
Kematian 4 pimpinan Hewan Buas membuat seluruh bawahan yang tersisa menjadi ketakutan. Selepas dari kendali pimpinan mereka, tidak satupun Hewan Buas tingkag rendah yang mau melanjutkan pertarungan. Mereka mencoba melarikan diri dari aura kegelapan dan cincin yang masih terus mencari mangsa di malam itu.
Prajurit Kota Sanriga dan sekutu kembali mendapatkan kepercayaaan diri dengan kemenangan yang pasti akan mereka raih. Dengan tenaga dalam tersisa, mereka membunuh Hewan Buas yang sudah tidak memiliki semangat bertarung.
Peperangan kini telah usai. Tiada perayaan kemenangan atas peperangan ini karena banyaknya korban dari pihak prajurit Kota Sanriga.
“Terima kasih saudara Sena”
Rakai maju mencoba berbicara dengan pemuda dingin itu. Kekagumannya sebagai Pendekar muda di generasi yang sama dengan Sena semakin besar, setelah melihat kemampuan Sena yang tidak di tunjukkannya di turnamen Kumbara Muda.
Sena menyunggingkan senyum ke anggota partai Pengemis muda itu karena telah mengetahui sikap baik dari Rakai. Sena kemudian bergegas meninggalkan area peperangan menuju penginapan kembali.
Sudharta yang mendekati anggotanya masih menatap kepergian Sena dengan takjub. Kekuatan pemuda itu berkembang secara signifikan dibandingkan saat turnamen Kumbara muda lalu. Terlihat jelas pemuda itu memiliki tenaga dalam tingkat Langit tapi mampu bertarung sengit dengan hewan buas tingkat suci tanpa meninggalkan sedikit jejak kelelahan atau tenaga dalamnya berkurang.
***
Pagi hari di Kota Sanriga, mulai terisi dengan tangisan keluarga pihak yang tewas dalam pertempuran. Pimpinan Kota terlihat menemani seluruh prajurit Kota dan penduduk untuk membersihkan sisa sisa peperangan. Nampak penguburan massal di lakukan sedangkan bangkai Hewan Buas di bakar agar tak meninggalkan jejak.
Sejak pertempuran selesai, ada satu hal yang membuat tuan Indra Takim kebingungan yaitu pemuda berjubah merah yang membantu perang kemarin. Dia kehilangan jejak untuk menemukan pemuda itu sekedar untuk
mengucapakan terima kasih.
Sudharta memberitahu tuan Indra Takim mengenai identitas Sena sebagai bagian prajurit Tumenggung Raharja. Pantas saja Sena memakai jubah kebesaran Pasukan Tumenggung Raharja saat perang. Ingin rasanya tuan Indra Takim berterima kasih secara langsung, namun pemuda dingin itu begitu misterius. Kedatangan dan kepergiannya selalu
meniggalkan kesan mendalam bagi setiap orang.
Dilain Sisi, kini Sena telah mempersiapkan keberangkatanya menuju gunung Arjuna. Meskipun hanya berjarak satu Kota dari tempatnya tapi menurut peta yang di belinya, perjalanannya akan memakan waktu berhari hari. Terlebih dahulu dia harus memasuki Kota Taruma.
__ADS_1
Perjalanan Sena cukup berat karena mendapati medan yang terjal. Berbagai bukit dan jurang yang memisahkan kedua Kota ini di lalui oleh Sena bersama Jali. Hingga didepan matanya terlihat puncak Gunung Arjuna. Di lembah Gunung itu terletak Pusat Kota Taruma.
Sena memasuki Kota Taruma di malam hari. Pemuda dingin itu langsung menuju penginapan untuk beristirahat dengan baik. Kali ini yang akan dia kunjungi adalah wilayah salah satu Raja siluman yang mungkin lebih kuat dibandingkan dengan musuh musuh dia yang sebelumnya.
Rasa penasaran Sena mengenai tubuh abadi membuatnya seakan mencari kematian dengan mengunjungi siluman yang mengincar tubuh itu. Tapi Sena bukan tanpa alasan melakukan itu. Saat ini dia sedikit yakin bukan dia yang memiliki tubuh abadi karena didalam tubuhnya sudah terdapat mutiara iblis kegelapan.
Di Kota Taruma ini terdapat 3 Padepokan tingkat menengah yang cukup terkenal. Selain prajurit Kota yang menjaga kota ini, dengan
kehadiran Padepokan aliran putih membuat keamanan Kota ini cukup terjamin.
Seperti beberapa hari sebelumnya, saat hewan Buas datang mencari mangsa. Hanya
sedikit korban akibat pertempuran itu dikarenakan serangan hewan Buas di kota ini tidak sebesar Kota Sanriga dan Kehebatan para pendekar di kota ini melawan serangan gelombang hewan buas.
Kehebatan para penyelamat Kota ini masih terus di ceritakan penduduk Kota Taruma bahkan saat Sena sedang menikmati Sarapannya di sebuah rumah makan. Sangat marak cerita kehebatan Pendekar Kota Taruma terutama Pendekar Padepokan keris
abadi yang sangat diagung agungkan. Sena mendecak kesal karena dimanapun dia berjalan, masih cerita yang sama terdengar di telinganya.
Saat ini Sena sedang berada di salah satu toko pakaian di pasar Kota Taruma. Ingin rasaya Sena segera menuju gunung Arjuna namun dia harus mengganti Zirahnya kembali. Tidak mungkin dalam perjalanan yang berhari hari dia tidak pernah mengganti pakaiannya.
Sena kembali melesat melakukan perjalanan panjang. Gunung Arjuna masih masuk wilayah Kota Taruma namun terletak di ujung timur Kota itu. Gunung itu menjadi lokasi terlarang yang langsung di keluarkan oleh Kerajaan Kumbara.
Dari pusat Kota Taruma hingga berada di lembah Gunung Arjuna, membutuhkan waktu 5 hari perjalanan dengan kuda.
Aura dingin menusuk tubuh Sena ketika mulai memasuki wilayah Gunung Arjuna. Hutan ini tampak menyeramkan tapi sedikit misterius karena semenjak Sena memasuki wilayah Gunung Arjuna, tidak ada satupun hewan yang terlihat. Padahal pada umumnya hutan lebat seperti ini menjadi tempat tinggal berbagai jenis hewan.
Makin mendaki, suasana gunung Arjuna semakin mencekam. Sena memusatkan tenaga dalamnya di seluruh bagian tubuhnya jika mendapatkan serangan tiba tiba.
__ADS_1
“Rorrrrrrrrrr”
3 Harimau Emas mendekat kearah Sena. Tatapan mereka sangat tajam dan menusuk, membuat Sena sedikit bergetar. Tanpa membuang waktu, aura kegelapan membungkus tubuh Sena untuk memberikan peringatan pada ketiga siluman Harimau Emas itu tapi nyatanya ketiga harimau itu tak terpengaruh.
“Tak usah menakuti kami, ikut kami segera”
Ketiga Harimau Emas itu sekilas langsung berubah menjadi setengah manusia. Sena mengerinyitkan dahinya. Dia benar tidak mengerti dengan sambutan ketiga siluman harimau emas itu. Tapi Sena segera menepis pikiran anehnya dengan mengikuti ketiga siluman itu hingga memasuki gua yang terletak di dekat puncak gunung Arjuna.
Didalam Gua terdapat puluhan harimau emas yang seakan menyambut kedatangannya. Di depannya kini terdapat Satu Siluman yang memiliki aura yang sangat besar. Sena bahkan tidak bisa memperkirakan kemampuan Raja siluman Harimau Emas itu. Kekuatannya mungkin sudah berada diatas pendekar Suci.
“Pemilik Aura Kegelapan, ada apa gerangan berkunjung di wilayahku ?. Padahal sudah puluhan tahun kami tidak mengganggu dunia luar”.
Semenjak memasuki wilayah gunung arjuna, kehadiran Sena telah dirasakan oleh Raja siluman harimau emas. Oleh karena itu, dia menyuruh ketiga bawahannya untuk menjemput Manusia pertama yang mendatangi wilayah ini setelah beberapa puluh tahun berlalu.
Sena terkejut mengetahui dirinya telah di kenali. Kini Sena berpikir sejenak telah melakukan pilihan salah memasuki wilayah yang bisa membunuhnya kapan saja.
“Apakah kau adalah salah satu Raja siluman yang ada di dataran ini?".
Sena tetap berhati hati dalam berbicara. Bagaimananpun saat ini dia dikelilingi puluhan siluman harimau emas.
Raja Hariamau Emas terkekeh dan mengangguk kearah Sena. Sebenarnya siluman itu terpaku melihat kekuatan yang ada didalam tubuh pemuda berusia 17 tahun itu. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah menyaksilan Manusia berbakat seperti Sena. Apalagi terlihat aura kegelapan telah menyatu di tubuh pemuda di depannya.
“Apakah kau mengetahui tentang tubuh abadi?”
Pertanyaan Sena membuat semua Harimau emas berdiri menatapnya tajam, kecuali Raja Harimau Emas. Dengan tenang Raja siluman itu mengangguk kembali.
“Tubuh abadi adalah harta terbesar Para siluman. Tidak lama lagi tubuh abadi akan muncul menyebabkan siluman akan keluar dari sarangnya demi medapatkan tubuh itu”.
__ADS_1
Siluman Harimau Emas menjelaskan tentang tubuh abadi kepada Sena. Terlihat dari pandangannya ada maksud tersembunyi yang di selipkan di setiap kata katanya.
“Kau pernah bertemu dengan pemilik tubuh abadi namun saat ini tubuhnya belum siap di jadikan wadah. Mungkin beberapa hari kedepan akan banyak siluman tingkat rendah yang akan memburu gadis itu”. Raja siluman itu mencoba membingungkan Sena yang masih tak mengerti dengan misteri tubuh abadi.