
Keempat Hewan Buas tingkat Suci hanya berdiri mengamati serbuan masing masing anggotanya. Dari semua Hewan Buas terlihat pasukan Singa Buas mendominasi dengan jumlahnya yang hampir mencapai 200 ekor. Auman kerasnya merajai suara yang bergema di peperangan ini.
Anggota Padepokan Kelabang Ungu menjadi pasukan pertama yang menyerang bersama prajurit Kota Sanriga. Jumlah yang tak seimbang membuat pertarungan seakan berat sebelah. Tapi di lain sisi ada beberapa orang dari pihak Kota Sanriga yang memiliki kemampuan yang mumpuni untuk melawan puluhan hewan Buas sekaligus.
Ketua Padepokan Kelabang Ungu beserta anggotanya memancing lawannya agar mengepung mereka dalam jumlah besar. Dengan menggunakan racun Kelabang Ungu yang menjadi kebanggaan Padepokannya, Hewan Buas tingkat ahli kebawah langsung meregang nyawa. Sedangkan Hewan Buas sekelas Pendekar Raja keatas hanya akan melemah.
Melihat banyak Hewan Buas yang terlihat teler, anggota Padepokann kelabang Ungu tidak menyaia nyiakan kesempatan untuk menebas leher leher Hewan Buas itu. Belum habis senyum terukir di wajah mereka, muncul gelombang serangan puluhan Hewan Buas mengarah kepada mereka kembali. Dengan wajah sedikit lemas karena tenaga dalam yang telah terkuras, mereka tetap mencoba membunuh semakin banyak Hewan Buas itu.
Pertempurn terus berlanjut, kini terlihat puluhan kematian telah tercipta di peperangan kali ini. Baik itu Manusia maupun Hewan Buas. Para prjaurit dan Pendekar yang melihat tubuh kaku dan tak utuh temannya tidak menangisi hal itu, karena saat ini mereka tengah mempertaruhkan nyawa untuk banyak orang didalam Kota Sanriga.
Perang akan selalu mebawa korban, itulah motto yang selalu tertanam di benak para pejuang.
Kelompok Partai Pengemis masih menatap empat pemimpin Hewan Buas yang nampak mengamati alur peperangan. Ketua Sudharta awalnya tidak ingin ikut berperang sebelum para pemimpin Hewan Buas memasuki arena peperangan tapi melihat keadaan perang yang tidak menguntungkan pihaknya,dia memutar otaknya kembali mengubah rencana.
“Semuanya, bunuh sebanyak mungkin Hewan Buas dan jangan mencoba melawan keempat pimpinan Hewan Buas itu”.
Peringatan Sudharta kepada anggotanya yang hanya berada di tingkat Langit kebawah.
Tak ingin jatuh korban yang banyak di pihaknya, Sudharta langsung melompat menerjang memasuki arena peperangan. Denga pusaka Tongkat Emas, serangannya begitu mematikan bagi Hewan Buas. Tiada Hewan Buas yang tak kehilangan nyawa setelah mendapat hantaman tongkat emas itu.
Setiap serangan mampu membuat lawannya terhempas. Dengan cepat dia telah berada di antara kepungan puluhan hewan Buas akibat aksinya.
__ADS_1
Pergerakan cepat tongkat emas itu terlihat indah di tengah kelamnya pertempuran itu. Baru beberapa kali pusaka tongkat emas itu berputar, puluhan Hewan Buas telah mati. Darah merah kehitaman mulai mewarnai tanah di bawah kaki Sudharta.
Teriakan kematian prajurit dan pekikan Hewan Buas menjelang kematiannya menambah suasana menyeramkan peperangan di depan gerbang Kota itu.
Nampak ketua Sudharta dan Pelindung Surya Wikrama sebagai Pendekar Suci menjadi pusat utama pertempuran.
Puluhan mayat telah tumbang di sekitar tubuh mereka. Para pimpinan Hewan Buas menatap tajam 2 orang yang sejauh ini telah membantai bawahan mereka. Jika mereka membiarkan waktu begitu saja berjalan tanpa bertindak bukan tidak mungkin akan lebih banyak bawahan mereka yang kehilangan nyawa di perburuan kali ini.
Keempat pimpinan itu akhirnya bergabung menyerbu kedalam pertempuran. Banyak prajurit yang terhempas dan tewas akibat kekuatan tingkat Suci pimpinan Hewan Buas.
Pimpinan Singa Buas itu terlihat paling brutal
mencakar dan menggingit para prajurit, Pimpinan Kadal buas yang ada di sampingnya terus mengibaskan ekornya mematakan tulang pasukan yang ada di dekatnya. Kedua pimpinan Hewan Buas ini mengarah kepada Sudharta yang juga membantai Hewan Buas dengan ganas.
Degan tenaga dalam tingkat Suci gerbang ketiga, sedikit pendekar yang biasa melawannya. Tapi kini dihadapannya ada 2 hewan Suci berkekuatan Pendekar Suci gerbang pertama. Meskipun tidak terlalu menyusahkan untuk melawan mereka namun sebelumnya dia telah menghabiskan setengah tenaga dalamnya untuk membantai banyak Hewan Buas lainnya.
Pertukaran serangan terus terjadi. Sampai saat ini Sudharta masih bisa mengimbangi kedua Pimpinan hewan Buas. Terlihat dia telah memberikan beberapa luka pada Pimpinan Kadal Buas yang menurutnya lebih lemah dari Pimpinan Singa Buas.
Sudharta mau tidak mau menggunakan jurus terkuatnya untuk segera membunuh salah satu Hewan Buas itu.
Ketua Partai Pengemis itu bisa mengetahui bahwa saat ini prajuit Kota tengah terdesak karena jumlah Hewan Buas yang sangat banyak di bandingkan jumlah mereka. Sudharta ingin segera menghabisi lawannya untuk bisa membantu pasukan Kota lainnya.
__ADS_1
Surya Wikrama juga menghadapi dua Hewan Buas tingkat pendekar Suci lainnya. Kekuatannya tak sebesar Ketua Sudharta sehingga kini berbagai luka telah menghiasi tubuhnya. Terlihat darah mulai menetes dari sudut bibirnya.
Sebagai pelindung Partai Pengemis dia memiliki kekuatan Pendekar Suci gerbang pertama yang sama dengan kedua lawannya. Hal itulah yang membuat dia terdesak meskipun serangan terkuatnya telah melukai pimpinan Burung Hantu Buas yang terus menyerangnya dari atas.
Tongkat peraknya terus berusaha menyerang Gorilla yang memiliki ukuran 3 kali dari tubuhnya. Tanpa dia sadari pimpinan Burung Hantu Buas di atasnya mempersiapkan serangan pamungkasnya.
Burung Hantu Buas itu menungkik tajam menyerang Surya Wikrama. Pelindung Partai Pengemis itu sedang fokus melawan Gorilla Buas sehingga tidak menyadari hal itu, hingga dia baru menyadari serangan ketika merasakan hawa membunuh yang besar di atas kepalanya.
Dirinya tidak bisa berbuat apalagi dengan keadaannya saat ini. Jikapun dia menahan serangan Pimpinan Burung Hantu Buas itu, dia tidak yakin Pimpinan Gorilla Buas itu tak akan memberikannya serangan telak.
***
“Apa yang terjadi dengan Kota ini?”
Sena terus memacu kuda hitamnya membelah jalan Kota Sanriga. Dirinya sangat terkejut melihat sepinya Kota Sanriga saat ini, padahal hari belum terlalu larut. Semakin lama dia memacu kudanya semakin suara peperangan terdengar jelas di telinganya.
Jarak pinggiran Kota Sanriga yang cukup jauh, membuat Sena banyak membuang waktu didalam perjalanan. Satu jam telah dia habiskan di atas kudanya, hingga dirinya terperanjat dengan bau amis dan darah yang melekat di udara malam itu.
Didepannya terpampang peperangan yang sangat mengerikan. Banyak aura tenaga dalam tingkat Suci yang tengah bergulat di hadapan Sena.
Matanya tajam memandang seorang kakek sepuh yang terlihat paling kuat di peperangan kali ini. Pusaka tongkat emas yang di gunakannya seakan mendominasi pertempuran meskipun sedang menahan gempuran serangan dua Hewan Buas tingkat pendekar Suci.
__ADS_1
“Saatnya melakukan pembunuhan” Dengan senyuman dinginnya Sena melesat menuju lautan Hewan Buas.