
Rombongan Keluarga Kerajaan telah keluar dari Kota Maranda. Kali ini mereka melewati kawasan Hutan sebelum memasuki Kota Birawa. Karena malam yang akan semakin larut. Dengan sigap prajurit kerajaan menyiapkan tenda sebagai tempat peristirahatan sementara.
Sena yang melihat sebuah kesempatan segera meninggalkan lokasi itu demi menghindari Dewi Lasmini yang semenjak berangkat dari Padepokan Telaga Dewi terus saja mengekor di belakangnya.
“Akhirnya saya dapat menghindari wanita itu”.
Entah mengapa Sena begitu kesal dengan kelakuan Putri Kerajaan tapi hatinya tidak bisa membenci wanita bar bar itu. Sena mengelengkan kepalanya setiap mengingat tindakan Lasmini yang terlalu berlebihan.
“Dimana dia pergi ?”.
Di tempat peristirahatan, tampak Dewi Lasmini bolak balik mencari keberadaan Sena. Baru saja beberapa menit yang lalu dia meninggalkan Pemuda dingin itu, sosoknya sudah hilang bagai di telan bumi. Bahkan tak ada satupun prajurit yang mengetahui keberadaan Sena.
“Beristirahatlah dulu Lasmini, mungkin Sena sedang berjalan jalan”.
Ratu Dewi Kenanga menghampiri Putrinya yang sejak tadi terlihat cemberut. Dia sangat mengerti hal yang membuat Lasmini berlaku seperti ini.
Dewi Lasmini yang melihat Ratu Dewi Kenanga mendekat, segera bergegas meninggalkan tempat itu menuju tendanya. Entah mengapa dia sangat malas setiap berbicara dengan orang lain kecuali Sena.
Sebelum masuk ketenda, Lasmini bergerak kearah sungai yang tak jauh dari pusat perkemahannya. Dia berharap pemuda yang di carinya sedang bersemedi disana.Tanpa pengawalan dia terus berjalan dan langkahnya terhenti menatap seseorang yang menggunakan topeng emas.
“Siapa Kau ?”
Topeng emas langsung melesat menotok tubuh Dewi Lasmini. Dengan cepat dia membawa tubuh Dewi Lasmini ketempat tersembunyi di hutan ini.
***
Prajna, salah satu topeng emas yang di berikan misi oleh Nyai Genggong untuk merebut pusaka milik pemuda yang berhasil melukai Wikrama. Setelah sekian lama mendekam di Padepokan Cakar Setan, baru kali ini dia mendapatkan misi setelah beberapa tahun fokus meningkatkan kemampuannya.
Walaupun misi pertamanya hanya merebut pusaka milik pendekar lain, tapi hal itu tidak menjadi masalah. Kepercayaan dari Nyai Genggong
adalah hal utama mengenai misinya. Jadi kali ini dia tidak ingin terjadi kekeliruan sedikitpun didalam rencananya. Prajna telah mematai matai pergerakan Sena sejak keluar dari Padepokan Telaga Dewi. Sepanjang perjalanan dia melihat kedekatan antara Dewi Lasmini dan Sena sehingga memutuskan sebuah rencana yang mungkin lebih mudah di bandingkan merebut Pusaka itu secara langsung.
Melakukan Pengintaian dari jarak jauh, Prajna segera bergerak saat melihat Dewi Lasmini berjalan sendirian ketempat Sepi. Tanpa membuang kesempatan dirinya menyergap dan menculik putri kerajaan itu dengan muka berseri seri.
Di letakkannya tubuh Dewi Lasmini di sebuah batu didalam Gua. Nafsu Prajna seketika menggeliat melihat keindahan tubuh dan kecantian wajah Dewi Lasmini. Dibelainya wajah Lasmini dengan lembut hingga timbul pikiran kotor yang nampak jelas di senyuman Prajna.
__ADS_1
“Ahkkkkkk”
Prajna berteriak kesal. Dirinya bimbang antara
menikmati tubuh Lasmini atau menukarkan wanita didepannya dengan pusaka milik Sena
yang sudah menjadi tugasnya. Sejenak pikiran Prajna membayangkan kemarahan Nyai Genggong yang begitu brutal jika gagal menjalankan misinya.
Dengan lemas Prajna meningalkan Dewi Lasmini yang terbaring. Pria Gempal itu keluar dari Gua karena tidak yakin pikirannya bisa tetap jernih jika terus melihat putri kerajaan yang cantik jelita.
“Dimana kedua topeng perak itu”.
Prajna mendengus kesal karena tak kunjung
mendapatkan kabar dari kedua temannya yang dikirim untuk menyampaikan pesan
kepada Sena.
Sedangkan disisi hutan yang lain, Sena terlihat sangat gembira. Dirinya berhasil membuka gerbang ketiga tingkat pendekar langit. Dengan kekuatannya saat ini Sena yakin mampu mengimbangi Pendekar suci gerbang kedua dengan kemampuan tenaga dalamnya.
“Wussshhhh”
Sebuah ranting yang sebelumnya di pegang oleh Sena meluncur deras ke sebuah semak semak yang cukup jauh dari tempatnya. 2 buah bayangan berkelabatan meloncat menghindari ranting itu. Kini didepan Sena
muncul 2 pendekar topeng perak yang sebelumnya melesatkan panah kepadanya.
“Wahhh pemuda yang sangat hebat, pantas saja Wikrama sampai………”
Sena melesat menyerang kedua topeng perak yang bahkan belum menyelesaikan kata katanya. Dengan emosi Sena memberikan pukulan yang membuat salah satu topeng perak terlempar jauh dan mendarat di sungai.
“Tunggu dulu…..”
Pendekar topeng perak lainnya terganga melihat kecepatan milik Sena. Dia yang memiliki tingkat pendekar suci gerbang pertama bahkan tidak bisa bergerak secpat itu. Dengan hati hati dia meladeni Sena yang
kembali mangarahkan serangan kepadanya.
__ADS_1
2 pedang milik pendekar topeng perang itu berusaha membabat tubuh Sena. Pertukaran jurus terus terjadi hingga karena kelengahan Sena, membuatnya harus terkena sabetan pedang. Pendekar topeng perak itu kembali
terkejut karena tubuh Sena yang terkena serangannya tidak mengelurakan darah padahal tebasannya merobek zirah milik Sena.
Topeng perak yang sebelumnya terlempar, berdiri dengan perlahan memegangi dadanya yang terkena tinju Sena. Aliran tenaga dalamnya seakan kacau setelah mendapatkan pukulan itu. Dengan geram dia memandangi pemuda yang sedang bertarung dengan topeng perak lainnya.
Melihat kemampuan lawannya cukup tinggi membuat Sena mundur beberapa langkah untuk mengerahkan teknik pernafasan amukan Surgawi. Pemuda dingin itu tak yakin mampu mengalahkan kedua pendekar suci dari padepokan cakar setan dengan cepat.
“Bommmm”
Baru beberapa detik Sena menghela nafas panjang. Sebuah serangan frontal menggunakan Pedang gergaji hampir membelahnya. Untung dia sempat menghindari tebasan itu hingga hanya mengenai tanah.
Sena tidak ingin menggunakan aura kegelapan dan pusaka cincinnya karena khawatir kedua pendekar Padepokan Cakar Setan didepannya dikirim untuk mengetahui segala kemampuannya. Tapi lawannya saat ini adalah pendekar Suci. Terpaksa dia mengeluarkan aura kegelapan di seluruh tubuhnya untuk menambah daya serang dan pertahanannya. Dengan kecepatan penuh Sena kembali menyerang dengan gerakan gerakan di kitab Tarian iblis kegelapan.
Dengan menggabungkannya dengan jurus kecepatan dari kitab bayangan Sesat. Membuat pola serangan Sena semakin cepat dan bertenaga. Kedua Pendekar topeng perak kewalahan menahan gempuran serangan Sena yang acak dan tak berpola.
Mereka berdua sangat kagum melihat seorang pemuda dengan tingkat pendekar langit mampu mendesak 2 pendekar suci. Kecepatan dan gerakan pemuda didepannya bahkan lebih hebat di bandingkan semua musuh yang pernah di hadapi oleh topeng perak.
“Bukkkkkk…..Bukkkkkk”
Sena berhasil mengenai punggung pendekar topeng perak pengguna pedang gergaji namun disaat itu pula sebuah tendangan mendarat di perutnya. Sena terlempar mundur dengan kakinya yang berusaha menahan laju agar tak terdorong lebih jauh.
“Dengarkan penjelasan kami anak muda, kami….”
Setelah menstabilkan kuda kudanya, Sena langsung menyerang topeng perak pengguna 2 pedang dengan brutal. Topeng perak itu mendecak kesal dengan pemuda yang tak bisa diajak berbicara dan kembali menyerangnya. Pukulan Sena hampir saja mengenai dadanya andai saya tidak di tahan menggunakan 2 pedang yang di silangkan sesaat sebelum pukulan Sena mendarat.
“Tak usah banyak bicara”.
Sena melanjutkan serangannya tapi kali ini terhadang kembali oleh topeng perak pengguna pedang gergaji. Pertukaran jurus terus terjadi hingga lama kelamaan topeng perak pengguna pedang gergaji itu terdesak dan memuntahkan darah setelah 3 pukulan Sena mendarat mulus di dadanya. Pedang gergajinya terlempar akibat kerasnya pukulan yang mengenainya.
Tubuhnya langsung di tangkap oleh topeng perak lainnya. Dengan tatapan tajam dia mengarahkan matanya kearah Sena yang nampak datar.
“Putri Kerajaan ada di tangan kami”
Topeng Perak pengguna 2 pedang langsung mengutaran maksudanya dengan cepat sebelum pemuda itu kembali menyerang.
__ADS_1