Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Babak 4 Besar


__ADS_3

Tumenggung Raharja terus mengumpat dalam hati mengetahui kebenaran tentang pemuda bisu didepannya. Namun dia bahagia karena akhirnya Sena mulai terbuka kepadanya walaupun hanya sekedar senyuman yang dipaksakan.


Melihat kedatangan Tumenggung Raharja, Isyana segera berdiri memberikan penghormatan. Isyana segera meminta izin untuk kembali ke Gedung Serikat Pendekar Sakti karena malam telah datang.


“Saya akan mengantarmu”. Sena ikut berdiri untuk mengantar Isyana. Terlebih dahulu Sena sedikit membungkuk memberikan penghormatan kepada Raharja. Isyana tersenyum dan mulai berjalan mengikuti Sena. Tumenggung Raharja yang baru sampai namun segera ditinggalkan menjadi lemas dan menggelengkan


kepalanya.


“ Sena ! Segera kembali, ada yang ingin kubicarakan”. Teriak Tumenggung Raharja


Isyana sepanjang jalan merasa bahagia dengan perlakuan sederhana Sena. Walaupun pendiam tapi menurutnya Sena adalah sosok laki laki sejati.


“Terima kasih. Besok saya akan menontonmu kembali”. Ucap Isyana ketika sampai di depan gerbang Serikat Pendekar Sakti. Sena


menganggukkan kepalanya pelan. Pemuda dingin itu mencoba tersenyum sebelum beranjak meninggalkan tempat itu.


***


Sama seperti malam sebelumnya. Sena dan Tumenggung Raharja saling berhadapan menikmati arak. Raharja menceritakan hasil pertemuannya sore tadi.


“Sena ada yang ingin kusampaikan. Dengarkan hal ini baik baik”. Tumenggung Raharja menatap serius Sena yang sementara meneguk arak. Tumenggung Raharja menjelaskan mengenai tanggapan Prabu Sanjaya, Mahapatih dan Para Tumenggung yang akan membiarkan Sena melanjutkan Turnamen Kumbara Muda dengan persyaratan tidak menggunakan aura kegelapannya.


Hal ini berkaitan dengan pendekar aliran putih dan penonton yang akan menganggap Sena sebagai pembunuh berdarah dingin karena aura gelap yang dimilikinya. Tumenggung Raharja tidak mampu menghilangkan semua kecurigaan terhadap Sena sehingga dia memberikan jaminan untuk mengawasi Sena jika berbuat kejahatan.


“Terima kasih”. Kata Sena yang mendengarkan penjelasan Tumenggung Raharja. Pria Berkumis tebal didepannya ini bahkan melindunginya dari kecurigaan istana dan membelanya. Raharja tersenyum mendengar perkataan Sena. Ada perasaan bahagia ketika melihat Sena dan berharap Sena menjadi bagian dari keluarganya.

__ADS_1


Malam itu berlalu sangat cepat hingga matahari menampakkan kembali sinarnya di Kota Birawa. Gedung arena Turnamen Kumbara Muda mulai terisi oleh penonton yang tak sabar menantikan pertarungan talenta pendekar muda terbaik di Kerajaan Kumbara.


Rangga Respati yang masih bertindak sebagai Wasit pertandingan kembali memanggil semua peserta yang maju ke babak 4 besar. Terlihat Satria, Sena, Rakai dan Arjunta berdiri gagah di tengah Arena


pertarungan. Hiruk pikuk teriakan penonton bergelora menandakan antusias penonton yang begitu besar.


Terlihat Dewi lasmini memandangi Isyana yang berada di kursi Serikat Pendekar Sakti. Tadi malam dia telah mendapatkan informasi mengenai Isyana Tunggadewi dari pengawalnya. Dia cukup terkejut mengetahui identitas Isyana Tunggadewi sebagai anak dari Dewa Tabib yang pernah menyelamatkan


hidupnya.


Sejenak kedua pandangan wanita cantik ini bertemu dan beradu tatap cukup lama namun terhenti ketika terdengar pengumuman mengenai pertandingn 4 besar. Dimana Arjunta akan melawan Satria sedangkan Sena berhadapan dengan Rakai.


Arjunta dan Satria berhadapan di atas arena di bawah tatapan penonton yang cukup antusias menyaksikan 2 murid suci padepokan aliran putih terbesar saling bertarung. Kedua pemuda ini memiliki cara bertarung yang berbeda dimana Arjunta menyerang jarak jauh dengan Pedang yang bisa di kendalikan melalui pikiran Sedangkan Satria memiliki serangan jarak dekat berupa tapak yang di aliri tenaga dalam yang besar.


“Gongggggggggg”


memojokkan Arjunta yang sibuk menghindar dan menahan jurus tapak Satria tanpa bisa mengendalikan pedang terbangnya, yang masih di digenggamnya sebagai tameng


melawan tapak Satria.


Tumenggung Atmaja tersenyum kecil melihat kelihaian Satria untuk membaca kekurangan jurus lawannya. Dengan serangan membabi buta seperti ini tidak ada kesempatan bagi Arjunta untuk mengelurkan jurusnya yang membutuhkan konsentrasi tinggi sebelum pedang bisa dikendalikan.


Arjunta yang terus bertahan, terdorong hingga ke pinggir arena. Walaupun mampu menahan serangan serangan Tapak Satria, namun tenaga dalamnya cepat terkuras karena berusaha menahan tenaga dalam yang keluar dari tangan Satria. Arjunta selalu mencoba mengambil jarak dari Satria untuk mengeluarkan jurus pengendalian pedang terbangnya, namun nampaknya Satria mengetahui hal itu dan tidak pernah membiarkan Arjunta menarik nafas panjang untuk berkonsentrasi.


Setelah puluhan tapak tidak mengenai Arjunta. Satria semakin ganas menyerang, menyebabkan salah satu pedang Arjunta terlempar karena berusaha menahan Jurus Tapak Satria. Serangan demi serangan diterima Arjunta dan akhirnya salah satunya berhasil membuat Arjunta terpental cukup jauh. Untungnya tapak yang dikerahkan Satria mengenai permukaan pedang Arjunta yang sempat di tarik menutupi dadanya.

__ADS_1


“Uhukkkkk””


Arjunta mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya tapi dia tetap berdiri menyunggingkan senyumnya kearah Satria. Satria yang tersadar karena jurus tapaknya membuat Arjunta mempunyai waktu yang cukup untuk merapalkan jurusnya. Pedang ditangan Arjunta bergetar dan melesat cepat menyerang Satria.


Satria hanya terus menghindari pedang terbang yang berukuran cukup besar itu. Satria terus maju mendekati tempat Arjunta berdiri sambil menghindari tebasan dan tusukan pedang terbang. Namun sial bagi Satria yang awalnya tersenyum karena hampir mendekati Arjunta yang telah terluka. Muncul satu pedang yang menyerang Satria dari belakang tepat di punggungnya. Dia tidak sempat menghindar karena sibuk menghindari pedang Arjunta yang menyerang dari depan.


“Tidakkkkk”


Salah satu tetua Padepokan Bintang emas berteriak, khawatir Satria terkena tusukan pedang terbang Arjunta. Namun dia menarik nafas panjang setelah melihat punggung Satria tidak mengeluarkan darah karena hanya tertusuk gagang pedang Arjunta.


Satria terlempar keluar dari arena pertarungan. Walaupun masih bisa berdiri, namun Arjunta dinyatakan sebagai pemenang. Sorak penonton kembali riuh menyaksikan pertarungan yang menegangkan ini.


Mahapatih Anom tersenyum melihat kecerdikan Arjunta melawan Satria yang memiliki pola serangan yang ganas. Tumenggung Atmaja yang melihat kekalahan Satria tertunduk lesu namun hatinya cukup cemas melihat Kondisi Satria.


“Hahahaha selamat Mahapatih Anom, nampaknya jagoan kita akan berhadapan di puncak Turnamen”. Tumenggung Raharja tertawa memberi selamat kepada Mahapatih Anom namun sebenarnya dia bertujuan menyinggung Tumenggung Atmaja yang selalu sombong setiap Turnamen Kumbara Muda diadakan. Tumenggung Atmaja hanya menundukkan kepala kesal mendengar kata kata Raharja yang menyinggungnya secara halus.


“Tidak apa apa, sekali kali memberikan juara kepada orang lain. Masa setiap turnamen diadakan, pilihanku selau juara”. Tiba tiba Atmaja berbicara dengan melipat kedua tangan di dadanya.


Semua Tuemnggung lain yang mendengar hal itu hampir muntah dengan kesombongan Atmaja yang tak lekang oleh waktu dan kondisi. Mahapatih Anom tersenyum melihat semua tumenggung kerajaan yang bersikap kekanak kanakan meskipun usia mereka sudah lebih setengah abad.


Pertandingan kedua kembali di lanjutkan. Sena yang memakai jubah merah terlihat gagah menaiki arena. Setiap langkahnya penuh dengan kharisma. Tumenggung Raharja tersenyum melihat perubahan sikap Sena yang mulai belajar mengenai kehidupan.


“Suatu kehormatan bisa bertarung dengan jenius terbaik Kerajaan Kumbara”. Rakai yang menjadi lawan Sena membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai ungkapan kekaguman terhadap kekuatan Sena. Sena yang melihat itikad baik Rakai membalas bungkukan itu dan tersenyum.


“Sejak kapan anak itu belajar tersenyum” Arjunta yang telah kembali duduk di kursi  Padepokan Pedang Kebenaran mengerutkan dahinya heran.

__ADS_1


*Terima kasih sudah membaca novel ini walaupun pasti banyak yang tak suka krn alurnya lambat dan jarang crazy up.


__ADS_2