
Sekelompok pendekar berpakain putih tiba di Kampung Tandeang menggunakan Kuda. Penduduk yang melihat orang - orang yang turun dari kuda langsung diam dan menundukkan kepala.Tampak seorang pemuda tampan berumur 20-an melangkah mendekati kerumunan penduduk itu.
"Saya Erlangga utusan dari Padepokan Cahaya Surga. Datang bersama beberapa tabib dari padepokan untuk menolong penduduk yang keracunan". Erlangga menopang pinggangnya dengan penuh kebanggaan menyebut nama padepokan tempat dia berlatih.
Sebagian besar penduduk masih tertunduk. Mereka ketakutan untuk menjelaskan mengenai kesembuhan mereka, padahal penduduk sendiri yang mengundang tabib dari padepokan Cahaya Surga. Penduduk ketakutan jika pendekar yang datang akan marah karena setelah jauh mendatangi kampung mereka justru ada orang lain yang lebih dulu menyembuhkan mereka. Para pendekar biasanya memiliki gengsi yang besar karena kekuatan yang dimilikinya walaupun dia berasal dari Aliran Putih sekalipun.
Kepala kampung memutuskan maju menghadap kepada Erlangga dengan kaki yang gemetaran.
" Terima kasih Tuan Erlangga atas kebaikannya namun penyakit yang diderita penduduk telah disembukan wanita di sana". Dengan muka memucat, kakek tua itu menunjuk Isyana kemudian bersujud dihadapan Erlangga.
Rombongan anggota padepokan Cahaya Surga mengeram marah karena merasa di permainkan oleh penduduk kampung kecil. Mereka bahkan sampai membawa 3 tabib padepokan demi menghargai undangan Kepala Kampung. Mereka berpikir hanya mereka yang menerima undangan meminta bantuan itu.
Erlangga sebagai pimpinan sekaligus murid suci Padepokan Cahaya Surga bahkan lebih marah namun ketika melihat wanita yang ditunjuk oleh kepala kampung. Matanya bersinar dan tubuhnya bergetar. Dengan langkah percaya diri, dia mendekati Isyana. Arjunta yang melihat itu berdiri di samping Isyana
" Nona !!! Saya Erlangga, murid suci Padepokan Cahaya Surga, bolehkah aku mengenalmu ?". ucap Erlangga seakan mengalami cinta pada pandangan pertama. Identitas sebagai murid suci membuatnya banyak didekati wanita namun sejauh ini tidak ada yang berarti baginya. Entah apa yang ada pada Isyana, yang membuat Erlangga terkesima.
Isyana menaikkan kedua alisnya mendengar perkataan langsung Erlangga.
"Saya Isyana, Maaf saya yang telah menyembuhkan penduduk disini. Kalau begitu saya mohon pamit". Isyana menjawab polos kemudian meninggalkan Erlangga yang masih tersenyum dengan keanggunan Isyana.
Arjunta yang mendengar perkataan Isyana tidak kuasa menahan tawa kecilnya karena mengacuhkan salah satu pemuda terbaik di Kerajaan Kumbara.
"Apa yang kau tertawakan?". bentak Erlangga yang geram dengan penghinaan halus Arjunta.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat ke Kota Birawa". teriak Isyana kepada Arjunta yang masih bersitegang dengan Erlangga. Arjunta meninggalkan Erlangga yang masih dengan ekspresi kesalnya.
Kepala Kampung segera mendekat kearah Erlangga dan memohon maaf atas kelakuan Isyana dan Arjunta. Bagaimanapun Kakek tua itu tidak ingin ada perkelahian di wilayahnya.
"Baiklah Nona, kita akan bertemu lagi di Kota Birawa dan untuk kau pelayan, akan kubalas kau nanti". Erlangga mengajak semua rombongannya kembali karena kedatangan mereka sudah tak di butuhkan. Walaupun rombongan Padepokan Cahaya Surga sangat emosi tapi sebagai salah satu padepokan aliran putih terbesar di Kerajaan Kumbara, tidak etis jika mereka membantai penduduk biasa.
Sebenarnyan emosi Arjunta sedikit terpancing karena panggilan pelayan itu tapi Isyana menggelengkan kepalanya untuk menenangkan Arjunta.
Setelah kepergian rombongan itu barulah para penduduk bernafas lega. Kini mereka menyaksikan kepergian kelompok Isyana dan kelompok Erlangga dari arah berlawanan.
Isyana, Sena dan Arjunta melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan Isyana tertidur pulas sedangkan Arjunta terus menguap meskipun sedang menjadi kusir kereta.
Sena hanya terus bersemedi menyerap tenaga dalam. Gerbang tenaga dalam barunya akan terbuka sebentar lagi. Kecepatan ini berkat Cincin pusaka dan teknik pernafasan Amukan Surgawi yang mampu menyerap dan membuka gerbang tenaga dalam dengan cepat.
" Isyana !!! Lebih baik kita menginap kembali di hutan ini. Nampaknya ada hal aneh yang terjadi pada Sena". Arjunta melihat perubahan drastis pada tubuh Sena. Hembusan angin seakan berkumpul di tubuh Sena seperti pusaran.
Sena merasakan seluruh tubuhnya menyerap tenaga dalam dan mengalir ke pusat tenaga dalamnya. Ketika pagi menjelang Sena membuka matanya dengan kekuatan barunya.
"Tenaga dalamku sudah mencapai Pendekar Langit gerbang 2. Ini belum cukup mengalahkan pria berkumis itu". Sena mengingat janji nya kepada Pria besar berkumis yang tak lain Tumenggung Raharja.
Mata Sena melirik kearah Isyana yang sedang tidur.
"Sampai kapan saya harus melindunginya haaaa". Sena menarik nafas panjang. Janji tetaplah janji, Suka tidak suka, Rumit tidak rumit. Bagaimanapun keadaannya harus di jalani.
__ADS_1
Sena melanjutkan latihan fisiknya setelah mendapatkan kekuatan yang baru. Kali ini nampak Arjunta mengikuti kebiasaan Sena berlatih keras di pagi hari. Dirinya tidak ingin tertinggal jauh dari Sena yang baru berumur 16 tahun sedangkan dia sudah berumur 21 tahun namun masih pendekar Raja. Walaupun Pendekar Raja di umurnya sudah termasuk jenius di Kerajaan Kumbara.
Isyana menghampiri Sena dan Arjunta yang berlatih.
"Gerbang Kota Birawa hanya tinggal 2 kilometer lagi. Namun untuk masuk kekota kita harus punya tanda pengenal." Isyana khawatir kepada Sena dan Arjunta. Memang Kota Birawa sebagai Ibukota Kerajaan memiliki penjagaan yang sangat ketat terlebih terhadap pendatang baru yang ingin masuk ke Kota.
" Saya memiliki tanda pengenal" Kata Arjunta kemudian melirik wajah dingin Sena. Isyana langsung mengetahui jika Sena tak memiliki tanda pengenal melihat tingkah lakunya.
"Nampaknya tidak ada cara lain, Kita berdua masuk kekota terlebih dahulu. Saya akan meminta bantuan pamanku untuk membuatkan Sena tanda pengenal kemudian mengantarkan tanda pengenal itu kesini kembali. Gunakan tanda pengenal itu nanti jika ingin masuk ke Kota.".Ucap Isyana kepada Sena.
Arjunta tersenyum mendengar ide Isyana. Akhirnya dia memiliki waktu berduaan dengan Isyana. Sementara Sena hanya menunjukkan wajah kosongnya di hadapan Isyana dan Arjunta.
"Setelah saya bertemu Paman Giri. Janjimu terhadap Ayahku telah berakhir karena seterusnya paman Giri yang akan melindungiku". Dengan muka sedih Isyana kemudian melangkah ke Kereta bersama Arjunta.
"Jika saya masuk kota di mana saya menemukanmu?" Kata Sena yang menghentikan langkah Isyana.
"Pamanku Ketua Serikat Pendekar Sakti". Isyana tersenyum mendengar suara Sena kembali. Baginya Suara sena adalah sesuatu yang sangat langka melebihi Berlian. Tapi bukan hal itu yang paling ditunggu Isyana melainkan niat Sena untuk kembali menemui dirinya.
Arjunta yang terkejut, menoleh menatap Sena
"Apa !!!!! Jadi selama ini kamu tidak bisu ?" Arjunta berteriak seperti orang bodoh. Selama ini dia tertipu oleh Sena yang dikiranya pemuda bisu. Arjunta kesal memandang wajah dingin Sena yang tak menggubrisnya.
Isyana naik ke kereta dengan hati berbunga bunga. Sementara Arjunta seakan seperti orang bodoh yang tak tahu apa apa.
__ADS_1
"Apakah selama ini dia bisa berbicara" Arjunta bertanya kepada Isyana yang nampaknya sudah lama mengetahui hal itu.
" Dia bukan pria bisu tapi hanya pria dingin".