
Tumenggung Raharja yang melihat perubahan di wajah Sena menjadi sigap jika Sena melakukan tindakan diluar perkiraannya. Bagi Sena yang memiliki ego yang tinggi dan emosi yang labil, wajar bila dia marah jika
diperlakukan seperti ini.
Sebelum hukuman di tetapkan, datang seorang Wanita muda ditemani 2 orang tua dibelakangnya. Wanita itu bernama Dyah Sudharmini pemilik Merak Ungu. Sepasang orang tua di belakangnya tidak asing bagi Sena. Mereka adalah nenek Mirah dan pendekar berwajah seram yang diserang Bagas Harja.
Dyah Sudharmini memperkenalkan diri dan memperjelas kedatangannya di persidangan ini dengan sopan. Bagaimanapun didepannya banyak petinggi kerajaan yang hadir termasuk Raja Kumbara sendiri. Nenek mirah dan pendekar berwajah seram itu maju menjelaskan kejadian sesungguhnya di Merak Ungu.
Dipa Arbi dan Bagas Harja ketakutan mendengar kebenaran yang diungkapkan
oleh dua saksi yang baru datang.
Wajah Prabu Sanjaya langsung berubah menatap kesal kearah Bagas Harja dan Dipa Arbi. Ketua Padepokan Tinju Besi yang mengetahui tingkah laku anggota padepokannya menjadi geram dan segera bersujud di depan Prabu Sanjaya Maharaja.
Persidangan akhirnya berakhir dengan pembebasan dari Sena. Sedangkan untuk kasus Sena di kota Rando telah di perjelas oleh Tumenggung Raharja Sebelumnya.
Dewi Lasmini yang duduk di samping Raja bahagia melihat Sena di bebaskan. Jikapun Sena di hukum, tidak mungkin Lasmini membiarkan hal itu terjadi. Cara berpikirnya yang seperti anak kecil membuatnya tidak pernah memikirkan resiko dari setiap tindakan yang dia ambil jika menyangkut hal yang di sukainya.
Hari itu pula Sena resmi diangkat oleh Tumenggung Raharja menjadi bagian dari pasukannya. Pada awalnya Sena di tawari untuk menjadi Rakryan Rangga mengingat kekuatannya yang setara dengan Rangga di Kerajaan Kumbara. Namun Sena menolak karena belum memiliki pengalaman untuk memimpin ribuan pasukan untuk perang nantinya.
Kini Sena memakai zirah prajurit kerajaan berwarna perak dan berjubah merah, sebagai identitas pasukan Tumenggung Raharja. Semua pasukan Tumenggung Raharja menyambut hangat bergabungnya Arya Sena kedalam keluarga baru mereka.
Walaupun selalu terlihat dingin, Semua prajurit lainnya bisa memaklumi hal itu karena sebelumnya telah di beritahu oleh Tumenggung Raharja.
__ADS_1
Jadwal Sena hari ini sangat padat, malam hari di laksanakan pesta penutupan Turnamen Kumbara Muda di Istana Kerajaan. Pesta ini juga di hadiri seluruh anggota padepokan aliran putih dan Kelompok netral yang menjadi bagian dari Turnamen Kumbara Muda. Pesta ini bertujuan mempererat hubungan kerajaan dan padepokan aliran putih dan netral.
Istana kerajaan menjadi sangat meriah dengan kedatangan orang orang hebat yang ada di kerajaan Kumbara. Terlihat Sena sedang berdiri di sudut ruangan menghindari keramaian pesta ini. Sebenarnya keramaian seperti ini masih tidak bisa diterima akal sehatnya namun karena Tumenggung Raharja memohon padanya, maka Sena mau tidak mau menghadiri pesta.
Kedatangan Dewi Lasmini memakai Gaun berwarna putih menjadi perhatian paling besar di pesta kali ini. Gambaran sebagai kecantikan no. 1 di kerjaan Kumbara sangat pantas di sandingkan dengan namanya. Tak Khayal beberapa pemuda bangsawan dan murid padepokan aliran putih mencoba menarik perhatiannya namun tak ada satupun yang membuat Mata Dewi Lasmini tertarik kecuali pemuda dingin yang berdiri memegang gelas di sudut ruangan.
“Putri lasmini benar benar cantik”
“Bahkan jika saya menjadi yang kelima, saya akan sangat bahagia”
“jika saya bertarung dengannya, mungkin saya akan pingsan sebelum menyerangnya”
Terdengar bisikan beberapa pemuda yang seakan meneteskan liur melihat kecantikan Dewi Lasmini. Walaupun banyak kabar yang menyatakan sikap kasar dan angkuh Putri Kerajaan Kumbara namun itu tertutupi oleh kecantikannya. Bahkan ada beberapa ide pemuda yang berpikiran rela disiksa yang penting bisa berdekatan dengan Dewi Lasmini.
Pandangan Dewi Lasmini terlihat kesal melihat Sena di hampiri oleh Isyana dan Arjunta. Ingin rasanya dia ikut menyapa Sena namun dirinya takut Sena masih membencinya setelah tindakan gegabahnya di Turnamen Kumbara Muda.
Tak lupa pula di acara ini di umumkan bergabungnya juara Turnamen Kumbara Muda tahun ini sebagai bagian prajurit kerajaan.
Beberapa tatapan iri dan kekaguman mengarah ke Sena. Petinggi Padepokan aliran putih dan kelompok netral yang awalnya berniat mengajak Sena untuk bergabung hanya menggelengkan kepalanya pasrah dengan pilihan pemuda jenius itu, terutama Giri Sawardhana sebagai ketua Serikat Pendekar Sakti yang menjadi tempat awal Sena bergabung.
Tumenggung lainnya yang sangat mengagumi bakat Sena hanya bisa ikhlas melihat Tumeggung Raharja terus tersenyum mendapatkan anggota berbakat. Tapi mereka sedikit lega karena setidaknya Sena bergabung di pihak kerajaaan.
Pesta selesai lebih lama dari perkiraan Sena. Kini dia tengah berbaring di kasur rumah kecilnya nya yang terletak di sudut kediaman
__ADS_1
Tumenggung Raharja. Pikirannya melayang mengingat masa lalunya yang penuh penderitaan, bahkan untuk berteduh ditempat nyaman sekalipun sangat susah baginya.
Sekarang cita cita masa kecilnya untuk bisa memiliki rumah dan tak kekurangan makanan telah tercapai. Itu semua berkat kekuatan yang diajarkan oleh Jaya Bhaya. Perlahan air mata mengalir di wajah dinginnya mengingat Bi Ratih dan Jaya Bhaya.
“Terima kasih guru, kini Sena akan menjalankan nasehat nasehat yang guru ajarkan kepadaku”.
Dengan menjadi prajurit kerajaan, Sena berharap bisa memberi pelajaran dan menyadarkan orang orang yang memiliki perangai menghardik dan menyengsarakan orang orang lemah. Dia tidak ingin banyak orang yang menjadi jahat karena sering mendapatkan perlakuan kasar orang lain.
Pengalamannya yang telah di lalui membuatnya memiliki pemikiran pemikran untuk tidak menciptakan orang orang membenci kehidupan seperti dirinya dulu.
***
Kicaun burung kutilang yang menyatu dengan desiran angin pagi, mengobarkan rambut panjang Sena. Peluhnya membasahi seluruh permukaan kulitnya. Latihan latihan yang rutin di lakukannya membuat tubuhnya kian berisi
dan bertenaga.
Arjunta yang datang ke rumah Sena menggelengkan kepala melihat latihan keras yang di jalani sahabatnya itu. Meskipun telah memiliki kemampuan yang tinggi, dia tak pernah melupakan bahkan mengurangi intensitas latihannya.
Melihat kedatangan Arjunta sepagi ini, membuat Sena menghentikan latihannya.
“ Sena, saya hanya ingin menyapamu karena hari ini saya akan kembali ke Padepokan Pedang Kebenaran untuk melanjutkan pelatihan”. Kata Arjunta tersenyum kearah Sena. Walaupun hanya melakukan perjalanan singkat bersama, tapi Arjunta mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran selama mengenal Sena.
“Terima kasih. Semoga kita bisa berjumpa lagi”. Kesedihan muncul di raut muka Sena. Arjunta merupakan teman laki laki pertamanya setelah keluar dari Hutan Kematian bahkan nama Arjunta telah masuk dalam orang orang yang telah di terima oleh hati Sena yang dingin.
__ADS_1
Namun Sena menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya masing masing.
Arjunta segera merangkul Sena yang masih terdiam kaku karena tak tahu harus melakukan apa. Keterbatasannya dalam merasakan emosi orang lain dan cara mengungkapkan emosinya sendiri membuatnya nampak seperti pemuda yang selalu terlihat dingin. Hingga kepergian Arjunta, Sena hanya bisa menatap Arjunta yang menghilang dari pandangannya.