
“Gonggggggg”
Rakai segera membuat kuda kuda terkuat yang di kuasainya. Pemuda bersenjatakan tongkat ini tidak gegabah untuk menyerang Sena secara langsung, tanpa mengetahui keahlian dan jurus yang dimiliki Sena.
Sena yang mengamati Rakai sebagai tipe pendekar yang berhati hati dalam bertarung, menyerang terlebih dahulu mengguakan jurus bayangan sesatnya.
Kecepatannya yang tinggi tidak mampu diikuti oleh mata Rakai. Pergerakan Sena juga sulit ditebak membuat beberapa kali pukulan dan tendangannya mendarat di tubuh Rakai.
Rakai yang merasa tidak akan bertahan lama, jika menggunakan taktik bertahan melawan Sena yang jelas memiliki tenaga dalam lebih tinggi darinya, akhirnya berinisiatif untuk mulai menyerang balik.
“Kecepatannya sangat mengagumkan”. Kata Tumenggung Dewi Suhita.
Rakai melompat mundur mengambil jarak dari Sena setelah serangannya di mentahkan dengan sangat mudah. Terlihat jelas bahwa Sena belum mengeluarkan separuh kemampuan untuk melawannya. Tentu saja jika Sena bertarung dengan serius, maka Rakai akan di kalahkan tidak lebih dari 3 gerakan.
Rakai menggunakan jurus tongkat terkuat yang dikuasainya. Tongkat hitamnya berputar menciptakan pusaran angin yang membuat pandangan Sena menjadi tak jelas. Melihat Sena menyipitkan matanya karena terkena pusaran angin, Rakai melesat menyerang pundak Sena dengan pukulan tongkat.
“Bukkkkkkk”
Tongkat mendarat di pundak kiri Sena. Senyum Rakai terbentuk karena mampu memberi satu serangan kepada pendekar tingkat langit didepannya. Namun detik selanjutnya dia melihat Sena masih berdiri kokoh meskipun terkena hantaman tongkat.
Tiada luka maupun rasa sakit yang terpancar di wajah Sena, karena tubuh Sena telah di perkuat dengan jurus tubuh naga hitam. Rakai kembali melompat mundur merasa ngeri dengan pertahanan tubuh Sena.
“Teknik pertahanan yang sangat kuat”. Tumenggung Ardana tercengang melihat pertahanan tubuh Sena.
Sena kembali menyerang Rakai menggunakan jurus Tarian Iblis Kegelapan. Hanya menggunakan 3 gerakan akhirnya akhirnya Rakai terhempas keluar dari Arena, karena terkena tendangan Sena yang menggunakan seperempat tenaga dalam tingkat langitnya.
__ADS_1
“Serangannya sangat beragam dan susah ditebak”. Kini giliran Tumenggung Atmaja yang memuji gerakan jurus tarian iblis kegelapan.
“Nampaknya saya mengenali jurus jurus yang digunakan pemuda ini”. Gumam Mahapatih Anom dalam hati. Dalam perjalannanya di dunia persilatan sebelum menjabat mahapatih, tentu dia bertemu ratusan pendekar sakti yang memiliki jurus jurus hebat termasuk pernah melihat jurus yang digunakan Sena sebelumnnya.
Pikirannya masih terus berselancar menjelajahi masa lampau untuk mengingat gerakan gerakan yang di lakukan Sena.
“Mahapati Anom, pemuda ini sangat hebat. Tanpa menggunakan auranya saya yakin dia mampu mengungguli beberapa Rangga di Kerajaan ini”. Prabu Sanjaya Maharaja membuyarkan lamunan Mahapatih Anom. Kakek berambut putih ini langsung menganggukan kepalanya. Memang menurut pengamatannya, Sena memiliki kemampuan diatas rata rata Rangga di Kerajaan Kumbara melihat dari kecepatan, pertahanan dan daya Serang yang di tampilkan oleh Sena.
“iya Paduka Raja. Pemuda ini memiliki atribut yang lengkap sebagai pendekar. Saya hanya penasaran sekuat apa dia ketika menggunakan aura kegelapan dan pusaka misteriusnya”. Jawaban Mahapatih sontak membuat Prabu sanjaya mengangguk memikirkan kemungkinan kekuatan penuh Sena.
Rangga Respati segera mengumumkan kemenangan Sena. Beberapa dukungan penonton terdengar setelah melihat kemampuan Sena. Bahkan Seluruh pendekar
tingkat tinggi telah memastikan bahwa Sena akan menjadi juara dengan kekuatannya yang mengerikan.
Melihat kondisi Arjunta yang masih membutuhkan waktu untuk memulihkan tubuhnya. Puncak turnamen ditunda untuk beberapa saat menunggu kesiapan Sena dan Arjunta.
Puncak pertarungan Turnamen Kumbara muda sedang berlangsung. Terlihat Sena dan Arjunta berdiri berhadapan di tengah arena turnamen. Sorak sorak penonton beralih mendukung Sena ketika mereka mengetahui tingkat pendekar yang dimiliki pria yang sebelumnya mereka hina.
“Saya tidak bisa menang melawanmu Sena, tapi saya punya permintaan !”. Kata Arjunta pelan menatap serius kepada Sena. Melihat Sena mengangguk, Arjunta melanjutkan permintaanya.
“Saya ingin kau melawanku menggunakan senjata misteriusmu dan jangan mempermalukanku dengan cepat”. Arjunta tersenyum kecut kepada Sena.
Arjunta sebenarnya ingin agar Sena melawannya dengan segenap kekuatannya, Namun dia menyadari saat ini dia tidak cocok bertarung dengan Sena. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Sedangkan untuk pusaka milik Sena, terlalu menarik perhatian Arjunta. Pusaka yang bentuknya tidak bisa dipastikan oleh Arjunta, karena mampu berubah ukuran kadang seperti cincin, gelang bahkan mampu
membesar seukuran roda kereta.
__ADS_1
Sesaat setelah Gong berbunyi. Kedua pedang Arjunta terbang dan melesat dengan cepat kearah Sena. Sena memperhatikan kedua pedang berukuran sedang itu terbang kearahnya.
“Cincin ! Keluarlah”
Cincin di tangan Sena bersinar dan kini muncul 3 roda hitam berputar di depan Sena. Kedua cincin itu maju menahan laju pedang Arjunta. Melihat Sena mengabulkan permintaanya, Arjunta tersenyum dan mulai bersemangat untuk mengeluarkan semua kemampuan yang di miliknya.
Pertarungan antar 2 senjata yang bergerak sendiri ini menyita seluruh perhatian penonton. Rasa penasaran tentang seberapa besar rahasia yang dimiliki Sena terus memenuhi otak meraka. Bahkan kemunculan tiba tiba roda berputar di depan Sena, lebih dari cukup untuk mengagetkan seisi gedung turnamen ini.
Raja Kumbara, Mahapatih Anom dan seluruh penonton menatap serius peraduan 2 senjata itu. Walaupun terlihat saling beradu, jika dilihat lebih jelas maka kedua pedang Arjunta tidak bisa menahan kekuatan roda berputar itu. Belum lagi masih ada 1 roda hitam lain yang masih berputar di hadapan Sena.
Benturan kedua pusaka itu semakin terasa kuat. Arjunta yang melihat bagaimana kerasnya pusaka Sena memutuskan menarik kedua pedangnya karena takut kedua pedangnya akan retak bahkan patah.
“Roda hitam itu sangat kuat”. Mahapatih Anom memperhatikan pergerakan pusaka milik Sena yang seperti memiliki pikiran sendiri sehingga mampu bergerak sesuai kelemahan lawan. Pandangannya kini beralih ke arah Sena yang terlihat santai. Tidak terlihat diwajahnya bahwa pikirannya sedang mengendalikan pusakanya.
“Teknik apa yang digunakan pemuda ini hingga mampu mengendalikan pusakanya begitu hebat”. Prabu Sanjaya Maharaja juga merasa takjub dengan pergerakan pusaka yang dimiliki oleh Sena. Tidak sekalipun dia
pernah melihat atau membaca senjata yang bisa muncul tiba tiba dan bergerak sendiri tanpa dikendalikan sepenuhnya oleh pemiliknya.
Arjunta tersenyum kecil sebelum mengangkat tangannya tanda menyerah. Dia merasa sangat puas telah melawan pusaka cincin misterius Sena yang selalu membuatnya penasaran. Tepuk tangan penonton memenuhi gedung Turnamen Kumbara Muda. Melihat Arjunta telah menyerah, kedua cincin Sena kembali kehadaapannya dan
bergabung menjadi satu. Perlahan ukurannya mengecil dan menjadi cincin di tangan
Sena.
“Pusaka yang sangat hebat”. Ucap ketua Partai Pengemis yang takjub menyaksikan kemampuan pusaka milik Sena. Pria bertongkat emas ini sejenak memandang mata Sena yang terasa tidak asing.
__ADS_1
“Pemenang turnamen Kumbara muda adalah Arya Sena dari Serikat Pendekar Sakti”. Teriak Rangga Respati mengumumkan kemenangan Sena.
Seluruh penonton berdiri sambil bertepuk tangan menyambut juara Turnamen itu. Tak terkecuali Isyana dan Dewi Lasmini yang tak hentinya menatap Pemuda berjubah merah di tengah Arena.