
Sena menepis tangan lembut Lasmini yang membelai wajahnya. Sena lalu menatap dingin Lasmini yang masih saja mengerayangi wajahnya seakan dia mangsa. Selama hidup baru hari ini dia mengetahui ada wanita cantik yang bar bar apalagi itu adalah putri kerajaan yang harusnya lembut dan anggun.
" Dia kebalikan dari Isyana". Gumam Sena yang mencoba mengintimidasi Lasmini dengan tatapan dinginnya. Namun apa yang terjadi malah Lasmini semakin terkekeh.
"Jangan mencoba menakutiku dan jangan jual mahal". Lasmini mencoba menggoda Sena yang terlihat lucu. Adu pandangan itu teralihkan ketika datang 3 sosok anggota serikat pendekar sakti yang dikirim oleh Ketua Giri.
"Hormat Tuan Putri, Maaf Menganggu". 3 orang yang datang mengenali Lasmini sehingga langsung bersikap hormat. kemudian pandangan mereka beralih ke Sena.
" Apakah anda teman Nona Isyana, kami utusan dari Serikat Pendekar Sakti". Ketiga orang itu langsung mengenal Sena dari ciri ciri perawakan dan pakaian yang di jelaskan Arjunta. Sena mengangguk dan bersiap menerima tanda pengenal yang di berikan oleh salah satu anggota Serikat Pendekar Sakti namun tangan Lasmini lebih dulu mengambil tanda pengenal itu.
"Arya Sena. Anggota Serikat Pendekar Sakti". Lasmini membaca dengan lembut tanda pengenal itu namun dengan kasar Sena merampas kembali tanda pengenalnya kemudian lekas meninggalkan Lasmini. Ketiga Anggota Serikat Pendekar sakti memberi hormat kepada Putri Lasmini sebelum mengantar Sena ke Gedung Serikat Pendekar Sakti.
"Kita akan bertemu kembali Sena". Lasmini berteriak kepada Sena dengan antusias. Sena yang mendengar hal itu hanya terus berjalan.
"Kita tidak akan bertemu lagi". Gumam Sena yang tak mengerti kepribadian Lasmini.
"Lasmini, kita ke Istana sekarang ". Pureswari menghampiri Lasmini dan mereka mengarah ke Kota Birawa. Pureswari dan Lasmini berjalan di belakang kelompok Sena hingga mereka berpisah karena berbeda arah ketika sampai di Kota Birawa.
"Apa lagi yang di rencanakan sang putri". Pureswari menggelengkan kepalanya melihat Senyuman Lasmini sepanjang jalan.
***
Sena menuju Gedung Serikat dan disambut oleh Giri Sawardhana dan Isyana. Isyana bahagia melihat kedatangan Sena yang dia kira akan kembali berpetualang ketika janjinya telah selesai.
Giri Sawardhana nampak tak percaya dengan cerita Isyana mengenai Sena. Bagaimanapun tidak ada sejarah yang membuktikan bahwa seseorang bisa mencapai pendekar Langit usia dibawah 17 tahun.
" Terima kasih Sena telah mengawal Isyana hingga kesini. Berapapun uang yang kau inginkan akan saya berikan?". Giri Mencoba meneliti kepribadian Sena. Namun Sena sejak kedatangannya tidak mempedulikan hal lain. Ada hal penting yang harus ditanyakan kepada Isyana.
__ADS_1
Isyana yang mengerti akan tatapan Sena. Meminta izin kepada pamannya untuk bicara berdua dengan Sena. Mereka berdua berjalan menyusuri taman belakang Gedung Serikat Pendekar Sakti.
"Apa yang ingin kau bicarakan?". Ucap Isyana yang merasa deg degan menunggu perkataan Sena.
Sena berhenti dan menatap isyana. Membuat wajah wanita itu memerah dan nafasnya memburu.
"Apakah Paman itu bisa menjagamu". Sena berkata dengan serius karena ini memperjelas janjinya terhadap Dewa Tabib.
Isyana Menghela nafas panjang dan tersenyum kecut mengetahui tujuan Sena berbicara 4 mata dengannya.
"Iya. Paman Giri adalah kakak Ibuku. Selama ini dia adalah laki laki yang paling menyayangiku setelah Ayah". Ucap Isyana yang sedang berpikir apakah pertanyaan itu karena pemuda dingin itu khawatir kepadanya atau karena janji yang telah dia buat dengan Dewa Tabib.
"Tak usah dipikirkan lagi, Sekarang janjimu terhadap ayahku sudah lunas". Kata Isyana lagi dengan Sendu. Sena mengangguk mendengar pernyataan Isyana.
"Baiklah, Aku Pergi". Sena kemudian melangkah meninggalkan Isyana yang masih mematung. Terlihat butiran air keluar dari matanya memandangi punggung pemuda dingin itu hingga tak terlihat.
"Dia telah pergi. Oh yah paman saya beristirahat dulu". Ucap Isyana mencoba untuk tetap tersenyum
Giri Sawardhana mengangguk mengerti keadaan Isyana. Sebagai Paman yang mengenalnya sejak kecil, Giri memahami perubahan sikap yang dialami keponakannya. Namun dia tidak ingin ikut campur urusan anak muda.
Giri hanya merasa sayang jika pemuda yang sangat berbakat seperti Sena tidak direkrutnya untuk memperkuat Serikat yang dipimpinnya. Apalagi saat ini era kekacauan mulai mengintai di Kerajaan Kumbara.
***
Arjunta sebelumnya meminta izin kepada Giri akhirnya sampai di istana kerajaan Kumbara. Dengan identitasnya sebagai Murid Suci Padepokan Kebenaran, bukan hal sulit dia masuk kedalam istana kecuali untuk memasuki bangunan Keluarga kerajaan.
Ditemani 2 prajurit kerajaan, Arjunta masuk kedalam ruangan yang memiliki hawa yang berat dan mencekam. Tentu saja karena di dalam ruangan itu sedang duduk 6 orang dengan kekuatan Pendekar suci yaitu Mahapatih Anom dan 5 Tumenggung Kerajaan termasuk Raharja.
__ADS_1
Arjunta menjura memberi hormat kepada 5 orang agung di hadapannya.
"Akhirnya kita bertemu lagi anak muda, ada urusan apa kesini?". Kata Raharja sambil memilin kumis panjangnya yang khas. Keempat Tumenggung lainnya terkejut karena Raharja mengenal murid suci Padepokan Pedang Kebenaran yang sangat tertutup sejak 20 tahun lalu bahkan menyangkut masalah kerajaan.
"Saya Arjunta, di utus oleh Ketua Padepokan Pedang Kebenaran untuk mengikuti Turnamen Kumbara Muda". Jawab Arjunta masih dengan posisi menundukkan kepala.
Mahapatih Anom yang berasal dari Padepokan Pedang Kebenaran tersenyum. Turnamen Kumbara Muda yang diadakan setiap 5 tahun ini merupakan turnamen yang paling bergengsi di Wilayah Kumbara. Setelah mengurung diri dari dunia persilatan sekian lama barulah tahun ini Padepokan Pedang Kumbara akan mengikuti lagi Turnamen ini.
"Akhirnya Pria tua itu mulai sadar akan perubahan Zaman". Gumam Mahapatih Anom yang terlihat paling tua diantara 6 orang didepan Arjunta.
"Baiklah nampaknya tahun ini saya akan ikut taruhan". Mahapatih Anom tersenyum memandangi seluruh tumenggung diruangan itu. Sudah bukan rahasia jika setiap turnamen Kumbara Muda diadakan. Semua Tumenggung akan mempertaruhkan banyak uang demi jagoannya. Pemenang juga bisa menyombongkan hal itu 5 tahun berikutnya.
"Hahahaha saya ingin tahun ini lebih menantang. Sudah 2 kali Murid Padepokan Bintang Emas menjadi Jawara". Kata Seorang Tumenggung berpakaian sutera emas menatap tajam kearah Arjunta.
"Saudara Raharja semoga kali ini jagoanmu tidak kalah babak awal lagi hahahhaha". Suara tertawa terdengar lagi dari Tumenggung berkepala plontos.
Tumenggung Raharja hanya tersenyum kecut. Dari seluruh tumenggung hanya dia yang tak memiliki Padepokan dan Kelompok karena sejak kecil dia hanya berlatih dengan gurunya kemudian menjadi Prajurit kerajaan. Pandangan Raharja berhenti pada Arjunta. Sejenak matanya melebar karena mengingat sesuatu.
"Arjunta, apakah pemuda bisu itu juga datang kekota ini? " Kata Raharja yang tak sabaran kepada Arjunta.
"Iya Tumenggung, mungkin saat ini dia berada di Gedung Serikat Pendekar Sakti". Arjunta langsung menjawab Pertanyaan Tumenggung Raharja.
Raharja tertawa seakan penuh kemenangan. Seluruh penghuni ruangan mengerutkan dahinya karena perubahan sikap Raharja kecuali Arjunta yang mulai menerka nerka keinginan Raharja.
"Nampaknya tahun ini jagoanku yang akan memenangkan turnamen ini hahahahhaha". Raharja tertawa membuat seluruh penghuni ruangan menatap aneh dirinya.
* Maaf terlambat.Akhirnya Viewnya mencapai 10 K. Terima Kasih 😊🙏
__ADS_1