
Sepanjang perjalanan tiada hambatan berarti yang di alami oleh Sena. Tujuannya kini menuju Gunung Arjuna. Menurut salah satu gulungan kuno yang di bacanya. Disana terdapat salah satu Raja Siluman.
Raja Siluman adalah gelar bagi siluman yang menjadi pimpinan berbagai jenis siluman. Umumya mereka memiliki kemampuan yang sangat hebat setara pendekar suci mungkin diatasnya, namun kemunculan yang sangat jarang membuat orang orang tak terlalu memperhatikan keberadaan mereka. Mungkin penduduk lebih mempercayai siluman lebih kearah Mitos.
Sena awalnya juga tak mempercayai makhluk yang bernama siluman itu tapi setelah pertarungannya dengan Siluman Kera Putih membuat pandangannya akan mitos itu berubah.
Di gulungan kuno itu tertulis jelas bahwa kemunculan Raja Siluman hanya kan terjadi jika muncul sesuatu yang membuat mereka tertarik. Kemungkinan informasi mengenai siluman terbatas karena orang yang bertemu siluman tidak akan di biarkan pulang
hidup hidup.
Di pikiran Sena saat ini adalah hilangnya Mutiara Tubuh Abadi yang pernah menjadi milik Padepokan Bukit Api. Atas kehadiran mustika ini jugalah yang mengundang serangan raja siluman menghancurkan padepokan itu.
Jika memang Mutiara itu telah di serap oleh seseorang, nyawanya akan dalam keadaaan berbahaya jika telah menginjak usia 18 tahun. Diusia ini aroma tubuh abadi akan mudah di kenali oleh siluman yang sangat menginginkan tubuh Abadi.
Pikiran Sena berkecamuk di perjalanannya kali ini, meskiun tidak mengetahui pemilik tubuh abadi, entah mengapa hatinya tidak tenang dengan bencana yang akan di ciptakan oleh Raja siluman.
Pemilik Tubuh abadi akan mengalami perkembangan tenaga dalam yang di luaar nalar manusia, itulah ciri ciri utama pemilik tubuh abadi. Pikiran awal Sena mendiagnosa dirinya sendiri sebagai pemilik tubuh abadi tapi hal itu juga tak mungkin terjadi, karena manusia hanya bisa menyerap satu mustika.
Memang terlihat bodoh jika Sena mendatangi pihak yang bisa saja menyerangnya.
Di kerajaan Kumbara pernah ada 2 Raja siluman yang menguasai wilayah ini sebelum menghilangkan. Salah satunya sedang menjadi tujuan Sena beberapa hari ini.
Kini dia telah memasuki Kota Sanriga. Kota yang memiliki wilayah terkecil di kerajaan Kumbara.
“Lebih baik saya menikmati hidup sejenak””
Cara pandang Sena setidaknya telah berubah kini dia memiliki banyak hal yang harus dia pecahkan sendiri. Menikmati hidup juga sudah menjadi rencana dalam menjalani hidupnya yang sempat berada dititik
kejenuhan.
__ADS_1
Sena melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah makan di kota ini. Sudah cukup lama baginya tidak menikmati makanan lezat dengan banyak rempah. Dengan pakaian yang mencolok dan wajah yang dingin. Tatapan sebagian besar pengunjung mengarah kepadanya namun Sena sama sekali tak menganggap manusia lemah di sekitarnya setelah melihat pendekar yang tertinggi hanya berada pada tingkatan pendekar Raja.
Sena hanya menyimpan satu koin perak diatas mejanya yang langsung di sambar penuh gembira oleh pelayan. Uang ini di berikan oleh Tumenggung Raharja sebelum berpisah.
Tak perlu waktu lama, berbagai macam hidangan tersusun rapi di meja sena. Dengan lahap Sena memastikan semua makanan itu akan mengisi perutnya.
“Ayo kita ke lapangan, disana sedang diadakan ekseskusi bagi pendekar aliran hitam”
“disana juga ada beberapa pendekar Padepokan Tongkat Sakti yang berhasil menangkap penjahat itu”
Bisikan pengunjung menyebar dengan cepat didalam rumah makan itu. Sebagian besar pengunjung berbondong bondong untuk
menyaksikan ekseskusi itu. Terlihag wajah antusias di wajah Sena mendengar kata penjahat yang kini menjadi salah satu kesenangannya untuk di bantai.
Langkahnya terhenti di sebuah lapangan luas. Didepannya terlihat puluhan orang berpakaian ungu berlutut dengan keadaan yang mengenaskan. Tangan mereka diikat dan wajah mereka penuh dengan memar.
Pria sepuh yang dikenal sebagai pimpinan kota Sanriga menatap sinis kerah anggota padepokan Kelabang Ungu. Disampingnya ada beberapa pendekar yang memegang tongkat. Dari bisikan penonton, Sena bisa menebak bahwa orang orang itu adalah pendekar Padepokan Tongkat Sakti yang telah mebawa para tawanan diatas pangggung untuk dieksukusi oleh pemimpin kota.
Tidak menjadi rahasia lagi bahwa puluhan angota padepokan tingkat rendah dan menengah berlomba lomba menunjukkan kontribusi nyata mereka terhadap kerajaan untuk mendapatkan dukungan dan nama di Kerajaan Kumbara.
Pimpinan Kota terlihat akrab dengan petinggi petinggi padepokan aliran putih itu.
Senyuman lebar terlihat menghiasai wajah mereka berbanding terbalik dengan wajah para tawanan yang sudah pasrah dengan keadaan mereka.
“Inilah akibat jika bergabung dengan aliran hitam, segera esekusi”. Teriak pimpinan kota diikuti algojo yang membawa pedang besar untuk menebas leher puluhan pendekar Kelabang Ungu.
Belum sempat pedang besar menyentuh tengkuk penjahat itu muncul kekacauan yang di sebabkan oleh seorang gadis cantik berpakaian sama dengan tawanan yang akan di eksekusi.
“Berhenti”
__ADS_1
Gadis itu datang dengann beberapa luka di tubuhnya. Usianya sepantaran dengan Sena bahkan lebih muda dengan tenaga dalam tingkat ahli gerbang 2. Matanya sembab memeluk ayahnya yang merupakan salah tawanan yang akan dieksekusi.
“Ayah mereka semua menuduh kita sebagai penjahat padahal kita tidak pernah menganggu penduduk meskipun sering di hina.”. Gadis itu tersedu sedu memandangi seluruh keluaarga padepokanya yang seperti telah siap kehilangan nyawa. Menyebarnya fitnah beberapa minggu lalu membuat mereka akan di ekseskusi mati oleh pihak Kota Sanriga tanpa bisa berbuat apa apa lagi.
Pimpinan kota yang bernama Indra Takim menyipitkan matanya melihat adegan didepannya. Sedangakan ketua Padepokan Tongkat Sakti yang bernama Damar itu terlihat kesal dengan kedatangan gadis cantik itu.
“Dasar anak bodoh”.
Ketua Damar mengutuk kebodohan anaknya melepaskan anak dari ketua padepokan Kelabang Ungu. Setelah mereka mefitnah Padepokan Kelabang Ungu dengan kejahatan yang di perbuatnya. Dengan penuh rasa kepahlawanan mereka menyerang dan menyerahkan pendekar padepokan Kelabang Ungu untuk dieksekusi.
Awalnya anak ketua padepokan yang bernama Cempaka juga akan ikut dieksukusi namun melihat kecantikannya, Dafar anak dari ketua Damar memohon kepada ayahnya agar gadis itu menjadi budaknya sebelum dieksekusi sendiri.
Entah bagaimana caranya gadis yang nampak lemah ini bisa sampai di tempat ini.
“Tuan Indra, dia adalah Cempaka, bagian dari padepokan Kelabang Ungu”.
Salah satu tetua Tongkat Sakti menangkap Cempaka dan mulutnya diikat seutas kain untuk membungkam mulutnya. Tindakan ini justru membawa kecurigaan bagi Pimpinan Kota.
Sebelum kasus pembunuhan 4 hari yang lalu,
sebetulnya Tuan Indra mengetahui bahwa anggota Padepokan Kelabang Ungu memiliki perangai yang baik dan tidak pernah membuat kekacauan di kota ini. Tapi karena bukt bukti yang terus di berikan pihak Tongkat Sakti membuat Tuan Indra harus menghukum anggota Kelabang Ungu sesuai peraturan kerajaan.
“Segera lanjutkan eksekusi”. Teriak Pemimpin kota penuh rasa bimbang dengan keputusannya.
Sena seperti menonton pertunjukan yang membingungkan sudut pandangnya. Nampak jelas di matanya bahwa seluruh anggota Padepokan Kelabang Ungu memiliki aura kebaikan di tubuhnya menandakan orang orang itu jarang membunuh.
“ikut campur , tidak”. Sena menimbang nimbang tindakan yang harus dia ambil. Dirinya menghela nafas panjang setelah membuat langkah yang akan diambilnya.
“Berhenti”
__ADS_1