
Hari telah menjelang pagi, ketika itu matahari bersinar dengan indahnya, dan kawasan reruntuhan kuno itu tidak lagi terlihat menyeramkan di mataku. Semua terlihat tak lebih dari memberi kesan bahwa itu hanyalah bekas-bekas dan rongsokan bangunan tua, yang mungkin pernah mengalami masa-masa kejayaan di waktu silam
Bahkan setelah meninggalkan reruntuhan kuno itu, ketika kami melewati kawasan pemakaman Kota Virgo yang konon menyeramkan dan penuh hantu penasaran dimalam hari, perasaan angker dan ngeri yang malam sebelumnya menindas perasaan, kini lenyap sudah. Aku hanya melihat tempat menyeramkan itu tak lebih dari gundukan-gundukan tanah kering tidak terawat, dan sebagian berbentuk semacam bangunan-bangunan kecil - mungkin makam milik orang kaya pada jamannya.
Ketika kami berempat melewati makam kota itu, di bagian makam orang-orang kuno, aku melihat empat pasang mata menatap kami dengan tatapan yang sulit digambarkan. Awalnya aku merasa biasa-biasa saja. Akan tetapi lama kelamaan, ketika empat pasang mata itu sepeti mengekor kemana aku pergi, timbul perasaan tidak nyaman, bahkan bulu tengkuk ku terasa berdiri - pertanda aku merasa ngeri.
Aku memalingkan wajah sekali lagi untuk memperhatikan empat pasang mata yang terkunci kearahkan, namun dengan cepat, kedua orang orang berpura-pura terlhat sibuk, dan berbincang-bncang seperti tidak ada kejadian yang aneh.
"Apakah mereka adalah semacam mahluk halus, atau kah mereka jelmaan monster? Kenapa perasaanku tidak nyaman, dan aku merasa ngeri dengan dua orang misterius itu?" batinku bertanya-tanya.
Ketika aku menceritakan pendapatku akan dua orang di pekuburan kuno itu kepada Cal, anak muda itu hanya menertawakanku, dengan mengatakan aku terlalu berfantasi yang berlebihan..
"Mereka itu hanya sekelompok pekerja makam Lea. Mana mungkin seorang yang sehari-hari kerja nyaadalah membersihkan area makam, mencabut rumput dan bersih-bersih, dapat memiliki kekuatan gaib yang membuat bulu tengkukmu meremang?" kata Cal mencoba membuatku percaya. Di mengakhiri kata-katanya dan mengajak tiga kawan lainnya untuk ikut menertawakanku.
"Akan tetapi... aku melihat sorot mata yang lain dari dua orang itu. Hampa dan dingin
Bahkan, aku merasa, seolah-olah mereka memeiliki kekuatan magis yang menarik diriku untuk mendekat kepada keduanya
Menurutku... Mereka itu semacam dracula atau vampire" kata ku mencoba membela diri.
Menurut instruktur sihirku, dracula adalah seorang tokoh yang menjadi leluhur para vampir. Dracula ini suka mnghisap darah gadis-gadis muda, yang hidupnya di kastil-kastil kuno di negri barat nun jauh disana.
Sedangkan Vampire adalah mahluk mitos kuno, ras tertentu yang kisah hidupnya mirip dengan dracula tadi, dimana mereka memperoleh kekuatan dan kemampuan sihir, dengan menghisap darah dari mahluk hidup.
Jadi perbedaan dengan dracul tadi adalah, Vampire merupakan ras, sedangkan dracula adalah tokoh. Keduanya menyesap darah, namun dracula menyesap darah gadis-gadis muda dalam hubungannya dengan kehidupan dan hasrat seksual, sementara vampire menghsap darah dari jenis mahluk hidup manapun. Konon yang terbaik dari berbagai darah itu, adalah darah manusia.
Ras vampire ini menghisap darah demi kekuatan sihir, bukan saja sekedar penyambung hidup seperti dracula, sesepuh mereka. Tentu saja, di masa perang sekarang ini, kekuatan adalah hal yang paling penting dan di cari oleh berbagai ras, untuk menjadi penguasa Benua Casiopea.
__ADS_1
***
Kembali lagi dan lagi, teman-temanku menertawakanku ketika aku dengan prasangka berlebihan mengatakan bahwa aku curiga mereka adalah vampire.
Suara gelak tawa terdengar dari empat kawanku itu. Cal dengan lantang menjelaskan bahwa perang antar ras di Benua Casiopea kami, telah ratusan tahun berlalu. Bersamaan dengan itu, ras-ras lainnya seperti vampir, avianse dan ras duyung ikut-ikut lenyap.
"Aku bahkan percaya kalau ras-ras itu telah punah, tertelan perkembangan zaman dan terlupakan oleh waktu" kata Debbie dengan sopan.
Debbie adalah seorang gadis yang paling aku sukai diantara mereka - tentu saja termasuk Jerry juga, anak muda berambut coklat dan mata coklat yang selalu bertatap mata dengan ku itu.
Mungkin karena Debbie adalah perempuan, sehingga aku merasa cocok dan akrab untuk berbicara dengan dia. Sebenarnya aku tidak menceritakan kelanjutan kisah tadi malam di Reruntuhan kuno.
Anak-anak muda dari Akademi Cahaya Primordial itu pada akhirnya menyerah dengan syarat yang aku berikan. Mereka bersumpah bahwa tidak akan membocorkan cerita dan kejadian malam tadi di reruntuhan kuno.
Kami berlima memasuki Akademi Militer Dorado, lalu dengan terburu-buru pergi ke bagian administrasi untuk mendaftarkan barang-barang bukti atas penyelesaian misi kami.
Pria yangkelihatnnya seperti seorang veteran tentara itu lalu bertanya, penuh selidik..
"Adakah diantara kalian berlima yang adalah anggota kelas sihir?"
Cal dengan senyum menunjuk ke arahku.
"Lea. Namanya Lea. Dan dia adalah seorang Magus, pengendali api" kata Cal keras-keras, yang membuatku memerah dan melotot ke arah Cal.
Sambil mengangkat bahu, Cal hanya menjawab,
__ADS_1
"Aku heran.. ada saja orang yang malu mengungkapkan kemampuan dirinya seperti itu.
Dan mungkin kamu adalah satu satunya orang yang malu mempromosikan diri, Lea" kata Cal menegurkan.
Aku kemudian berusaha tersenyum setelah mendengar teguran Cal. Dan pria penjaga stand itu berkata,
"Jika itu benar kamu adalah calon magus, atau mungkinkah kamu adalah seorang berpangkat Asisten Sihir Level Satu?" tanya pria yang bernama veteran perang Bernie itu.
Sambil tersipu-sipu malu aku berkata..
"Aku bahkan belum menerobos menjadi Asisten Sihir Level satu. Namun kekuatan sihirku ketika ku hitung di laboratorium, berada pada kisaran 1, sama dengan kekuatan sihir asisten sihir level satu" jawabku kini tidak malu-malu lagi.
Bernie kemudian ternganga mendengar penjelasanku.. katanya.
"Pantas saja kalian dapat menumpas imp-imp itu dengan cepat. rupa-rupanya ada seorang pemanggil api dengan kekuatan satu, mirip dengan Asisten Sihir Level satu.." kata Bernie sambil berulang kali memandangku tak percaya.
Cal memecahkan pembicaraan serius Bernie dengan berkata,
"Well .. ngomong-ngomong, dapatkah anda memberikan upah point kontribusi kami?" kata Cal sambil menyodorkan lima token yang mana adalah milik kami berlima.
Dengan memegang token atas nama masing-masing siswa, proses transfer nilai token dapat dilakukan dengan mudah.
Aku tersenyum senang melihat Bernie menggesek slip token kami dan mengisi nya dengan point kontribusi. Seketika aku membayangkan akan membeli 'Airmata Unicorn level nol, sebuah bahan magic yang akan membantuku mengalami peningkatan kekuatan menjadi Asisten Sihir Level satu.
"Total lima ratus point kontribusi, masing-masing token telah ku isi dengan poin senilai 100 point per token" kata Bernie sambil menyerahkan lima token kami.
Bersambung.
__ADS_1
Jika kamu suka cerita ini, dukung author dengan memberi like dan subscribe novel ini untuk pemberitahuan update nya. Terima kasih