
Anargaya dan Hastungkara masih terus melesat sambil melumpuhkan pendekar bertopeng hitam. Entah sudah berapa topeng hitam yang mereka bunuh namun belum melihat Topeng Perak dan ketua Padepokan Hutan Taruma.
Tidak lama terdengar pekikan menyayat hati tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Alangkah kagetnya saat mereka melihat ketua Padepokan Hutan Taruma telah terbaring dengan pedang tertancap didadanya.
Terlihat Topeng Perak berdiri di atas tubuh Ketua Padepokan Hutan Taruma sedang mencabut pedang miliknya. Darah menyembur seketika pedang itu dicabut. Dengan penuh amarah Hastungkara menyerang Topeng Perak yang masih
menikmati kemenangannya.
Topeng Perak sungguh terkejut dengan kedatangan kedua ketua padepokan aliran putih itu. Tidak mungkin teman temannya di kalahkan kedua pria tua ini. Ituah yang ada di pikiran topeng perak sekarang.
Anargaya langsung menuju tubuh temannya, namun nyawanya telah menghilang beberapa saat yang lalu. Gemuruh tangis seakan ingin keluar dari mulutnya, tapi keadaan saat ini tak mendukung. Anargaya kembali meletakkan
mayat ketua Padepokan Hutan Taruma. Mataya yang memerah memandang topeng perak yang sedang bertarung sengit dengan Hastungkara yang sudah terlihat marah.
Anargaya mengangkat kerisnya menyalurkan semua tenaga dalamnya yang tersisa untuk menghabisi lawan didepannya. Dia tidak lagi memikirkan bahwa di atas ketiga Topeng Perak masih ada Topeng Emas yang memiliki kekuatan yang sangat besar.
Topeng Perak sebenarnya mampu mendesak Hastungkara yang tidak berpikir logis lagi namun kepercayaan dirinya menciut melihat Anargaya juga memasuki pertarungan. Dengan sisa tenaga dalamnya dirinya tak yakin mampu mengalahkan kedua ketua Padepokan itu
Melarikan diripun sama dengan bunuh diri, karena saat ini Topeng Emas belum memerintahkan untuk mundur. Pertukaran jurus kian memanas meskipun tenaga dalam mereka bertiga hampir tak tersisa. Untuk kali ini ketahanan tubuh menjadi kunci utama memenangkan pertarungan ini.
Luka luka tak terasa telah menghiasi tubuh Topeng Perak. Darah juga sudah muncul di sudut bibirnya. Yang lebih parah saat ini tenaga dalamnya telah habis . Tiada lagi harapan bagi dirinya untuk keluar dari medan peperangan ini dengan selamat.
“Ahkkkkkkkk”
Tanpa pikir panjang, Pedang Topeng Perak bergerak menembus tubuhnya sendiri. Bunuh diri menjadi satu satunya bukti harga dirinya yang tinggi sebagai Pendekar. Walalupun cara itu dianggap pengecut tapi bagi Topeng Perak cara itulah yang membuatnya dapat menjaga kerahasian Padepokan Cakar Setan jika tertangkap nantinya.
Hastungkara dan Anargaya jatuh berlutut, mereka berdua berusaha menghimpun tenaga dalam untuk mengisi pusat tenaga dalam mereka yang telah terkuras akibat pertarungan panjang. Akhir perang kini mulai terlihat, di mana jumlah mayat lebih banyak di bandingkan orang yang masih bertarung.
__ADS_1
***
Wikrama menatap sejenak medan perang. Mata tajamnya seakan mengawasi semua kejadian di medan perang ini. Wikrama menggelengkan kepalanya ketika merasakan aura ketiga Topeng Perak yang ikut bersamanya telah tewas.
Mengumpulkan bawahan yang merupakan Pendekar tingkat Suci adalah hal yang amat sulit di Kerajaan ini. Hanya mereka yang memiliki bakat tinggi dan latihan yang keras yang mampu mencapai tingkat itu. Namun di perang yang hanya dianggapnya sebagai tugas kecil dari Nyai Genggong membuat sebagian besar pasukannya mati terutama ketiga Topeng Perak.
“Membunuhmu tidak akan menghapus kemarahanku”.
Wikrama menatap tajam kembali Sena yang masih berlutut mencoba mengobati racunnya dengan aura kegelapan, namun hal itu tak berhasil kerena racun yang masuk ketubuhnya merupakan racun kuat yang sedikit orang yang mampu membuat penawarnya.
“Tidak ada cara lain”.
Sena sebenarnya berusaha tidak menggunakan pusaka cincinnya. Bagaimanapun perang ini hanyalah perang kecil sebagai peringatan datangnya
gelombang perang besar. Dia tidak ingin seluruh kemampuannya di lihat oleh
anggota Padepokan Cakar Setan. Sejak awal Sena, bahkan tidak yakin mampu mengalahkan Topeng Emas. Rencana Sena hanya ingin membuat Topeng Emas mundur
Wikrama mengalirkan tenga dalamnya ke salah satu pisaunya. Pisau itu di lemparnya menuju tubuh Sena yang sudah tak bergerak karena racun.
“Tranggg”
Pisau Wikrama terlempar jauh. Muncul dua roda hitam yang berputar di depan Sena. Wikrama sangat terkejut karena mengetahui Sena masih memiliki sisa kemampuan yang di simpannya, padahal nyawanya sudah hampir melayang.
Satu cincin melingkari tubuh Sena. Sebuah aura yang keluar dari cincin, mengangkat tubuhnya hingga melayang di udara. Pemandangan itu merupakan hal mustahil dalam dunia persilatan melihat seseorang bisa melayang. Sekuat apapun seorang pendekar, tidak pernah terdengar atau terlihat manusia bisa melayang diudara.
Sena merasakan tubuhnya perlahan kembali ringan setelah racun di tubuhnya terserap bahkan cincin itu mengisi tenaga dalam Sena hingga penuh kembali. Dirinya menatap Wikrama yang sedang melongo di bawahnya.
__ADS_1
Meskipun Wikrama sudah hidup lebih dari setengah abad tapi kemampuan Sena saat ini membuatnya kagum sekaligus takut. Pikirannya saat ini mengatakan telah salah memilih lawan.
Kedua cincin Sena melesat menyerang tubuh Wikrama. Dengan mengandalkan satu pisau di tangannya, gerakan Topeng Emas itu dengan cepat menahan benturan cincin cincin besar itu. Lama kelamanan tubuhnya terus mundur karena desakan cincin besar itu.
“Apalagi ini, mengapa tenaga dalamku seakan cepat berkurang?”.
Wikrama menggerutu kembali merasakan kemampuan lain pusaka yang di miliki oleh Sena. Jika Nyai Genggong mengetahui hal ini, mungkin Sena akan menjadi target utama untuk merebut pusaka hebat yang di miliki Pemuda diatasnya.
Pikiran Wikrama sudah tak karuan meskipun mampu menahan serangan cincin besar itu, tapi jika terus berlanjut tenaga dalamnya bisa
habis.
“Saya harus melaporkan hal ini”
Wikrama mencari celah untuk melarikan diri. Dengan tenaga dalamnya yang tersisa , dia yakin masih mampu kabur tanpa ada yang sanggup mengejarnya. Dia juga mengetahui Sena masih belum pulih sepenuhnya, melihat
pemuda itu masih melayang bersama pusaka cincinnya.
Wikrama mulai memahami cincin berputar yang menjadi lawannya. Ketika Wikrama berniat menuju kearah Sena, cincin itu akan bergerak menutup gerak Wikrama. Dengan
tenaga dalamnya, pisau di tanganya di lemparkan menuju tubuh Sena. Dengan segera kedua cincin itu bergerak menahan laju pisau hitam itu
“Bummm”.
Pisau itu terjatuh dan sekejap semua orang sudah tak melihat Wikrama berada di tempatnya. Dengan kekuatan tenaga dalam Suci gerbang keduanya, memang hanya Sena yang mampu mengejar kecepatan Wikrama. Tapi tubuh pemuda itu masih lemah meskipun telah pulih dari racun.
Sena di turunkn secara perlahan. Walapaun racun ditubuhnya telah habis dan lukanya telah sembuh namun kondisi tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk meregenerasi tubuh bagian dalamnya yang tersentuh racun. Sena sempat tersenyum sebelum ambruk di tanah karena kelelahan.
__ADS_1
Dengan kekalahan Topeng Perak dan menghilangnya Topeng Emas di arena perang membuat semangat pasukan Padepokan Cakar Setan buyar, mereka tak berniat melanjutkan pertarungan. Dengan segera mereka mengangkat tangan dan berlutut berharap mendapatkan hukuman yang lebih ringan dibandingkan kematian.
Tidak ada sorak kemenangan di perang ini. Pimpinan Kota Taruma melihat lebih dari setengah prajurit Kota tewas begitupun dengan pihak Padepokan aliran putih yang kehilangan sebagian besar anggotanya terutama anggota Padepokan Hutan Taruma yang langsung berkumpul menangisi mayat ketua Padepokannya.