
Pertandingan kelompok pertama selesai dengan cepat. Riuh penonton mulai terdengar melihat bakat bakat pendekar muda di kerajaan mereka. Namun ada beberapa tatapan benci yang mengarah kepada Arjunta sebagai bintang di kelompok ini.
"Mahapatih Anom. Jagoanku dari Padepokan Bintang Emas tidak akan kalah hebat dari murid Padepokan Pedang Kebenaran itu". Tumenggung Atmaja tidak mau mengalah walaupun terkejut dengan kemampuan Arjunta. Namun bukan hal lumrah bagi pendekar bahwa kemenangan dalam pertarungan tidak hanya di tentukan dari tingkat tenaga dalam tapi banyak aspek lainnya seperti pusaka dan pengalaman bertarung.
" Murid dari Padepokan Cahaya Surga juga akan menunjukkan kemampuan pertahanannya". Timpal Tumenggung Ardana yang berasal dari Padepokan Cahaya Surga.
Babak pertama terus berlanjut. Turnamen kali ini memunculkan bakat bakat yang mengagumkan bahkan setiap kelompok memiliki pendekar tingkat Raja seperti Erlangga yang berasal dari Padepokan Cahaya Surga dan perwakilan dari Partai /Pengemis.
Hingga pertandingan kelompok ketujuh akan dimulai, terlihat seorang lemuda berpakaian Sutera Emas naik ke arena. Beberapa orang mengenalnya sebagai murid suci Padepokan Bintang Emas.
Bakatnya dianggap terbaik selama ini sebelum kemunculan Arjunta. Dengan percaya diri dia menaiki arena menatap semua calon lawannya. Siapapun yang mengenal dan pernah mendengar sepak terjangnya akan bergidik nyeri. Sebagai pemuda paling berbakat, kemampuan bertarungnya sudah diakui bahkan oleh Raja Kumbara. Padahal umurnya saat ini baru menginjak 22 tahun.
Ketika pertandingan baru di mulai Satria langsung menyeruduk mengeluarkan jurus jurus tapak bintang emas. Setiap gerakannya menghempaskan lawan lawan yang menjadi targetnya. Tiada yang bertahan lebih dari 3 jurus.
Hampir setengah peserta di kelompok 7 di kalahkan oleh Satria. Senyuman Atmaja terukir lebar melihat kemampuan bertarung Murid Suci dari Padepokan dimana dia pernah belajar.
Semua penonton menarik nafas melihat cara bertarung Satria. Cara bertarungnya yang seperti monster membuatnya dapat membantai banyak lawan tanpa berkedip. Kurang dari 10 menit hanya tinggal 4 pendekar yang masih berdiri. Untung saja Rangga Jaya Wardhani sempat menghentikan pergerakan Satria sehingga tidak menyerang 3 peserta lainnya.
Arjunta menatap tajam kepada Satria. Walaupun tak sehebat Sena namun dia merasa pemuda buas di tengah arena memiliki kemampuan yang cukup menakutkan.
"Cara bertarung pemuda itu tak pernah berubah Atmaja". Prabu Sanjaya Maharaja menoleh kearah Atmaja. Sebagai Tumenggung yang berasal dari Padepokan Bintang Emas tentu dia tahu perkembangan dari Satria sebagai murid suci.
"Paduka Raja, walaupun Satria terlihat buas tapi saya yakin dia tidak akan menjadi pembunuh berdarah dingin". Kata Atmaja penuh keyakinan.
Prabu Sanjaya dan Mahapatih Anom menganggukkan kepalanya melihat keyakinan Tumenggung Atmaja.
__ADS_1
Kembali ke arena pertarungan. 42 pendekar muda di kelompok 7 telah mengambil posisi di tengah Arena. Terlihat Sena berjalan diikuti oleh Dewi Lasmini. Entah jodoh atau kebetulan, tapi Lasmini dan Sena berada pada kelompok yang sama.
"Hahhaha lihatlah jagoanku, sebentar lagi dia akan mengguncangkan arena ". Tumenggung Raharja akhirnya bersuara setelah lama menunggu Sena memasuki Arena.
"Dimana gerangan Jagoanmu Raharja ?". Tumenggung Ardana penasaran dengan pendekar muda yang nampak dibanggakan oleh Raharja.
"Nanti kalian akan tahu. Dia memiliki kemampuan yang paling hebat dari semua peserta turnamen tahun ini". Raharja semakin menyombongkan diri akan kemenangan mutlak yang akan di raihnya.
Prabu Sanjaya Maharaja mengerutkan keningnya mendengar keributan yang disebabkan barisan Tumenggung yang berada di belakangnya. Dia sangat penasaran dengan keyakinan besar Raharja padahal telah melihat kemampuan Arjunta, Satria dan Erlangga.
"Seberapa hebat jagoan Tumenggung Raharja". Gumam Prabu Sanjaya. Disela lamunan Prabu Sanjaya tiba tiba terdengar suara ratu Dewi Kenanga mengagetkannya.
"Kakang Prabu, Lihat disana ada Putri Lasmini". Ratu Kenanga menunjuk kearah wanita cantik berpakaian putih di tengah arena.
Prabu Sanjaya tahu betul jika Putrinya sudah berkehendak maka tidak ada orang yang mampu mencegahnya. Sang Raja juga telah mengetahui kekuatan Dewi Lasmini yang mengerikan karena memiliki tubuh yang istimewa. Diusia 15 Tahun sudah mencapai Pendekar Raja Gerbang pertama.
Sang Raja memandang anaknya yang terus berada di dekat seorang pemuda yang nampak selalu dingin kepada Putrinya.
"Nampaknya Lasmini tertarik dengan Pemuda itu" Gumam Prabu Sanjaya. Dengan segera dia memanggil pengawal di sampingnya untuk menyelidiki latar belakang Sena.
Pertandingan babak pertama untuk kelompok 7 segera dimulai. Puluhan mata menatap Sena dengan kebencian. Hal ini tentu pengaruh kecemburuan akan kedekatan Sena dengan Dewi Lasmini.
Saat Gong Berbunyi, Semua pendekar telah mengeluarkan jurus jurus pamungkasnya. Dengan aturan babak seperti ini pendekar harus cerdas dalam menghemat tenaga dalam dan memilih lawan. Karena kunci utama untuk lolos ada pada ketahanan tubuh hingga menyisahkan 4 peserta di dalam arena.
Bunyi pedang yang beradu, Pukulan yang bertumbukan hingga tendangan yang mendarat pada tubuh pendekar memenuhi pendengaran Sena.
__ADS_1
"Hehehe saatnya beraksi Sena, tunjukkan kekuatanmu". Kata Raharja dalam hati. Dia ingin melihat ekspresi penonton terutama para Tumenggung ketika mengetahui tingkat pendekar langit yang di miliki Sena.
Terlihat Seorang pemuda kekar membawa gadah besar berlari mengayunkan benda besar itu kearah Sena, yang sejak tadi hanya berdiri di pinggir arena menjauhi pusat pertempuran.
"Hahaha menyerahlah pengecut". Pemuda bersenjata gadah itu tersenyum mengira Sena ketakutan karena tak bergerak dari tempatnya, saat itu serangannya akan segera mendarat di dada Sena. Melihat serangan datang, Sena bersiap menyerang dengan jurusTarian Iblis Kegelapan.
Trangggg
Gadah besar itu di tahan oleh sebuah Pedang Putih yang di genggam Dewi Lasmini. Dengan Tatapan dinginnya menatap Pemuda kekar itu.
"Jangan Menyentuh Milikku". Dengan Tenaga dalam yang dialirkan ke Pedangnya. Pemuda Kekar itu terlempar hingga keluar dari Arena.
Sejenak semua penonton menatap takjub kearah Dewi Lasmini yang sudah mencapai Pendekar Raja diusia Semuda itu.
"Tuan Prabu Sanjaya. Anda memiliki putri yang sangat berbakat". Tumenggung Ardana memuji kecepatan perkembangan Dewi Lasmini yang lebih mengerikan di bandingkan Arjunta dan Satria.
Sang Raja Kumbara hanya tersenyum menanggapi semua sanjungan dari petinggi kerajaan. Sebagai seorang ayah sebenarnya Prabu Sanjaya tidak ingin membuat Dewi Lasmini menjadi sorotan karena kekuatannya. Namun berapa lamapun dia menyembunyikan kekuatan Putrinya, akhirnya akan terbongkar juga seperti saat ini.
Sena yang merasa di lindungi oleh Lasmini merasa risih. Seluruh lawan yang hendak menyerangnya tidak ada yang mendekatinya karena terlebih dahulu di lumpuhkan oleh Dewi Lasmini.
Sorai penonton terdengar mengejek Sena karena di lindungi oleh seorang perempuan. Dirinya bahkan tak bergerak sepanjang pertandingan hingga peserta menyisahkan 4 termasuk Dewi Lasmini yang tersenyum puas kearah Sena.
"Kenapa jadi begini". Kata Tumenggung Raharja menjambak rambutnya.
*Maaf jika cerita ini terlalu lambat alurnya, namun saya tidak ingin terlalu tergesa gesa untuk menampilkan klimaks, takut alurnya membosankan sesudah klimaks.
__ADS_1