Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Cinta yang mulai tumbuh


__ADS_3

Kematian Dewa Tabib akan membawa duka yang sangat besar bagi Kerajaan Kumbara. Kemampuan Tabib Tungga Wijaya sangat di butuhkan dalam mengembangkan kekuatan Kerajaan. Kabar tentang kematian Dewa Tabib menyebar keseluruh penjuru negeri dengan cepat melalui prajurit kerajaan di Kota Rando.


Isyana masih tertunduk lesu di depan makam Ayahnya. Tumenggung Raharja, Arjunta dan Prajurit kerajaan menyaksikan pemakaman Dewa Tabib ditengah rintik hujan.


Sena selalu berada di dekat Isyana setelah berjanji kepada Tungga Wijaya.


Gurunya pernah menasehatinya bahwa Janji itu sesuatu yang sakral. Usahakan untuk tidak membuat janji jika merasa tidak mampu melaksanakannya. Jikapun kau mampu melaksanakannya, Apakah kau mengetahui takdir didepanmu yang bisa saja menghalangimu menepatu janji itu.


Mata Raharja terus saja mengikuti Sena. Sebagai Pendekar dan Tumenggung Kerajaan, Dia sangat tertarik akan kemampuan dan sikap Sena. Namun saat ini dia mempunyai urusan yang lebih penting sehingga dia berjalan mendekati Isyana.


Isyana mengerti maksud kedatangan Tumenggung Raharja.


"Maaf Tumenggung Raharja, ini adalah bahan bahan dan cara membuat penawar racun yang di butuhkan Mahapatih Anom". Isyana memberikan secarik kertas kepada Tumenggung. Kertas itu di tulis oleh Tungga Wijaya sebelum kematiannya.


"Terima kasih nak, Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?". Kata Raharja yang prihatin dengan keadaan Isyana. Raharja menawarkan diri untuk mengantarkan isyana ke Ibukota Kerajaan. Sebagai anak Dewa Tabib yang memiliki jasa besar terhadap Kerajaan pastinya Isyana akan di berlakukan dengan baik di Istana Kerajaan.

__ADS_1


Isyana menolak untuk saat ini. Dirinya masih ingin berada di dekat makam ayahnya. Namun dia berjanji menyusul ke Kota Birawa jika hatinya sudah cukup tenang.


"Baiklah, Saya akan meninggalkan beberapa prajurit yang akan menjaga dan mengawalmu ke Ibukota Kerajaan". Ucap Raharja. Namun hal itu ditolak oleh Isyana setelah melihat Sena masih terus berada di belakangnya.


"Biar saya yang mengawal Nona Isyana menuju Kota Birawa". Arjunta memotong pembicaraan. Dirinya sejak pertama tertarik dengan Isyana sehingga tidak pernah membiarkan Sena memiliki waktu berdua dengan pujaan hatinya.


Raharja menatap Sena dan Arjunta, berkata " Anak Muda Tolong lindungi Nona Isyana hingga Ibukota. Saya juga akan menunggumu di sana untuk menyelesaikan urusan kita yang sempat tertunda ". Raharja sejenak tersenyum ketika melihat wajah dingin Sena dan meninggalkan kediaman itu bersama seluruh prajurit ke Kota Birawa.


Udara dingin menyelimuti Kota Rando. Kesedihan Isyana masih menusuk hingga ke hatinya. Dia terus mengurung diri dalam kamar tanpa mempedulikan 2 laki laki yang duduk di depan pintu.


" Isyana !!! aku membawakanmu makanan, perutmu harus diisi agar tidak sakit". Arjunta sebelumnya keluar untuk membeli makanan untuk Isyana. Namun Isyana tetap tak bergeming, dia hanya menggelengkan kepalanya.


" Berikan saja pada Sena ". Isyana sekilas memikirkan Sena dan janji yang dibuat pemuda itu kepada Tungga Wijaya.


" Saya juga membelikannya makanan, dan ini khusus untukmu". Arjunta menyimpan makanan di dekat isyana dan melangkah keluar dengan perasaan tak karuan.

__ADS_1


Arjunta menatap Sena yang tengah duduk bersemedi.


"Siapa dia sebenarnya ?". Gumam Arjunta menatap Sena. Dengan hati hati dia menyimpan sebungkus makanan di dekat Sena agar tidak menganggu. Setelah melihat kekuatan dan sikap Sena, Arjunta kagum sekaligus segan dengan Sena.


Sena bisa merasakan segala gerak gerik Arjunta. Barulah saat tengah malam dia makan dengan lahap karena lapar yang tak bisa di tahannya. Itupun setelah memastikan Arjunta telah tertidur.


Pagi kembali menyapa Kota Rando, Isyana yang semalaman masih berduka akhirnya membuka pintu kamarnya. Dia menatap 2 laki laki yang sedang tertidur pulas.


Isyana tanpa sadar mendekati Sena dan memperhatikan wajahnya. Timbul rasa bersalah kepada pemuda didepannya. Karena janji yang di buatnya, petualangannya akan terbatasi.


" Dia laki laki yang sangat tampan, Namun wajahnya begitu dingin". Mata Isyana meresapi setiap lekukan wajah Sena hingga dia tersentak karena Mata Sena telah terbuka dan pandangan mereka berdua bertemu.


Isyana segera berpaling dengan muka memerah. Jantungnya seakan berhenti sehingga nafasnya terasa berat. Pikirannya tak karuan mendengar Sena bangun dan berjalan kearahnya.


Isyana menutup matanya untuk menenangkan hatinya namun tak di sangkanya Sena hanya berlalu tanpa ekspresi. Isyana menghela nafas panjang, ada perasaan sedih, lega dan marah bercampur dipikirannya melihat tingkah Sena yang tak mempedulikan dirinya.

__ADS_1


"Apakah dia masih marah dengan Kata kataku" Ucap Isyana memandangi punggung Sena.


__ADS_2