Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Rencana Nyai Genggong


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang tampak menyeramkan, duduk seorang wanita tua dengan tatapan tajam. Di depannya berbaris Pendekar yang mengenakan topeng. Namun tidak ada yang mengenakan topeng hitam yang sering terlihat menyerang Padepokan Aliran Putih, Hanya topeng berwarna emas dan perak.


Wanita tua yang duduk di kursi hitam itu memiliki julukan wanita iblis karena perangainya dan tindakannya dalam membuat kekacauan dan pembunuhan. Dengan kekuatan yang besar dan bawahan yang kuat, membuat kepercayaan diri wanita iblis yang bernama asli Nyai Genggong itu kian memuncak untuk menguasai tanah Kumbara.


Dirinya sudah tak sabar menumpahkan darah di tanah yang sudah mengalami kedamaian cukup lama ini. Senyumnya terlihat menyeramkan dan membuat para bawahannya bergidik ngeri.


“Kita tunggu hasil perjalanan Wikrama, kemudian kita melakukan perang besar”


Nyai Genggong tertawa layaknya iblis sedangkan para bawahannya hanya tersenyum dalam hati tak berani mengeluarkan suaranya didepan wanita iblis yang memiliki tempramen tinggi itu.


***


Anargaya segera mendekati Topeng Perak yang sedang mendesak salah satu ketua Padepokan di Kota Taruma. Topeng Perak yang kini menjadi lawannya sangat terkejut dengan kedatangan Anargaya, mereka berpikir tidak mungkin Anargaya mampu mengalahkan topeng perak terkuat diantara mereka bertiga.


Namun kedua lawannya sekarang tidak membiarkan dia menoleh menatap sisi pertarungan lawan lainnya. Pertarungan 2 lawan 1 kini mulai terlihat seimbang, namun karena pola serangan yang lebih beragam akhirnya Anargaya berhasil memberikan tusukan pada dada kanan Topeng Perak.


Dia meringis kesakitan. Dirinya awalnya tersenyum karena mampu mendesak lawannya dengan mudah tapi kehadiran Anargaya yang memiliki kemampuan hampir setara dengannya membuat pertarungan menjadi tidak seimbang. Kedua ketua Padepokan itu bersemangat terus mnyerang melihat lawannya sudah tak bisa menggerakkan tangan kanannya.


Setelah puluhan jurus akhirnya rantai teman Anargaya berhasil melilit tubuh Topeng Perak. Anargaya yang berada di belakang Topeng Perak memberikan serangan terakhir, dimana kerisnya telah bersarang di jantung topeng perak. Kematian satu Topeng Perak membawa angin segar bagi pihak Kota


Taruma dan sekutunya. Teriakan teriakan penyemangat kembali bergema mengenai


kematian Topeng Perak, untuk menambah semangat bertarung prajurit dan pendekar Kota Taruma yang mendengarnya.


“Ketua Anargaya kamu hebat bisa membunuh dua Topeng Perak””

__ADS_1


Ketua Padepokan aliran putih yang bernama Hastungkara itu mendekati Anargaya. Namun Anargaya tersenyum kecut ingin memberi penjelasan namun saat ini medan perang tidak membiarkan dia membuang buang waktu untuk bersilat lidah.


“Nanti kita bicarakan, sebaiknya kita mencari Topeng Perak lainnya”


Kedua Ketua Padepokan itu segera berlari mencari Topeng Perak terakhir yang sangat berbaaya jika semakin lama hidup di medan


pertempuran . Mereka tahu betul kemampuan Topeng Perak yang tidak bisa mereka lumpuhkan jika duel satu lawan satu. Sambil berlari mereka berdua bekerja sama membantai topeng topeng hitam yang masih berkeliaran seperti semut.


Topeng Emas yang bernama Wikrama itu marah bukan kepalang mengetahui tewasnya kembali Topeng Perak di sisi lain area peperangan ini. Tapi yang paling membuatnya kesal adalah Pemuda berjubah merah didepannya. Tidak pernah terbesit di hidupnya bahkan mimpinya, seorang bocah mengajaknya untuk bertarung.


Kemarahannya akan kekalahan bawahanhya tidak akan sebanding penghinaan yang ada didepan matanya. Ledakan tenaga dalam di tubuh Wikrama membuat aura Pendekar Sucinya menyebar ke seluruh wilayah peperangan bahkan ketubuh Sena yang sudah terselimuti aura kegelapan.


“Si*al, kekuatannya setidaknya sama dengan pria berkumis itu”


Sena tersenyum kecut mengingat pertarungannya dengan Tumenggung Raharja. Saat itu dirinya bahkan tidak yakin mampu menggores zirah Tumenggung Raharja yang memiliki tenaga dalam sama dengan pendekar bertopeng di depannya.


Wikrama yang penuh emosi langsung menyerang Sena dengan kedua pisau di tangannya. Sena memaksa seluruh aura kegelapannya keluar dari tubuhnya, dengan sedikit lambat dia menghindari tebasan tebasan pisau hitam Wikrama.


Pisau itu berwarna hitam secara kesulurhan. Wikrama tampak tersenyum karena setelah beberapa gerakan dia berhasil menggores perut Sena. Sena mencoba mundur namun Wikrama mengikuti kemanapun arah Sena.


Walalupun aura kegelapan terus berusaha menangkap tubuh Wikrama tapi tampaknya Wikrama mampu menghindari itu semua, seakan memiliki mata diseluruh bagian tubuhnya. Sena saat ini tampak berbeda, pikirannya tegang untuk mencari celah untuk meneyrang Wikrama.


Jika biasanya pemuda itu menikmati pertarungannya, saat ini dia merasa sedang melakukan pertarungan hidup mati. Puluhan lengan menjuntai mencoba menyerang Wikrama dari jauh tapi Wikrama menghindar dari kepungan lengan itu bahkan Sena terperanjat melihat Wikrama dengan mudah memotong aura kegelapan seperti memotong daging.


Wikrama terus mendekat dan berhasil kembali memberikan tendangan kearah perut Sena yang telah terkena pisau. Sena terlempar dengan mulut berdarah. Kedua tangannya memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


“kemampuanmu sangat hebat anak mudah, jika kamu mau berjanji bergabung dengan Padepokan Cakar Setan maka nyawamu akan kuampuni”.


Wikrama memang sangat marah dengan tindakan Sena tapi melihat kemapuan Sena, dirinya yakin Nyai Genggong akan dengan senang hati menerima Sena menjadi bawahannya. Sena hanya tersenyum, aura kegelapan kembali menujukkan kemampuannya. Luka di perut Sena terlihat menutup secara perlahan meskipun tak secepat biasanya karena luka dari Pendekar Suci memiliki daya rusak yang lebih berat.


Wikrama terkejut dengan regenerasi tubuh Sena. Tak pernah dia melihat dan mengenal hal yang di luar logika Manusia seperti penyembuhan tubuh dengan cepat yang terlihat didepannya. Sena perlahan berdiri, dirinya sungguh kerepotan dengan kecepatan dan pergerakan Wikrama yang diatas


kemampuannya.


‘’Jika kau menyerang berarti kau menolak tawaranku dan bersiap untuk kehilangan nyawa”.


Wikrama masih memberikan penawaran terakhir kepada Sena . Makin bertarung, Wikrama semakin kagum dengan segala kemampuan Sena yang bahkan melampaui Semua Topeng Perak di Padepokan Cakar Setan. Tapi harapannya pupus saat melihat Sena kembali melesat kedepannya bersama puluhan lengan yang terbentuk dari aura kegelapan di tubuhnya.


Wikrama tak ingin kembali menganggap remeh pemuda didepannya. Seluruh kemampuannya akan dia kerahkan demi menyudahi peperangan ini secepatnya sebelum bala bantuan kerajaan datang.


Pertukaran jurus mulai terjadi antara Sena dan Wikrama. Semua orang yang berada di dekat mereka segera menjauh untuk menghindari imbas serangan serangan yang dahsyat dari kedua Pendekar itu.


Area pertarungan mereka semakin meluas dan kecepatan gerak yang mereka lakukan tidak bisa di ikuti oleh mata para Pendekar tingkat Langit kebawah.


Pertarungan ini adalah penentu kemenangan di peperangan kali ini. Meskipun tidak terlalu tau mengenai identitas Sena , namun harapan mereka bersandar sepenuhnya kepada pemuda berjubah merah itu.


Sena terus mencoba menahan gempuran Wikrama dengan aura kegelapannya namun baru kali ini dia merasa aura kegelapannya yang ganas dengan mudah di hindari dan di tebas oleh lawannya. Sena semakin tedesak dan terkena kembali tebasan pisau di punggungnya meskipun tidak terlalu dalam. Aura kegepalan kini mencoba memebungkus luka itu dan menyembuhkannya, tapi entah


mengapa Sena jatuh berlutut memegang bagian perut yang sebelumnya telah sembuh


dari tebasan pisau Wikrama. Perlahan mata Sena gelap dan tubuhnya lemas.

__ADS_1


“Hahahaha meskipun tubuhnmu mampu menyembuhkan luka tapi racun adalah hal lain”.


Wikrama tertawa sinis sambil menjilat ujung pisau yang masih meneteskan darah.


__ADS_2