Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Di Hamparan Ladang Gandum Luas


__ADS_3

  Ketika aku mulai pasrah dengan keadaanku kondisi kaki ku yang tak dapat kugerakkan, tiba-tiba aku mendengar suara lenguhan kecil, lalu gigitan serigala di kakiku melemah.


   Aku menoleh kebelakang sambil berdoa semoga kakiku belum terlepas karena cabikan gigi makhluk brutal itu. Nyatanya yang kulihat saat ini adalah sosok satu serigala yang terkulai lemah di tanah, dalam keadaan bersimbah darah terkena tebasan pedang.


   Knight itu tampak buas sambil memegang pedang di tangannya, sementara empat serigala yang mengeroyoknya tadi, hanya diam tak berkutik dengan kondisi nyawa mereka telah pergi menemui raja neraka.


"Terima kasih sebelumnya telah membantuku dengan membunuh satu srigala" kata Knight itu hangat. Dia menjulurkan tangannya, lalu memegang tanganku sambil membantuku berdiri.


   Ketika pintu gerbong kereta terbuka karena keadaan menjadi kondusif, aku menghambur ke dalam gerbong kereta dengan buas. Sementara itu, perempuan gemuk yang banyak bicara tadi terlihat pucat ketika melihatku yang tampak garang dengan memegang belati penuh darah di tangan.


"Tolong... jangan bunuh aku" suara perempuan itu gemetar ketika aku menempel belati berdarah di leher menggumpal penuh gajih tersembunyi itu.


"Cukup !


   Hentikan tindakan sia-sia itu !" teriak kusir, memerintahkan aku untuk menghentikan tindakan intimidasi itu.


"Lepaskan dia, dan hindari pembunuhan. Kau akan menjadi buronan jika membunuh perempuan itu" 


   Aku membuang ludah ke arah kaki perempuan yang ketakutan itu, sambil memaki.


"Kehidupan di masa perang seperti ini..


untuk mengambil nyawa tidak berharga seperti kau, adalah hal mudah" kata ku mengancam.


"Jauhi aku selama perjalanan ini atau aku akan menjadi kalap dan menusuk dada gemukmu dengan belati ini"


   Kata-kataku membuat wajah perempuan itu bertambah pucat. Dia berusaha berkata seolah-olah meminta maaf, namun yang keluar dari mulutnya adalah lenguhan yang sengau mirip suara kerbau yang akan disembelih.


   Aku kembali turun dari kereta, lalu bergabung bersama Knight yang kulihat mulai menguliti serigala-serigala tak bernyawa itu.


"Terlalu rugi bukan? Jika di jaman susah penuh perang seperti ini, dan kita menyia-nyiakan daging segar di depan mata" 


   Aku menggumam mengiyakan kata-kata Knight itu, lalu ikut-ikutan membeset satu ekor serigala lainnya.

__ADS_1


   Tidak membutuhkan waktu terlalu lama bagi kami untuk membakar - setelah daging serigala itu bersih, setelah si pejuang itu selesai menggarami dan memberi bumbu kering ala kadarnya pada daging serigala. Kemudian wangi daging bakar menyebar dengan harum aroma barbeque di seluruh area hutan.


   Aku melirik tajam ketika melihat kepala-kepala tersundul keluar dari pintu kereta, menyusul kaki-kaki manusia berjalan mendekati kami. Sebagai catatan khusus, aku melihat perempuan gemuk itu ada diantara penumpang lainnya, yang kemudian tanpa malu-malu dia mengambil paha serigala yang paling besar untuk dia santap.


"Makanlah sekenyang-kenyangnya, selagi daging tersedia di depan mata.


   Kamu tidak akan dapat makan kenyang, ketika daging kamu sendiri yang berada di dalam perut serigala putih ini" kataku menyindir si gemuk, sambil tanganku memenggal sepotong daging di bagian paha.


   Sepertinya kulit perempuan itu itu terbuat dari kulit badak yang tebal, karena dia masih dengan gaya santainya, mengunyah daging serigala sambil berceloteh ribut kian kemari.


   Knight penjaga kami menatapku sambil memberi kode agar aku bersikap lebih sabar. Aku akui sendiri, entah mengapa disaat aku pergi meninggalkan Kota Scorpio, bukannya merasa takut dan kesepian, malahan yang ada di benakku adalah aku bebas dan akan menjadi petualang yang liar.


"Mungkin aku bahkan akan melintasi negeri lainnya, berkelana sambil menimba ilmu untuk menjadi petarung atau Knight yang disegani" batinku.


   Sepertinya darah petualang orang-orang Han dari Negeri Hydra demikian deras mengalir didalam tubuhku, sehingga membuatku tiba-tiba menjadi liar seperti sekarang.


"Bahkan mungkin aku akan belajar tentang sihir atau tenung. Bukankah sebagai orang berdarah campuran Han ini, sudah seharusnya kalau aku memiliki kemampuan mengendalikan sihir bukan?"


******


   Kereta yang kami tumpangi kembali bergerak, dan kami semua penumpang ini kembali tergoncang-goncang ketika kuda pada kereta itu menambah kecepatannya seperti berburu di hutan.


"Kita telah terlambat dari jadwal yang semestinya!" teriak kusir kereta, ketika seorang penumpang mencoba menanyakan perihal kereta yang berlari kencang seperti kesetanan itu.


   Setelahnya, kami semua para penumpang ini berusaha mencari posisi terbaik dan berusaha tidur. Ketika semua orang mulai tertidur lelap - terlebih si perempuan gemuk yang mulai mengeluarkan suara-suara ngoroknya, mirip suara sapi disembelih, aku tetap tak dapat memejamkan mata.


   Isi kepalaku seperti berjalan kesana-kemari memikirkan banyak hal. Aku bahkan teringat kembali dengan sepotong surat kecil yang ditinggalkan Tuan Shaakir El-Bacchus kala itu.


   Aku mengeja kembali kata demi kata yang ditulis pria itu sebagaimana berikut.


Dear Lea,


   Dengan menyesal aku haru pergi tanpa berpamitan secara langsung dengan mu. Menurut penglihatan mataku seorang militer ini, instingku mengatakan kalau kau adalah sosok yang cocok untuk menjadi seorang militer.

__ADS_1


   Pengalamanku sebagai tentara dan pelatih di Akademi Militer Dorado, mengatakan bahwa kau adalah sosok yang istimewa.


   Oleh karena itu aku menitipkan beberapa keping perak dan tembaga untukmu.


   Datanglah ke Ibukota Dorado, Kota Virgo dan cari aku di Akademi Militer Negri Dorado.


   Di sana kau akan berlatih pertempuran untuk menjadi seorang militer, dan juga sedikit kelas penguasaan teknik sihir.


   Kau adalah mix suku Han bukan? Aku benar-benar tak sabar melihatmu ketika nanti menjadi siswa Akademi Dorado dan berlatih menggunakan sihir, sesuai pembawaan garis darah keturunanmu.


   Namun, jika kau tidak berminat untuk menjadi seorang militer, kau dapat menggunakan uang yang kutitipkan untuk keperluanmu.


Tertanda Shaakir El-Bacchus.


   Aku masih tak dapat memejamkan mata, sambil kembali berpikir berulang-ulang kali.


"Sudah tepatkah keputusanku untuk bergabung di Akademi Militer Dorado? Ataukah aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan ini?" 


   Masih tetap dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. pada akhirnya aku tertidur pulas dengan memotivasi diriku sendiri, bahwa semua keputusanku ini telah tepat, sesuai cita-citaku selama ini.


   Pada sore keesokan harinya, kami melewati kota Aries, dan kereta hanya mampir sebentar guna mengisi air dan pakan jerami kering yang menjadi makanan dua ekor kuda yang menarik kereta kami.


   Dua jam kemudian kereta itu kembali melaju, membelah gelapnya malam jalan dari Kota Aries menuju ibukota Dorado, Kota Virgo. Sepanjang jalan hanya pemandangan sepi berupa hamparan luas ladang-ladang gandum tak bertepi, yang menjadi sumber penghasilan utama rakyat di Provinsi Aries.


   Bahkan sampai pagi menjelang, ketika matahari mulai menampakkan wajah genitnya, aku masih melihat pemandangan ladang gandum luas, dan sesekali terlihat sekumpulan rumah-rumah petani pemilik ladang gandum tersebut.


   Wajahku memperlihatkan ekspresi gembira, ketika kusir kereta kami memberi pengumuman bahwa sekitar pukul empat sore nanti, kami akan memasuki ibukota Dorado, yaitu Kota Virgo.


 


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2