
Sena memutar mata memandang semua orang di diepannya. Penonton eksekusi yang awalnya hendak melarikan diri, menghentikan niatnya setelah melihat pemuda berjubah merah itu tak menyerang sembarang orang bahkan aura kegelapannya hanya mempengaruhi orang orang yang di kehendakinya.
“Siapa kau sebenarnya?”.
Tuan Indra Takim maju untul menanyakan asal usul Sena. Pemuda didepannya terlihat memakai zirah Kerajaan sehingga membuat Indra Takim sedikit heran. Sebagai pejabat pimpinan Kota, dirinya tak pernah mendengar prajurit muda dengan kekuatan sehebat Sena.
Sena tak menggubris pertanyaan dari pimpinan Kota. Baginya, urusannya saat ini hanya memperjelas status anggota Padepokan Kelabang Ungu.Melihat ekpresi Indra Takim sedikit gelisah membuat Sena akhirnya mengetahui kekhawaritan Pemimpin Kota mengenai aturan dalam membebaskan tersangka. Penjelasan dari Ketua Padepokan Kelabang Ungu belum kuat untuk membebaskan tuduhan kepada mereka.
Matanya mengarah kepada anggota Padepokan Tongkat Sakti yang telah menyerah. Mata dingin Sena itu sekan menusuk kedalam hati mereka. Ketakutan sudah tak bisa dihindarkan dari pikiran mereka setelah merasakan bagaimana serangan pemdua dingin itu.
Dengan tatapan itu saja, akhirnya salah satu tetua maju dan menjelaskan kebenaran ucapan Ketua Padepokan Kelabang Ungu. Wajah pemimpin Kota menjadi geram setelah mengetahui bahwa dirinya di jadikan alat untuk menghukum orang tak bersalah.
Dirinya tak tinggal diam, dengan segera dia menyuruh seluruh prajurit menahan anggota Padepokan Tongkat Sakti. Hari ini menjadi akhir riwayat Padepokan Tongkat Sakti yang mengaku aliran putih padahal tindakanny mengalir kejahatan yang kelam.
“Terima kasih Pendekar muda telah membuka hati saya”.
Tuan Indra Takim tak sungkan menghargai tindakan Sena yang telah meluruskan keputusan bagi penduduk Kotanya. Tak lupa pula dia meminta maafkepada seluruh anggota Padepokan Kelabang Ungu yang menjadi korban fitnah dan berjanji memberikan ganti rugi atas tindakan cerobohnya.
Meskipun itu semua tidak sepadan dengan penderitaan yang mereka alami tapi terlihat senyum ikhlas dan gembira di wajah memar anggota Padepokan Kelabang Ungu. Setidaknya mereka masih bisa menjalani hidup dengan keluarga sekarang, setelah berpikir kematian yang akan menimpa mereka hari ini.
“Kalau begitu saya mohon pamit”.
Sena menoleh kearah anggota Padepokan Kelabang Ungu sebelum meninggakan tempat itu.
Pemimpin Kota Sanriga dan ketua Padepokan Kelabang Ungu tidak bisa mencegah kepergian Sena. Meskipun ingin rasanya mereka mengenal lebih jauh pemuda itu, tapi mereka tidak mungkin mampu mencegah kepergian Sena. Hati mereka kini telah lega setelah mendapatkan titik terang dari masalah ini.
Hanya Cempaka yang terlihat murung saat ini. Dia kini telah mengerti bagaimana cinta bisa tercipta dari pandangan pertama namun dia juga mengetahui batasan dirinya yang terlalu jauh untuk di sandingkan dengan pemuda berjubah merah itu melihat kemampaun bela diri dan kecerdasannya.
Sena tidak langsung melanjutkan perjalanan. Dirinya menyewa kamar di penginapan selama tiga hari untuk menenangkan pikirannya dan memperkuat pondasi tenaga dalam sebelum memasuki gerbang tenaga dalam ketiga.
Hari hari di laluinya sebagian besar hanya untuk latihan. Tak lupa pula dia membersihkan zirah dan jubahnya karena sudah terlalu lama di gunakan. Besok pagi dia berencana melanjutkan perjalanannya ke Gunung Arjuna.
__ADS_1
Malam ini Sena melakukan penyerapan tenaga dalam untuk persiapan perjalanan panjang. Semedinya terganggu setelah mendengar puluhan ledakan terdengar di gerbang Kota Sanriga. Jika Sena memusatkan tenaga dalam di
telinganya, dia bisa mendengar suara bahkan dari jarak yang cukup jauh. Sena segera memakai jubahnya dan melesat munuju asal ledakan.
***
Beberapa hari setelah kejadian pembebasan anggota Padepokan Kelabang Ungu, datang rombongan pria sepuh dengan baju penuh tambalan menuju kediaman pimpian Kota. Mereka adalah anggota Partai Pengemis yang di pimpin langsung oleh Ketua Pengemis bertongkat emas.
Jika orang awam di Kota ini melihat kelompok bertongkat , bisa saja mereka mengira itu adalah Pendekar Padepokan Tongkat Sakti yang beberapa hari lalu telah di hapuskan dari Dafar Padepokan aliran putih Kerajaan Kumbara.
“Apa gerangan yang membuat ketua Sudharta mengunjungi kediaman sederhana ini?”.
Tuan Indra Takim menaruh hormat begitu tinggi kepada Ketua Partai Pengemis itu. Bukan hanya karena posisinya yang tinggi di kelompok netral terbesar di Kerajaan Kumbara tapi karena kekuatannya yang termasuk 20 orang terhebat di Kerajaan Kumbara, bahkan ada yang menyebutnya masuk kedalam 10 besar.
Kedatangan Sudharta secara mendadak bukan tanpa alasan genting. Hal ini tekait pergerakan ratusan Hewan Buas kearah Kota ini. Besok adalah malam satu Sura dimana Hewan Buas membutuhkan darah untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Selama ini, Hewan Buas memiliki kemampuan yang hebat karena
Hewan Buas akan mencari mangsa, maka jangan heran jika setiap satu sura setiap
orang menjaga diri dari serangan Hewan Buas.
Sebagai pemimpin Kota tentu Tuan Indra Takim mengetahui tentang hal itu, tapi dirinya begitu terkejut karena kuantitas Hewan Buas yang menuju Kotanya begitu besar. Jika di logikakan dengan kuantitas sebesar itu, maka Hewan Buas itu memilki pemimpin yang berkualitas pula.
Pada saat gelombang serangan Hewan Buas sebelumnya, semua Hewan Buas bisa di kalahkan prajurit Kota dengan bantuan pihak Padepokan Tongkat Sakti dan Padepokan Kelabang Ungu. Kekuatan tertinggi Hewan Buas saat itu hanya berada pada tingkat kaisar yang jelas tidak lebih tinggi dibandingkan kepala prajurit dan petinggi padepokan di Kota Sanriga.
Ketua Sudharta mengetahui tentang berakhirnya riwayat Padepokan Tongkat Sakti yang jelas mengurangi bantuan bagi Kota Sanriga jika datang serbuan ratusan Hewan Buas. Kekhawatiran jelas muncul di wajah Indra Takim namun dirinya cukup lega mengetahui ketua Sudharta dan anggotanya akan membantu
melindungi Kota ini.
Jumlah Pengemis yang ikut ketua Sudharta hanya berjumlah 4 orang. Hanya satu yang terlihat muda. Dia adalah Rakai yang menjadi peserta 4 besar turnamen kumbara muda. Pemuda itu di persiapkan sebagai calon ketua Partai Pengemis berkat bakatnya yang tinggi dan sifatnya yang penolong.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Kepala prajurit Kota Sanriga mengumpulkan seluruh prajurit dan mengundang anggota Padepokan Kelabang Ungu yang masih bisa bertarung demi melindungi Kota Sanriga.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari terdengar deru langkah Hewan Buas menuju gerbang Kota. Burung yang baru saja mencari tempat istirahat terbang menghindari kumpulan Hewan Buas itu. Asap membumbung tinggi dan berbagai lolongan jelas terdengar membuat seluruh prajurit Kota bergidik ngeri.
Pasukan Pemanah terlihat berada diatas tembok pertahanan Kota Sanriga. Di tengah tengah pasukan itu nampak Pimpinan Kota, Pendekar Partai Pengemis dan Pendekar padepokan Kelabang Ungu yang ikut melindungi Kota mereka meskipun belum sembuh total dari luka sebelumnya.
Jauh di kepulan asap itu muncul berbagai sosok makhluk menyeramkan.
Di Langit terlihat ratusan Burung Hantu Buas, di daratan muncul Singa , Kadal
dan Gorilla berukuran besar. Mata mereka menyala di tengah kegelapan malam.
Mata tajam Sudharta menyipit setelah mengetahui kekuatan besar Hewan Buas tersebut.
“’Ada 4 Hewan Buas
yang setara dengan Pendekar Suci”
Semua orang yang bisa medengar perkataan ketua Partai Pengemis menelan ludahnya. Hanya mengandalkan kekuatan pasukan Kota sekarang, tidak mungkin mereka bisa bertahan dari serangan Hewan
Buas tingkat Suci itu. Di pihak Kota Sanriga saat ini hanya Ketua Sudharta dan
satu pelindung Partai Pengemis yang memiliki kekuatan Pendekar Suci.
“Goarrrrrrrrrr””
Auman Singa menggema di Langit malam pertanda di mulainya serangan Hewan Buas. Semua pemanah segera melesatkan panah besarnya untuk menyerang gerombolan Hewan Buas itu. Puluhan pekikan Hewan Buas tak menghentikan laju serangan itu.
Sedangkan puluhan prajurit dan Pendekar segera turun berhadapan langsung dengan gelombang serangan Hewan Buas setelah melihat serangan panah hanya sedikit berdampak pada hewan Buas itu.
Puluhan ledakan terjadi akibat benturan perang itu.
__ADS_1