
Nyai Genggong terlihat sedang bersemedi meningkatkan tenaga dalam. Sudah lebih dari 10 tahun dia menjadi pedekar Suci gerbang ketiga namun tidak ada tanda tanda dia akan menerobos ketingkat yang lebih tinggi. Memang Pendekar tingkat Dewa masih menjadi mitos di Kerajaan Kumbara. Saat ini belum ada yang mampu mecapai tingkatan itu meskipun telah menggunakan segala cara.
Wanita iblis itu adalah pelopor pemberontakan saat ini. Selama ini dia menyembunyikan diri dari rimba persilatan untuk meningatkan kekuatan dan memperbanyak bawahannya. Kabar mengenai Mahapatih Anom yang
terluka parah setelah bertarung dengan Ketua Padepokanan Kabut Raun membuat ambisinya di laksanakan lebih awal.
Memang ketakutan terbesarnya di Kerajaan Kumbara adalah Mahapatih Anom yang memiliki tingkat yang sama dengannya. Pria sepuh itu selalu tinggal di lingkungan istana selama menjabat sebagai mahapatih.
Komposisi pasukan Nyai Genggong saat ini cukup untuk meluluh lantakkan istana Kerajaan apabila tak ada banTuan dari ketua Padepokan besar aliran putih. Karena setiap Padepokan besar memiliki ketua yang setidaknya berada pada tingkat Pendekar Suci gerbang kedua.
Kemarin dia tela melakukan langkah besar dengan mengirim satu Topeng Emas untuk menghancurkan Padepokan menengah aliran putih yang bisa saja menghambat rencananya. Saat ini dia memiliki 3 orang bertopeng Emas dengan tingkat Pendekar Suci Gerbang kedua sedangkan untuk Topeng Perak dia memiliki kurang lebih 10 orang.
Namun beberapa hari dia mendapatkan kabar buruk mengenai beberapa kekalahan Topeng Perak yang menyebar untuk menyerang Padepokanan Padepokan aliran putih menengah dan kecil.
“Darah harus dibalas dengan kehancuran””
Nyai Genggong membuka matanya ketika selesai bersemedi. Dendam di hatinya sudah membutakan akal dan pikirannya.
***
Sena terlihat berbaring di sebuah kamar mewah di kediaman pimpinan Kota Taruma. Setelah peperangan usai, Sena menjadi sosok penting yang menyelamatkan Kota ini dari kehancuran. Sehingga dengan cepat Tuan Gading Lasmana memerintahkan beberapa prajurit membawa Sena untuk di obati.
Sepak terjang Sena dalam perang bagaikan jamur yang menyebar ke segala penjuru Kota Taruma. Seorang pemuda berjubah merah yang melumpuhkan Topeng Perak dan membuat pimpinan Topeng Emas melarikakan diri. Bukan hanya itu, kehadirannya membuat ratusan Topeng Perak terluka parah sehingga menjadi titik balik kememngan dalam perang ini.
Anargaya dan Hastungkara serta Tuan Gading Lasmana terlihat duduk di sebuah ruangan mewah. Kematian ketua Padepokan Hutan Taruma merupakan kehilangan yang sangat besar bagi keseimbangan Kota Taruma. Namun mereka cukup lega dengan kemenangan yang mereka raih.
__ADS_1
Tuan Gading Lasmana berinisiatiif untuk memberikan gelar pahlawan kepada Sena atas peran vital nya dalam perang ini. Kedua ketua Padepokan aliran putih itu juga mengangguk setuju, mereka bahkan tidak bisa membayangkan keadaan Kota ini jika pemuda berjubah itu tak muncul.
Dalam pikiran Anargaya Sena adalah sosok yang tak asing. Lama dipikirkannya hingga dia tersadar bahwa Sena adalah juara turnamen Kumbara muda. Hastungkara yang hadir di turnamen itu juga tersadar akan Sena.
Tuan Gading Lasmana terkejut mengetahui identitas Sena. Mereka sempat berpikir tidak percaya dengan kemampuan Sena yang sebenarnya. Seorang pemuda di bawah umur 25 tahun yang mampu membuat Pendekar Suci gerbang 2 melarikan diri. Padahal dari pengamatan mereka, Sena masih berada di tingkat langit gerbang 2.
Gading Lasmana menjadi senang ketika mengetahui Sena juga telah bergabung dengan pihak Kerajaan. Dengan begitu, Kerajaan memiliki tambahan orang kuat belum lagi dia masih berusia muda. Mereka bertiga yakin beberapa tahun kemudian, pemuda berjubah merah itu akan menjadi sosok paling penting di Kerajaan Kumbara.
Sena akhirnya membuka matanya secara perlahan dan tersadar berada di sebuah ruangan yang Nampak asing. Berkat aura kegelapan dan pusaka cincin, tubuhnya tidak meninggalkan luka namun karena kelelahan dalam bertarung dalam jangka yang lama, membuat tubuh lemas dan akhirnya pingsan.
“Haaaa, mulai sekarang saya harus melatih tubuhku lebih keras untuk bisa menampung tenaga dalam yang lebih besar”.
Sena menghela nafas panjang memikirkan pertarungan yang baru dia lakukan. Kini dirinya mengendap endap untuk bisa keluar dari kediaman besar ini tanpa menarik perhatian. Berdasarkan pikiran Sena, Dia saat ini berada di kediaman pimpinan Kota melihat kemewahan dan beberapa prajurit berjaga di setiap sudut bangunan.
Pemuda itu menerawang hal yang kan terjadi jika dirinya terus berada di tempat ini. Sena tidak menyukai keramaian dan menjadi pusat
Dengan mengandalkan kecepatan dan aura kegelapannya untuk mengunci prajurit
agar tak berteriak, dia merangsek keluar dengan lancar.
“Dari Kota ini saya harus segera menuju Kota Maranda”.
Menurut Raja Siluman Harimau Emas, pemilik tubuh abadi berada di Kota itu. Walaupun yak memiliki petunjuk lain namun tanpa pikir panjang Sena langsung melesat kearah dia meninggalkan Jali.
Kuda hittam itu terlihat sedang duduk menunggu kedatangan Tuannya. Seakan dia mengerti bhawa Tuannya akan kembali ketempat semula mereka berpisah. Sena menunggangi kudanya menuju utara
__ADS_1
karena menurut peta yang di bawahnya, di sanalah arah tercepat menuju Kota Maranda.
“Tuan ! Sang Pahlawan telah pergi”
Seorang prajurit berlari ketakutan melaporkan tentang kepergian Sena dari kediaman pimpinan Kota. Ketiga orang tua di ruangan itu terkejut sekaligus resah. Padahal mereka bertiga sedang menunggu kesadaran Sena untuk bisa berbicara dan memperat hubungan dengan calon pendekar terkuat di Kerajaan Kumbara itu.
“Pemuda yang misterius”
Anargaya menggelengkan kepalanya tidak mengerti maksud tindakan Sena. Mengapa haru pergi secara diam diam padahal jika dia ingin melakukan sesuatu di Kota ini, mungkin takkan ada yang bisa menghentikannya.
Jika saat ini semua prajurit dan Pendekar Padepokan berlomba lomba untuk melakukuan misi menumpas kejahatan demi melambungkan namanya di Kerajaan Kumbara, malah pemuda yang satu ini melarikan diri dari hal itu. Mereka hanya
bisa pasrah dan kembali ketempat masing masing untuk mengurus sisa sisa perang di Kota Ini.
Di sisi lain Kota Taruma . Sena semakin cepat menunggangi kudanya, jarak untuk mencapai Kota Maranda memang cukup singkat karena semakin arah utara maka semakin dekat dengan ibu Kota Kerajaan. Kota Maranda sendiri berbatasan dengan Kota Birawa.
Sena mengahabiskan hari harinya di perjalanan sambil berlatih keras. Dia tidak ingin kejadian di Kota Taruma terjadi lagi. Karena kelemahan fisiknya, maka Topeng Emas yang sangat berbahaya melarikan diri. Walaupun Sena masih belum yakin mengalahkan orang itu tapi jika datang bantuan dari Anargaya dan Hastungkata, maka untuk melumpuhakan Topeng Emas tidaklah mustahil.
“Secepatnya saya harus membuka gerbang ketiga tingkat Langit””
Sena menyudahan latihannya. Dia bergegas membersihkan tubuhnya sebelum kembali mengarah ke Kota Maranda. Tak ada l halangan berarti selama perjalanannya kali ini, sehingga dalam waktu 5 hari dirinya bisa melihat penampakan Kota Maranda di atas bukit tempat dia berada. Dirinya bisa saja
sampai lebih cepat tapi Sena merasa meningkatkan kekuatan fisiknya adalah hal
paling bijak yang bisa dilakukannya saat ini.
__ADS_1
“Tubuh Abadi”
Sena tersenyum dan kembali naik diatas kuda hitamnya.