Legenda Cincin Penguasa

Legenda Cincin Penguasa
Siluman Kelelawar


__ADS_3

Arjunta menelan ludah melihat cara Sena melumpuhkan lawannya. Walaupun tidak mencabut nyawa lawannya secara langsung namun dia melumpuhkan pusat tenaga dalam dan seluruh sistem gerak lawannya.


Mungkin rasa sakit dan trauma yang di alami musuhnya akan terasa lebih menyiksa daripada langsung kehilangan nyawanya. Sena tak mempedulikan hal itu, Intinya dia tidak akan membunuh manusia tersebut karena janji yang selalu di jaganya.


Isyana yang sudah melihat Sena bertarung hanya menggelengkan kepalanya dan tidak mengerti kepribadian pemuda dingin itu. Semakin dia mengenal Sena, semakin banyak rahasia yang tidak bisa dia cerna.


Ketiganya meninggalkan kota Rando tanpa halangan apapun. Saat tengah malam mereka tiba di hutan gelap di perbatasan Kota Rando dan Kota Jawatkang.


Mereka bertiga setuju menginap di hutan sebelum melanjutkan perjalanan besok pagi. Selama perjalanan, Arjunta yang menjadi kusir tidak pernah tenang. Dia terus melirik Isyana yang duduk berhadapan dengan Sena. Untung saja Sena sepanjang jalan hanya duduk menutup matanya sehingga tidak ada interaksi berlebihan dengan Isyana.


Isyana baru menyadari bahwa mereka berada di pinggiran hutan Jawatkang timur yang menjadi sarang salah satu siluman yang di takuti di Kerajaan Kumbara. Walaupun itu hanya mitos karena kemunculannya tidak pernah terjadi lagi selama lebih dari 20 tahun.


Isyana sebenarnya ingin membicarakan tentang misteri hutan Jawatkang timur, tapi melihat Arjunta kelelahan, dia mengurungkan niatnya dan mulai beristirahat di bawah pohon yang telah di alasi tikar.


Sena mengambil posisi di atas diatas batuan besar. Tiada waktu terbuang yang tidak digunakan sena untuk latihan dan bersemedi menyerap tenaga dalam.


Arjunta yang paling kelelahan diantara mereka bertiga, langsung tertidur saat kepalanya bersandar pada batu.


Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata merah yang mengintai di balik sunyinya hutan Jawatkang Timur. Aroma darah Isyana menarik salah satu siluman di hutan ini.


Desiran angin malam dan hawa dingin hutan meresap kedalam pori pori kulit Sena yang masih terjaga. Dia mulai berdiri dari semedinya menatap kearah batuan besar.


" Hrrrrrrrrrr".


5 Kilat cahaya mendarat di depan batuan besar itu dan memunculkan kabut kemerah merahan. Sosok yang muncul seperti manusia bersayap hitam dan gigi taring yang panjang. Mereka adalah Siluman Kelelawar yang telah hidup di hutan ini selama ratusan tahun.


Arjunta dan Isyana yang terbangun segera mendekat kearah Sena setelah menyaksikan 5 sosok yang menakutkan memandangi mereka.

__ADS_1


" Ternyata kau menyadari kedatangan kami anak muda". Siluman Kelelawar yang nampak sebagai pemimpin kelompok maju menyeringai kearah Sena. Tatapannya terus mengarah ke arah Isyana.


" Serahkan gadis suci itu dan kami akan memberi kalian kematian yang cepat". Pemimpin siluman Kelelawar itu memberi tatapan yang mematikan kearah Sena dan Arjunta.


Sena memperhatikan keempat siluman itu mengeluarkan aura pendekar raja puncak sedangkan pemimpin siluman kelelawar setingkat pendekar kaisar gerbang 1.


Arjunta dengan sigap memegang kedua pedang pusakanya. Kali ini dia menatap Sena yang masih terdiam. Arjunta menyadari lawan di depannya lebih kuat di bandingkan dirinya, kali ini dia berharap banyak kepada kekuatan Sena.


Kelima Siluman kelelawar yang tak mendapatkan tanggapan dari ketiga manusia didepannya, menyerang terlebih dahulu.


3 Siluman menyerang dengan percaya diri. Arjunta maju terlebih dahulu menghadang 1 Siluman Kelelawar.


Arjunta melakukan serangan 2 pedang berputar yang membuat siluman itu mundur. Tebasan pedang yang dialiri tenaga dalam memang metode paling ampuh untuk mengalahkan siluman.


Arjunta yang memiliki tenaga dalam tingkat Raja gerbang 2, mampu memberikan perlawanan yang sengit terhadap siluman kelelawar.


Siluman Kelelawar yang menyerang Sena bahkan lebih parah. Mengira pemuda di depannya ketakutan karena tidak bergerak, Siluman Kelelawar itu tersenyum, sebelum matanya melotot karena Sena telah menghilang dan tiba tiba punggungnya terkena pukulan yang membuatnya terdorong kedepan dengan tulang punggung patah.


Siluman Kelelawar itu berteriak marah dan langsung berbalik ingin melihat siapa yang memberinya serangan dari belakang. Ketika berbalik, Sena sudah ada di depannya bersiap melakukan pukulan kearah dadanya.


Bukkkkkkk


Siluman itu terhempas. Sebelum mendarat nyawanya bahkan telah melayang. Pimpinan Siluman kelelawar kaget dengan kecepatan pemuda dingin di depannya. Dia dan satu anggotanya melesat menyerang bersama karena ragu tidak bisa membaca tingkat tenaga dalam Sena.


Sedangkan Arjunta telah memberikan beberapa luka kepada lawannya. Siluman Kelelawar mulai mengepakkan sayapnya terbang mengelilingi Arjunta. Dengan serangan jarum beracun yang keluar dari mulut siluman kelelawar, membuat arjunta kewalahan untuk menangkis dan menghindari jarum jarum kecil itu.


Melihat ada celah, salah satu Pedang Arjunta melesat menyerang Siluman Kelelawar yang terbang diatasnya. Siluman Kelelawar terkejut melihat pedang terbang yang menyerangnya.

__ADS_1


" Nampaknya aku mengenal teknik ini". Gumam Kelelawar itu menghindari tebasan pedang yang bisa bergerak sendiri. Melihat lawannya sibuk, Arjunta sekilas melihat keadaan Isyana yang baik baik saja.


Isyana masih berdiri di lindungi cincin yang mirip roda hitam itu. Tatapan Isyana mengarah kepada pertempuran Sena yang kembali berhasil membunuh 1 Siluman Kelelawar yang terjerat aura kegelapan. Siluman yang awalnya ingin menangkap isyana melesat membantu pimpinananya yang terdesak akibat kecepatan Sena dan akhirnya terkena pukulan dan terlempar.


" Bagaimana bisa kau sekuat ini dengan umur yang begitu muda?". Kata Pimpinan Siluman Kelelawar itu sambil memegang dadanya yang mati rasa akibat pukulan Sena.


Sena kembali menyerang seakan tidak memberi waktu kepada lawannya, Namun datang lagi 1 siluman yang menghalanginya dengan serangan jarum beracun. Beberapa jarum berhasil mendarat di tubuh Sena.


" Hahaha rasakan itu manusia". Siluman kelelawar itu tertawa penuh kemenangan dan meluncur ke Pimpinannya yang terluka.


" Lihat tubuhnya". Pimpinan kelelawar memperhatikan perubahan yang tak biasa di tubuh Sena. Perlahan jarum yang tertancap, bergerak keluar dan jatuh di tanah.


" Bagaimana Bi...sa...." .Siluman Kelelawar yang menyerang Sena melotot memperhatikan tidak terjadi apa apa pada tubuh Sena. Racun yang digunakan bahkan mampu melemahkan Pendekar Suci.


Tak mau membuang buang waktu Sena memanggil 2 cincin yang langsung meluncur ke arah 2 siluman yang masih mematung. Cincin cincin itu membesar dan masuk melingkari tubuh Kedua siluman itu.


"Akhhhhhhh"


Kedua Siluman kelelawar itu berteriak ketika cincin yang awalnya membesar melingkari tubuh mereka, kembali mengecil hingga tubuh mereka terpotong menjadi 2 bagian.


Isyana berteriak melihat Siluman kelelawar terpotong dengan darah biru yang mengalir deras dari potongan tubuh itu.


" Mengapa kau sangat kejam". Gumam Isyana menutup matanya setelah melihat betapa sadisnya Sena ketika membunuh.


Di sisi lain Arjunta juga berhasil membunuh lawannya setelah menyerang menggunakan 2 pedang terbangnya walaupun dia terluka cukup berat dengan beberapa jarum tertancap di lengannya.


" Isyana , Tolong aku ". Arjunta mencoba memanggil Isyana yang sedang menutup wajahnya. Beberapa saat kemudian Arjunta jatuh ketanah karena racun kelelawar yang mulai bekerja di tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2