
Meskipun kekuatan tempur ku hanya bernilai 0,5 akan tetapi jelas saja sasaran yang tepat dari tendangan ku itu tepat mengenai bagian perut Rose dan tentunya menimbulkan rasa sakit yang bertahan cukup lama.
Aku mendekati Rose, mengulur tanganku untuk membantu nya berdiri. Dengan tulus aku berkata,
"Sorry Rose, itu bukan kesengajaan. Rupa-rupanya aku melakukan gerakan refleks, sehingga membuatmu kesakitan"
Rose mendongak lalu memandang wajah ku. Aku menjadi lega ketika melihat wajahnya tidak menyimpan dendam sedikitpun. Rose memegang tanganku, lalu berdiri dan kami berpelukan. Ketika berpisah, Rose mengingatkanku sebagai berikut :
"Ingat Lea, tekun-tekunlah kamu berlatih.
Kedepannya kita akan sparing lagi, dan situ aku akan menaklukkanmu" kata nya serius.
Aku tertawa kecil dan berkata,
"Tentu saja Rose.. aku bersedia kapan saja untuk melakukan latih tanding melawan dirimu.
Sekarang saat yang paling baik adalah kamu pergi meminta ramuan pada klinik akademi" kata ku setengah mengejek. Kelas pun bubar.
Selepas itu aku buru-buru berlari untuk mengikuti kelas ramuan dan kendali sihir yang diajarkan oleh Tuhan theodolit. Untuk pelajaran yang satu ini, kelas kami bergabung dengan siswa dan siswi dari Akademi yang berada satu tingkat diatas kami siswa pemula.
Aku masuk dan memilih duduk paling belakang, di kelas yang sesungguhnya adalah laboratorium ramuan. Aku memperhatikan Chino Akae dan Sakandhi Rokana yang duduk berdampingan, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
Aku juga mencatat di dalam hati, bahwa sekarang ini sikap kedua teman kelas sihirku itu, mulai bersikap sedikit lunak kepadaku. Diam-diam aku memperhatikan Sakandhi Rokana itu. Tubuhnya menjulang, cukup tinggi untuk anak usia lima belas tahun seumuranku.
Wajah Sakandhi memang terkesan orang-orang keturunan dari barat sana, akan tetapi aku harus mengakui. Cowok itu sesungguhnya berwajah tampan, asalkan dia tidak mempertunjukkan sikap tengil dan angkuh itu.
Aku membayangkan mata kelabu serta kulit kecoklatan Sakandi, dan membayangkan bagaimana penampilan anak itu jika mengenakan pakaian resmi penyihir? Tentu nya dia akan bertambah tampan lamunku.
Entah mengapa, tiba-tiba pipi ku terasa panas. Pasti wajahku yang berkulit kuning ini terlihat memerah.
"Hush Lea.. kamu datang kesini untuk menjadi seorang ahli militer atau penyihir kerajaan. Bukan datang untuk memadu cinta" batin ku mengingatkan diri.
Kembali aku melamunkan dan berpikir. Apa yang membuat dua anak kompak itu kini bersikap sedikit baik kepadaku? Apakah itu mungkin karena di pelajaran tempur beberapa waktu lalu ketika aku mengeluarkan kekuatan sihir api membuat mereka menjadi trauma dan enggan untuk mengajakku di dalam konflik atau masalah lagi? Apakah itu karena Sakandhi menyimpan perasaan khusus terhadapku? pikirku dalam rasa percaya diri yang berlebihan. Siapakah yang lebih menarik antara Sakandhi atau Jerry? Ah... aku bingung menilai siapa yang paling tampan di mataku.
__ADS_1
Sambil menggoyang kepala, aku membuyarkan semua lamunanku tentang anak laki-laki. Rasa-rasanya aku semakin melamun, semakin tidak tahu malu diriku larut di dalam khayalan.
Tuan Theodorit berbicara panjang lebar tentang jamur lingzhi, tanaman rohani, makhluk atau binatang iblis serta benda-benda roh dan lain sebagainya yang dapat digunakan untuk mengelola atau mengolah suatu ramuan. Itu hanyalah penjelasan secara umum menurutku.
Sementara itu, aku mulai terlihat aktif dan sangat berminat mendengar penjelasan Instruktur Theodorit. Terlebih-lebih ketika dia menjelaskan sedikit tentang teknik dan tata cara membuat eliksir cair - tentu saja aku memasang kuping lebar-lebar, karena inilah yang aku cari-cari.
Aku terlihat makin antusias dan sering sekali bertanya tentang tata cara bagaimana teknik pembakaran ketika membuat eliksir, apakah diperlukan kuali atau tungku khusus? apakah diperlukan api khusus yang memiliki panas yang di dibutuhkan untuk membakar ramuan sehingga menyatu dalam larutan eliksir itu.
Aku juga menanyakan bagaimana cara menuangkan dan ramuan-ramuan sebagai katalisator yang umum harus digunakan namanya apa saja ? Demikian antusia dan tertariknya aku, sampai-sampai aku merasa seolah-olah aku sendiri yang ada di dalam kelas itu.
Ketika teman di sampingku, namanya Erwin berpura-pura batuk-batuk 'uhuk-uhuk' seketika aku tersadar. Bukankah aku terlalu lancang memonopoli kelas ini? Dengan ekor mata ku aku dapat melihat jelas. Sakandhi ROkana, cowok yang dulu membenciku, menatapku dengan wajah yang sulit ku tebak apa maksudnya.
Bahkan Tuan theodolit sampai-sampai bertanya dengan nada bercanda kepadaku
"Lea Bukankah anda adalah seorang petarung? Mengapa anda begitu tertarik sekali dengan bidang ramuan ini?
Well secara khusus aku melihat kamu sangat berminat dengan teknik membuat elixir cair !"
Dengan wajah yang terlihat malu-malu Aku menjawab bahwa sesungguhnya aku ingin membuat sendiri ramuan elixir, daripada aku menghambur-hamburkan uang dengan membeli elixir cair yang menggunakan elixir alat pembayaran.
Tuan theodolit mengangguk-anggukan kepala dan berkata bahwa
"Aku berharap agar engkau berhasil membuat ramuan itu dan tolong beritahukan kepadaku, jikalau kau seorang pemanggil api bukan seorang pengendali elemen kayu itu, telah berhasil mampu mengolah ramuan sebaik yang dapat dilakukan seorang calon ahli ramuan nanti" jawab Tuan Theodolit meragukanku.
Diam-diam di dalam hati aku menertawakan kata-kata Tuan theodolit itu. Karena sesungguhnya dia tidak tahu bahwa aku adalah seorang calon penyihir yang multitalenta. Meskipun aku sebagai pemanggil api, sesungguhnya aku sangat mahir dalam bertempur seperti seorang ksatria knight atau bahkan membuat ramuan-ramuan seperti seorang peramu ramuan. Hanya saja aku memang akan menyerah jika diriku disuruh untuk membuat benda-benda ajaib sebagaimana yang dilakukan oleh Alkemis atau calon Alchemist.
Waktu berlalu cepat.
Selesai dengan kelas ramuan aku tidak kembali ke kamar untuk istirahat. Yang ada adalah pergi ke perpustakaan dan mulai membuka buku-demi buku, mempelajari begitu banyak literatur tentang teknik dan tata cara membuat elixir.
Aku telah memutuskan dan bermimpi, kalau aku akan mendapat uang banyak, dengan menjual ramuan hasil buatan ku sendiri. Lalu aku akan menggunakan uang itu untuk membeli sumber daya untuk mengubahku menjadi seorang terkenal di Benua Casiopea ini.
Sebelum sore menjelang dan sebelum hari menjadi gelap, aku belum merasa lelah. Lalu aku memutuskan pergi ke bagian Trading Academy di mana di lantai satu itu aku, aku kembali berjumpa dengan toko Billy si Fatty.
__ADS_1
"Hai Lea..
Apakah kamu akan berbelanja lagi?" tanya Fatty dengan ramah.
Spontan aku menjawab..
"Tentu saja.
Aku ingin kamu mengeluarkan daftar benda-benda seperti yang aku tulis ini dari rak penyimpanan".
Aku lantas mengeluarkan secarik kertas yang didalamnya tertulis berbagai macam bahan bahan yang diperlukan untuk membuat elixir cair.
Eliksir cair adalah elixir sumber energi yang dibutuhkan oleh penyihir untuk mengembalikan semua tenaga setelah pertempuran dengan menggunakan mantra sihir.
Fatty meneliti kertas itu.
"Well Lea ...kelihatannya kamu akan membuat eliksir cair itu bukan?"gumam Fatty sambil terus menelusuri bahan-bahan yang ku tulis. Sesudahnya..
"Baiklah aku akan mengikuti permintaanmu. Semua yang tertulis di dalam kertas ini kebetulan tersedia di toko ku dan aku akan menjual dengan harga yang murah" Kata Fatty.
"Aku menduga, sepertinya di masa datang nanti kamu akan menjadi salah satu pelanggan tetap ku" kata Fatty.
Aku tersenyum mendengar puji-pujian dari Billy cowok gemuk itu lalu berkata,
"Tentu saja aku akan menjadi pelanggan tetap mu.
Terlebih lagi ketika aku berhasil membuat ramuan ramuan elixir cair ini. Tempat yang pertama kali akan aku datangi untuk menjual semua ramuan hasil buatan ku adalah toko kamu ini"
Dengan wajah yang terlihat cerah penuh kegembiraan Billy mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku
"Deal !" katanya percaya diri.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.