Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Menemukan Titik Terang


__ADS_3

Langit Malam dan udara dingin mulai menusuk tubuh Sena yang masih melesat membelah hutan menuju Kota Rando.


Menurut informasi Nenek Mirah, Dewa tabib yang memiliki nama asli Tungga Wijaya sedang menuju ibukota Kerajaan Kumbara dan diperkirakan masih berada di Kota Rando.


Selama beberapa hari Sena menggunakan ilmu meringankan tubuhnya agar bisa menyusul Tungga Wijaya di Kota Rando sebelum berangkat menuju Ibukota.


***


Di pinggiran hutan kota Rando terlihat seorang wanita muda di kelilingi beberapa pendekar bertubuh kurus yang sedang menatap penuh kemenangan.


"Hahahah, Akhirnya kami menemukan anak dari Dewa Tabib". Seorang Pria kurus berseragam hitam dengan lambang tengkorak kepala berwarna merah mendekat ke Arah Wanita yang sedang meringis kesakitan.


"Sampai kapanpun aku tak akan memberitahukan keberadaan ayahku". Dengan wajah tegar wanita muda itu memandangi puluhan mayat prajurit kerajaan yang mati mengenaskan karena melindunginya.


7 pria kurus dari padepokan Tengkorak Merah itu semakin geram namun mereka tersentak ketika salah satu teman mereka tumbang dengan pedang tertancap di bagian dadanya.


Pedang yang tertancap itu bergetar dan kembali ketangan seorang pemuda yang tiba tiba muncul di depan mereka.

__ADS_1


"Beraninya kau membunuh murid dari Padepokan Tengkorak Merah". 2 Pendekar Tengkorak Merah langsung menyerang kearah pemuda yang menggunakan 2 pedang tersebut. Dengan tingkat pendekar raja, yang sama dengan para pendekar Tengkorak Merah, dia yakin bisa melumpuhkan pemuda itu dengan 2 orang saja.


Namun Pemuda 2 pedang itu memilki kecepatan dan teknik yang lebih tinggi apalagi kedua pedang yang dapat bergerak bebas dan kembali lagi ke tangan pemuda itu.


Masing masing pedang meliuk liuk melukai pendekar tengkorak merah. Melihat kedua teman mereka terdesak 1 orang kembali menyerang Pemuda 2 pedang itu yang sedang berkonsentrasi mengatur pergerakan kedua pedangnya.


"Bukkk"


Pemuda itu Terlempar hingga menabrak pohon. Kedua pedangnya kembali dengan salah satunya berlumuran darah karena berhasil menembus perut salah satu pendekar Tengkorak Merah.


Sedangkan 1 orang tersisa menyekap Wanita muda yang sebelumnya diketahui sebagai anak Dewa Tabib.


***


Sena yang hampir mencapai gerbang Kota Rando menghentikan langkahnya mendengar suara pertempuran. Dia menekan pusat tenaga dalamnya dengan aura kegelapan sehingga hawa pendekar yang di milikinya tidak bisa di deteksi.


Di atas pohon Sena menyaksikan dan mendengar percakapan di bawahnya, Alangkah terkejutnya dia mengetahui bahwa wanita yang sedang di sergap adalah anak dari dewa tabib.

__ADS_1


Melihat Penjagaan Terhadap anak dewa tabib berkurang Sena melesatkan 2 cincin nya untuk melingkari tubuh anak dewa tabib dan seorang pendekar tengkorak merah yang menyekapnya. Kedua tubuh itu langsung pingsan di mana Pusat tenaga dalam pendekar Tengkorak merah itu hancur. Sedangkan Anak dewa Tabib melayang cepat bersama cincin yang melingkarinya menuju Sena.


Kejadian ini berlangsung sangat cepat tanpa sepengetahuan keempat teman pendekar Tengkorak merah yang masih sibuk menyerang Pemuda 2 pedang tersebut.


Sena berencana menjauhi lokasi pertempuran dengan membawa anak dewa tabib namun sena berhenti karena anak dewa tabib membuka matanya dan berteriak ketika mengetahui tubuhnya sedang di gendong seorang Laki laki.


"Akhhhhhhh".


Teriakannya yang besar terdengar hingga lokasi pertempuran. Ketiga Pendekar Tengkorak merah yang marah besar karena satu temannya kembali tewas di tangan pemuda 2 pedang tersebut, namun keadaan pemuda 2 pedang itu sudah tak berdaya tersungkur di tanah dengan mulut mengeluarkan darah.


"Kurang aj*r dimana wanita itu, cepat cari". Ketiga Pendekar tengkorak merah tersadar ketika melihat temannya yang menjaga anak Dewa tabib pingsan. Dengan cepat melesat menuju asal suara teriakan meninggalkan pemuda 2 pedang yang sudah tak berdaya.


"Siapa Kau ? Aku takkan memberitahukan keberadaan ayahku". Anak dewa tabib mencoba berlari menjauh mengira Sena sama dengan pendekar Tengkorak Merah, namun dengan cepat Sena menarik tangan gadis itu hingga tersentak memeluk tubuhnya. Sena melihat 3 orang pendekar Tengkorak merah sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan penuh emosi.


Gadis itu sejenak terdiam dengan perasaan tak karuan sambil memeluk hingga perkataan Sena membuyarkan pikirannya.


"Berdiri di belakangku jangan di depanku" Sena mendengus karena melihat 3 masalah di depannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2