
“Bukkkk”
Benturan Tinju antara Sena dan Prajna mengakibatkan fluktuasi udara di sekitarnya. Kini pikiran Topeng emas itu tidak lagi berputar untuk merebut pusaka milik Sena melainkan bagaimana mengalahkan pemuda tingkat langit di depannya dengan cepat.
Walaupun di lindungi oleh aura kegelapan di seluruh tubuhnya, Sena juga merasakan sakit ketika tinjunya berbenturan dengan tubuh Prajna. Kekerasan tubuh milik Prajna adalah hal yang mengagumkan bagi Sena. Selama ini jika seseorang terkena pukulan yang di lapisi aura kegelapan maka tubuh lawannya akan menjadi mati rasa bahkan untuk pendekar tingkat tinggi sekalipun.
Bertukar jurus hingga puluhan kali tak membuat Prajna mengurangi kecepatannya. Asap yang keluar dari tubuhnya seakan mirip mesin uap yang terus memompa pergerakannya. Tendangan dan tinju saling berganti mengenai tubuh mereka berdua.
“Ahkkkkkkkk”
Sekian lama bertarung akhirnya Prajna mengeluarkan darah di mulutnya. Begitupun dengan Sena yang terlihat mulai kelelahan meskipun lukanya bisa sembuh dengan aura kegelapan.
Sial bagi Prajna, dalam menggunakan tubuh bajanya, dia memiliki batas waktu yang cukup singkat. Pikirannya dengan waktu itu, dia mampu menjatuhkan lawan tapi perkiraannya melenceng dimana Sena masih berdiri tegak.
“Apakah waktumu habis ?”.
Sena menatap dingin lawannya yang mulai kehabisan cara bertarung. Asap dan hitam tubuhnya mulai pudar seiring nafasnya yang semakin menderu. Sena berusaha tetap mendominasi meskipun sakit telah menjalar di seluruh tubuhnya akibat pukulan topeng emas didepannya.
Ingin rasanya dia menggunakan Pusaka cincinnya. Ketakutan muncul di pikiran Sena setelah melihat kemampuan tubuh hitam Prajna yang tidak terpengaruh aura kegelapan. Cincinnya bisa saja digenggam oleh Prajna yang bisa menjaga tenaga dalamnya tidak keluar dari tubuh baja yang di milikinya.
Prajna menyerang kembali. Sena yang sedikit lengah terkena pukulan di bagian dadanya. Tubuhnya terlempar dengan keras. Belum sampai tubuhnya mendarat di tanah, Prajna telah menghilang dan muncul di belakangnya.
Dengan tinju terkuatnya, dia berharap Sena bisa dikalahkan tapi sebelum tinjunya mendarat, Pemuda jubah merah itu memutar tubuhnya dan menahan tinju Prajna menggunakan kaki. Tumbukan tenaga dalam yang tersalur di kaki dan tangan kedua pendekar itu membuat keduanya kembali terdorong.
Sena berguling guling cukup jauh sedangkan Prajna semakin banyak memuntahkan darah. Perlahan tubuhnya kembali seperti semula. Topeng emas itu cukup lega karena lawannya setidaknya susah untuk bangkit kembali.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, Prajna berlari menghampiri Sena yang tak mampu bergerak lagi. Tetapi tubuhnya masih terus terselimuti aura kegelapan yang semakin besar.
Dengan menghilangnya tubuh baja setan miliknya, Bimbang hatinya mendekati Sena hingga dia kembali mengambil jarak dari aura kegelapan yang membungkus tubuh Sena.
__ADS_1
“Sial”
Prajna mengumpat memikirkan cara melumpuhkan Sena. Seandainya Tubuh bajanya bisa diaktifkan, dengan mudah dia bisa mengoyak tubuh pemuda didepannya.
Sena perlahan berdiri setelah luka dan tenaga dalamnya pulih. Tapi hal itu tidak diiringi fisiknya yang sudah mencapai batas.
“Kau benar benar iblis”
Topeng emas itu menggelengkan kepalanya dengan kemampuan penyembuhan Pemuda di depannya. Prajna memastikan bahwa ketika Sena memasuki tingkat pendekar suci maka dia akan menjadi pendekar terkuat di
Kerajaan ini.
Sena melemaskan seluruh ototnya untuk merangsang tubuhnya yang sudah kelelahan menggunakan aura kegelapan. Jika dia terluka kembali, mungkin tubuhnya tidak sanggup lagi menerima asupan tenaga dari aura kegelapan dan pusaka cincinnya.
“Tidak ada cara lain lagi”.
Sena menyipitkan matanya melihat tindakan Prajna. Sesuatu yang buruk nampaknya akan mengahmpirinya sesudah ini. Tapi sebelum Prajna menelan pil itu, Ada 3 orang yang mendekat dengan cepat.
***
Tumenggung Gunawa beserta 3 prajuritnya langsung menghampiri tubuh Putri Kerajaan. Dengan jubah hitamnya, Gunawa menutup tubuh Dewi Lasmini agar tak kedinginan. Pandangannya kini beralih kepada lawan Sena.
“Topeng emas”.
Tumenggung Gunawa tersentak mengingat bahwa orang yang menggunakan topeng emas adalah ciri ciri salah satu petinggi Padepokan Cakar Setan yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Menurut informasi setidaknya topeng emas itu berada pada tingkat pendekar suci gerbang kedua.
Topeng emas terlihat sudah sudah kelelahan, auranya yang semakin menipis menandakan tenaga dalamnya telah berkurang banyak. Kedatangan Tumenggung Kerajaan akan memperkecil ambisinya untuk tetap merebut pusaka milik Sena.
Tanpa menunda waktu, Prajna mengerahkan tenaga dalam tersisa untuk meninggalkan lokasi itu. Dengan cepat dia berbalik arah dan kabur namun Sena terlihat mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
“Si*l”
Tumenggung Gunawa yang baru bersiap untuk menyerang, mengumpat melihat buronan itu melarikan diri dengan cepat. Seandainya dia tidak memikirkan nasib putri kerajaan yang pingsan maka saat ini dia telah mengejar topeng emas. Suara tarikan nafasnya terasa berat menyaksikan kepergian Prajna dan Sena.
“Bawa Putri Lasmini kembali ke Perkemahan”.
Keempat orang itu bergegas kembai ke perkemahan dengan membawa Lasmini yang masih pingsan.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah terisi, Kecepatan Sena mampu melampaui Prajna yang mencoba melarikan diri. Setelah beberapa Menit, Sena telah mendahului Prajna hingga menghentikan laju topeng emas itu.
“Ternyata kau cukup bodoh meskipun memiliki kekuatan yang sangat hebat”. Prajna yang melihat Sena mengikutinya tersenyum bahagia. Dia berpikir untuk melarikan diri karena tak mampu mengalahkan 5 orang sekaligus. Tapi sekarang mangsanya yang di tinggalkan secara paksa malah mendekat kearahnya.
“Saya tidak akan melepaskan mangsa yang sudah hampir mati”. Sena membalas perkataan Prajna dengan Sombong. Meskipun tidak yakin mengalahkan Prajna dalam kondisi Prima namun dengan beberapa luka yang diderita topeng emas itu, maka Sena tidak ingin membuang kesempatan utnk melumpuhkan calon musuh terkuatnya di masa depan.
“Kubunuh kau”.
Prajna kembali melesat menyerang Sena. Pukulan pukulannya tetap kuat dan bertenaga meskipun tidak mengerahkan teknik tubuh bajanya. Sena hanya berusaha menghindari serangan Prajna dengan penuh konsentrasi. Dia khawatir tubuhnya tidak akan bertahan jika terkena beberapa pukulan dari Prajna.
Dengan Brutal, Prajna terus menyerang sambil menghindari serangan aura kegelapan yang di miliki oleh Sena. Tak pelak akhirnya kedua pedekar itu kembali terlempar setelah terkena masing masing serangan kuat di saat bersamaan.
Rasa sakit di tubuh Sena semakin menjadi. Kelelahan tubuhnya dan ketidakmampuan menampung tenaga besar yang di salurkan oleh aura kegelapannya membuat pandangannya menjadi gelap. Walaupun tenaga dalamnya masih banyak tapi seluruh otot dan aliran darahnya berdenyut kencng karena sudah melebih batas.
Prajna masih terlihat lebih baik walaupun tenaga dalamnya hampir habis. Kemampuan fisiknya memang yang terbaik diantara 3 topeng emas yang dimiliki padepokan cakar setan. Dia mengeraskan rahangnya melihat aura kegelapan yang menjengkelkan hatinya.
Dia berpikir menggunakan kembali pil setan merah yang dapat mengganti tenaga dalamnya yang hampir habis namun Nyai Genggong menginstruksiakn pil itu akan digunakan saat perang besar nantinya. Dengan sedikit kesal dia meninggalkan tempat itu beserta Sena yang masih mengerang kesakitan.
Pandangan kabur Sena menatap kepergian Prajna. Tubuhnya tidak kuat lagi dan membutuhkan istirahat penuh. Sebelum dia benar benar masuk kedalam kekosongan, suara liriihnya terdengar pelan.
“Cincin lindungi aku”.
__ADS_1