Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Terjebak ditengah Pertempuran


__ADS_3

Isyana dan Arjunta telah sampai di gerbang Ibukota Kerajaan Kumbara. Antrian panjang menghiasi pintu gerbang Kota Birawa. Setelah setengah jam mengantri kini giliran Isyana dan Arjunta menunjukkan tanda pengenalnya.


Arjunta sejenak ragu memperlihatkan tanda pengenalnya. Dengan pelan dia mengangkat tanda pengenal berwarna merah itu. Prajurit pemeriksa dan Isyana terkejut menatap Arjunta.


" Kau murid Suci Padepokan Pedang Kebenaran ?". Isyana hanya menggelengkan kepala ternyata selama ini teman perjalanannya adalah murid dari padepokan yang paling terkenal di dunia persilatan 20 tahun silam.


Padepokan Pedang Kebenaran sejatinya Padepokan aliran putih terbesar namun 20 tahun yang lalu mengumumkan menutup diri dari dunia persilatan setelah perang besar melawan pemberontak. Padepokan ini terkenal dengan pengendalian senjata menggunakan pikiran seperti yang di lakukan Arjunta.


Prajurit pengawas tentu saja langsung berlaku hormat. Mahapatih kerajaan yang mereka kenal bahkan berasal dari Padepokan Pedang Kebenaran.


Arjunta dan Isyana bergegas menuju gedung Serikat Pendekar Sakti yang merupakan salah satu bangunan terbesar dan terluas di Kota Birawa.


Serikat Pendekar Sakti adalah kelompok Netral yang bergerak di bidang perdagangan, penyewaan pengawal dan pengantaran barang. Serikat ini memiliki ratusan pendekar yang membuatnya di segani bahkan oleh padepokan besar sekalipun.


Isyana yang sudah di kenal penjaga dan pelayan , terus berjalan hingga memasuki sebuah ruangan luas dimana terlihat pria berumur sekitar 60 tahun sedang duduk termenung di meja besar yang penuh tumpukan kertas.


" Paman Giri " Isyana memanggil pamannya. Giri Sawardhana memandangi wajah keponakannya kemudian berlari memeluk tubuh kecil Isyana.


"Maafkan Paman tidak bisa datang saat kau dan ayahmu membutuhkan pertolongan". Isyana menepuk punggung pamannya. Saat akan berkelana bersama ayahnya mengelilingi Kerajaan Kumbara, Giri Sawardhana adalah orang paling menentang keputusan itu karena takut terjadi apa apa dengan mereka. Namun karena sifat keras kepala Dewa Tabib untuk membawa Isyana akhirnya Dewa Tabib terkena Racun Seribu Warna dari musuh yang mengincar mereka berdua.


Paman dan Keponakan itu cukup lama menangis di pandangi Arjunta hingga Giri Sawardhana tersadar bahwa Isyana tidak datang sendiri.


"Apakah dia kekasihmu?". Giri Sawardhana mengangkat satu alisnya memandangi Arjunta dari kepala hingga kaki. Arjunta yang mendengar hal itu membusungkan dadanya dan bersiap menjawab pertanyaan Giri.

__ADS_1


"Dia adalah Arjunta, yang mengantarku dari Kota Rando". Isyana kemudian menjelaskan perjalanannya dari kota Rando hingga kota Birawa. Giri Sawardhana nampak sangat penasaran dengan pemuda dingin yang menyelamatkan Isyana.


"Baiklah saya akan menyuruh Anggota Serikat pendekar Sakti membuat tanda pengenal dan mengantarkannya di tempat kalian berpisah. Berapa umur pemuda itu?". Tanya Giri kemudian memanggil anggota Serikatnya yang di tugaskan membuat tanda pengenal di sekitar Istana. Disana terdapat bangunan khusus pembuatan tanda pengenal yang dikelola langsung oleh kerajaan.


"Mungkin 17 tahun" Isyana menebak karena tidak mengetahui pasti umur Sena.


"Aaaapaaaa!!!!". Teriak Giri seakan tak percaya. Mencapai pendekar langit saat usianya baru menginjak remaja. Anggota Serikat yang berada di sekitar Giri menutup telinganya dan berlari keluar.


Isyana dan Arjunta hanya tersenyum kecut melihat respon ketua Serikat Pendekar Sakti. Bahkan hingga saat ini mereka berdua masih tak percaya ketika mengingat kemampuan Sena.


****


Setelah kepergian Isyana dan Arjunta. Sena melanjutkan semedinya di atas batuan besar untuk menghimpun tenaga dalam untuk mengisi pusat tenaga dalamnya yang sangat luas setelah menyerap mustika mutiara iblis kegelapan.


"Wahhhh berani sekali tuan putri Kerajaan berjalan tanpa pengawalan". Seorang perempuan tua berbaju abu abu menyeringai dengan gigi hitamnya memandangi seorang wanita muda dengan kecantikan yang hakiki. kulit putih, tubuh proporsional dan mata bulat menghiasi penampilan luar Putri Kerajaan Kumbara yang bernama Dewi Lasmini.


"Berani sekali anggota Padepokan Kabut Racun menganggu putri kerajaan sekaligus murid suci Padepokan Telaga Dewi". Nampak seorang wanita tua yang mengawal Dewi Lasmini Maju mendekati kelompok Padepokan Kabut Racun.


"Hahahaha Pureswari !!!! Kali ini aku akan membunuh dirimu dan Putri yang berjuluk Monster Cantik itu". Tetua perempuan dari padepokan Kabut Racun yang bernama ayu Rimbu mencoba memancing emosi Dewi Lasmini yang terkenal mudah terbakar. Betul saja, Setelah Tetua Ayu Rimbu berucap, Lasmini meluncur menyerangnya dengan ganas.


Tetua Pureswari mengumpat melihat Dewi Lasmini menyerang tanpa mengetahui siapa yang dia lawan. Sebagai tetua Padepokan besar tentu saja Ayu Rimbu memiliki tenaga dalam tingkat Pendekar suci gerbang 1 yang sama dengan milik dirinya.


Seluruh serangan Pedang Lasmini dihindari oleh Tetua Ayu Mirah dengan mudah bahkan gerakannya terkesan mempermainkan jurus yang di kerahkan Lasmini.

__ADS_1


"Lasmini !!! Mundur dia bukan lawanmu. Biar saya yang menghadapinya". Pureswari melesat bertarung dengan Ayu Rimbu setelah Lasmini menarik diri dari pertempuran berat sebelah itu.


"Aswangga tangkap Monster cantik itu, saya akan bermain main dengan musuh lama". Ayu Rimbu berteriak ke anggota padepokan kabut racun yang belum bergerak di belakangnya. Kini dua pendekar suci itu bertarung sengit hingga menganggu Sena yang sedang bersemedi.


"Kenapa mereka harus bertarung di tempat ini". Sena menggerutu dan memandang area pertempuran. Pandangannya sekilas bertemu dengan tatapan menakutkan Lasmini. Walaupun memiliki mata yang indah diiringi lentik bulu matanya, namun tatapannya begitu tajam dan mengintimidasi.


"Baru berumur 15 tahun namun kau memiliki tubuh yang bagus dan tenaga dalam tingkat Raja. Seandainya ketua tidak menginginkanmu, Hari ini akan kupuaskan nafsu bejatku Hahahahaha". Aswangga melangkah dengan menjilat bibir bawahnya memandang wajah dan tubuh Lasmini yang merupakan Kecantikan terbaik di Kerajaan Kumbara.


Lasmini menoleh menatap tajam Aswangga yang memiliki banyak luka di wajahnya akibat ilmu racun yang di pelajarinya. Lasmini mengenggam pedangnya seakan ingin mencincang tenggorokan pria mesum di hadapannya.


"Kalian bertiga jangan menganggu waktu bermainku dengan Sang Putri". Aswangga memperingatkan 3 Anggota Padepokan Kabut Racun di belakangnya yamg hanya sekumpulan pendekar Ahli.


Dengan Tapak yang mengeluarkan kabut beracun, Aswangga menyerang Lasmini. Lasmini kerepotan menghindari tapak beracun dari Pendekar tingkat langit gerbang 3 itu. Selama puluhan pertukaran tidak sekalipun Lasmini dapat menggores tubuh Aswangga.


Tetua Pureswari yang lengah karena memperhatikan Lasmini akhirnya terkena tapak racun Tetua Ayu Rimbu dan terlempar di dekat Sena yang sedang menyaksikan pertempuran. Pureswari memandang Sena yang ada di dekatnya dengan tatapan rumit. Walaupun tak mengenal pemuda di depannya namun dia yakin Sena adalah seorang pendekar. Harapannya untuk menyelamatkan putri kerajaan sekaligus murid suci padepokannya bergantung pemuda dingin didepannya.


"Tuan, Saya mohon kau membawa Putri Kerajaan dari sini. Saya akan membuka jalan agar kalian bisa berlari hingga gerbang Kota Birawa". Tetua Pureswari memelas memohon kepada Sena.


Ayu Rimbu yang mendengar kata kata Pureswari tertawa penuh penghinaan.


"Hahahaha kau pikir bocah lemah itu mampu kabur dari pengawasanku". Tetua Ayu Rimbu menatap Pureswari dan Sena dengan tatapan menjijikkan.


Sena sangat membenci tatapan itu. Dia perlahan berdiri dengan tubuh di selimuti aura kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2