Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Diatas Kapal Bulan Patah (ii)


__ADS_3

Langit berwarna gelap, kelam sehitam tinta, menyelimuti Samudra Kalumish. Tidak terdengar suara apa-apa, selain suara gemericik air laut ketika Kapal Bulan Patah dan Kapal Keindahan Rembulan membelah Lautan, membawa hawa membunuh dan horor.


Dua Kapal Perang berisi seribu anak muda, kaum tentara muda ras Vampire itu, bergerak cepat menuju medan perang di Pulau Ponris Atoll.


"Kapal Bulan Patah akan tiba di Ponris Atoll besok jelang malam" suara Kapten kapal terdengar berulang-ulang di tiap sudut ruangan, datang nya dari pengeras suara yang dibuat secara sihir.


Wajah-wajah ceria serta senda-gurau tatkala meninggalkan dermaga di Kota Obsidian, kini berubah air mukanya.Tercekam, gelisah dan takut akan kematian jelas terlihat di wajah-wajah semua petarung perang itu.


Dark Elf adalah ras yang terkenal akan haus darah, mahir berperang dan yang terutama, mereka sangat kental menggunakan sihir dan tenung. ini jelas dipahami anak-anak muda di geladak Kapal Bulan Patah kami.


Meskipun takut, tapi setidaknya aku pernah berperang sebelumnya. Sehingga aku dengan cepat menguasai dan menindas rasa takut di hatiku.


Pertarungan di dalam perang masal bukanlah pertarungan duel satu lawan satu. Perang masal adalah pertarungan yang memungkinkan kamu untuk tewas dari segala sudut pandang. Entah karena ledakan eksplosif, atau mati tertembus panah bahkan tertusuk tombak dari musuh yang muncul dari arah tidak terduga.


Kendati hari telah tengah malam, namun aku memaksa diri untuk keluar dari palka, naik ke geladak kapal dan menikmati angin dingin malam, mencoba menenangkan diri, sebelum pertempuran dimulai.


Secara tidak terduga aku bertemu ada banyak sekali anak-anak muda dar Ras Vampire yang juga berdiri atau duduk bersandar di dinding-dinding kapal, terlihat gelisah dan takut mati.


Ketika aku memandang lautan luas tak berujung itu, tiba-tiba..


"Merasa kedinginan?" Kravas secara ajaib muncul dari bayang-bayang gelap, dan menyampirkan mantel panjang miliknya, ke tubuhku.


"Ah.. Kravas" kata ku pelan, tapi tidak menolak kebaikan dan membiarkan mantel itu menutupi tubuhku, meski sebenarnya aku mengenakan zirah.


"Apakah kamu takut Lea?" tanya Kravas.


Aku diam sejenak. Kemudian pelan-pelan memandang wajah Kravas. Kataku..


"Meskipun aku takut mati, akan tetapi aku tidak memiliki pilihan lain bukan?


Hidup sebagai tawanan dan terkurung di puri, atau memilih berperang demi hadiah kebebasanku, well maka aku memilih berperang.

__ADS_1


Aku sudah pernah mengalami ketakutan seperti ini ketika setahun lalu di Benua Casiopea bukan?" kataku.


"Benar.. " kata Kravas seperti termenung.


"Kami tidak memiliki pilihan lain. Merebut Ponris Atoll yang adalah hak waris kami ras Vampire, serta mengambil ulang semua sumber daya di dalamnya adalah hak dan kewajiban semua ras vampire.


Aku menyesal karena kau terlibat di dalam perang ini" kata Kravas sungguh-sungguh.


Kami lalu diam dalam hening, membisu karena tidak ada lagi yang harus di diskusikan. Perang di depan mata, dan gadis pemanggil api ini akan menjadi kejutan buat Dark Elf nanti. Itu adalah kesepakatan yang telah aku setujui.


Satu jam kemudian kami berpisah, dan aku kembali ke palka tempat prajurit-prajurit perang berkumpul. Aku berpikir untuk memejamkan mata, sebelum besok mungkin saja tidak akan bisa tidur berhari-hari ketika perang dimulai.


Sialnya aku lupa mengembalikan mantel panjang kepunyaan Kravas, sementara pria itu bahkan tidak meminta mantel yang digunakan sebagai penghangat ini.


Aku terkejut di dalam hati ketika melihat tatapan kebencian dari dua mata dibalik kain sutra berwarna hitam, terasa mengunci dengan niat membunuhku.


"Zalrin!" batinku


Nasi telah menjadi bubur, kenyataan Zalrin telah melihatku di balut mantel beraroma lelaki pujaannya telah melukai hati gadis vampire itu.


Aku pergi tidur, di kasur di antara Dram dan Engus, berusaha memejamkan mata di tengah-tengah dengkuran halus dua laki-laki ras vampire.


******


Pagi telah menjelang, dan aku merasakan angin segar yang menyejukkan menerpa wajahku. Aku memperhatikan wajah tiap vampire di geladak kapal, yang sepertinya bersedia mati demi merebut Ponris Atoll, tanpa paham dengan jelas betapa mengerikannya Ras Dark Elf yang akan di hadapi kami di pulau itu.


Pulau Ponris Atoll, adalah sebuah pulau terpencil yang letaknya hanya dikenal oleh beberapa orang saja. Pulau ini selalu menyimpan rahasia dan keajaiban yang tidak terduga dimana sumber daya Kristal Eliksir peringkat atas yang sejak lama dikelola ras Vampire, pada akhirnya diketahui Dark Elf yang lantas menginvasi pulau itu.


Waktu berlalu sangat cepat, sehingga tanpa terasa di ufuk barat warna jingga telah disulam langit, semburat senja merona membuat suasana terlihat magis.


Ketika itu petugas di menara pengawas kapal, berteriak keras-keras.

__ADS_1


"Ponris Atoll di depan mata.


Ponris Atoll terlihat di depan mata !"


Seketika tidak menunggu waktu berlama-lama, bunyi suara tanda peringatan dibunyikan keras-keras.


Teng - teng - teng - teng !


Berulang kali terdengar, membuat suasana berubah menjadi gaduh. Suara Suara derap kaki berlari-lari kecil di tangga-tangga kapal hingga di geladak dan berkumpul di anjungan kapal, membuat suasana hangat pagi hingga siang berubah drastis.


Semua orang memasang wajah tampak gelisah, tapi telah siap dengan pertempuran yang akan tiba. Suara gemeretak gigi beradu, suara yang sengaja dibuat untuk menekan keras-keras rasa takut, menggantinya dengan harapan memenangkan perang, terdengar di wajah-wajah semua tentara.


Angin bertiup keras, membawakan aroma aroma yang tak teridentifikasi. Akan tetapi aku merasa bahwa itu adalah aroma ucapan selamat datang kematian. Aura kematian itu menyambut dua kapal perang yang membelah Lautan Kalumish, seperti gembira melihat akan darah-darah yang akan dikorbankan demi merebut sumber daya di Pulau Ponsri Atoll itu.


Gelombang menggerakkan kapal secara teratur, menciptakan suara gemerisik yang mengganggu. Horor menyelimuti setiap tentara yang berada di atas kapal. Keadaan menyeramkan menjadi lebih nyata ketika mereka melihat Pulau Ponris Atoll yang gelap di kejauhan. Semua tahu bahwa bahaya yang besar di medan perang tak lama lagi akan kami hadapi.


Kapal Bulan Patah dan Kapal suara Rembulan berlabuh di tepian Barat Pulau Ponris Atoll. Ketika itu aku melihat lima puluh anak muda Vampir yang bersiap mengenakan juba terbang, menggenggam panah di tangan. Tidak berapa lama lima puluh anak muda itu melayang meninggalkan kapal, memeriksa keadaan di pantai.


Begitu aba-aba dari pasukan kelelawar dengan tanda kerlap-kerlip dari bibir pantai terlihat, perahu-perahu bermuatan lima puluh orang di turunkan ke air laut, dan kami melompat sesuai urutan pasukan kami.


Aku sebagai petarung dengan tipe penyerang jarak jauh, aku bergabung dengan sekelompok pemanah. Sementara Dram dan Engus temanku itu, harus terlebih dahulu naik ke perahu karena akan menjadi pasukan tempur garis depan.


Aku mengangguk kepala ke arah mereka berdua, bibirku kelu tak dapat berbicara, hanya menyisakan mata berkaca-kaca tatkala kedua temanku menatapku dengan seribu kata yang tak terucap.


Seketika dejavu itu terjadi lagi.. aku seperti melihat Sakandhi Rokana yang maju ke garis depan, di iringi wajah muram dan mata basah.


Meskipun udara dingin serta angin berhembus membuat pipi kaku, tapi aku merasa kedua pipiku hangat, ketika air hangat itu bergulir, menyaksikan perahu Dram dan Engus bergerak meninggalkan kapal.


"Perang..!" batinku.


Bersambung.

__ADS_1


   Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..


__ADS_2