
Tungga Wijaya merasakan seluruh tubuhnya kaku akibat racun yang sudah mengotori pembuluh darahnya. Ketika dia membuka matanya nampak 3 sosok berdiri menunggu kesadarannya.
"Isyana, Dewa mengabulkan doa ku untuk melihatmu untuk terakhir kalinya". Tungga Wijaya menatap sendu wajah putri satu satunya namun hatinya cukup bahagia karena masih sempat melihat wajah anaknya.
Tungga Wijaya menyadari bahwa hidupnya tidak akan lama lagi mengingat dia terkena racun yang paling mematikan di Kerajaan Kumbara. Sebagai Dewa Tabib, bukan tidak mungkin membuat penawar racun itu namun kelangkaan tanaman yang di butuhkan sangat tinggi. Sementara racun itu telah meresap kejantung dan pembuluh darah, karena sudah lebih 3 hari bersarang di tubuhnya.
Tungga Wijaya memiliki banyak pertanyaan bagaimana dirinya bisa sadar setelah terkena racun Seribu Warna namun dia ingin memanfaatkan waktu yang sempit ini untuk melihat dan berbicara dengan putrinya.
"Tuan Tungga Wijaya !!! Saya di perintahkan oleh Sang Raja untuk membawa anda ke Ibukota Kerajaan". Raharja langsung menyampaikan inti kedatangannya namun melihat keadaan Dewa Tabib, timbul rasa risih di hatinya.
"Maaf Tumenggung, Nampaknya Racun Seribu Warna tidak akan membiarkan hal itu. Sampaikan maafku ke Baginda Raja". Tungga Wijaya menjawab dengan penuh penghormatan. Namun tiba tiba datang seorang prajurit mendobrak pintu.
Tumenggung Raharja emosi melihat kelakuan prajuritnya yang kurang tata krama. Prajurit itu bersujud dan berkata dengan tubuh bergetar. "Lapor tuan Raharja ,Tuan Praba Aji membawa puluhan prajurit menyisir kota rando untuk mencari seorang pemuda".
"Dasar Praba Aji !!! selalu menyalahgunakan kekuasaan". Raharja kemudian meminta izin ke Tungga Wijaya untuk mencari Praba Aji dan memberikan waktu kepada isyana untuk berbicara dengan ayahnya.
Setelah Kepergian Tumenggung Raharja, Arjunta dan pasukan kerajaan, Isyana dan Tungga wijaya kembali melanjutkan percakapannya.
__ADS_1
***
Beberapa saat yang lalu di kediaman Pimpinan Kota Rando, terlihat Seorang Pria paruh baya mengumpulkan pasukan kota Rando. Dia Adalah Praba Aji, Ayah dari Hartanta Praba sekaligus Pemimpin Kota Rando.
Setelah mendengar tentang kejadian yang menimpa anaknya dan melihat keadaannya secara langsung, Dia langsung naik pitam. Bagaimana tidak, Anak satu satunya yang selalu dia manjakan terbaring kesakitan dengan kaki lumpuh.
" Kumpulkan semua prajurit kerajaan termasuk Adri Antarum ". Praba berteriak penuh amarah, Kini dia tidak mempedulikan apapun termasuk mengerahkan pasukan kerajaan yang di tugaskan menjaga Kota Rando.
Salah satu prajurit pengawal Hartanta Praba maju dan menjelaskan ciri ciri Sena. Praba Aji mengerutkan dahinya mendengar bahwa sena memiliki Mata berwarna cokelat.
"Nampaknya dia pendekar yang menjadi buronan di Kota Mandau". Praba Aji tersenyum licik karena sudah memiliki alasan mengerahkan prajurit kerajaan. Setengah jam yang lalu datang utusan dari Kota Mandau yang mencari Seorang pemuda yang memiliki bola mata berwarna cokelat dan di cap sebagai buronan kerajaan.
******
Di Pinggir Hutan Kota Rando, Terlihat Sena selesai menyantap ikan bakar. Dia berbaring menatap langit sore.Kenangan bersama Bi Ratih dan Jaya Bhaya selalu saja menghantui pikirannya.
"Nampaknya Dewa Tabib akan segera siuman". Sena berjalan kembali kekota Rando namun di tengah perjalanan dia di hadang puluhan prajurit. Salah satu prajurit pengawal Hartanta Praba langsung mengenali wajah Sena.
__ADS_1
"Tangkap pemuda itu hidup hidup". Praba Aji berteriak diikuti beberapa prajurit langsung menyerang sena dengan tombak.
Sena dengan santai menghindari serangan serangan yang datang hingga posisinya berada di tengah kepungan prajurit.
Ledakan aura kegelapan keluar dari tubuh Sena membuat puluhan prajurit terlempar dengan memuntahkan darah.
Praba Aji yang melihat kekuatan Sena mulai merasakan ketakutan. "Adri Antarum !!! sebagai ketua prajurit kota Rando jangan biarkan semua anak buahmu mati di tangan pemuda itu".
Adri Antarum yang sejak tadi memperhatikan Sena sangat terkejut dengan tingkat pendekar yang dimiliki Sena. Bagaimana mungkin seorang pemuda remaja memiliki tingkat pendekar yang sama dengannya.
"Pemuda itu berada pada tingkat langit gerbang 1 hanya berbeda 1 gerbang denganku, Mari kita Serang bersama ". Dengan Suara tenang , Adri Antarum mulai bersiap menyerang bersama 2 lusin prajurit di dekatnya.
Praba Aji sangat terkejut mendengar perkataan Adri Antarum. Dia merasa pantas semua pengawal anaknya di kalahkan dengan mudah.
Adri Antarum mengeluarkan senjata berupa keris hitam dan melesat menyerang Sena diikuti prajurit Kota Rando.
Sena yang menatap puluhan lawan yang akan menyerangnya bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Seandainya saya bisa membunuh mereka semua".