
Di Kota Birawa nampak Isyana sedang bergelut dengan berbagai tanaman obat yang akan diolahnya menjadi obat dan penawar racun.
Beberapa hari yang lalu datang utusan kerajaan yang akan mengangkatnya menjadi tabib istana namun Isyana menolaknya secara halus, karena terlebih dahulu harus mengembangkan kemampuannya dan membantu perkembagan Serikat Pendekar Sakti milik pamannya.
Dengan kemampuan Isyana, pihak kerajaan memintanya secara khusus membuat penawar untuk membersihkan racun yang sejak lama bersarang di tubuh Mahapatih Anom. Walaupun racun yang diderita sudah tidak mengancam nyawanya namun racun itu sedikit demi sedikit mengurangi kemampuan Mahapatih Anom yang sangat di butuhkan di Kerajaan ini.
Sedangkan Dewi Lasmini kembali ke Padepokan Telaga Dewi untuk melanjutkan latihan dengan bimbingan langsung Ketua Padepokan Telaga Dewi.
Ketua Padepokan Telaga Dewi bahkan terkejut melihat semangat murid sucinya itu untuk mengembangkan tenaga dalamnya. Kini dia berlatih keras melebihi semua murid yang ada di padepokan itu.
Meskipun mencapai Pendekar Raja di usia muda, nyatanya dulu Dewi Lasmini sangat malas berlatih. Namun kerena memiliki anugerah Tubuh Abadi maka perkembangannya tidak bisa di bandingkan dengan tubuh manusia lainnya.
Tubuh Abadi ini membuat perkembangan tenaga dalam Lasmini berkali kali lipat di bandingkan orang lain. Tapi ada satu bahaya besar yang belum di ketahui Prabu Sanjaya Maharaja, Mahapatih Anom, dan Ketua Padepokan Telaga Dewi mengenai tubuh abadi ini.
***
Puluhan Prajurit membantu menguburkan jasad penduduk dan memperbaiki kondisi perkampungan yang hampir hancur itu.
Rangga Bagaskara memijat keningnya melihat tumpukan bandit yang mengerang kesakitan. Sebagian dari mereka bahkan lumpuh karena tulang kaki dan tangan mereka patah.
"ini bahkan lebih kejam dari pembunuhan".
Bandit umumnya tidak memiliki keluarga sehingga jika keadaanya sudah lumpuh seperti ini tak ada yang bisa lagi di harapkan untuk kelangsungan hidupnya.
Bagaskara menghampiri Sena yang bersandar di pohon besar. Ada perasaan segan ketika melihat pemuda dingin itu.
"Sena, kita sudah mengetahui markas bandit itu". Bagaskara menjelaskan tentang kelompok bandit yang mereka tangkap. Setelah melakukan introgasi, Bagaskara mengetahui gambaran mengenai kekuatan kelompok bandit yang akan mereka serang.
Kelompok Bandit itu bernama Serigala Api. Salah satu bandit besar yang menguasai wilayah pinggiran Kota Wanua. Walaupun tidak termasuk kelompok bandit terbesar namun kedua pimpinan mereka memiliki tenaga tingkat langit dan sisa anggotanya berkisar 100 orang.
__ADS_1
Awalnya Bagaskara akan mengirim prajurit mata mata untuk meminta bantuan di markas cabang kota Wanua namun melihat ekspresi Sena yang tak mempermasalahkan kekuatan lawan mereka. Bagaskara membatalkan hal itu dan terlebih dahulu meminta pendapat Sena.
"Kita akan serang malam ini". Kata Sena menatap Bagaskara yang terlihat tak yakin dengan pendapatnya. Namun Bagaskara mengikuti keinginan Sena karena mengetahui Sena bahkan mampu bertarung lama dengan Tumenggung Raharja.
Menjelang malam, 90 Pasukan Rangga Bagaskara berkumpul untuk menyerang markas Serigala Api. Sisanya tetap di perkampungan ini untuk menjaga tawanan bandit.
Perjalanan ini di lakukan tanpa menunggangi kuda karena mereka harus mengendap endap untuk menyerang markas bandit secara mendadak.
Mata Sena memandang markas bandit serigala api yang terdiri atas tenda tenda besar yang terletak di sebuah lembah berbatu. Markas ini dikelilingi oleh tembok kayu yang kelihatan rapuh. Terdengar banyak bandit sedang menyiksa tawanan yang sudah tak berdaya.
"Tunggu disini". Sena langsung melesat sendiri menuju markas itu.
Bagaskara terkejut melihat Sena telah menghilang padahal baru beberapa detik yang lalu suaranya terdengar.
Dengan sigap dia mengatur pasukannya untuk memberikan serangan mendadak jika Sena terdesak.
"Hei siapa kamu ?". Salah satu bandit penjaga gerbang melihat Sena berjalan mendekatinya.
Belum sempat bandit itu mencabut pedangnya, Tubuhnya sudah terlempar hingga menghancurkan pintu gerbang markas itu.
Seluruh bandit mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda berjubah merah, pemuda itu masuk melangkahi tubuh bandit yang sebelumnya terlempar
"Kurang aj*r, berani sekali membuat masalah di markas Serigala Api". Teriak bandit bertubuh kurus berlari menyerang sena dengan Golok besarnya.
Golok besar itu bergerak menebas pinggang Sena yang masih menatap dingin semua bandit didalam markas ini.
"Krakkkk"
Golok besar itu retak dan pecah. Sebelum retakan golok menyentuh tanah, tubuh pemiliknya telah terlempar meruntuhkan satu tenda kecil. Semua bandit kaget melihat pertahanan tubuh dan kecepatan yang di miliki pemuda dingin didepan mereka.
__ADS_1
Belum habis keterkejutan mereka, Sena langsung meluncur memberikan pukulan pukulan yang menghantam tubuh para bandit.
Satu persatu bandit terlempar karena kerasnya serangan Sena. Nampak markas yang tadinya di penuhi suara tawa kini berubah menjadi suara teriakan.
Kekacauan di luar tenda membuat dua pimpinan Bandit serigala api menjadi marah. Padahal mereka saat ini sedang istirahat setelah menikmati arak dan makanan hasil jarahan.
Sedangkan Rangga Bagaskara dan seluruh perajurit mencoba menahan pergerakan untuk menyerang. Dari tempat mereka jelas terdengar banyak teriakan teriakan penderitaan bandit akibat serangan Sena.
"Nampaknya anak itu kembali membantai bandit itu". Ranggaa Bagaskara tersenyum mengingat cara Sena melumpuhkan lawannya.
Dia memberikan aba aba bersiap kepada semua pasukannya untuk maju menyergap bandit yang akan melarikan diri dari dalam markas.
Sena terus beraksi di tengah kepungan bandit. Tak perlu waktu lama setengah bandit sudah terkapar dengan berbagai posisi. Aura kegelapan Sena menjalar membentuk dua lengan panjang yang menyelimuti tubuh para bandit.
Semua kondisinya sama, dimana pusat tenaga dalam mereka hancur setelah tenaga dalam terserap habis. Bahkan ada beberapa bandit yang mengalami patah tulang di berbagai bagian tubuhnya.
Kejadian ini berlalu sangat cepat, menyebabkan sisa bandit yang ketakutan, mencoba melarikan diri menghindari amukan Sena. Namun naas, setelah keluar dari pintu gerbang, pasukan Rangga Bagaskara telah siap membantai mereka.
2 Pimpinan Bandit Serigala api terkejut melihat kekacaun yang terjadi di markasnya. Bahkan beberapa bandit yang memiliki tenaga dalam tingkat Raja dan Kaisar telah terbaring penuh penderitaan.
Tatapan mereka mengarah pada pemuda yang melesat keberbagai arah sambil menerbangkan bandit bandit yang menyerangnya. Salah satu pimpinan menjadi geram melihat tindakan pemuda itu.
Dia langsung menghadang sena dan menyerangnya menggunakan kedua pisau beracun di tanggannya. Sena memghindari tebasan tebasan pisau berlumur racun itu.
"Kubunuh kau bocah". Teriak pimpinan bandit serigala Api yang terlihat seperti wanita berumur 60 an. Pimpinan ini memiliki tingkat tenaga dalam tingkat langit gerbang 2.
Dengan pandangan meremehkan, Wanita tua itu menyerang Sena. Berbagai serangan dia lancarkan namun tak ada satupun yang menggores tubuh sena.
"Tidak mungkin kekuatan bocah ini berada di tingkat langit". Pimpinan laki laki bandit Serigala Api itu melesat membantu kekasihnya yang terlihat frustasi menyerang Sena. Serangan serangan menghujani tubuh Sena namun dengan mudah di hindari.
__ADS_1
Sena mundur sejenak melihat 2 orang menyerangnya dari arah berlawanan. Dirinya tersenyum karena menganggap 2 orang ini terlalu lemah walaupun memilki tenaga dalam tingkat langit.
"Terlalu lemah". Sena tersenyum memandangi pasangan bandit yang menyerangnya sambil menggelengkan kepalanya.