
Kepulangan Tumenggung Gunawa dengan membawa Dewi Lasmini membuat keadaan perkemahan menjadi lebih tenang. Gunawa menjelaskan perihal kejadian yang menimpa Putri kerajaan meskipun lebih jelasnya di ketahui oleh Sena yang berada di tempat kejadian.
Dewi Kenanga tak terlalu mempedulikan hal itu. Melihat keadaan putrinya sehat membuat hatinya sedikit melunak akan kemarahan. Totok yang bersarang di tubuh Dewi lasmini dapat di sembuhkan dengan mudah saat mereka sampai di istana Kerajaan.
Tanpa menunggu pagi, rombongan Tumenggung Gunawa langsung bergerak menuju Istana Kerajaan. Jika tak ada halangan, maka mereka akan sampai sebelum malam datang.
Hingga pada saat sore hari, rombongan itu telah sampai di istana dan di sambut oleh Prabu Sanjaya Maharaja sendiri. Kebahagiaan di mata pria tua itu sirna melihat putrinya turun di tandu oleh prajurit kerajaan. Dia langsung berlari menghampiri tubuh Dewi Lasmini dengan cemas.
“Apa yang terjadi pada putriku ?”
Dengan tatapan tajamnya dan suara dinginnya, Prabu Sanjaya membuat seluruh prajurit termasuk tumenggung Gunawa menjadi ketakutan. Beruntung Ratu Dewi Kenanga menengahi suasana penuh emosi itu segera.
“Kakang Prabu, kita obati dulu Dewi Lasmini kemudian akan saya jelaskan kejadian yang menimpa di perjalanan kami”. Ucap Dewi
Kenanga lembut sambil mengelus punggung Prabu Sanjaya yang masih panas.
Prabu Sanjaya langsung menyuruh Dewi Lasmini di masukkan ke kamarnya dan menyuruh prajurit memanggil Mahapatih Anom untuk membuka totokan pada tubuh Putrinya.
Totokan pada umumnya menyebabkan kelumpuhan pada seseorang. Proses pelepasan totokanpun tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang.
Pengetahuan sampai saat ini mengajarkan bahwa yang bisa membuka totokan hanya pendekar yang memberikan totokan itu sendiri atau pendekar lain yang memiliki tenaga dalam yang sama dan diatas pendekar pemberi totokan.
Dengan cepat Mahapatih Anom melepaskan totokan itu, Dewi lasmini sedikit mengejang karena pembuluh darahnya mulai teraliri lagi. Pria sepuh itu menganjurkan semua orang untuk membiarkan Putri Lasmini beristirahat sebelum bisa pulih total.
Prabu Sanjaya, Mahapatih Anom dan Dewi Kenanga duduk di aula istana mendengarkan penjelasan Tumenggung Gunawa. Emosi Raja Kumbara akhirnya pecah mendengar keterlibatan Padepokan cakar setan di penculikan putrinya.
“Kurang aj*r”.
Prabu Sanjaya memukul meja dengan keras. Dia tidak bisa lagi memberikan Padepokan Cakar Setan lagi toleransi untuk berbuat semaunya. Emosi yang meluap luap itu membuat suasana aula menjadi lebih berat.
__ADS_1
“Jadi bagaimana keadaan Sena sekarang ?”. Kata Mahapatih Anom mencoba mencari topik pembahasan lain untuk mengurangi kemarahan Raja Kumbara.
“Maaf Mahapatih, Sena mengejar Topeng emas itu kearah hutan”. Jawab Tumenggung Gunawa.
Mahapatih Anom memijit kepalanya memikirkan Sena yang berani mengejar pendekar tingkat suci gerbang kedua sendirian. Keras kepala memang sangat penting dalam pertarungan untuk menjaga semangat tetap berkobar namun menyerah adalah salah satu taktik untuk mengalahkan lawan di pertemuan berikutnya.
Setelah kepergian Tumenggung Gunawa, Ratu Dewi Kenanga menceritakan tentang Kalung mutiara hitam yang di pakai Lasmini. Mahapatih Anom dan Prabu Sanjaya Sangat terkejut mengetahui bahwa Dewi Lasmini akan menjadi incaran para siluman karena telah menyerap Mustika Tubuh abadi 10 Tahun silam.
Mahapatih Anom memerah dan bergetar atas kenyataan itu. Dengan cepat dia bersujud dan menangis di depan Prabu Sanjaya Maharaja. Tak bisa di pungkiri bahwa Mustika tubuh abadi adalah pemberiannya kepada Dewi Lasmini.
Pria sepuh itu berpikir dengan mustika itu, Tubuh Dewi lasmini akan selalu kebal dan kuat terhadap penyakit yang selalu menggerogotinya sejak kecil namun sekarang karena mustika itu, akan muncul musibah besar dimana pusatnya adalah Dewi Lasmini yang telah dianggap cucunya sendiri.
“Sudahlah Mahapatih, ini bukan kesalahanmu justru kami berterima kasih atas bantuanmu waktu itu”.
Prabu Sanjaya memaksa Mahapatih anom berdiri dengan memegang pundaknya. Sang Raja mengingat kembali kejadian 10 tahun lalu yang hampir merenggut nyawa putrinya.
“Kita akan menemukan Sena secepatnya dan meminta penjelasan lebih dalam”.
***
Sena baru terbangun setelah merasakan panas ditubuhnya. Rasa sakit di seluruh tubuhnya masih jelas terasa. Perkembangan tenaga dalamnya yang pesat tidak di barengi oleh kemampuan fisik yang kuat sehingga tubuhnya cepat merasa letih meskipun memiliki tenaga dalam yang sangat melimpah.
Cincin besar yang berputar di dekatnya segera mengecil dan masuk kembali kejarinya. Nampak pusaka cincinnya menjaga Sena tetap aman selama berada di hutan ini.
Dengan sedikit lemah, Sena terus melangkah menuju perkemahan namun saat tiba, tidak ada lagi perkemahan Kerajaan. Sena tersenyum kecut memahami mengapa dia di tinggalkan. Beruntung saat pertempurannya dengan Prajna, tumenggung Gunawa datang dan membawa tubuh Dewi Lasmini
Sena mencari sebuah tempat sepi untuk
mengistirahatkan tubuhnya. Dia ingin kembali bugar saat sampai di istana Kerajaan Kumbara.
__ADS_1
“Lebih baik saya berendam terlebih dahulu”
Sena menuju sebuah sungai yang memiliki air yang sangat jernih. Tubuhnya membutuhkan relaksasi setelah sekian lama tegang akibat penggunaan jurus jurus yang membebani tubuhnya. Baru saja Pemuda dingin itu menikmati hangatnya air tiba tiba muncul gelembung gelembung udara di sekitar air sungai.
Dengan cepat Sena melompat dari sungai. Matanya tajam mencoba mencari penyebab situasi aneh itu. Barulah setelah beberapa menit muncul buaya setengah manusia yang bisa di pastikan oleh Sena sebagai salah satu siluman.
“Auramu begitu menakutkan anak muda”.
Siluman itu memperhatikan tubuh Sena. Sebenarnya siluman buaya itu adalah penghuni sungai. Biasanya dia takkan memunculkan sosoknya pada dunia luar. Tapi sisa aura kegelapan yang keluar dari tubuh Sena menarik perhatiannya.
Sena mempersiapkan dirinya jikan siluman buaya akan menyerangnya tiba tiba. Gerak gerik Sena mudah di terka oleh Siluman Buaya hulu itu.
“Tak perlu serius begitu, saya tidak menyukai
pertarungan”.
Sena menyipitkan matanya memikirkan maksud Siluman didepannya. Jadi untuk apa siluman itu muncul dihadapannya jika tidak ingin bertarung. Lagipula menurut pengalaman Sena, kemunculan Siluman pasti memiliki sebab yang akhirnya berakhir dengan pertempuran.
Merasa tak di percayai oleh pemuda dingin
didepannya, Siluman buaya yang tampak banyak bicara itu menjelaskan ketakutan
beberapa siluman karena muncul kelompok manusia yang menangkap siluman untuk di
jadikan tumbal untuk meningkatkan kekuatan.
Siluman itu terus saja mengoceh membuat telinga Sena penuh akan cerita pilu yang dialami para siluman. Siluman memiliki jantung yang terus diburu untuk mempercepat pertumbuhan tenaga dalam manusia. Bukan hanya manusia yang dibunuh siluman tapi juga sebaliknya. Begitulah hukum alam berlaku. yang jelas yang terkuatlah yang akan berdiri di puncak hukum. Jika puncak diisi kejahatan maka seluruh permukaan dibawahnya akan menjadi tercemar dan menyebabkan kekacauan.
Sena mengerutkan keningnya mendengar Padepokan Siluman iblis menjadi sosok di balik pemburuan Siluman selama ini. Nama Padepokan itu terasa asing di telinga Sena. Jika memang ada kelompok yang menjadikan siluman sebagai buruan, maka tak pelak akan berbahaya jika padepokan itu berada pada aliran hitam.
__ADS_1
“Dunia ternyata sangat luas dan kejahatan memiliki banyak sumber”.