Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Serangan Siluman


__ADS_3

Suasana pesta ulang tahun menjadi tegang. Tumenggung Gunawa segera berlari menuju gerbang depan Padepokan Telaga Dewi. Di depannya, hamparan siluman Beruang berlari seakan memiliki mangsa empuk di dalam Padepokan Telaga Dewi.


Melihat banyaknya musuh yang menyerang, Gunawa segera mengatur formasi untuk mempertahankan tempat ini. Kehadiran keluarga Kerajaan di dalam Padepokan


ini membuat setiap langkahnya dalam pertempuran harus mengacu kepada keselamatan keluarga Kerajaan.


Tumenggung Gunawa tersenyum kecut karena pasukan yang di bawa nya kekota ini hanya kisaran 100 orang. Namun dia cukup terkejut setelah melihat ratusan anggota Padepokan Telaga Dewi dan beberapa pendekar yang menjadi tamu pesta ulang tahun putri Kerajaan ikut bergabung dengannya melawan serangan siluman beruang itu.


Ukuran siluman umumya sama dengan manusia hanya saja ketahanan dan pikiran menjadi senjata utamanya di bandingkan hewan buas. Ratusan siluman ini merupakan akumulasi siluman beruang yang terus berdatangan.


“Ketua Dewi Ambarwati, saya akan menahan mereka terlebih dahulu”.


Tumenggung Gunawa mengangkat tongkatnya dan kemudian melesat menyerang siluman yang sementara bergelut dengan pasukannya. Kemampuan sebagian besar siluman beruang hanya ada pada tingkat pendekar raja dan ahli sehingga


masih bisa seimbang dengan pasukan khusus yang di bawanya dari istana Kerajaan.


Dengan kekuatan penuh, Tumenggung Gunawa terus membantai tubuh siluman beruang. Jeritan jeritan kematian memenuhi telinga anggota Padepokan Telaga Dewi yang masih ada di barisan belakang di pimpin langsung oleh  Ketua Padepokan dan 3 tetua yang salah satunya juga memiliki tenaga dalam tingkat suci gerbang pertama.


Mulanya, Tumenggung Gunawa mampu tersenyum lega melihat seratus pasukannya mampu mendesak siluman beruang hingga jumlah mereka berkurang menjadi sekitar kurang lebih 100. Tapi betapa terkejutnya dia setelah gerombolan siluman lain mendekat dengan jumlah yang cukup besar.


Kali ini bukan hanya siluman beruang tetapi juga muncul sosok siluman manusia berkepala anj*ng. Jumlah mereka 2 kali lipat dari pasukan Tumenggung Gunawa sekarang.


Dewi Ambarwati yang melihat serangan akan datang kembali dengan jumlah yang lebih besar, memberikan aba kepada anggotanya untuk ikut bergabung dalam pertempuran. Seruan dan teriakan wanita terdengar kontras

__ADS_1


dengan lolongan siluman anj*ng yang datang menyerang.


Dewi Ambarwati dengan kecepatan tinggi, melesat dengan pedang di tangannya. Setiap Tebasannya mampu membunuh satu siluman yang berada pada jangkauannya. Sudah lebih dari 30 menit dia bertarung namun belum ada satupun serangan yang mengenai tubuh bahkan menggores pakaiannya.


Padepokan Telaga Dewi memang terkenal dengan kecepatan dan kelincahannya. Hal ini terbukti dengan pergerakan yang di tunjukan oleh Dewi Ambarwati dan Anggotaya di perang kali ini. Sebelum siluman mampu menyerang Dewi Ambarwati, sosoknya terlihat menghilang dengan cepat dan menebas bagian leher para siluman.


Pertempuran terus berlanjut. Suasana kota Maranda menjadi panik, melihat peperangan yang terjadi di pinggir kota mereka. Padepokan Telaga Dewi menjadi gerbang terakhir sebelum siluman masuk kepusat kota.


Namun pikiran penduduk agak keliru, karena sesuatu yang di cari para siluman berada di dalam Padepokan Telaga Dewi sehinga kecil kemungkinan siluman akan masuk lebih dalam setelah tujuannya tercapai.


“Jumlah mereka semakin bertambah”.


Tumenggung Gunawa mendekati Dewi Ambarwati yang baru saja menebas siluman beruang di depannya. Dewi Ambarwati menatap Hutan di depannya mirip sebuah portal yang terus mengeluarkan siluman. Kali ini jenis siluman bertambah bukan hanya siluman anj*ng dan beruang tapi kini datang kelompok siluman ular hijau.


***


Walaupun tubuh abadi saat ini belum memenuhi syarat untuk di korbankan demi keabadian tapi tidak berlebihan jika siluman akan memenjarakan pemilik Tubuh abadi hingga tubuhnya siap.


Sena mengenggam kalung yang di berikan oleh raja Siluman Harimau Emas. Kondisi tubuh dan tenaga dalamnya telah mencapai puncak setelah melakukan latihan dan semedi beberapa hari belakangan ini. Sena sengaja tak memberi peringatan kepada Padepokan Telaga Dewi karena pemuda itu yakin dengan pesta yang diadakan Padepokan besar itu, maka akan membuat sebagian orang hebat di kota ini akan berkumpul disana.


Kali ini Sena yakin, meskipun tanpa dirinya siluman tak akan bisa menculik Dewi Lasmini selama raja siluman tidak turun tangan. Sena hanya akan mengamati alur perang dan tujuan utamanya hanya memberi kalung hitam yang telah diisi aura kegelapan kepada Dewi Lasmini.


Sena terus berlari mencari tempat mengamati alur serangan siluman. Di atas pohon tinggi, mata Sena menyaksikan ratusan Siluman dengan wujud setengah beruang hitam. Sena sebelumnya pernah menghadapi beruang tapi

__ADS_1


dalam bentuk hewan buas dengan pikiran terbatas namun dalam bentuk siluman, beruang memiliki fisik sekaligus pikiran layaknya manusia.


Di tengah pertempuran itu, Tumenggung Gunawa dan Dewi Ambarwati memiliki kekuatan pendekar suci terkuat, membunuh para siluman dengan cepat. Selain itu ada satu pendekar asing yang tak kalah hebat dengan kedua pendekar suci itu. Melihat dari gerakannya, pria kurus itu memiliki kemampuan setara dengan Tumenggung Gunawa.


Lebih dari satu jam Sena mengamati alur pertempuran itu, namun belum nampak jumlah siluman akan berkurang.


“Saya harus menemukan wanita bar bar itu secepatnya”.


Memanfatakan situasi yang sedang kacau saat ini, Sena melesat memasuki Padepokan Telaga Dewi. Di dalam Padepokan besar itu, hanya terlihat prajurit yang lalu lalang untuk memberikan bantuan kepada prajurit yang maju di baris depan.


Sena yang memekai pakaian Kerajaan membuatnya terus melangkah tanpa kecurigaan, tanpa membuang waktu, Sena mencari aula istana dimana pesta di laksanakan namun keadaan di sana telah kosong.


Sena terus berlari membuka pintu pintu rungang besar, berharap bertemu dengan Dewi Lasmini segera  sebelum berbagai jenis siluman mengetahui keberadaannya. Saat ini Sena masih meyakini hanya siluman yang memiliki penciuman yang tajam yang mampu mengetahui keberadaan tubuh Abadi.


“Sena, apa yang kau lakukan disini”


Sena berhenti mendengar suara itu, di belakangnya terlihat Tetua Pureswari mengerutkan keningnya dengan keberadaan Sena di tempat ini. Menurut informasi yang di ketahuinya, seharusnya pemuda yang membuat murid sucinya bertambah gila ini berada di kota Wanua.


“Aku ingin bertemu Dewi Lasmini sekarang juga”.


Sena mendekati Tetua Pureswari, dia tidak ingin membuang waktu dengan penjelasan yang panjang lebar. Sena mengetahui bahwa wanita pada umumnya memerlukan sebuah alasan atas setiap tindakan yang harus di lakukan tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Pureswari yang melihat tingkah tergesa gesa Sena, yang biasanya luar biasa dingin menganggukkan kepala dan mengajak pemuda itu menuju ruangan bawah tanah. Di dalam ruangan itu terlihat Ratu Dewi Kenanga, Pangeran Brawijaya, Dewi Paramita dan orang yang di cari oleh Sena.

__ADS_1


Keempat orang itu terkejut dengan kedatangan Pureswari dan seorang pemuda yang tak asing. Hanya Dewi Lasmini yang memiliki raut wajah yang tak jelas atas kejadian didepannya. Dengan bibir yang sukar terbuka dia mencoba  mengucapkan kata kepada orang yang diharapkan di ulang tahunnya kali ini.


“Sena”.


__ADS_2