
Subagja yang merupakan anggota Padepokan Cakar Setan dan berhasil menyusup kedalam pasukan kerajaan memiliki sikap yang keras kepala. Sudah cukup lama dia tersiksa dengan aura kegelapan yang mengikis organ dalamnya secara perlahan namun tak kunjung dia memberikan informasi mengenai keberadaan Isyana dan rencana Padepokan Cakar Setan di Kota Bina.
Sena sebenarnya mudah saja untuk menemukan Isyana dengan persepsinya yang sangat tajam. Bahkan saat ini dia telah mampu merasakan keberadaan Isyana di bawah bangunan ini. Keingintahuan pemuda dingin itu akan rencana Nyai Genggong membuatnya menyiksa Subagja cukup lama.
Dewi Lasmini yang sejak tadi berdiri di belakang Sena mulai nampak geram dengan keras kepala Subagja. Dengan cepat dia berlari seakan ingin menghabisi Subagja secepatnya namun tindakannya tersebut di tahan oleh Sena. Subagja hanya tersenyum kecut berharap pedang putih Putri Lasmini bisa menebas lehernya dengan cepat agar tak menambah penderitaanya di tangan Sena.
“Lakukan yang kau inginkan”.
Sena merasa tak memiliki kemungkinan mendapat informasi dari Subagja. Dilepaskannya kepala prajurit kota Bina itu dari kekangan aura kegelapan. Belum sempat dia bernafas lega, Dewi Lasmini telah menusuk leher Subagja dan berbalik mengikuti Sena yang bergegas mencari keberadaan Isyana.
Mereka berdua berjalan hingga tiba di sebuah penjara bawah tanah. Kedua prajurit yang berjaga menajamkan penglihatannya melihat dua orang asing memasuki ruang rahasia ini.
“Apa yang kalian lakuka……”.
Tubuh salah satu prajurit terlempar dengan tulang rusuk yang patah. Omongannya tidak di gubris oleh Sena yang serius mencari keberadaan Isyana.
Tindakan Sena membuat sisa prajurit menjadi gentar. Tapi sebelum dia melarikan diri, muncul Dewi Lasmini yang menghalau jalan dan menyerang dengan brutal. Prajurit itu tidak bertahan lebih dari 5 gerakan sebelum pedang putih berhasil menembus dadanya yang masih berbalut zirah.
Isyana yang melihat pintu selnya terbuka karena pukulan Sena, mulai menyunggingkan senyum bahagia. Wanita ini sangat yakin bahwa Pemuda dingin itu takkan meninggalkan begitu saja.
“Sena, saya minta tolong bebaskan kakek Rukana juga”.
Isyana berlari mendekati Sena dan menunjuk sebuah pintu sel di sampingnya. Sena tak ingin bertanya sehingga dengan cepat dia mengabulkan permintaan Isyana. Dari Sel itu muncul seorang kakek tua yang di kenal sebagai Pimpinan Kota Bina. Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Sena dan Isyana, Kakek tua itu melihat Dewi Lasmini yang mendekat. Tentu sebagai Pimpinan Kota, Rukana mengenali wajah Putri Kerajaannya.
“Tuan Putri, terima kasih atas bantuannya”.
Rukana berpikir bahwa Sena merupakan pengawal Putri kerajaan. Beruntung Sena tak mempedulikan penghargaan dari orang lain. Baginya keselamatan temannya lebih penting saat ini.
__ADS_1
“Sena, ada yang ingin aku sampaikan”.
Isyana menjelaskan perihal informasi yang di ketahui oleh Rukana. Tak pelak Kakek tua itu juga ikut memberikan penjelasan yang memperkuat argumen Isyana. Sena terkejut dengan informasi tiba tiba itu.
“Isyana, sebaiknya kau dan Dewi Lasmini kembali ke istana kerajaan”.
Sena merasa informasi ini sangat penting demi kelangsungan Kerajaan Kumbara. Dari penjelasan Rukana, masih ada satu hal yang harus di selesaikan oleh Sena di kota ini sebelum kembali ke Kota Birawa.
“Tidak, saya akan tetap denganmu”.
Dewi Lasmini menyilangkan kedua tangan didepan dadanya mendengar perintah Sena. Wanita cantik itu tidak memperdulikan bahaya yang jelas bisa terus bersama dengan seseorang yang disukainya.
Sena tak mempedulikan hal itu, dengan cepat dia bergegas mengajak semua orang di tempat itu untuk keluar sebelum Anggota Padepokan Cakar Setan lainnya ketempat ini untuk memeriksa hasil kerja Subagja dan Rubana.
Isyana dan Rukana terkejut dengan banyaknya darah dan mayat yang tak utuh di Aula. Gerakan Isyana berhenti ketika menatap 3 anggota Serikat Pendekar Sakti terbaring kesakitan. Melihat tindakan Isyana, Sena menghela nafas panjang karena sedikit memahami perasaaan wanita itu.
“Apa ini ?”.
Salah Anggota Serikat masih terpaku dengan keajaiban fenomena yang terjadi pada tubuhnya. Cincin cincin itu keluar dari tubuh mereka, mengecil dan masuk kedalam jari Sena kembali. Bukan Hanya anggota Serikat yang terpesona namun Rukana yang telah hidup 70 tahunan takjub dengan
kemampuan milik Sena.
Sena awalnya enggan menyelamatkan ketiga orang itu tapi melihat kekhawatiran Isyana terhadap Anggota Serikat membuatnya mengeluarkan pusaka cincinnya. Pemuda dingin itu tidak ingin membuang waktu hanya melihat Isyana menggunakan obat dan menunggu kesadaran mereka yang mungkin tak sebentar.
“Mari kita tinggalkan tempat ini secepatnya”.
Semua orang mengangguk. Ketujuh orang itu berlari keluar dari kediaman pimpinan Kota segera. Sena mengantar rombongan Isyana untuk meninggalkan Kota ini. Dewi Lasmini awalnya menolak, tapi melihat tatapan Sena yang sangat serius membuatnya melunakkan sedikit kepalanya.
__ADS_1
“Saat kita bertemu lagi, kau harus berjanji
mengajakku untuk berjalan jalan”.
Sena hanya mengangguk mengiyakan permintaan Dewi Lasmini yang tak mengenal kondisi. Yang penting saat ini, Isyana dan Dewi Lasmini bisa meninggalkan tempat ini sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
“Sekarang giliranku”.
Sena menatap kepergian Rombongan Isyana dan Lasmini. Sena melesat mengambil arah terbalik. Entah hal apa yang membuat pemuda dingin itu tampak bergelora memandang sesuatu yang di tujunya.
Berselang 1 jam, Sena berhenti disebuah hutan pinggiran Kota Bina. Tempat ini agak sepi meskipun matahari masih berada dititik kulminasi. Didalam hutan nampak puluhan tenda tenda berlambang cakar berwarna hitam. Tidak salah lagi jika Sena menerka bahwa orang orang ini adalah anggota Padepokan Cakar Setan.
Dari tebakan Sena, jumlah pendekar yang yang ada di Hutan ini kurang lebih 500 orang. Menurut informasi dari Rukana, jumlah anggota Padepokan cakar setan akan datang secara bergelombang di Kota ini.
“Saya harus menghabisi sebanyak mungkin dari mereka”. Gumam Sena dalam hati.
Sena tak membuang waktu, dia berjalan menuju tenda tersebut setelah memastikan tenaga dalamnya penuh setelah melakukan teknik pernafasan Amukan Surgawi untuk menyerap tenaga dalam di hutan ini.
Sena terus berjalan hingga muncul 5 orang yang mencegah langkahnya. Lima tombak mengarah ke pemuda dingin itu.
“Siapa kau ? Berani sekali memasuki wilayah ini”. Tukas salah satu pendekar dengan nada sombong.
Sena tak ingin menggunakan banyak waktu hanya untuk melawan keroco keroco yang selalu muncul di awal pertarungan. Dengan kekuatan penuh dia meledakkan aura kegelapan kesegala penjuru.
“Bommmmm”.
Ledakan itu seperti bom yang mengeluarkan tekanan aura yang menggetarkan seluruh perkemahan Padepokan Cakar Setan. Tak ada satupun anggota Padepokan Cakar setan yang tak merasakan aura yang sangat mencekam itu.
__ADS_1
Sial bagi kelima pendekar yang berada di di hadapan Sena. Tubuh mereka seketika membeku karena gelombang kejut. Meskipun nyawa belum meninggalkan tubuh mereka, Namun jiwa dan pusat tenaga dalam mereka sudah rusak akibat aura kegelapan.