
Sepeninggalnya Zalrin, aku Hanya berdiam diri di dapur, merenung bersama dengan Betty yang menghiburku. Tentu saja aku masih merasa Terpukul atas upaya pembunuhan yang akan dilakukan Zalrin kepadaku tadi.
Betty berulangkali menenangkan ku dan menyuruhku untuk meminum segelas coklat panas buatannya, yang menurut dia hal itu akan membuatku menjadi tenang. Tapi, tidak semata-mata aku lantas menenggak minuman yang terlihat mengepul menyiarkan aroma harum coklat yang sebenarnya membuatku sedikit tergugah.
Sesungguhnya aku masih terbeban dengan memikirkan seandainya Zalrin gadis Vampir itu berhasil membunuhku, lalu aku akan mati di suatu Negeri antah berantah ini, yang tidak ada seorangpun mengenal diriku.. Oh hatiku terasa pilu. Aku tidak ingin mati di satu tempat asing, di tempat yang tidak menerima ku sebagai tamu melainkan tawanan ini, pikirku kalut.
"Well.. setidak nya mati di negri dimana orang-orang mengenali dan menyayangi kita, menurutku itu pantas.
Selang beberapa saat kemudian setelah aku merasa tenang kini aku memiliki minat dengan minuman panas mengepul itu. Mungkin Betty benar, segelas minuman coklat panas akan membuat ku tenang.
Tatkala aku tengah menyesap minuman coklat panas yang katanya menenangkan itu, tiba-tiba Kravas masuk kedalam dapur, suasana hening sebentar... lalu dia berkata kepada Betty bahwa dia ingin bicara empat mata dengan ku.
Betty bergegas meninggalkan dapurnya setelah Kravas bertitah. Seketika itu pula semua kesibukannya dengan mengiris- iris daging dan sayuran santap siang nanti, dia hentikan dan mengikuti instruksi Lord Kravas.
Ketika hanya tersisa kami berdua di dapur kosong itu suara keras Kravas laki-laki Vampir itu berbicara dengan nada lembut kepadaku.
" Lea... Apakah kamu baik-baik saja?" Dia menatapku dalam.
Ini adalah percakapan terlembut yang pernah aku dengar dari pria Vampire yang galak itu. Selama ini, jika dia bercakap-cakap dengan ku. Itu ibaratnya seorang panglima tentara yang tengah memberikan perintah atau instruksi kepada seorang prajurit perangnya.
Namun saat ini tiba-tiba semua berubah. Dia begitu perhatian dan lembut. Lalu entah mengapa.. tiba-tiba aku merasa Kravas adalah pria yang menarik, tampan dengan mata biru nya.
Saat ini, biar bagaimanapun aku hanyalah seorang gadis berusia 15 tahun yang dalam keadaan terpuruk setelah nyaris tewas di ujung pedang. Lalu ketika mendengar suara seorang laki-laki yang bernada lembut dan menghiburku aku lantas jatuh dalam isak tangis tak berkesudahan.
Sesungguhnya aku sendiri membenci diriku ketika aku harus meneteskan air mata di depan laki-laki hampir bermata Indah itu, tapi yang juga telah menjadikan ku seorang tawanan di Pulau asing ini.
Namun sekuat apapun aku berusaha tegar, air mataku tidak mau kompromi. Saat itu, bahu semakin berguncang. Deras air mataku semakin tumpah meluap. Lalu, entah bagaimana caranya tiba-tiba aku telah berada di pelukan laki-laki Vampire itu.
Dengan air mata yang bercucuran, kini membasahi baju beludru mahalnya itu, aku terisak-isak di dada Kravas.
__ADS_1
Kravas sendiri seolah menyetujui dengan semua tindakan kanak- kanak- ku itu. Bahkan dia memeluk tubuhku dengan lembut dan berbisik,
"Semua telah berlalu. Semua akan baik-baik saja. Aku telah menginstruksikan agar Zalrin tidak diizinkan untuk berkeliaran di sekitar Puri milikku ini lagi" jelaskan Kravas.
Setelah aku puas dengan air mataku yang tumpah seperti aliran air sungai, dan semua perasaan ku merasa lega, aku tersadar bahwa diriku berada didalam pelukan laki-laki ras Vampire itu.
Pipiku seketika menjadi merah seperti warna merah dadu dan aku mengutuk diriku yang menurutku tidak tahu malu, dengan memanfaatkan peristiwa insiden tadi. Aku merasa sedikit klise dengan jatuh dalam pelukan satu orang laki-laki dengan mencucurkan air mata.
Buru-buru aku melepaskan Diriku dari pelukan Kravas yang tangan tangannya begitu panjang, langsing, dan berotot pertanda dia adalah seorang petarung sejati yang berlatih membuat otot-ototnya demikian kencang.
"Maafkan aku... aku tidak bermaksud untuk menangis dihadapanmu.
Apalagi sekedar membasahi baju beludru itu" kataku mengusap air mata dengan rasa malu.
"A-aku akan mencuci pakaian itu karena telah basah dan kotor dengan air mataku" kataku dengan malu sambil wajahku terasa memerah
Aku telah hidup demikian lama di dunia ini dan aku dapat membedakan mana airmata yang berpura-pura dan mana yang betul betul alami, keluar dari hati yang terpukul" kata Kravas dengan bibirnya yang melengkung tipis pertanda bahwa dia tersenyum.
Aku menatap senyuman tipis itu dengan perasaan kagum dia jauh terlihat lebih menawan dan lebih berkarisma bahkan tampan dibandingkan wajahnya yang selalu dalam raut keras laksana tentara perang.
Selama aku menjadi tawanannya, kenapa baru kali ini aku melihat dia tersenyum.
Aku bertanya-tanya di dalam hati, Apakah aku terlalu polos dengan caraku sehingga membuat laki-laki Vampire itu tersenyum?
Aku lalu semakin dalam dengan rasa malu, sementara pipiku yang memerah. Jelas-jelas aku adalah salah satu perempuan yang menentang cara cara orang perempuan lain menggunakan kelemahannya untuk merayu laki-laki.
Dan aku bersyukur dalam hati, ketika Kravas menghilangkan kekakuan suasana saat itu dengan berkata
"Kalau kau merasa bosan dan tidak memiliki kegiatan apa-apa di Puri ini, mulai hari ini aku mengijinkan kamu untuk menggunakan ruang latihan tempur itu, sekedar berlatih pedang walaupun semua kekuatanmu diblokir.
__ADS_1
Aku sadar.. sebagai seorang petarung, kau perlu untuk berlatih melemaskan otot-otot tubuh mu dalam latihan ringan, meskipun tanpa menggunakan kekuatan sihir sama sekali" Kata Kravas.
Jelas aku merasa gembira. Aku lalu memekik dengan keras dan tanpa sadar aku memeluk tubuh laki-laki Vampir itu dan mengucapkan terima kasih.
Selang beberapa saat kemudian aku kembali tersadar dengan tindakan ku yang memeluk Kravas seperti tadi. Aku lalu meminta maaf dan berkata
"Maafkan aku telah memelukmu seperti itu.
Kebiasaan kami di kota Scorpio ketika mengungkapkan rasa gembira dan terimakasih adalah kami saling berpelukan. Dan itu adalah pertanda ungkapan rasa sayang dan terima kasih" kataku sedikit Jengah.
Wajahnya mengeras dan kembali diam, membeku. Dia hanya menganggukkan kepala lalu setelahnya dia pergi meninggalkan diriku di dapur sendirian, yang jatuh dalam rasa heran di dalam hati.
"Apakah perbuatanku salah, telah dengan memeluk dia? Akan tetapi ini hal yang sering dilakukan oleh kami ras manusia di benua casiopea sana" batin ku menghibur diri.
Aku kemudian mencatat di dalam hati bahwa rupa-rupanya ras vampire ini adalah kelompok makhluk yang bersifat kaku dan tidak suka mengungkapkan rasa bahagia dengan hal-hal yang bersifat intim seperti tadi.
Kemudian ketika aku menanyakan hal itu kepada Betty setelah perempuan kembali ke dapur, dia berkata..
"Gesture dan sebuah hal-hal yang bersifat intim atau hangat ala ras manusia mu, itu hanya satu pertanda kelemahan bagi kami ras Vampire" kata nya iba melihatku melongo.
"Jadi... jangan pernah berharap kalau kau akan mendapatkan hal-hal yang hangat dan intim, sebagaimana ras manusia sering lakukan ketika kamu berada di Pulau Minnetois, Kota Obsidian ini"
******
Catatan : ini adalah hal pertama tentang culture shock selama hidup di Pulau Minnetois bersama dengan ras vampire. Jangan mengungkapkan hal-hal yang bersifat intim karena menurut mereka, itu adalah tanda-tanda orang lemah.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1