
Aku tertawa kecil, ketika kawan-kawanku ; Cal, Boy, Jerry dan Debbie datang dari kegelapan dengan nafas ngos-ngosan dan keheranan ketika aku menunjukkan tujuh debu, sisa-sisa tubuh imp yang telah ku bakar habis - saat itu mereka ternganga..
"Lea.. apa yang kamu lakukan terhadap tujuh roh halus itu?" tanya Cal tak percaya.
"Betul.. rasanya tak percaya, kau seorang diri menghadapi tujuh makhluk halus itu, bahkan mampu menummpas mereka sekaligus" sosor boy ikut-ikutan tak percaya.
Meskipun tidak bertanya, tapi aku melihat tatapan penuh selidik yang diungkapkan Jerry dan Debbie. Aku tak tega mempermainkan empat kawanku itu, terlebih aku tak sampai hati melihat mata coklat Jerry yang memintaku untuk memberi penjelasan.
"Aku membakar mereka dengan sihir.
Mungkin kalian pernah mendengar, kalau aku adalah seorang pemanggil api...
Ketika itu kami berlatih Teknik Pertempuran, dan aku tanpa sengaja memanggil api yang hampir membunuh dua anak sebayaku - teman sekelasku" kata ku tanpa niatan membanggakan diri.
Keempat kawan timku sekali lagi menganga dengan mulut terbuka lebar, tampak tak percaya. Diam-diam aku memperhatikan Jerry dengan mata coklatnya, begitu bundar seperti bulan - aku mungkin berpikir kalau aku mulai menyukai cowok itu.
"K-kau seorang pemanggil api?
Kusangka kau adalah perapal mantra" kata Cal, masih bernada tidak percaya.
Aku menganggukkan kepala lalu berkata,
"Lalu mengapa kita berdiam diri disini? mengapa kita tidak mengumpulkan barang bukti bahwa tim ini berhasil menumpas imp sesuai misi yang ditugaskan akademi?"
KAta-kata ku itu membuat empat kawanku menjadi tersadar dari rasa tak percaya. Kami berlima kemudian mengumpulkan sisa-sisa barang bukti, tak lupa membawa bekas-bekas abu dari imp yang ku bakar beberapa waktu lalu.
******
Waktu telah hampir pagi, mungkin jam menunjukkan 03.00 pagi hari, ketika kelompok kami akan meninggalkan sisa reruntuhan purba, untuk kembali ke tengah kota dan melapor di administrasi akademi militer.
Baru saja kami melangkah beberapa meter dari tempat kejadian pertempuran, tiba-tiba terdengar suara dingin yang berkata,
"Well - well - well..."
__ADS_1
"Lihatlah siapa kelompok yang mendahului kami, membasmi imp penyamun pengganggu pelintas batas"
Dari dalam keremangan reruntuhan purba itu, lima sosok anak muda muncul. Mereka mengenakan seragam yang dimiliki Akademi serupa dengan kami, yang bernama Akademi Primordial.
Akademi Cahaya Primordial ini, sesungguhnya dikelola langsung oleh pihak kekaisaran, dimana siswa dan rata-rata yang belajar di sana adalah datangnya dari kalangan istana, kalau tidak dari keluarga bangsawan-bangsawan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kaisar Dorado.
Di Akademi kami, masih ada juga beberapa siswa yang berasal dari kalangan anak pejabat kerajaan, semisal Chinno Akae, Sakandhi Rokana, atau dua kawan sekamarku Yasmin dan Salome.
Sakandhi Rokana si pengendali air itu, meskipun berdarah bangsawan, akan tetapi jika dibandingkan dengan anak-anak muda di depan kami saat ini, darah kebangsawanannya, serasa akan luntur tak berarti. Apalagi jika dibandingkan dengan kebangsawanan Salome dan Yasmin. Dua nama terakhir itu mungkin hanya dipandang sebagai kaum bangsawan kampung, yang tidak ada apa-apanya dibanding mereka-mereka dari Akademi Cahaya Primordial.
Cody, Vargas, Fuaad, Luwai dan Jein, mereka berlima itu berdarah bangsawan yang memiliki keterkaitan darah dengan pihak istana, dan hanya diizinkan bersekolah di sekolah-sekolah bersertifikasi kekaisaran - beda jauh dengan Akademi Militer kami yang kebanyakan siswanya mengandalkan beasiswa atau disekolahkan gratis dan kelak harus bekerja untuk pemerintah berkuasa.
"Serahkan semua benda yang kalian jarah, ataupun serahkan semua bukti-bukti yang kalian kumpul setelah menumpas imp perusuh itu" kata Cody memberi perintah.
Aku melirik Cal dan tiga kawanku yang lain. Mereka terlihat sedikit gugup dan agak segan dengan kelompok ini. Mungkin karena mereka asalnya dari Kota Virgo ini, dimana orang tua mereka adalah pegawai atau anggota militer yang bekerja untuk kekaisaran, sehingga mereka tahu lima anak muda yang angkuh itu.
Cal baru saja akan memberikan semua hasil jarahan dan bukti-bukti kami kepada Cody yang sombong itu, tapi dengan penuh percaya diri aku menghentikannya.
Empat kawanku itu menganga sekali lagi - aku merasa mereka selalu menganga terheran-heran dengan sikapku. Mungkinkah aku terlalu kasar dan sedikit tidak tahu aturan? Tapi aku merasa kalau tindakan ku tepat.
"Aku tidak akan rela jika lima orang yang baru datang ini, tiba-tiba menuai semua jarahan serta bukti-bukti kita menumpas imp perusuh itu.
Padahal jelas-jelas aku melihat, kalian bahkan berlari-lari, menghindar dari moncong ular ilusi itu, demi menyelesaikan tugas misi kami.
Terlebih-lebih aku tak rela.. kalau hasil kerja ku menumpas tujuha imp, kini akan di akui oleh manusia-manusia seperti mereka" aku menunjuk ke arah mereka dengan berani.
"Lea !" bisik Debbie memberiku peringatan.
"Mereka adalah..."
"Cukup Debbie. Aku tahu siapa mereka.
Mereka adalah siswa dari Akademi Cahaya Primordial, yang mencoba merampok kami, setelah kami bertarung mati-matian melawan imp" aku menatap dengan tatapan elang, terlihat tak takut bahkan ketika mata Cody menyala dalam amarah..
__ADS_1
"Siapa perempuan dusun itu? Dia berbicara demikian tak tahu aturan, sampai-sampai tidak kenal dengan sosok kami berlima, siswa-siswi Akademi Primordial yang terhormat ini" gadis bernama Jein itu bersuara. Dia mencabut pedangnya, siap-siap menyerang.
Aku telah siap-siap ketika gadis bernama Jein itu seketika lenyap seperti bayangan, dengan pedang di tangan dan menusuk dadaku.
"Lea.. awas !" teriak empat kawanku terkejut.
Tentu saja aku yang telah bersiap-siap sejak awal, hanya tersenyum penuh ejekan melihat Jein lenyap menjadi bayangan.
Aku menjentikkan jari telunjuk dan jempol, di tangan kanan ku dan berbisik pelan..
"Fire !"
Bola api kecil melintas secepat angin, menghadang Jein dan kemudian berakhir didalam suara benturan yang sangat keras.
Blam !
Jein terlempar ke belakang kira-kira empat meter, tubuhnya membentur tembok-tembok reruntuhan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. rambut indahnya awut-awutan, wajah nya tercoreng-coreng seperti orang sehabis bermain dengan jelaga.
"K-kamu pemanggil api?" tanya Cody tak percaya.
Aku pikir diriku harus mendemonstrasikan keterampilan api merahku, agar dapat menakut-nakuti lima anak manja ini.
Seketika dua belati yang ku beli dari pasar di Kota Scorpio telah berada dalam genggamanku. Aku membuat tanda cross dengan dua belati, yang lantas memercikkan api setelah aku sekali lagi berbisik..."Fire"
Lima anak muda dari Akademi Cahaya Primordial itu bergerak mundur (Jein telah berdiri, dan sesungguhnya keadaanya tidak parah, karena hanya api kecil yang aku gunakan tadi).. setelah melihatku terlihat seperti iblis api - marah dengan dua belati penuh api di tangan yang menyala-nyala dalam warna merah dan kuning..
"Elementalist Api !"
"Dia sungguh-sungguh pemanggil api" bisik Luwai si perapal mantra, satu-satunya penyihir diantara mereka berlima.
Bersambung.
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih
__ADS_1