
Aura kegelapan menyelimuti tubuh Sena. Arena pertempuran terasa mencekam akibat aura yang dikeluarkan oleh Sena. Erlangga yang awalnya menyombongkan kemampuannya, menjadi diam ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan mulutnya tak bisa bersuara karena ketakutan menatap Sena yang berjalan kearahnya.
“Pendekar Langit Gerbang 2”. Kata Mahaptih Anom yang tercengang setelah memastikan tingkat tenaga dalam milik Sena. Semua Tumenggung dan Petinggi Padepokan yang bisa melihat tingkat tenaga dalam Sena berdiri dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin pemuda berumur 17 tahun mencapai pendekar langit. Hal itu tak pernah tertulis di sejarah dataran Java.
Prabu Sanjaya Maharaja tak kalah tercengang mengetahui tingkat kekuatan Sena. Tak mungkin pemuda luar biasa ini tak penah terdengar namanya, mengingat kemampuannya yang diluar nalar manusia. Apalagi menurut laporanan, Sena mewakili Serikat Pendekar Sakti.
Kondisi ini justru membuat Tumenggung Raharja senang, senyumnya merekah menyaksikan ekspresi tak percaya semua orang terutama para tumenggung yang menatap Sena.
Erlangga yang masih ketakutan akhirnya jatuh berlutut di depan Sena. Rangga Respati yang baru tersadar dari ketidakpercayaannya segera menghentikan pertandingan itu.
Menurutnya tiada jalan bagi Erlangga untuk
mengalahkan Sena. Jangankan melancarkan serangan, berdiripun akan terasa susah
baginya karena aura kegelapan yang mulai memenuhi arena.
Rangga Respati mengumumkan kemenangan Sena namun tidak ada sorak sorak penonton yang terdengar. Semua penonton masih membutuhkan waktu mengembalikan kewarasannya, setelah mengetahui kekuatan pemuda yang sebelumnya di hina karena lemah dan berlindung di belakang
perempuan itu.
“Jadi bagaimana kekuatan jagoanku ?”. Tumenggung Raharja tertawa penuh kemenangan memecah suasana sunyi itu. Dirinya pun sempat kaget mengetahui bahwa Sena telah berhasil membuka gerbang tenaga dalam langit kedua, karena saat di Kota rando, Sena hanya berada pada tingkat langit gerbang pertama. Semua Tumenggung tak menjawab pertanyaan Tuemnggung Raharja. Kini mereka mengerti mengapa Raharja sangat percaya diri semenjak awal.
“Aura kegelapan ini sangat pekat”. Mahapatih Anom mengamati Sena yng masih terselimuti aura gelap. Sepengetahuannya aura sekelam ini tidak pernah dia lihat selama hidupnya.
Untuk mencairkan suasana kembali, Rangga Respati segera melanjutkan pertandingan sementara sebagian orang masih merenungkan kekuatan Sena yang tidak masuk diakal mereka.
Pertandingan terakhir babak 8 besar ini terjadi antara Murid Suci padepokan Telaga Dewi, Wardah Kusuma dan Anggota Partai Pengemis, Rakai. Pertarungan ini sangat sengit dimana pedang tipis Wardah Kusuma bergerak lincah berusaha menggores tubuh Rakai. Namun pergerakan lincah Rakai menggunakan tongkatnya mampu menahan serangan Wardah Kusuma.
Melihat Wardah kusuma mengambil jarak untuk menstabilkan tubuhnya yang telah kehilangan banyak tenaga dalam untuk menyerangnya, Rakai melesat memberikan tusukan tusukan menggunakan tongkatnya. Bebarapa tusukan tak dapat di tangkis hingga mengenai perut Wardah Kusuma dan membuatnya tersungkur dengan mulut berdarah.
__ADS_1
Rangga Respati segera menghentikan pertandingan itu, dimana Rakai menjadi peserta terakhir yang maju ke babak 4 besar. Dengan ini Turnamen kumbara Muda hari ketiga berakhir dan akan dilanjutkan hari
berikutnya.
“Kita akan mengadakan pertemuan di istana”. Mahapatih Anom mengundang seluruh tumenggung untuk menghadiri pertemuan mendadak ini sebelum mereka semua bubar. Kemungkinan besar hal itu berkaitan dengan turnamen yang sedang berlangsung.
Di aula pertemuan istana berkumpul seluruh petinggi Kerajaan mulai dari Raja, Mahapatih dan Tumenggung. Prabu Sanjaya Maharaja mengambil alih pertemuan itu karena memang pertemuan ini di perintahkan olehnya.
“Tumenggung Raharja, jelaskan mengenai pemuda bernama Arya Sena itu !”. Prabu Sanjaya bertanya dengan nada serius menatap Tumenggung Raharja. Tumenggung Raharja menghela nafas panjang sebelum menceritakan awal pertemuannya dengan Sena. Semua yang hadir di pertemuan itu mendengarkan cerita Raharja tanpa memotong perkataannya sedikitpun. Raut muka beberapa tumenggung menjadi tidak percaya mengetahui bahwa Sena mampu bertarung cukup lama dengan Raharja yang termasuk 20 orang terkuat di Kerajaan Kumbara.
“Auranya begitu berat. Saya yakin aura ini didapatkannya dari banyak pembunuhan”. Tumenggung Ardana menaruh kecurigaan terhadap Sena. Apalagi dia melihat sendiri aura kegelapan itu mampu membuat pendekar tingkat raja bertekuk lutut tak berdaya sedangkan dia sebagai pendekar suci, auranya hanya mampu menekan pendekar tingkat ahli itupun hanya menekan pergerakannya.
Semua orang mengangguk, memang pada dasarnya aura berwarna gelap ditubuh
seseorang mencerminan orang itu telah banyak melakukan pembunuhan dan
hilangkan oleh pemiliknya.
Dalam dunia persilatan Kerajaan Kumbara hanya Pendekar aliran hitam tingkat Suci yang memiliki aura gelap meskipun tidak sepekat yang dimiliki Sena. Pada dasarnya semua orang yang mampu mengolah tenaga dalam memiliki aura ditubuhnya namun untuk warna dan tebalnya dibedakan berdasarkan
berbagai sebab.
“Menurut informasi yang saya dapatkan anak buahku, Sena tidak pernah membunuh hanya melumpuhkan lawannya”. Sebelumnya Tumenggung Raharja telah mencari informasi mengenai Sena melalui prajurit mata matanya.
Semua orang kembali mengerutkan dahinya tanda tak percaya namun Tumenggung Raharja tidak mungkin berbohong apalagi dihadapanya ada Raja Kumbara.
“Pemuda itu sangat tertutup dan kosong tanpa arah dan tujuan hidup. Kemampuan bersosialisasinya sangat buruk sehingga dia seperti pembunuh berdarah dingin. Sejauh pengamatan saya, dia menghindari orang orang namun tak mampu mengontrol emosinya ketika ada yang menganggunya”. Raharja kembali menjelaskan mengenai kepribadian Sena.
Dia tidak ingin pihak kerajaan memusuhi Sena hanya karena memiliki aura kegelapan yang pekat. Harapannya hanya ingin membuat Sena menikmati hidupnya yang hampa dan menuntunnya menjadi orang yang mampu melindungi kerajaan dan orang orang didalamnya.
__ADS_1
“Mahapatih Anom, segera perintahkan prajurit kerajaaan untuk mencari segala informasi mengenai Sena, mulai asal usul hingga gurunya. Saya yakin dia memliki orang hebat yang menuntun seorang jenius hebat seperti
Sena”. Kata Prabu Sanjaya Maharaja yang masih penasaran mengenai jati diri Sena. Informasi yang sedikit itu masih membingungkannya untuk mengambil
keputusan mengenai Sena. Dia takut monster jenius seperti Sena akan menjadi bumerang
bagi kerajaan jika berada di pihak musuh.
Kemudian Prabu Sanjaya kembali mempersilahkan Raharja untuk menyampaikan informasi lain mengenai Sena.
“Selain tenaga dalam dan aura kegelapannya yang hebat, dia
memiliki pusaka yang misterius. Kemampuan pusaka itu mungkin lebih hebat dari
Pedang Suci Darmakala”. Mahapatih berdiri karena terkejut dengan pernyataan
Raharja. Perlu diketahui bahwa Pedang Suci Darmakala milik Padepokan Pedang
Kebenaran adalah senjata terkuat di wilayah Kerajaan Kumbara. Setiap tebasannya
dapat melukai lawan bahkan yang berada di tingkatan pendekar Suci sekalipun
namun karena membutuhkan tenaga dalam yang cukup besar ketika digunakan maka
tak banyak orang di wilayah Kerajaan Kumbara yang mampu menggunakan pedang itu.
“Tapi mengapa saat turnamen berlangsung, kami tidak pernah melihatnya memegang senjatanya” Tumenggung Gunawa menimpali perkataan Raharja. Semua orang kembali menatap penasaran kepada Raharja.
“Hahahaha dia bahkan bisa memenangkan turnamen ini hanya menggunakan auranya, jadi mengapa dia harus menggunakan pusakanya”. Tumeggung Raharja segera menutup mulutnya setelah menyadari bahwa Prabu Sanjaya menatapnya yang sedang tertawa.
__ADS_1