Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Petarung Yang Sakit


__ADS_3

Ada lebih dari tiga pedagang yang memajang orang-orang yang menjadi barang dagangan mereka. Ada perempuan muda, setengah tua dan laki-laki yang dapat dijadikan pekerja rumahan.


Aku memilih dua perempuan yang nanti nya ku jadikan tenaga dapur dan bersih-bersih rumah, dan satu laki-laki bertubuh kuat, yang akan aku jadikan tukang kebun.


Pemilihan atas orang-orang itu, tentu saja setelah terlebih dahulu aku menanyakan kemampuan mereka pada pedagang setengah tua yang memiliki penampilan kasar. Dia terlihat sedikit curiga dengan penampilan ku yang mengenakan mantel panjang gelap, bertudung dan selembar kain menutup sebagian wajah ini.


Tapi ketika aku mengambil tiga orang sekaligus, sikap kasar pedagang itu langsung berubah menjadi ramah. Ketika dia menawarkan lebih, aku menolak tawarannya.


"Tidak. Sekarang aku hanya butuh dia tenaga pria, kalau bisa mereka adalah petarung, atau setidak nya bisa mempraktekkan beladiri, karena aku akan mempekerjakan mereka sebagai penjaga rumah ku nanti" kata ku pada Haseem, pedagang manusia itu.


Di tempat pedagang kedua yang aku kunjungi, aku tidak puas dengan petarung yang ditawarkan padaku. Laki-laki itu meski terlihat cukup muda, tapi aku melihat kondisi tubuhnya kurang sehat. Mungkin dia sakit atau terluka oleh sesuatu. Dia hanya meringkuk berbalut selembar selimut Kumal, mencoba bertahan dari serangan demam yang membuatnya menggigil.


"Aku butuh seseorang yang kuat. Bukan mantan petarung yang terluka dan kelihatan sakit seperti ini" kata ku sambil beranjak pergi.


Biar bagaimanapun, seorang penjaga itu haruslah sosok dan sehat dan kuat bukan? Aku berlalu meninggalkan pedagang nomor dua itu. Akan tetapi baru saja lima langkah aku meninggalkan pedagang itu,


Tar - tar - tar !

__ADS_1


Aku mendengar cambukan keras diiringi caci maki si pedagang pada pria petarung yang terlihat sakit itu. Instingku mengatakan kalau petarung sakit itulah yang dipecut oleh pedagang nomor dua tadi.


Tangan ku lantas gemetar, detak jantung ku berpacu lebih cepat. Aku lantas berbalik ke pedagang tadi, yang terlihat akan mengayunkan cambuk ketiga ke Petarung lemah itu.


"Kamu pembawa sial!


Apa guna nya kamu aku pelihara. Tak lebih hanya menghabiskan uangku untuk biaya makan saja.


Lihatlah karena kelemahanmu itu, tidak seorang pun berniat membeli kamu. Lebih baik kau mati!"


Tangan nya terangkat, cemeti itu melambai diiringi tatapan mata putus asa dari laki-laki petarung yang terluka itu. Hatiku seketika meluap dalam hawa amarah melihat kejadian itu. Api biru meletup di ujung jariku.


Aku menjentikkan api biru, melesat cepat seperti bayangan, hinggap jitu di ujung cemeti pedagang galak itu. Ini adalah api sihir, tentu saja dia bekerja sangat cepat. Tidak perlu sampai satu kedipan mata, cemeti tali rami di tangan pedagang galak itu lenyap di makan api sihir ku.


"A-apa yang terjadi?" Wajah pedagang itu melongo, terkejut dengan kenyataan kalau cemetinya lenyap dari tangan nya. Dia bahkan tidak melihat api sihirku melalap habis cemeti berbahan tali rami itu.


Dia masih tak percaya ketika melihat cemeti tali rami, yang digulung dengan berlapis-lapis tali rami, dan di dalamnya diselipkan biji-biji besi agar menimbulkan efek cedera ketika cemeti di pecut ke obyek.

__ADS_1


Pedagang itu celingukan, mencari lihat siapa gerangan yang menyebabkan cemeti berharganya lenyap menjadi debu.


Beberapa saat kemudian, mata merah itu bentrok dengan mata ku. Aku melihat mata merah si pedagang meredup setelah sadar kalau aku yang melakukan hal hingga cemetinya lenyap.


Kabar burung memang cepat berhembus. Lewat mulut ke mulut, kabar tersiar bahwa seorang wanita bermantel gelap dengan tudung, adalah penyihir afinitas api, rupanya telah didengar pedagang ini.


Melihat dia melemah, aku dengan malas melempar lima Eliksir kristal peringkat tengah dan berkata,


"Lepaskan pria itu.


Aku akan mengangkatnya menjadi penjaga di rumah ku!" Kata ku dingin.


Wajah pedagang jahat itu berubah menjadi cerah, dan dengan palsu dia membungkuk dan berkata..


"Ah... Jika nona yang menginginkan budak ini menjadi milik anda, siapa berani menolak?" Dia melepaskan laki-laki petarung, yang buru-buru dipapah oleh Shana dan dua pelayan ku lainnya.


Aku menangkap mata bercahaya seolah berbicara tulus, mengucapkan terima kasih padaku ketika petarung sakit itu di bawa Shana dan dua pelayan perempuan ke gerbong kereta yang aku sewa, untuk kembali ke Kota Sahireb.

__ADS_1


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2