Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Bertemu Dewa Tabib


__ADS_3

Isyana Mundur 3 langkah setelah melihat wajah Sena yang dingin.


"Ternyata kau sama saja dengan anggota perguruan tengkorak merah". Isyana mencoba berlari menjauhi Sena. Dia sudah bertekad menyembunyikan ayahnya dari pendekar aliran hitam.


Sena kembali menghadang Isyana. "Saya janji tidak akan berbuat jahat". Entah mengapa jika di hadapan isyana.Suara sena yang langka sering terumbar. Sena pun tidak mengerti akan hal itu.


Isyana memperhatikan kembali mimik wajah Sena, Walaupun dia pernah merasakan aura kegelapan Sena saat bertarung yang begitu kelam, namun timbul keyakinan di hati Isyana bahwa orang di hadapannya bisa di percaya.


"Baiklah tapi setelah bertemu ayahku jangan mengatakannya kepada orang lain". Isyana menghela nafas panjang melihat Sena menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua berjalan menuju kota Rando. Sepanjang jalan mereka tidak pernah berbicara, hanya sesekali isyana menengok wajah Sena yang tampak selalu kaku dan dingin.


Tujuan Isyana kehutan sebenarnya adalah mencari obat obatan yang akan di gunakan untuk mengobati ayahnya dengan di kawal beberapa prajurit kerajaan. Namun naas mereka bertemu pendekar padepokan tengkorak merah hingga kejadiannya seperti ini.

__ADS_1


Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai di Kota Rando. Isyana langsung menuju penginapan rahasia di mana saat ini ayahnya terbaring sakit akibat racun.


2 Prajurit Kerajaan nampak berjaga di depan rumah kecil yang didalamnya terbaring sosok pria yang gagah meskipun telah berumur lebih setengah abad.


"Putri Isyana, dimana prajurit kerajaan yang tadi mengawal?". Salah satu prajurit heran karena Isyana tidak dikawal prajurit.


"Kami di serang anggota Tengkorak Merah. Semua prajurit kerajaan mati". Isyana tertunduk sedih mengingat puluhan prajurit yang melindunginya mati mengenaskan. Kedua prajurit yang mendengar perkataan Isyana tertunduk lesu. Bagaimanapun sudah resiko seorang prajurit mati di medan pertempuran apalagi saat ini mereka ditugaskan mengantar Dewa Tabib kembali ke Ibukota Kerajaan.


"Ayahku saat ini sedang terkena racun dan sudah 3 hari tidak sadarkan diri". Dengan raut muka sedih Isyana menatap sendu wajah Ayahnya.


"Bagaimana saya bisa menyampaikan pesan Guru Jaya Bhaya jika Dewa Tabib tak sadarkan diri". Sena awalnya kesal bertemu dewa tabib dengan keadaannya seperti ini namun setelah melihat wajah sedih Isyana, dia teringat kembali bagaimana perasaannya saat melihat Bi Ratih dan Gurunya sakit.


Isyana menghapus air matanya dan menoleh manatap sena. "Oh yah sebelumnya saya berterima kasih karena telah menyelamatkanku.Namaku Isyana Tunggadewi".

__ADS_1


"Namaku Arya Sena". Sena menjawab tanpa melihat wajah isyana. Sena masih serius menatap Tubuh Tungga Wijaya hingga dia teringat akan kemampuan Cincin misterius di tangannya.


Tanpa basa basi Sena mengeluarkan aura kegelapannya yang membuat tubuh Tungga Wijaya melayang, di susul munculnya cincin misterius yang ukurannya membesar dan masuk melingakari tubuh Tungga Wijaya.


"Apa yang kau lakukan ? ". Isyana berteriak melihat Sena mengeluarkan aura kegelapannya yang ditujukan kepada ayahnya. Kedua prajurit kerjaan yang berjaga masuk untuk menghentikan sena namun tubuh mereka terlempar hingga pingsan karena terkena aura kegelapan.


Isyana yang tak tahu harus berbuat apa apa karena tidak bisa mendekati Sena dan Ayahnya. Dia hanya bisa menangis berlutut melihat tubuh ayahnya di selimuti kabut hitam. Hingga Beberapa saat cincin dan kabut itu perlahan menghilang dan Tungga wijaya kembali berbaring sambil memuntahkan seteguk darah berwarna hitam.


Isyana berlari memeluk ayahnya.Dengan mata memerah dia menatap Sena "Dasar Iblis".


Sena tak mempedulikan tatapan Isyana. Dia melangkah keluar kamar mencari tempat yang lebih tenang untuk saat ini. "Nampaknya raacun ini sangat kuat hingga tidak bisa langsung habis terserap. Setidaknya dalam beberapa jam dia akan sadar". Gumam Sena.


Isyana masih menangisi Ayahnya hingga beberapa menit kemudian dia memeriksa denyut nadi ayahnya. Alangkah terkejutnya setelah mengetahui denyut nadi Ayahnya mulai normal kembali dan racunnya sebagian besar telah keluar dari tubuh Tungga Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2