Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Pemilik Tubuh Abadi


__ADS_3

Pandangan Sena tertuju pada sesosok wanita yang memegangi tubuh bagian atasnya. Awalnya Sena menganggap perempuan itu mengalami masalah karena berteriak namun Sena tak melihat bahaya di sekeliling wanita itu dan tidak aura jahat di daerah sekitar telaga.


Hingga Sena tersadar bahwa wanita itu berteriak karena dirinya memandangi tubuh yang tak berbalut busana itu. Pura pura santai, Sena berbalik dengan perasaan tak karuan karena merasa bersalah meskipun tidak sengaja menatap wanita yangs sedang mandi itu.


“Dasar c*bul”.


Hanya berselang beberapa menit, wanita di tengah telaga itu menyerang Sena dengan pedang lenturnya. Sena yang merasakan serangan di belakangnya menghela nafas sebelum menghindari tebasan tebasan wanita itu.


Wanita cantik itu meyerang dengan brutal tapi bagaimanapun kemampuannya masih berada di tingkat Pendekar ahli gerbang kedua. Lawan yang tak dianggap di mata Sena.


Puluhan jurus dan teknik telah di keluarkan wanita itu untuk menebas pria asing yang telah melihat tubuh sucinya. Bagian aurat yang harusnya tertutupi dari dunia luar telah di lihat oleh laki laki yang bukan seharusnya. Sena tak membalas serangan , dirinya hanya tersenyum kecut meyadari kemarahan wanita itu, tapi hal itu suatu kebetulan yang tak di sengaja.


Wanita itu akhirnya berhenti dan menyerah. Tubuhnya jatuh karena kehabisan tenaga untuk menyerang Sena. Dengan cepat Sena menangkap gadis yang akan ambruk itu.


“Maaf, saya tidak sengaja”


Gadis itu menatap wajah Sena yang tersenyum kecut sebelum menutup matanya karena kelelahan. Sena mengumpat melihat wanita di pangkuannya pingsan. Dengan tergesa gesa, Sena mengelurkan pusaka cincinnya untuk menyalurkan tenaga dalam ke wanita itu. Wanita itu sangat cantik dengan kulit sebening susu, dan menurut perkiraan Sena mungkin umurnya baru menginjak 15


tahun.


Perlahan mata wanita yang bernama Kirana itu membuka mata. Mata indahnya menatap senja yang sebentar lagi akan menghilang. Pandangannya beralih kepada pria yang sebelumnya di serang karena menganggap laki laki itu jahat namun melihat keadaannya masih utuh setelah pingsan membuat pikiran


buruknya kepada laki laki itu perlahan pudar.


Sena menghampiri wanita itu dengan resah. Dia tidak ingin wanita itu kembali marah dan menyerangnya secara membabi buta.


“Sekali lagi saya minta maaf”.

__ADS_1


Sena membungkuk sebagai tanda ketulusan kearah wanita itu. Wajah wanita itu memerah melihat sikap dan wajah tampan Sena. Menurutnya langka untuk saat ini melihat pemuda muda , tampan , hebat dan sopan kepada wanita. Itulah penilaian kedua Kirana setelah melihat sikap Sena.


Dengan sedikit malu Kirana hanya diam dan bergegas meninggalkan tempat itu tanpa berbalik. Saat ini perasaannya berkecamuk memikirkan kejadian yang menimpa dirinya. Memang termasuk kesalahannya juga mandi


di tempat terbuka seperti ini.


Sena hanya menggaruk kepalanya tidak mengerti melihat wanita itu menjadi pemalu padahal sebelumnya dia sangat ganas menyerangnya.


Sebelum kembali ke penginpan, Sena berniat mengisi perutnya dengan makanan enak. Setelah beberpa menit mencari, Sena menemukan gedung yang tak asing di matanya. Tampak bangunan besar yang di dominasi warna ungu.


Sena tersenyum mengingat sesuatu. Tanpa pikir panjang, Sena masuk kedalam bangunan gemerlap itu. Sama sepertidi Kota Mandau, Merak Ungu memiliki banyak pelanggan laki laki yang di temani pelayan wanita yang berdandan berlebihan. Sampai saat ini Sena kurang memahami penyebab dandanan berlebihan pelayan di rumah makan ini.


Sena langsung menuju tempat Ketua Merak Ungu di Kota ini di antar seorang pelayan yang tak berhenti memandang wajah dingin dan tampan Sena. Wanita pelayan itu berharap Sena adalah tamu istimewa Ketua Merak Ungu yang akan memesan beberapa gadis untuk melayaninya.


“Nyoya Ratna, ada tamu penting yang ingin bertemu”


Pelayan wanita itu mengetuk pintu sebelum mengajak Sena masuk. Di ruangan itu sedang duduk 2 wanita yang berumur kira kira lebih dari 30 tahunan. Sena mengenal wajah salah satunya saat di persidangannya di Kota Birawa. Wanita berlesung pipi itu adalah Dyah Sudharmini, Ketua Umum Merak Ungu di Kerajaan Kumbara


“Ada urusan apa tuan bertemu dengan saya?”.


Ratna menatap Sena penuh penilaian. Tak ingin membuang waktu karena saat ini Ketua Umum Merak Ungu sedang berkunjung ke Kota Maranda.


“Saya ingin mendapatkan informasi tentang pemilik tubuh abadi?”


Ratna tak mengerti dengan informasi yang diinginkan pemuda di depannya, sedangkan Dyah Sudharmini yang semenjak tadi hanya diam kini semakin terkejut dengan kata tubuh abadi yang di lontarkan oleh Sena.


Dyah Sudharmini menarik nafas panjang sebelum menyuruh Ratna untuk keluar dari ruangan. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Sena. Nampaknya Ketua Umum Merak Ungu itu mengetahui tentang tubuh abadi.

__ADS_1


Merak Ungu bagi sebagian besar orang memang hanya terlihat sebagai kelompok yang menjalankan bisnis rumah makan dan pelayanan wanita, tapi sebenarnya jika di telaah lebih dalam, Merak Ungu memiliki jaringan mata mata dan pengumpul informasi yang tesebar luas di kerjaan Kumbara bahkan mungkin di dataran Java ini.


“Di mana kamu mengetahui tentang tubuh abadi?”.


Informasi tentang tubuh abadi sangatlah rahasia bahkan hanya hitungan jari orang yang mengetahuinya di kerajaan Kumbara. Jadi wajar jika Dyah Sudharmini sedikit tercengang mengenai luasnya pengetahuan yang di miliki pemuda didepannya. Tak sia sia dia menjadi pemuda paling berbakat di kerajaan ini.


“Apakah sekarang penjual informasi harus menanyakan pertanyaan seperti itu kepada pelanggannya?”.


Dyah Sudharmini tersenyum manis mendengar perkataan Sena. Baginya pemuda di depannya adalah pihak yang harus didekati untuk mendapatkan keuntungan besar di masa depan. Melihat Sena menaruh kantong yang mungkin berisi puluhan koin perak, membuat Dyah Sudharmini menggelengkan kepalanya menerka pikiran Sena mengenai dirinya.


“Baiklah, informasi ini sangat rahasia, sebelumnya kamu harus berjanji tidak akan menyebarluaskan informasi ini ke pihak aliran hitam”.


Sena mengangguk dengan persyaratan yang diajukan wanita di depannya. Dengan penuh perhatian, Sena mendengarkan informasi yang keluar dari mulut Dyah Sudharmini. Walaupun terkesan hanya opini semata tapi menurut ciri ciri yang di bicarakan oleh Raja siluman harimau emas, pemilik tubuh abadi


berada di Padepokan Telaga Dewi. Lebih tepatnya salah satu murid dari pedepokan


besar itu yang sangat dikenal oleh Sena.


Sena mengangguk dan menyerahkan kantong uangnya namun hal itu segera di tepis oleh Dyah Sudharmini.


“Saya tidak ingin uang darimu, tapi saya berharap kamu mengingat hutang budi informasi ini”.


Dyah sudharmini mengetahui Sena adalah pria yang tidak suka berhutang budi namun dia ingin pemuda itu memiliki hutang dengan Merak Ungu. Hanya dengan cara ini, Sena akan bisa tetap berhubungan dengan Dyah Sudharmini.


Sena meninggalkan tempat itu dengan sedikit kesal tapi tujuannya telah tercapai. Kini dia mengetahui pemilik tubuh abadi yang di


carinya.

__ADS_1


“Kenapa tubuh abadi harus ada pada wanita bar bar itu”.


Wajah Sena menjadi muram mengingat tingkah laku dan senyum menakutkan Dewi Lasmini. Wanita yang selalu saja membuatnya emosi dan sial”.


__ADS_2