
Istana Kerajaan Kumbara saat ini sedang gempar dengan kabar penyerangan Kota Taruma. Walaupun sudah sering menerima laporan penyerangan kelompok bertopeng tapi belum ada yang memiliki kapasitas serangan sebesar yang terjadi di Kota Taruma.
Terlihat Prabu Sanjaya Maharaja dan Mahapatih Anom sedang berdiskusi di ruangan khusus istana Kerajaan. Era peperangan telah kembali dengan dimulainya serangan terbuka yang di lakukan Padepokan Cakar Setan. Tinggal menunggu beberapa saat lagi Wanita Iblis akan menampakkan kedigdayaannya untuk menghancurkan pemerintahan Prabu Sanjaya Maharja.
“Tapi mengapa pemuda dingin itu ada di Kota Taruma?”.Kata Prabu Sanjaya heran.
Mahapatih Anom juga awalnya terkejut dengan kemunculan Sena di Kota Taruma padahal seharusnya saat ini pemuda itu berada di markas prajurit Kota Wanua. Namun Kedua petinggi Kerajaan itu bernafas lega karena tanpa bantuan dari Sena, Kota Taruma akan luluh lantah sebelum pihak Kerajaan datang membantu.
Prabu Sanjaya dan Mahapatih Anom terpanah akan cerita prajurit utusan dari Kota Taruma mengenai sepak terjang Sena di perang kali ini. Dengan kekuatan Langit gerbang kedua yang di milikinya pemuda dingin itu mampu membuat Pendekar Suci gerbang kedua mundur dari peperangan.
“Paduka Raja, Kita harus mengirim semua mata mata Kerajaan untuk mencari jejak dan rencana Padepokan Cakar Setan segera”.
Prabu Sanjaya mengangguk menyetujui usulan dari mahapatihnya. Perannya sebagai Raja akan teruji dengan beban peperangan yang tak bisa di cegah lagi. Dirinya berharap pria sepuh di depannya dapat sembuh dari sisa sisa racunnya segera. Kehadiran dan kekuatan Mahapatih Anom merupakan salah satu alasan Kerajaan ini damai selama 20 tahun ini.
Pikiran Mahapatih Anom melayang mengingat Nyai Genggong yang merupakakn wanita terkuat yang pernah menjadi lawannya. Jika untuk satu lawan satu dengan wanita iblis itu dengan kekuatannya sekarang, Mahaptih Anom tidak mungkin mampu mengalahkan bahkan memberikan luka parah kepada salah satu dari 3 orang yang paling di cari di Kerajaan Kumbara itu.
“Hormat paduka ! Rombongan Ratu Dewi Kenanga akan segera menuju padepokan Telaga Dewi”
Seorang prajurit datang melaporkan hal itu kepada Prabu Sanjaya. Kekacauan akhir akhir ini membuatnya hampir melupakan ulang tahun putrinya yang akan datang sebentar lagi. Dewi Lasmini yang tetap kekeh berlatih di Padepokan Telaga Dewi membuat Ratu Kumbara dan saudaranya harus menuju kesana untuk merayakah hari bahagia itu.
Ratu Kumbara tidak ingin putri kandung dari sahabatnya bersedih lantaran tidak mendapatkan bukti kasih sayang di hari lahirnya. Meskipun selama ini Dewi Lasmini bersifat acuh tak acuh dengannya namun Dewi Kenanga selalu mengkhawatirkan dan menyayangi Dewi Lasmini layaknya anak kandungnya sendiri.
Prabu Sanjaya sebenarnya dilema dengan keadaannya saat ini. Dirinya sangat ingin menatap senyum Putri Lasmini di saat ulang tahunnya tapi tugas sebagai pemimpin negeri membuatnya tidak bisa meninggalkan istana Kerajaan saat ini. Dengan pertimbangan yang matang dirinya melepas kepergian Ratu Dewi Kenanga dan kedua anaknya melakukan perjalanan keluar Kota Birawa.
__ADS_1
Dirinya cukup tenang karena rombongan itu akan di pimpin langsung oleh Tumenggeng Gunawa . Salah satu orang terkuat di istana sekarang ini. Terlihat kereta kuda megah keluar dari istana Kerajaan diiringi lebih dari
seratus pasukan Kerajaan dengan tingkat pendekar raja dan ada beberapa orang yang mencapai tingkat kaisar.
Prabu sanjaya tidak ingin mengambil resiko , mengingat 3 orang penting di hatinya akan melakukan perjalanan di tengah kondisi kacau balau saat ini.
***
Sena mulai mengantri di gerbang Kota Maranda. Entah mengapa Kota
ini terlihat memiliki pos pemeriksaan masuk yang begitu ketat. Antrian panjang
terlihat berderet di depan gerbang Kota ini.
Walaupun pihak Kerajaan telah mnyetujui hal itu tapi justru kehadiran banyak wanita di Kota Maranda membat Kota ini ramai di kunjungi oleh ratusan lelaki setiap harinya. Untuk menghindari penduduk yang membludak, kerajaan membuat larangan bagi pendatang laki laki tidak bisa menginap lebih dari 3 hari
tanpa alasan yang jelas. Namun banyak cara yang bisa di akali laki laki hanya untuk melihat kerumunan wanita cantik di Kota ini.
“Silahkan perlihatkan tanda pengenal dan tujuan kedatangan anda?”.
Kini giliran Sena mendapat pemeriksaan. Dirinya harus mengantri hampir satu jam lamanya. Prajurit penjaga gerbang agak dongkol dengan tindakan Sena yang masih duduk diatas kuda hitamnya padahal sedang berada di hadapan prajurit Kota Maranda. Prajurit Kota itu juga mau tidak mau sedikit bersikap sopan setelah melihat zirah yang di pakai Sena mirip dengan pakaian resmi prajurit tinggi Kerajaan Kumbara. Dia hanya mebutuhkan bukti jika ketakutannya salah maka Sena akan di permalukan di tempat ini.
Sena menyerahkan tanda pengenalnya yang berwarna merah. Mata prajurit penjaga itu melotot membaca tanda pengenal Pemuda diatas kuda itu.
__ADS_1
“Rakryaan Rangga Kerajaan””
Teriakannya mengundang perhatian seluruh barisan orang orang yang antri dan penjaga gerbang lainnya. Hatiya seakan melompat ketika mengingat hampir saja melakukan tindakan eksplosif kepada Rangga Kerjaan yang dianggapnya hanya pendekar yang memakai zirah mirip prajurit Kerajaan.
“Silahkan masuk Tuan Rangga””
Dengan tangan bergetar prajurit itu kembali mengembalikan tanda pengenal Sena. Beberapa pandangan terus mengarah kepada pemuda berjubah merah yang memasuki Kota Maranda. Entah apa tujuan kedatangan Rangga Kerajaan Kumbara tanpa di ikuti barisan prajurit Kerajaan.
Karena pengetahuan mengenai tubuh abadi masih minim, Sena akan tetap tinggal di Kota ini untuk menggali informasi . Sena langsung menuju penginapan yang terlihat sepi. Walaupun cara pandangnya akan beberpa hal mulai berubah namun jiwa tenangnya sudah mendarah daging ditubuhnya. Bukan dirinya
anti sosial melainkan selektif social. Ada beberapa masa yang membutuhkan suasana sunyi dan keadaan tenang seperti kebutuhannya saat ini.
Selama tiga hari Sena berada di penginapan, minim informasi yang diporelahnya. Menurut informasi, di Kota ini sebagian besar Pendekar muda berbakat berada di Padepokan Telaga Dewi. Padepokan ini hanya menerima murid perempuan dan merupakan salah satu pedepokan besar aliran putih.
Berdasarkan informasi pemilik penginapan juga, Sena menuju telaga yang berada di ujung Kota Maranda. Tempat itu merupakan kawasan terlarang karena berbatasan dengan wilayah Padepokan Telaga Dewi.
Keadaan di pinggir telaga itu sangat sunyi. Hanya sesekali kicauan burung mengusik desiran angin lembut telaga itu. Suasana seperti ini menjadi idaman bagi pikiran dan hati Sena. Tanpa membuang waktu dia menggunakan teknik pernafasan amukan surgawi untuk mengumpulkan tenaga dalam,mencoba membuka gerbang ketiga tingkatan Langitnya.
Hampir seharian penuh Sena melakukan latihan pernafasan itu. Hingga pekikan burung yang kembali kesarangnya mulai marak terdengar diatas kepalanya. Hari beranjak petang, Sena segera menghentikan latihannya. Melihat kumpulan air tenang tidak jauh darinya, muncul senyuman bahagia di wajah Sena.
Pemuda dingin itu melangkah untuk membasuh wajahnya yang kering. Baru saja dia mengambil air ke tangannya, tiba tiba terdengar teriakan perempuan di depannya….
“Ahhhhhhhhh”.
__ADS_1