
Pelan-pelan aku mengeluarkan 100 tabung reaksi berisi eliksir cair, yang selama ini ku simpan baik-baik di dalam Tas Antariksa - selalu hemat memakainya ketika pertempuran, lalu ku letakkan benda mahal itu di atas meja. Kataku kepada Hamit..
"Katakan pada ku, berapa harga mantra Sihir Kutukan Pedang itu.
Aku akan menukar eliksir cair ini, untuk mendapatkan eliksir kristal. Katakan berapa harga penilaianmu atas benda ini?" Tanyaku kepada hamit.
Eliksir cair adalah benda berharga di antara penyihir dan knight. Jika keadaan memungkinan dimana pasokan benda ini sedang langka, toko-toko semacam Toko Cakrawala Gurun ini biasanya menjual nya dua kali lipat.
Aku melirik melihat Hamit yang sedang menelan air ludahnya. Sekilas matanya menyala dalam nafsu serakah. Dia terpikat dengan benda yang aku tawarkan ini. kataku dalam hati mengejek.
Hamit mencoba bersandiwara dengan mengernyitkan keningnya. Lalu dengan wajah serius dia berkata..
"300 kristal elixir tingkat menengah!
itu sudah harga tertinggi
Aku tercengang, melongo dan tak menyangka."Pria ini berpikir kalau aku gadis bodoh"
Suara tawaku yang semula ku pertahankan agar tetap terlihat sopan, tak dapat dibendung. Dari sebuah tawa sopan, hanya dalam satu kedipan mata, aku kaget mendengar nada tawaku mencemooh. Kataku..
"Tuaan Hamit, aku pernah dua kali menjual elixir cair seperti ini. Jadi transaksi seperti ini bukan untuk yang pertama kali ku lakukan.
Di berbagai belahan dunia lain, pada tempat yang disebut sebagai Black Area atau Area Perdagangan Gelap...
100 elixir seperti ini dihargai paling kurang 500 kristal peringkat menengah. Sebaiknya anda jangan coba-coba untuk mengakali ku" jawabku tegas.
Hamit pria itu tidak juga menyerah.
"450 Eliksir Kristal tingkat menengah. Itu adalah penawaran terakhirku !" kata Hamit tegas.
Ku gelengkan kepalaku, teguh dengan pendirianku semula.
"Tidak !
500 Kristal Eliksir peringkat menengah atau akan aku akan pergi menukar di toko lain !" kataku tak mau kalah, sementara mengambil 100 Eliksir cair itu lalu berjalan meninggalkan Toko Cakrawala Gurun.
Tapi dengan sengaja aku mengaturlangkah ku pelan-pelan, terlihat angkuh.
"Tahan ! TOlon jangan dulu pergi !"
belum lagi aku keluar dari pintu toko, Hamid tetap berteriak dengan keras menahanku.
Wajahku masih bersandiwara palsu, tidak menoleh sama sekali. Seketika satu tangan kasar, menggandengku, bersikap seolah kita adalah kenalan lama.
"Dengar nona..
Eh siapa lagi namamu? Er.. LEa bukan?
Huff... mengapa mesti cepat-cepat pergi? Semua dapat di diskusikan"
Hamit menyodorkan kursi empuk untuk kududuki. Katanya
"Baiklah 500 peringkat menengah.
Dan aku akan memotong 200 eliksir peringkat menengah seharga Mantra Kutukan Pedang" kata Hamit, kini menyodorkan segelas teh untuk kuminum "Ini compliment" katanya.
Bibirku melengkung dalam senyuman. Sku tersenyum kemenangan, karena pria itu telah salah, untuk mengajakku untuk berdebat soal harga eliksir tadi.
Ku serahkan lagi 100 eliksir cair pada Hamit, dan dia memberikan 300 kristal,
"Ini 300 Eliksir Kristal, semua pas setelah dipotong Salinan Mantra Kutukan Pedang" katanya sambil memandang Eliksir cair itu, lalu menyimpannya dengan hati-hati.
"Wah memang sangat sulit memang bernegosiasi dengan seorang perempuan !" desis Hamit sambil merapikan kembali, eliksir yang ku jual di dalam rak khusus, agar tidak cepat pudar dan hilang khasiatnya karena waktu.
Aku hanya tersenyum dan menjawab jenaka,
"Bukankah berdebat soal harga itu adalah keahlian dari seorang perempuan, di belahan manapun dunia ini?" kataku
Hamit hanya menggelengkan kepala lalu berkata.
"Jadi, dengan sisa 300 Kristal Eliksir itu, apakah kamu masih berniat melihat-lihat salinan lainnya?
Aku masih punya sesuatu. Misalnya.. Rambut Manticore atau Senjata Shade, mungkin kau akan... " Hamit mencercaku dengan banyak barang yang menarik, dan membuat ku pusing.
__ADS_1
Ingin sekali aku membeli semuanya. Akan tetapi uang ku tersia ini. Aku tak mau menderita kemiskinan, ketika tiba-tiba ada benda lainnya yang lebih bagus lagi, dan aku hanya menelan air ludah"
"Mungkin untuk saat ini, semua sudah cukup bagiku.
Aku kepingin pergi ke toko lainnya di The Bazaar of Wonder ini untuk melihat-lihat apakah masih terdapat salinan atau teknik lain yang layak di beli"
Sesudahnya atau mengucapkan salam, melangkahkan kaki keluar dari Toko Cakrawala Gurun.
Telingaku berdengung, angin lembut berhembus menyentuh pipiku, dan aku merasa seperti ada yang berbisik, tapi suaranya tak ku dengar jelas.
Langkah kakiku mendadak terhenti, ketika kepalaku terasa seperti ditarik seseorang, memalingkan wajah dan melihat tumpukan buku-buku usang dan salinan tua pada lembaran kulit kulit yang terlihat tidak tersusun rapi di sudut Toko Cakrawala Gurun.
Itu adalah satu buku tipis yang terlihat terlalu tua, namun aku menangkap simbol sihir lengkap di bagian pinggirannya, dan gambar anatomi tubuh makhluk hidup dunia.
Aku tidak jadi pergi, seketika menghampiri tumpukan salinan tua itu, dan membuka lembar demi lembar. Mata dan pikiranku konsentrasi memperhatikan gambar serta tulisan mantra-mantra tua, dan tertulis bahan yang diperlukan guna perapalan mantra.
Hamit menghampiriku dan berkata
"Itu adalah suatu salinan dari mantra yang asalnya dari satu suku asing di benua ini.
Katanya buku ini adalah prosedur dan ritual transplantasi anggota tubuh makhluk hidup" kata Hamit ngeri.
"Beberapa bahkan mengatakan kalau buku ini adalah seni terlarang, meskipun ada juga yang mencoba-coba melakukan ritual dalam buku itu"
"Pernah beberapa kali ada yang membeli salinan mantra itu.
Skan tetapi mereka mengembalikannya dan meminta kembali pembayaran yang sudah di berikan padaku" kata Hamid
"Aku merasa heran mendengar penjelasan Hamit. Menurut pandangan ku buku ini berisi suatu teknik mantra sihir yang unik, yang dilakukan suku terasing ketika proses melakukan transplantasi anggota tubuh"
"Menurut pembeli yang batal membeli, buku ini berisi sihir gelap"
Ku kernyitkan keningku pertanda tidak setuju. Ini adalah buku yang bagus. "Mengapa mereka menyebutnya sebagai buku kegelapan?"
"Mengapa mereka mengembalikan buku ini? Pengamatanku, tidak ada yang salah dengan isi bukur ini.
Bahkan aku tidak melihat mantra satupun sihir gelap di dalam isi buku.
Hamid hanya tertawa masam. Katanya
"Mereka semua penyihir-penyihir bodoh itu mengeluhkan bahwa mantra ini tidak berfungsi.
Katanya ada satu kata di dalam buku yang disebutkan di bab awal-awal, mantra ini hanya berfungsi dan digunakan oleh penyihir yang memiliki afinitas api !"
Aku tertegun dan membatin Ternyata bahkan di Benua Upios ini seorang penyihir dengan kekuatan api itu adalah suatu hal yang langka.
"ini berarti bahwa aku tidak boleh secara sembarangan mengeluarkan mantra api guna menghindari serangan dari pihak yang cemburu atau kurang suka dengan keistimewaanku ini.
Aku bahkan hanya asisten sihir. Menjadi Magus pun aku belum pantas" batinku membayang jika aku dikepung segerombolan Magus.
"Itu berarti jika aku ingin bebas dari kejaran atau buruan orang jahat yang ingin mencelakaiku, kekuatan !. Ya Kekuatan adalah solusi nya"
Sambil berpura-pura menunjukkan wajah enggan aku berkata kepada Hamit
"Berapa harga mantra ini. Aku akan mencoba peruntungan dengan membelinya"
Hamit menjawab bahwa dia tidak ingin menjual mantra itu. Dia tidak ingin kecewa lagi, ketika seseorang telah membelinya, lalu mengembalikan dan meminta uang yang sudah mereka bayarkan ketika buku itu tidak berguna.
Tawaku terdengar keras, ketika aku mencoba menutupi rasa antusias akan buku itu. Kemudian aku menjelaskan pada Hamit..
"Berikan aku harga dengan potongan yang bagus, maka aku berjanji tidak akan mengembalikan buku ritual ini.
Bahkan jika itu tidak ada manfaat yang dapat ku petik, tak ada niat sedikitpun meminta balik uang yang telah aku berikan padamu!"
Dalam sekejap aku melihat ada sesuatu kilatan di mata Hamid seakan-akan dia curiga. Mungkin pikirnya, mengapa perempuan ini begitu berniat untuk membeli mantra yang tidak berguna ini?
Tapi aku terus bersandiwara memperlihatkan wajah bosan dan tidak peduli.
Lalu Hamid berkata
"200 Kristal Eliksir tingkat menengah untuk buku aneh itu".
Aku tertegun, berpura-pura terkejut dan memperlihatkan wajah yang tidak percaya mendengar kata-kata Hamit. Kataku dengan cepat,
__ADS_1
"Anda menjual mantra bobrok dan tidak berguna ini senilai 200 Kristal Eliksir?
Apakah anda tidak salah memberi harga?
Sekarang aku mengerti. Pantas saja semua orang mengembalikan benda tidak berguna ini kepadamu. Selain harganya terlalu mahal kemudian uku aneh itu hanya dapat dirapalkan pemanggil api !" aku menatap jijik kearah Hamit.
Aku mau ngomel-ngomel kecil dalam sandiwara palsu, bersikap seolah-olah aku dilanda rasa kesal atas harga tinggi yang diberikan hamil itu.
"Lebih baik aku pergi ke toko sebelah !"
Aku berjalan meninggalkan toko Cakrawala gurun sambil berkata
Kristal Eliksir ini akan ku habiskan untuk berbelanja barang berguna lainnya ketimbang membeli suatu mantra tidak berguna seperti itu.
Aku telah mengayunkan langkah ku lebih dari sepuluh langkah meninggalkan Hamit, dengan keyakinan pada langkah ketiga dia akan memanggil ku untuk membeli salinan tua itu.
Dan ini aku mulai ragu, mengapa pria itu belum juga memanggilku lalu berlutut menghiba agar aku membeli buku rongsokan tentang teknik dan ritual transplantasi anggota tubuh makhluk hidup.
Ini adalah langkah ke-15 sejak keluar dari pintu Toko Cakrawala Gurun, sementara tak ada aksi mengejarku, bahkan bayang Hamit Pun tidak terlihat saat itu.
Pada akhirnya aku mengambil kesimpulan kalau Hamit pria itu tidak akan menjual Buku Ritual dan mantra transplantasi padaku.
Meskipun aku sedikit kecewa akan tetapi aku menghibur diri..
"Sabar Lea !..
Masih banyak tokoh-tokoh lainnya yang akan kau temui. Semua toko dengan berbagai keunikan masing-masing"
Dengan uring-uringan
aku masuk ke salah satu toko yang menjual benda-benda antik seperti Artefak Pedang, Artefak Kalung dan banyak lagi.
Tapi aku tidak berani bertanya-tanya berapa harga artefak-artefak. Sepengetahuanku semasa di Benua Casiopea saja, benda-benda ini memiliki harga yang amat jauh dan tidak terjangkau oleh seorang penyihir kecil seperti diriku.
***
Malam semakin larut dan aku berjalan kaki menuju penginapanku, setelah puas melihat-lihat, dan mencatat di dalam hati, apa-apa saja keperluanku yang akan ku beli nanti, setelah menerima pembayaran dari Tuan Kota. Catatan : itu jika misi ini sukses.
Ketika itu suasana telah sepi, dan aku berjalan di jalan berdebu yang sepi, di kanan kiri ku hanya hamparan gurun dan beberapa pohon palem atau kurma.
Tiba-tiba satu bayangan berkelebat menghampiriku dengan sikap yang terlihat mencurigakan.
Refleksi sebagai penyihir bertindak, aku berkelebat cepat, tangan ku seketika memegang belati. Belati itu tahu-tahu telah di nadi batang leher sosok mencurigakan tadi.
"Apa maumu! Mau marompak ha?" kata aku keji.
Aku mencengkram batang leher penguntit itu, kini belatiku menekan keras di lehernya. Aku merasakan hangatnya darah menetes keluar. Sedikit tapi cukup untuk menakut-nakuti.
Cara ini adalah sikap waspada dari seorang penyihir atau juga Knight terlatih, yang sering bertarung di dalam peperangan mematikan.
Meskipun malam itu gelap, cahaya bulan pun sangatlah kurang, tapi sepertinya aku kenal dengan suara tersebut.
"M-maafkan aku Lea..
M-masih ingatkah anda denganku? Aku Hamit pemilik Toko Cakrawala Gurun" suara Hamit terdengar hampir menangis. Aku mengendorkan cengkeramanku, mnarik elati dari lehernya.
Benar. Dia Hamit, yang kini lancar berbicara, setelah belati itu pergi ari lehernya.
"Aku datang membawa salinan mantra yang hendak kau beli tadi siang.
Inilah mantra transplantasi makhluk hidup. Kamu hanya perlu membayarnya sebesar 100 kristal eliksir peringkat menengah"
Aku menatap ulang, memastikan baik-baik sosok itu, Ya benar dia memang adalah Hamit.
"Astaga Tuan Hamit. Tidak perlu anda menguntitku seperti itu.
Beruntung belati ini tidak menebas kepalamu.." aku pun meminta maaf.
Hamit menyerahkan satu lembar buku tipis yang telah sejak siang tadi kuidamkan, dan aku membayarnya sejumlah 100 kristal eliksir.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..
__ADS_1