada di dalam tubuhku.


Diam-diam aku memaki


"Sudah sepantasnya jika 21 Penyamun itu menerima kematian.


Terlalu banyak sudah nyawa orang tak bersalah yang mereka ambil, baik melalui pedang atau racun seperti yang terjadi padaku saat ini"


Memang ledakan api akibat mantra fire arrow itu betul-betul membawa dampak yang mengerikan. Selain daripada suaranya yang menggelegar, aku melihat kenyataan di depan mata tatkala asap berkabut ledakan mantra api, sirna tertiup angin padang gurun.


Teriakan pilu dan jerit kesakitan lalu sudah. Sekarang adalah suasana yang hening dan sepi..


"Mungkin merek semua telah mati" batinku.


Kemudian ketika keadaan betul-betul kembali normal, dimana asap kabut sama sekali tidak terlihat lagi - memudar terbawa angin gurun, samar-samar dengan kepala yang masih pening akibat akibat racun, aku melihat pemandangan yang mengerikan.


Ada lebih dari 20 orang yang terbaring kaku, berlumuran darah di Padang Gurun. Hanya dua kemungkinan, antara mati atau masih hidup.


Waktu pun berlalu ketika tubuhku semakin membaik dan Daya tahan yang semakin meningkat, mengusir sendiri racun dalam tubuh... pelan-pelan aku berdiri dan memeriksa sosok sosok yang bergelimpangan.


Semua terlihat mengerikan berlumuran darah namun tidak ada satupun di antara dua puluh satu orang itu yang masih bergerak menandakan bahwa mereka semua telah tewas terkena mantra Fire Arrow.


Meskipun cukup tragis, tapi aku tidak menyesal sama sekali ketika melihat orang-orang itu tewas bergelimpangan seperti itu.


Merekalah yang terlebih dahulu menyerang kami bahkan berniat mengambil nyawa ku dengan melempar dua puluh satu asap beracun.


Beruntung daya tahan tubuh ku kuat dan mampu bertahan sampai menawarkan racun itu dari dalam , dan tidak mati.


Lagipula bukankah dengan kematian para penyamun itu, padang Gurun Atulla akan semakin berkurang tingkat kejahatan nya.


Walaupun aku tahu, sesungguhnya perilaku kejahatan seperti ini ibaratnya adalah patah satu akan tumbuh seribu yang lain. Namun setidaknya aku pernah membantu menumpas orang yang jahat yang menebarkan kengerian di padang gurun ini


Kelak ketika semua ini terungkap mungkin akan ada orang yang bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepadaku, Lea sang gadis penyihir pemanggil api, pikirku menghibur diri, mengusir semua rasa bersalah.


Ketika aku akan berlalu mencari Arash, Hadi dan Sataar tentara sewaan ku itu, mendadak aku mendengar satu rintihan, suara sedih meminta pertolongan.


Cepat-cepat aku mencari sosok yang merintih itu lalu aku mendapati kenyataan bahwa ternyata dia adalah Mansour pimpinan dari kelompok Penyamun Mantel Hitam.


Ketika aku berjalan mendekati Mansour wajahnya tergambar rasa ketakutan. Itu terlihat nyata nyata setelah cadar penutup wajah koyak tersingkap akibat ledakan mantra Fire Arrow.


Aku menatap dingin ke arah Mansour yang terlentang dengan berceceran darah, yang keluar dari dadanya.


Sepertinya ledakan itu membuat sebagian tulang rusuknya remuk dan organ bagian dalamnya hancur.


Itu terbukti dari darah yang mengalir tak berhenti. Dan jika dibiarkan terus-menerus maka dia akan mati karena kehabisan darah.

__ADS_1


Kondisi itu terlihat mengenaskan dimana seorang yang dalam keadaan sekarat, namun belum juga mati tapi dia terus menerus menderita rasa sakit luar biasa.


Meskipun sesungguhnya aku cukup prihatin dengan keadaan Mansour akan tetapi aku mengeraskan hati dan berkata kepadanya dengan dingin


"Berikan peta padang Gurun Atull, beserta petunjuk, dimana sarang Harpiest yang kalian lindungi itu.


Mata Mansour terbelalak, terlihat dia mengungkapkan penolakan. Namun jauh sebelum Mansour mengambil langkah bunuh diri, aku cepat-cepat meneteskan satu ramuan kekuatan itulah eliksir berwarna biru muda yang langsung tertelan, melebur dalam mulutnya.


Aku tertawa licik karena eliksir selain berfungsi untuk mengembalikan kekuatan dari seorang penyihir dia juga dapat memperpanjang usia orang sekarat.


Jadi ini berarti bahwa Mansour teta[ hidup, akan tetapi dalam waktu beberapa lama ke depan, dia akan menderita kesakitan karena luka ledakan mantra api.


Ini sebenarnya lebih mirip dengan tindakan penyiksaan dan jika terjadi pada seorang Knight atau Penyihir, mereka lebih memilih untuk mati daripada hidup dalam kondisi sekarat dan kesakitan seperti ini.


"Tolong bunuh saja aku.


Jangan kau biarkan aku hidup dengan penderitaan seperti ini, Ingatlah untuk berbuat kebaikan pada orang yang sebentar lagi akan mati ini" kata Mansour, memohon, meminta kebaikan hatiku untuk membunuh dia.


Dengan dingin aku berkata padanya,


"Berikan padaku peta terlebih dahulu dan aku akan memperpendek usiamu.


Lalu kau akan mati dengan tentram tanpa kesakitan lagi".


Mata mansour terlihat menyala, nyata betul kalau dia marah. Itu tersirat dari ekspresinya seolah-olah ingin menelan ku hidup-hidup.


"Tidak perlu kau menghakimi ku dengan tatapan jahat mu itu, seolah-olah aku adalah seorang penjahat Dunia.


Kau ingat-ingatlah... bahwa jumlah manusia yang kau bunuh, itu jauh lebih banyak daripada yang pernah aku bunuh.


Dan cukup sudah, tidak usah terlalu menatapku penuh menghakimi, seakan-akan Aku adalah seorang penjahat.


Padahal, kenyataannya kaulah penjahat yang sebenarnya, bukan aku" jawabku dingin.


Wajah Mansour langsung terlihat memburuk. Dia terdiam dengan raut yang terlihat bertambah tua seakan-akan dalam sekejap mata dia menjadi lebih tua 10 tahun dari usia sebenarnya.


Mungkin karena berpikir ingin berbuat kebaikan di akhir hidupnya maka Mansour merogoh sesuatu, keluar dari dalam tempat rahasia yang hanya dia ketahui.


Mansour terlihat ikhlas ketika dia menyerahkan padaku, satu gulungan kertas yang terlihat sudah tua, namun tebal dan belum koyak sama sekali.


Dengan antusias aku langsung membuka peta gurun Atulla, dimana pada salah satu bagian gambar, ada terdapat tanda X.


Di tempat yang bertanda X itu letaknya pada pegunungan, dan aku duga kalau itu adalah sarang tempat tinggal HArpiest.


Mansour membenarkan bahwa tanda X itu adalah tempat tinggal sang Harpiest.

__ADS_1


Mungkin ini adalah kata-kata terakhir Mansour, ketika dia menceramahiku yang terlihat antusias dengan peta baru itu.


"Aku memperingatkan kepadamu perempuan penyihir !" kata Mansour.


"Harpiest itu adalah makhluk hidup biasa seperti kita pada awalnya. Dia awalnya adalah manusia.


Lalu dia kemudian menjadi korban uji coba seorang Black Magus, ratusan tahun yang lalu. Dia kemudian menjalani kehidupan sebagai makhluk terkutuk dan menjadi abadi, hidup sengsara.


Aku berdoa, semoga kamu memiliki kemampuan yang cukup, yang setelah berhasil menemukan dia akan langsung membunuhnya.


Aku kasihan Harpiest itu. Sudah terlalu lama dia hidup dalam penderitaan berwujud monster mengerikan yang hidupnya abadi" kata Mansour yang mendadak matanya mengejang, tiba-tiba terbelalak terlihat tak percaya.


Mansour langsung menghembuskan nafas terakhirnya saat itu, ketika aku tanpa sungkan sungkan telah menghujam dadanya dengan belati, yang sejak tadi telah ku pegang.


Mansour bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih atas kebaikan ku membebaskan dia dari siksa dan derita dunia ini, ketika dia telah menghembuskan nafas akhirnya.


Aku berpikir, lebih baik diamati saat ini ketimbang dia masih bisa hidup akan tetapi penuh dengan penderitaan. Semu organ organ dalamnya yang rusak tidak berguna lagi, itu hanya akan memberi kesakitan selama sisa hidupnya.


Dan pada akhirnya pimpinan penjahat yang terkenal di gurun Atula, pemimpin mereka kelompok penyamun yang dinamakan Mantel Hitam, harus mati ditangan perempuan penyihir ini, seorang gadis pemanggil api.


Aku kembali mengamati peta yang diberikan Mansour, lalu mengira-ngira jarak dari tempat ini ke sarang Harpiest.


Sesungguhnya aku amat lah gembira mendengar cerita yang dituturkan Mansour tadi, aku tak peduli apakah berita itu betul, atau kah hanya karangan dia semata.


Aku menyimpulkan bahwa sarang tempat tinggal Harpist, sesungguhnya adalah bekas laboratorium atau tempat uji coba seorang Magus level tinggi ratusan tahun yang lalu.


Sambil melamun dadaku berdegup kencang ketika membayangkan, akan ada begitu banyak sumber daya sihir yang akan aku panen. Bahkan mungkin terdapat salinan teknik-teknik khusus mantra yang akan memperkuat kekuatan tempur ku.


Sesudah aku membiarkan semua angan angan itu aku lantas berbalik belakang dari keberadaan tentara sewaan ku Arash, Hadi dan Sataar. Aku memanggil memanggil mereka di antara tebing bebatuan, yang ku pikir mereka ada di dalam gua-gua berjejeran.


Aku tertawa keras-keras ketika melihat 3 orang tentara itu tergopoh-gopoh merunduk keluar dari lobang gua tempat persembunyian mereka.


Kataku dengan mencibir,


"Aku tak menyangka sama sekali kalau kalian bertiga adalah pengecut, yang bersembunyi di dalam lubang seperti tikus menghindar dari kelompok Penyamun Mantel Hitam itu !"


Seketika wajah 3 orang itu memerah. Dan dengan malu-malu Arash bertanya


"Lalu dimanakah mereka para Penyamun Kelompok Mantel Hitam itu?"


Dengan nada yang terdengar sedikit sombong aku berkata keras-keras.


"Mereka semua telah mati. Aku membunuh mereka dengan sihir ku sebagai seorang pemanggil api"


Seketika Arash, Hadi dan Sataar terdiam. Mereka yang pada mulanya memang sudah menjaga jarak dengan ku, takut karena aku adalah penyihir... Kini kian jelas di wajahnya mereka.. rasa segan bercampur takut kepada ku.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2