
Surya Wikrama yang terdesak akhirnya tertolong oleh Rakai yang berhasil menahan serangan Burung Hantu Buas meskipun harus mengorbankan tubuhnya dengan luka parah. Tenaga dalam tingkat Rajanya belum mampu menahan serangan hewan Buas tingkat Suci tanpa luka. Meskipun lukanya tidak terlalu parah, namun semua Pendekar Partai Pengemis mengkhawatirkan keadaannya dengan berlebihan mengingat status Rakai sebagai calon ketua Partai Pengemis.
2 pendekar Partai Pengemis lainnya segera membantu Rakai dan Tetua Surya Wikrama menghadapi 2 hewan tingkat Suci itu.
“kita serang bersama sama”. Kata Surya Wikrama kepada semua anggota Partai Pengemis di belakangnya.
***
Ledakan Aura Kegelapan membumbung tinggi Seperti Api Hitam yang terkena minyak. Terlihat seorang pemuda tersenyum dingin melenggak mendekati area peperangan.
Sejenak semua pertarungan terhenti akibat meraskan hawa yang begitu mencekam. Mata mereka tertuju kepada seorang pemuda yang terselimuti aura kegelapan. Diantara orang orang yang berperang cukup banyak yang mengenali wajah Sena karena tindakan heroiknya beberapa hari yang lalu.
Rakai dan Sudharta sejenak mencoba mengingat wajah itu, hingga mengetahui bahwa Sena adalah pemuda yang memenangkan turnamen Kumbara muda yang baru diadakan.
“Dia adalah peneyelamat kita”
“Pemuda itu juara turnamen Kumbara muda”
“Pemuda itu yang berada di lapangan ekseskusi waktu itu”
Sena sama sekali tak mempedulikan tatapan dan ucapan itu. Baginya saat ini adalah waktu terbaik untuk mengamuk tanpa membatasi kemampuannya. Lawannya kali ini adalah Hewan Buas yang bisa di bunuhnya. Itu hanya menurut pemikiran Sena, karena janjinya hanya untuk tak membunuh manusia. Jadi siluman dan hewan buas itu tak termasuk dalam janjinya.
Mustika mutiara iblis kegelapan adalah hal utama yang di hindari oleh siluman dan hewan Buas karena mutiara itu bisa menyerap tenaga siluman dan hewan buas hingga habis. Namun beda kasus jika mutiara itu telah terserap.
Meskipun masih memiliki kemampuan menyerap tenaga dalam tapi kuantitasnya akan berkurang jika tidak terkena aura itu secara langsung.
Mata Sena mengarah kepada Singa Besar yang memiliki aura setingkat Pendekar Suci. Menurutnya Hewan Buas itulah yang terkuat di tempat ini. Dengan kecepatannya dia mencoba terus melaju menuju kearah pimpinan Hewan Buas itu tapi untuk mencapai tempat itu dia harus melewati puluhan Hewan Buas sebagai makanan pembuka baginya sebelum menyantap menu utama yaitu pimpinan Singa Buas.
Lengan lengan panjang yang terbentuk dari aura kegelapan menghantam dan meremukkan tubuh Hewan Buas yang mencoba menghalanginya. Jurus tarian iblis kegelapan tampak terlihat seperti gerakan kematian yang menghempaskan tubuh Hewan Buas.
Sena terus melaju tanpa ada hal yang membuatnya berhenti bahkan untuk beberapa detik.
Kini kekejamannnya benar benar terekspos ke semua pihak termasuk cempaka yang terkejut melihat aksi brutal Sena.
__ADS_1
Kelompok Burung Hantu Buas yang ketakutan merasakan aura kegelapan, mencoba untuk menjauhi Sena namun pekikan terdengar setelah pusaka cincin Sena keluar dan mengejar makhluk terbang itu. Lesatan lesatan cincin itu terus menghantam tubuh Burung Hantu Buas itu dengan keras.
Burung Hantu Buas yang sebesar kerbau dewasa jatuh bagaikan rintik hujan diatas Langit. Tiada yang selamat setelah terkena hantaman pusaka cincin milik Sena.
Semua prajurit kota dan sekutunya hanya bisa menelan ludah dengan berbagai kemampuan milik Sena. Sudah beberapa menit mereka hanya menonton sebuah pertunjukan hebat sekaligus mengerikan.
Percikan darah hitam terus menyembur kesegala arah. Kini Sena tak melumpuhkan tenaga dalam musuhnya namun meremukkannya bagaikan kaleng besi.
Auaman pimpinan Singa Buas menggema di Langit malam Kota Sanriga. Hewan Buas itu sangat marah melihat segala tindakan Sena. Dengan segera Singa Buas itu berlari menuju keaarah Sena yang masih membantai bawahannya.
“Jika saya tidak bisa mencapai tempatmu dengan cepat maka kau yang harus ketempatku”. Sena tersenyum melihat tindakan Pimpinan Singa Buas yang telah terpancing dengan tindakannya.
Dirinya sudah tidak sabar melawan Hewan Buas tingkat tinggi namun harapan itu pupus melihat Ketua Sudharta menghalangi Singa Buas itu .
“Saya belum mati, mengapa kamu mencari lawan yang lain”.
Sudharta menyeringai kerah Singa Buas yang mengeram marah. Dengan brutal pimpinan Hewan Buas itu menyerang Sudharta. Kali ini dia menggunakan segala kamampuannya.
Tongkat Emas Sudharta mengeluarkan aura yang sangat Kuat. Kali ini hantamannya mengenai kepala Kadal Buas hingga gemuruh kesakitan kadal besar itu terdengar di seluruh area peperangan.
Sudharta terus menyerang Kadal Buas itu hingga Kepala Kadal itu retak terkena tumbukan tongkat emas yang meluncur dari atas.
Sudharta menarik nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya ke pemimpin Singa Buas. Dialah hewan terkuat di perang kali ini. Namun dengan sisa kekuatannya sekarang, Sudharta masih sangat yakin mengalahkan Singa itu meskipun membutuhkan sedikit waktu.
Kehilangan pemimpinnya , puluhan Kadal yang hanya setingkat kaisar kebawah melarikan diri karena ketakutan dengan aura kegelapan milik Sena sedangkan selebihnya bertindak sesuai kebuasan mereka sendiri.
Di sisi lain Sena terus mendekat kearah Singa Buas yang bertarung melawan ketua Partai Pengemis itu. Kini serangan Sena semakin membabi buta membunuh Hewan Buas. Anda saja Hewan Buas tingkat rendah seperti mereka memiliki pemikiran sendiri, mungkin saat ini tidak ada Hewan Buas yang mendekati Sena apalagi menyerangnya.
Kini pertempuran hampir mencapai klimaks. Kehandiran Sena menjadi berkah tersendiri bagi pihak Kota Sinraga dan sekutunya. Pemuda dingin itu bahkan membunuh lebih dari seratus Hewan Buas dalam waktu kurang satu jam.
Sena menatap dingin Pemimpin Singa Buas yang kini sudah ada di dekatnya. Butuh sedikit tenaga agar dia bersiap menikamati menu utama perang ini.
Pusaka cincin Sena di lapisi aura kegelapan melesat menyerang Singa Buas yang masih sibuk menghindari serangan tongkat Sudharta. Tapi malah Tubuh Pimpinan Singa Buas terlempar setelah terkena hantaman cincin besar yang dilesatkan oleh Sena.
__ADS_1
“Apa mau bocah ini?”.
Sudharta mengerinyitkan dahinya melihat tindakan Sena yang menganggu pertempurannya. Dalam perang ini bahkan masih banyak musuh yang bisa di lawan namun mengapa pemuda itu mengambil jatahnya.
“Goarrrrrrrr”
Auman marah menggema di udara sebelum Pemimpin Singa Buas melesat menyerang Sena dengan cakarnya yang tajam. Tenaga Singa Buas itu sudah hampir habis setelah melawan Sudharata .
Aura kegelapan membentuk tangan besar yang menangkap cakar pimpinan Singa Buas. Dengan kekuatan penuh, lengan besar itu membanting tubuh Singa Buas berkali kali seperti mainan.
Dengan kekuatan penuh, Sena melemparkan tubuh Singa itu mengarah kepada Pimpinan Burung Hantu Buas yang masih melayang diatas Langit
“”Bukkkkkkk””
Kedua pemimpin Hewan Buas itu terjun kebawah degan cepat. Terlihat cekungan besar di tempat meraka terjatuh. Burung Hantu Buas mencoba berdiri namun ketiga cincin besar mengantam tubuhnya dari berbagai arah sehingga terdengar pekikan pilu yang mengakhiri hidupnya.
Semua orang melihat hal itu terperanjat meneguk salivanya, dua pimpinan Hewan Buas setingkat pendekar suci terbunuh oleh seorang pemuda yang sama.
Kini tatapan dingin Sena mengarah kepada pemimpin Gorilla Buas yang mencoba melarikan diri karena tak yakin selamat dari amukan pemuda berjubah merah yang mirip iblis itu.
Sena yang mencurigai gerak gerik Pemimpin hewan Buas itu, segera mengerahkan puluhan tangan untuk menangkap Pemimpin Gorilla Buas yang mungkin telah kehilangan setengah tenaga dalamnya.
Sena tak pernah membiarkan lawannya lolos
selama dia masih bisa mengalahkannya.
Gorilla Buas yang sudah kehilangan kepercayaan diri hanya berusaha menghindar namun untuk menghindari puluhan lengan aura kegelapan sangat sulit apalagi muncul cincin cincin besar yang tiba tiba melingkari
tubuhnya dari atas.
3 cincin itu membesar dan melingkari tubuh Pemimpin Gorilla Buas yang berteriak penuh kesakitan karena secaa cepat cincin itu tiba tiba mengecil dan memotong tubuhnya hingga terpotong mejadi 4 bagian.
Kepala pimpinan Gorilla Buas itu menggelinding di tanah dengan darah hitam mengalir deras di lehernya yang putus.
__ADS_1