
Rombongan Tumenggung Raharja di ikuti kedua Rangga merangsek menuju markas Lembu Gunung.
Bagaskara menggelengkan kepalanya setelah mengetahui Sena tidak ada di tempat perjanjian. Seluruh prajurit yang menemaninya pun tidak mengetahui tentang kepergian Sena yang sembunyi sembunyi.
“Nampaknya anak itu ke markas Lembu Gunung Sendiri”.
Tumenggung Raharja memerintahkan seluruh pasukannya yang terdiri atas 200 orang yang dipimpin langsung oleh Rangga Bagaskara dan Rangga Tohpati untuk segera mempercepat perjalanan menuju Gunung Tandus.
Kekhawatiran muncul di wajah Raharja mengingat sifat keras kepala Sena dan kekuatan besar musuh yang akan dihadapinya.
Menurut laporan, Bandit Lembu Gunung memiliki 1 pendekar tingkat Suci dan 3 pendekar tingkat Langit, selain itu puluhan bandit tingkat tingkat Kaisar dan Raja. Itu jelas kekuatan yang hampir menyamai padepokan tingkat menengah aliran putih. Sena tidak mungkin mampu melenyapkan kelompok bandit itu sendiri dengan kekuatannya saat ini.
Tak terasa perjalanan 7 hari telah dilalui pasukan Tumenggung Raharja, kini didepannya terlihat dengan jelas Gunung tandus yang menjadi markas Bandit Lembu Gunung.
Mereka memutuskan untuk mengumpulkan tenaga dalam terlebih dahulj sebelum melakukan penyerangan di pagi hari.
Tumenggung Raharja menarik nafas lega mengetahui informasi bahwa keadaan markas bandit Lembu Gunung masih terlihat utuh tanpa bekas pertarungan. Walaupun yakin Sena tak mampu mengalahkan seluruh Bandit Lembu Gunung tapi untuk membuat kekacauan dan kehancuran besar, nampaknya Sena masih bisa melakukan hal itu.
“Kemana anak itu pergi”. Gumam Tumenggung Raharja yang baru menyelesaikan susunan taktik yang akan mereka terapkan di penyerangan saat pagi nanti.
Udara dingin menusuk tubuh prajurit Tumenggung Raharja yang sejak subuh mendekati markas Bandit yang terlihat sepi, karena baru melewatkan pesta yang umum dilakukan para bandit untuk menikmati kehidupan. Kini hanya terlihat dua bandit yang terus menguap berjaga di depan gerbang markas.
Kedua Penjaga itu langsung tewas terkena panah yang di lesatkan oleh Rangga Tohpati. Satu persatu prajurit memasuki markas itu untuk membunuh sebanyak mungkin bandit yang terbaring mabuk di luar tenda.
Tumenggung Raharja dan kedua Rangganya masih menunggu di luar gerbang di temani puluhan pemanah yang telah bersiap melesatkan panahnya.
Pembunuhan diam diam terus terjadi hingga salah satu bandit tersadar melihat aksi prajuirt kerajaan.
“Penyusup ! Penyusup “
Teriakan salah satu bandit yang tersadar, sebelum kepalanya jatuh karena berhasil ditebas oleh prajurit kerajaan di belakangnya.
Sontak semua bandit terbangun dan berkumpul untuk melakukan serangan balik kepada musuh yang menyerang mereka secara diam diam.
“Dasar anj*ng Kerajaan, semuanya bunuh !”. Teriak Salah satu bandit yang terlihat memiliki posisi yang tinggi di kelompok ini. Seluruh Bandit serentak menyerang Prajurit kerajaan.
__ADS_1
“Semuanya mundur”. Teriak salah satu Prajurit yang di ikuti langkah mundur prajurit kerajaan. Semua Bandit mengejar, tidak ingin melepaskan pasukan kerajaan yang telah membunuh teman mereka secara cuma cuma.
“Awas !!! ini jebakan”
Teriak salah satu bandit yang paling depan melihat puluhan panah melayang kearah mereka setelah keluar dari pintu gerbang. Peringatannya tidak mampu menyelamatkan para bandit yang memiliki kemampuan rendah. Panah itu terus menancap di tubuh bandit. Jumlah bandit berkurang dengan
cepat akibat panah panah itu.
Ketiga bandit yang terlihat kuat melesat kedepan untuk menghalau panah panah yang masih terus melesat didepan markas mereka.
“Ketiga orang itu memiliki tenaga tingkat langit”. Kata Tumengung Raharja memperingatkan pasukannya.
Dalam perang, dia tidak ingin banyak korban dipihaknya karena melawan musuh yang tidak sepadan dengan kemampuannya.
Rangga Bagaskara dan Rangga Tohpati mengangguk mengerti peringatan yang di lontarkan Tumenggung mereka. Dengan cepat dia menghadapi musuh yang setara dengannya, diikuti seluruh prajurit yang berlari di belakangnya.
Dalam perang kehilangan 1 orang petinggi lebih berpengaruh dibandingkan puluhan prajurit tingkat rendah.
Bagaskara menghadapi bandit yang terlihat kurus dengan tubuh jangkung sedangkan Rangga Tohpati menyerang bandit yang terlihat gemuk pendek. Ledakan ledakan terus terjadi akibat pertemuan jurus pendekar berkekuatan tingkat Langit itu .
Diantara 3 bandit yang menahan serangan panah prajurit kerajaan, terlihat bandit yang paling kuat menuju kearah Tumenggung Raharja.
Tumenggung Raharaja tesenyum merasakan aura yang tak asing sedang mendekat dengan cepat tanpa mempedulikan serangan kapak yang mengarah kepadanya.
***
Sena terus memacu kudanya membelah butiran embun di udara. Kudanya terus mendaki gunung tandus di hadapannya ketika merasakan aura pertempuran tidak jauh dari tempatnya.
“Si*al”
Sena menggerutu karena takut ketinggalan acara penyerangan bandit yang sudah seminggu dia bayangkan. Kini perlahan sifat acuhnya menjadi sifat yang haus akan pertempuran.
Senyum terukir di wajahnya melihat punggung Raharja yang masih tak ikut dalam pertempuran. Sena berpikir jika pria berkumis
itu ikut menyerang maka tidak ada lawan lagi yang bisa di dapatkannya.
__ADS_1
“Trangggggg”
Kapak Bandit berkapak yang bernama Lembu Sora itu terlempar karena Cincin Sena. Sedangkan Tubuhnya terkena hantaman kedua cincin lainnya . Lembu Sora terlempar membentur beberapa bandit yang berada di belakangnya.
“Dari mana saja kau bocah”. Tumenggung Raharja tersenyum menyambut kedatangan Sena yang bak pahlawan meskipun dirinya tidak merasa membutuhkan pertolongan.
Sena menoleh menyunggingkan senyumnya sebelum meledakkan aura kegelapan di tubuhnya. Berkat beberapa petunjuk gulungan kuno di padepokan Bukit Api, Sena mengetahui cara menggunakan aura kegelapannya dengan lebih baik.
Puluhan lengan yang terbentuk dari aura kegelapan menjalar menangkap bandit bandit yang sementara bertarung dengan
prajurit kerajaan. Sena meremukkan tulang tulang mereka sebelum menghempaskan
nya kembali ketanah.
“Cara bertarungnya masih naif seperti dulu”.
Tumenggung Raharja terkejut melihat Sena mampu mengendalikan aura kegelapan sebagai media pertahanan dan penyerangan yang kuat. Namun tidak pernah sekalipun membunuh lawannya yang sudah tak berdaya.
Lembu Sora berdiri menatap geram kearah Sena yang seperti iblis seribu lengan. Sepanjang kehidupannya dia selalu tampak mendominasi ketika bertarung dengan tenaga dalam tingkat langit gerbang ketiga yang di milikinya. Tapi hari ini dia terhempas hanya karena serangan tunggal pemuda yang memiliki tenaga dalam di bawahnya.
Dia mengambil 2 kapak bandit yang telah tersungkur ditanah. Dengan tenaga besarnya dia memutar kapak mencoba menyerang Sena yang sibuk membantai bandit bandit di sekitarnya.
Namun ketiga cincin Sena tak membiarkan hal itu, dengan lesatan lesatan yang cepat dan daya yang kuat, ketiga cincin itu
menyerang tubuh Lembu Sora.
Tenaga yang telah berkurang dan bagian tubuh yang mati rasa setelah terkena hantaman cincin membuat perlahan tubuh Lembu Sora menegang. Tubuhnya terpantul pantul kesegala arah akibat hantaman ketiga cincin Sena.
Lembu Nira dan Lembu Karo yang melihat temannya seperti mainan, menghentikan pertarungan dengan kedua Rangga kerajaan. Mereka berniat membantu Lembu Sora yang terlihat sudah putus asa dengan kondisi tubuh yang hancur dari dalam.
“Mau kemana kalian, lawan kami terlebih dahulu”.
Rangga Tohpati dan Rangga Bagaskara melesat mengahalau pergerakan Lembu Nira dan Lembu Karo. Pertarungan sengit kembali terjadi.
Ketua Bandit Lembu Gunung yang baru terbangun akibat nyenyak tidurnya terganggu pertempuran, semakin marah melihat banyak bawahannya yang tewas dan terluka parah.
__ADS_1
Pandangannya tajam kearah Pemuda dingin yang membantai bawahanya dengan sadis.
“Kubunah kau anak muda”. Teriaknya sambil melemparkan puluhan jarum beracun di tangannya