Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea

Lea, Kisah Para Magus Benua Casiopea
Pulau Ponris Atoll (ii)


__ADS_3

"Mesin Naga !" pekik ku.


Mulutku terbuka lebar-lebar, mata melotot dengan suara bergetar ketika melihat sosok mengerikan itu.


Itu adalah satu benda paling terbaru yang dibuat oleh ahli-ahli Alkemis dengan pemikiran tercanggih ketika aku melihat monster mekanik mengerikan itu.


Badan monster mekanik itu panjangnya sekitar tiga tumbak, dengan sayap yang melebar kaku kekiri dan kekanan, yang masing-masing panjangnya juga tiga tumbak.


Satu tentara vampire duduk di dalam monster mekanik itu, tersenyum dan melambai ke arah ku, membuat adrenalinku meluap, membuncah di dalam dada. Apalagi ketika ku lihat Kravas mendekat ke monster mekanik berbentuk paduan Naga ataukah Kelelawar - aku sulit menebaknya.


"Disini kamu dapat berdiri" kata Kravas, menaiki monster mekanik itu, berdiri di atas satu alas datar, letaknya tepat di atas Vampir pengemudi Monster terbang itu.


Aku mendekat dengan rasa kagum, lalu pelan-pelan naik ke atas panggung kecil datar, yang sepertinya memang disediakan untuk seorang penyerang dari ketinggian.


Aku berdiri di atas panggung kecil ku, lalu menyematkan dua kaki ku di tali penahan di panggung, yang fungsinya menahan tubuhku ketika monster mesin ini bermanuver di udara.


"Apakah kau dapat menyesuaikan diri di udara nanti Lea?" tanya Kravas terlihat cemas.


"Berikan aku ruang.. Aku akan berlatih menyamankan diri di atas benda ini" jawabku, sementara Baldast, pilot monster naga terbang itu menggerakkan mesin dan berjalan pelan-pelan dengan posisiku di atas panggung kecil.


Memang tidak mudah menyeimbangkan diri di atas benda bergerak itu, tapi aku berulang kali mencoba berdiri, melompat dan membuat gerakan-gerakan tarian api, sementara Monster Naga itu bergerak.


Beberapa saat kemudian..


"Aku siap.. Mari kita pergi berperang" jawabku mantap.


Beberapa tentara yang berada di dekat kami, sejak awal terlihat cemas, kini bersorak-sorai. Semua mengelu-elukan nama ku.


'Ngeng !'


Mesin monster naga itu terbang mula-mula hanya setinggi dua tumbak dari daratan. Akan tetapi seiring dengan Baldast - pilot mesin itu menyesuaikan diri, Monster Naga mekanik itu terangkat lebih tinggi, lalu orang-orang di bawah sana terlihat mengecil.


Aku menyaksikan dari jauh, dua Troll raksasa yang kami bawa dari Pulau Minnetois, terlihat bertempur melawan troll lainnya, yang sepertinya milik Dark Elf. Sementara pasukan pedang melawan pedang, dan tombak melawan tombak, terlihat mengerikan di bawah sana.


Pasukan Ras Vampir meskipun kalah jumlah, kan tetapi mereka bertempur dengan tidak mengenal takut. Anak-anak muda vampire itu betul-betul berjuang mati-matian, demi kehormatan dan sumber daya di Ponris Atoll yang direbut Dark Elf.


"Menukik !


Aku akan melepaskan mantra api" teriakku keras keras kepada Baldast.


Ngeng !


Aku ikut-ikutan mencondongkan badan ke depan, mengikuti gaya tarik bumi ketika Mesin Naga itu menukik dengan cepat, mengarah ke kumpulan pasukan Vampire yang terlihat terdesak dan dikepung puluhan tentara Dark Elf.

__ADS_1


"Fire Arrrow !..."


Api biru menjalar di kedua tanganku, ketika kami meluncur cepat ke bawah, dengan wajah diterpa angin, membuat pipiku terasa dingin.


Baldast mempercepat gerakan mesin naga, bunyinya mengaung membuat tentara-tentara dari dua kubu, Dark Elf maupun Vampir terpaksa memandang keatas, mencari tahu apakah sumber suara keras itu.


Aku melihat wajah-wajah horor, panik dan ketakutan ketika memandang ngeri ke langit, ketika aku dan Baldast meluncur cepat ke bawah, di antara kumpulan puluhan bahkan ratusan tentara dark Elf.


"Demi Dewa !"


"Monster Naga !"


"Penyihir Api !"


Aku tersenyum dalam rasa puas, ekstasi ku melambung ketika melihat wajah-wajah musuh yang dilanda teror. Dimata mereka, au terlihat seperti iblis api biru, siap-siap mengambil nyawa tanpa belas kasihan.


"Lari !" teriakan keras diantara pasukan Dark Elf yang panik itu.


Terlambat. Aku telah melepaskan satu Mantra Fire Arrow.


Bumm !


Aku melihat kagum ketika mantra Fire Arrow kulepaskan ke tengah-tengah tentara Dark Ef yang kocar-kacir.


"Sekali lagi Lea. Siap-siap !" teriak Baldast, setelah ledakan eksplosif dengan belasan titik ledak yang menghanguskan sosok-sosok tentara Dark Elf, berikut Zirah mereka.


Monster naga yang di pilotin Baldast memanjat ke langit, dengan sudut tajam, 45 derajat. Aku berpegangan erat-erat di panggung. Kemudian dengan keahliannya, Baldast berputar di udara lalu kembali menukik tajam.


"Siap-siap Lea !" teriak Baldast.


Aku mengangguk tanpa suara. Api di tangan kiriku makin menyala terang, membuat panik tentara Dark Elf.


"Pergi lah " kutukku, lalu api itu meluap ke arah pasukan lain Dark Elf.


Duar !


Sorak-sorai tentara-tentara Vampire terdengar ketika ledakan kedua terjadi lebih eksplosif yang menyebabkan korban bertambah di kalangan Dark Elf.


Aku membuang jauh-jauh rasa aneh di dalam hatiku, ketika melihat puluhan bahkan mungkin ratusan Dark Elf terpanggang api biru. Sesungguhnya aku merasa tidak bahagia dengan membunuh seperti ini.


"Ini perang Lea. Tenangkan hatimu. Di dalam perang hanya ada dua kata, membunuh atau terbunuh !" batinku menguatkan diri.


Kembali Baldast menanjak dengan mesin terbang itu, sementara aku menenggak dua tabung reaksi Eliksir cair untuk mengembalikan energi ku yang habis dengan cepat.

__ADS_1


"Awas panah" jeritku mengingatkan Baldast, ketika satu anak panah nyaris menembusi batang leherku.


Aku lantas merapal mantra Benteng Pertahanan, yang lantas menyelimutiku dengan balon pelapis yang akan menjadi tameng dari anak panah musuh.


"Mari kita hancurkan pasukan panah Dark Elf itu" teriak Baldast bersemangat.


Baldast lantas memacu mesin terbang itu, bergerak cepat menuju pasukan pemanah.


Tentu saja tindakan berani kami berdua tidak lantas akan berjalan mulus-mulus saja.


Ketika itu muncul dua bayangan golem raksasa, makhluk sihir yang dibuat perapal mantra Dark Elf, khusus untuk menjegal kami berdua.


Wush..


Golem itu meninju ke mesin terbang kami, dengan kekuatan dahsyat yang pasti akan membuat rusak mesin naga itu.


"Menghindar Baldast" pekikku, ketika itu.


Beruntung sekali Baldast adalah pilot yang ahli. Sekali lagi mesin naga itu bermanuver di udara, meliuk menghindari tinju dua Gole itu.


Ngeng !


Jantung ku berdebar ketika kami berdua lolos dari tinju Golem. Aku tak dapat membayangkan seandainya makhluk sihir itu berhasil meninju rusak mesin naga ini. Pasti aku dan Baldast akan terjun bebas dari ketinggian ini, lalu hancur berkeping-keping di tanah tanpa tersisa.


"Putar !" titahku, menyisakan rasa bergidik membayangkan kami berdua hancur di tanah.


Sambil menenggak dua cairan eliksir, aku kembali merapal mantra.


"Fire Arrow !" api biru kembali menyala di tanganku.


Mesin naga itu melaju di antara kepitan dua Golem itu, meliuk dengan posisi berputar dua kali, mempersempit jarak kami dengan Golem


"Pergilah dengan damai !" teriakku diantara peluh yang bercucuran di dahi ku.


Ku menatap hampa ketika dua api biru, kecil tapi makin lama makin besar, mungkin lebih besar dari rumah, ******* Golem dengan menimbulkan suara desis seperti rumput terbakar. Lalu..


Duar ! Dua Golem itu meledak.


Aku tak tahu apa-apa ketika saat yang bersamaan dengan meledaknya dua golem itu, jauh di atas bukit dekat tambang Elixir, dua perapal mantra jatuh terduduk dengan memuntahkan seteguk darah.


Bersambung.


Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2