Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Padepokan Bukit Api


__ADS_3

Di Markas Prajurit Kota Wanua terlihat Tumenggung Raharja dan ketiga Rangga sedang duduk memikirkan keadaan genting yang terjadi.


Beberapa hari yang lalu laporan mengenai penyerangan terhadap Padepokan padepokan kecil dan menengah aliran putih semakin gencar terjadi. Walaupun ada beberapa sekte yang mampu bertahan dari kehancuran tapi kerugian yang di alami sangat besar.


Padepokan Cakar Setan menjadi nama yang muncul di balik semua serangan itu. Keberhasilan mereka menghimpun padepokan padepokan kecil di bawahnya membuat kekuatan mereka kini sangat di takuti pihak kerajaan maupun Padepokan besar aliran putih.


Namun sampai saat ini belum ada pergerakan nyata dari Padepokan besar itu yang sempat di khawatirkan oleh Prabu Sanjaya Maharja. Sebagai gantinya padepokan bawahan mereka mulai menunjukkan pernyataan perang dengan menyerang beberapa padepokan kecil dan menengah aliran putih.


Kemungkinan saat ini Padepokan Cakar Setan sedang berusaha melemahkan kekuatan pendukung kerajaan dan padepokan besar aliran putih sehingga mempermudah mereka menjalankan aksinya menghancurkan Kerajaan Kumbara.


Tumenggung Raharja yang biasanya terlihat santai kini kerutan sering muncul didahinya memikirkan cara menumpas Pendekar Padepokan Cakar Setan. Beberapa hari yang lalu ketiga Rangga nya berusaha mencari keberadaan dan peta kekuatan padepokan itu namun tidak ada hasil sama sekali.


“Lapor Tumenggung, Rangga Baskara dan pasukannya datang membawa puluhan tawanan bandit”. Salah satu prajurit memberikan laporan ditengah pergulatan pikiran Raharja.


Keempat petingi prajurit itu segera keluar menyambut Rangga Bagaskara. Terlihat puluhan tawanan sedang berlutut di lapangan markas besar itu. Rangga Bagaskara kemudian mengajak Tumenggung Raharja untuk berbicaraempat mata.


Bagaskara memberikan laporan mengenai perjalanannya menumpas Bandit Serigala Api dan kabar mengenai keberadaan bandit Lembu Gunung yang selama ini menjadi daftar hitam Kerajaan.


Tindakan Sena juga tak luput dari pelaporan Bagaskara yang membuat Raharja mengerinyitkkan dahinya.


“Pemuda itu ternyata salah mengerti mengenai hal ini”. Tumenggung Raharja memilin kumisnya memikirkan tindakan Sena lalu menghela nafas panjang.


“Baiklah, Istirahatlah karena besok kita akan menuju lokasi Markas Bandit Lembu Gunung””. Tumenggung Raharja menepuk pundak Bagaskara sebelum kembali ke kamarnya.


***


Sudah 2 hari Sena berpacu diatas punggung Jali. Terlihat kualitas kuda hitam itu memang diatas rata rata kuda yang ada di kerajaan


kumbara. Dengan ukuran yang lebih besar dan tenaga yang kuat, Kuda itu menemani


perjalanan Sena meskipun hanya sedikit istirahat.


Sena telah sampai di sebuah bukit berkabut tipis yang terasa panas bahkan Jali memekik merasakan kabut panas yang merasuk melalui kulit tebalnya. Pemuda dingin itu tidak mungkin memutari bukit hanya untuk menghindari kabut ini. Itu hal yang memalukan bagi Sena sedangkan Gunung tandus yang menjadi tujuannya masih sangat jauh jika dilihat dari ukurannya yang kecil.


Aura kegelapan kemudian menyelimuti tubuhnya dan Jali, Dengan itu mereka dengan mudah menerobos kabut panas itu tanpa terluka sedikitpun. Sena melanjutkan laju kudanya hingga mereka terhenti melihat

__ADS_1


pertempuran besar yang terjadi didepannya.


“Hancurkan Padepokan Bukit Api” teriak Pendekar bertopeng Perak menyerang puluhan pendekar berpakaian serba merah.


Teriakan pertempuran terus bergema memenuhi udara di atas bukit itu, asap membumbung tinggi dari bangunan yang terbakar menandakan penyerangan ini dilakukan secara mendadak.


Terlihat puluhan pendekar bertopeng hitam membunuh musuh mereka dengan brutal meskipun ada beberapa pendekar berpakaian


merah yang memberikan perlawanan yang sengit.


“Aura para pendekar bertopeng ini sepertinya sama dengan milikku meskipun terlihat sangat tipis”. Sena menyunggingkan senyuman yang terlihat seperti psikopat yang mendapatkan mainan baru.


Sejauh penglihatan Sena, jika pertempuran di lanjutkan, kemenangan akan diraih oleh Para pendekar bertopeng meskipun harus membayar mahal dengan kematian sebagian besar teman mereka karena lawan memiliki


beberapa orang kuat di tingkat langit dan Kaisar.


“Ketua, musuh terlalu banyak. Semua anak anak dan orang tua telah berkumpul didalam ruangan khusus padepokan”. Seorang Pria setengah baya yang telah bersimbah darah melaporkan keadaan anggota Padepokan Bukit Api.


“Mereka sudah aman, tidak ada jalan bagi mereka mengetahui persembunyian itu. Sekarang saatnya kita melindungi warisan leluhur di bukit ini”. Ketua Padepokan Bukit Api mengeluarkan auranya sebelum melesat menyerang Topeng Perak


Topeng Serak sedang bertarung sengit dengan Ketua Padepokan Bukit api yang


menjadi ganjalan terakhir sebelum menyelesaikan misi yang di berikan Ketua Padepokan Cakar Setan.


Tak ingin kehilangan momentum untuk menumpas kejahatan, Sena meledakkan aura kegelapan di dalam tubuhnya. Dengan gagah dia mendarat tepat ditengah pertempuran itu sambil memandangi seluruh pendekar bertopeng hitam dengan  wajah dinginnya.


Semua yang bertempur menghentikan gerakannya melihat seorang pemuda terselimuti kabut yang berkobar seperti api hitam. Tanpa membuang waktu  Sena melesat menyerang satu persatu pendekar bertopeng dengan kekuatan penuhnya.


Setiap gerakannya mampu menghempaskan lawannya hingga tak berdaya sedangkan aura kegelapnnya semakin ganas dengan membentuk lengan yang langsung menyelimuti pendekar brtopeng dan menyerap tenaga dalam mereka hingga mengering.


Sena begitu menikamati pertarungan hingga dia meraskan jari tangannya bergetar kuat. Cincin misteriusnya nampak tak ingin


ketinggalan untuk membantu tuannya.


“Cincin lumpuhkan semua lawan”.  Teriak Sena.

__ADS_1


Sena tersadar sudah bebrapa lama tidak menggunakan cincin misteriusnya yang menjadi kekuatan terbesarnya hingga saat ini.


Hanya berselang beberapa menit, kondisi pertempuran kini berbalik merugikan kelompok pendekar bertopeng. Kehadiran seorang pemuda misterius telah membalikkan keadaan sekan membalikkan telapak tangan.


Jurus jurus tingkat tinggi, kemampuan aura kegelapan dalam melemahkan musuh dan Ketiga cincinnya yang terus meliuk liuk menghantam pendekar bertopeng hingga jumlah mereka berkurang drastis.


Kini seluruh pendekar Padepokan Bukit Api memilih menghindari pusat pertempuran karena merasa lega dengan kedatangan pemuda berjubah merah yang tampak berada di pihak mereka. Namun masih ada beberapa keraguan muncul di hati mereka melihat cara pemuda itu melumpuhkan lawannya.


Pendekar bertopeng Perak yang awalnya bertarung sengit dengan ketua Padepokan Bukit Api menghentikan gerakannya mengamati seluruh bawahnanya yang kocar kacir kerena serangan satu orang pemuda.


Amarahnya memuncak mendengar teriakan teriakan menderita bawahannya namun belum sempat dia bergerak sebuah pukulan


tepat mengenai dadanya.


“Bukkkkk”.


"Kearah mana kamu akan pergi. Pertarungan kita belum selesai".


Ketua Padepkkan Bukit Api itu menyeringai karena berhasil memberikan pukulan telak pada lawannya, setelah puluhan jurus yang dia kerahkan di mentahkan pria bertopeng perak di depannya.


Kakek Tua itu menyadari kemampuannya masih berada dibawah Topeng Perak namun kini dia yakin menang setelah melukai pria bertopeng perak itu dengan pukulan terkuatnya.


“Bajing*n Tua, Beginikah cara pendekar aliran Putih bertarung”. Teriak pria bertopeng perak dengan memegangi tulang dadanya yang


terasa remuk.


Kini dirinya telah kehilangan kendali. Serangan demi serangan dia lakukan tanpa mempedulikan kondisi tubuhya yang telah terluka.


“Kub*nuh kau”.


Ketua padepokan Bukit Api terus terdesak hingga tubuhnya terkena tendangan sehingga terhempas cukup jauh membuat seluruh anggota padepokannya berteriak khawatir.


“Hahahaha ternyata ada orang kuat disini”.


Sena melepaskan cengkramannya pada pendekar bertopeng hitam terakhir. Semua lawannya kini telah dibantai menyisahkan pria bertopeng perak yang terlihat kuat.

__ADS_1


__ADS_2