
Cincin itu melayang di depan Sena namun hanya muncul 1 cincin. Padahal saat bertarung tadi cincinnya ada 3. Kemudian Sena mencoba memanggil cincin kedua. Cincin itu kemudian membelah menjadi 2 bagian.
Sena merasa tertarik dengan keajaiban cincin pusaka nya. Kemudian dia mencoba lagi memanggil cincin ketiga. Salah satu cincin lalu membelah sehingga sekarang muncul 3 cincin hitam melayang di hadapan sena. Namun saat mencoba memanggil cincin keempat, tidak ada pembelahan.
"Nampaknya Cincin ini hanya bisa membelah menjadi 3". Sepanjang malam sena hanya meneliti mengenai cincin pusakanya dan belajar mengendalikan ketiga cincinnya hingga dia terlelap.
Sama seperti biasa Sena kembali melanjutkan kegiatannya berlatih di dalam hutan kematian. Pertarungan dengan Hewan buas dan siluman yang hanya setingkat dan di bawah Kera putih menjadi latihannya sehari hari.
Kehidupan yang primitif dan tak bersentuhan dengan dunia luar sesungguhnya membuat kehidupan Sena menjadi lebih baik. Bagaimanapun dia sangat membenci jika bertemu manusia - manusia yang menurutnya berhati iblis dan mementingkan diri sendiri. Dia mulai berpikir untuk menetap selamanya di hutan ini bersama gurunya.
__ADS_1
Kesehatan Jaya Bhaya akhir - akhir ini menjadi menurun. Hancurnya pusat tenaga dalamnya puluhan tahun yang lalu mengikis usianya.bKetika menyadari usianya tak lama lagi. Jaya Bhaya memanggil Sena untuk menyampaikan pesan terakhirnya.
Jaya Bhaya tersenyum melihat Sena mendekat ke padanya. Bocah kecil yang menemaninya Hampir 9 tahun kini tumbuh menjadi pendekar tingkat langit diusianya yang baru menginjak 16 Tahun. Prestasi itu mungkin tidak dapat di sejajarkan dengan ribuan pendekar di kerajaan Kumbara. Namun ada 1 kekhawatiran Jaya Bhaya melihat muridnya yaitu aura membunuh yang pekat dari Sena.
Sambil memegang gulungan di tangan kanannya Jaya Bhaya duduk di depan Sena.
"Nak, Umur guru tidak lama lagi, Guru ingin memberikan beberapa pesan terakhir untukmu. Sebelumnya Guru ingin tahu apakah kamu berjanji kepada guru mu ini untuk melaksanakannya sepenuh hati". Jaya Bhaya berniat menguji kesetiaan muridnya sekaligus menuntunnya kearah kebaikan.
Guru Jaya Bhaya kemudian menyerahkan gulungan di tangan kanannya yang berisi teknik menghilangkan pusat tenaga dalam sehingga dia tidak perlu membunuh musuhnya untuk melumpuhkannya. Jaya Bhaya tidak ingin muridnya menjadi pendekar yang haus darah dan berdarah dingin.
__ADS_1
Selanjutnya Jaya Bhaya ingin Sena menemui seorang yang bergelar Dewa Tabib karena telah menolongnya dari luka ketika pusat tenaga dalamnya hancur. Dan yang terakhir Jaya Bhaya mengambil sesuatu di dalam kantongnya yang berupa mutiara kecil berwarna hitam dan memberikan kepada Sena.
"Sena ini adalah mutiara Iblis kegelapan. Ketika kamu ingin meninggalkan hutan kematian, Seraplah mutiara ini". Sena mengambil Mutiara berwarna hitam itu kemudian kembali membungkuk.
"Apakah kamu berjanji nak, Saya ingin mendengar dari suaramu yang sudah lama tak terdengar". Sena kemudian menatap gurunya.
"Murid akan mematuhi perintah guru selama murid ini masih hidup". Jaya Bhaya sangat gembira mendengar suara Sena.
Jaya Bhaya meminta Sena untuk mempelajari teknik Penghilang tenaga dalam yang berguna untuk hidupnya kelak sedangkan Jaya Bhaya kembali ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Selama beberapa waktu hingga menjelang malam Sena telah memahami isi teknik itu dan berniat membangunkan gurunya untuk makan malam. Namun baru Sena sadari bahwa gurunya telah menghembuskan nafas terakhirnya sambil tersenyum.