
Isyana segera berlari menghampiri Arjunta yang nafasnya mulai melemah.
"Gawat, Racun ini sangat berbahaya". Isyana berlari kembali ke arah kereta untuk mengambil kotak obat dan jarum. Sebagai anak Dewa Tabib tentu Isyana mewarisi kemampuan pengobatan ayahnya.
Dengan lihai dan tenang, Isyana menusukkan beberapa jarum untuk menghentikan penyebaran racun di tubuh Arjunta kemudian mengusapkan ramuan obat pada titik yang terkena jarum racun kelelawar.
"Saya telah menghentikan penyebaran racunnya namun kita perlu kekota secepatnya untuk membeli bahan untuk membuat penawar racun kelelawar ini". Isyana menatap Sena yang mendekat kearahnya. Keterbatasan bahan - bahan membuat Isyana tidak bisa meramu penawar racun untuk Arjunta. Apalagi saat ini sudah larut malam.
Sena yang memiliki sifat acuh terhadap orang orang, sejenak mengingat beberapa kebaikan yang Arjunta lakukan untuknya. Jika ada orang yang baik kepadanya, Sena akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar. Namun ketika seseorang menganggu dan jahat kepadanya, Sena akan memberinya penyiksaan dan pembalasan yang lebih pedih.
Sena melakukan hal yang sama ketika menyerap racun Tungga Wijaya. Hanya beberapa menit seluruh racun yang di dalam tubuh Arjunta terserap dan perlahan nafasnya mulai teratur.
Isyana kembali terkesima dengan kemampuan Sena. Dia berpikir seandainya ayahnya lebih cepat bertemu dengan Sena, mungkin saja racun seribu warna bisa di serap seutuhnya.
" Sena mungkin tidak akan pernah membutuhkan kemampuanku" . Ucap Isyana memandangi Sena yang mulai mengangkat tubuh Arjunta kedalam kereta.
"Kita pindah dari sini". Ucap Sena meletakkan tubuh Arjunta. Aroma darah siluman kelelawar akan mengundang hewan buas dan siluman lainnya sehingga mereka harus segera meninggalkan tempat ini.
Isyana segera mendekat tapi melihat Sena yang masih tertunduk didepan kuda membuatnya mengerutkan keningnya. Barulah beberapa saat dia mengerti akan sikap aneh Sena.
" Biar saya yang menjadi kusir ". Kata Isyana sambil tersenyum bahagia.
" Akhirnya ada yang bisa kulakukan untuknya". Isyana sepanjang jalan terus tersenyum. Sesekali dia menengok kebelakang memperhatikan 2 pria di belakangnya. Arjunta sedang tertidur pulas sedangkan untuk Sena, sepanjang jalan terus tertunduk entah malu atau berpikir sesuatu.
__ADS_1
Ketika jarak mereka sudah jauh dari tempat pertarungan sebelumnya. Isyana menghentikan kereta untuk melanjutkan istirahatnya. Jaraknya dengan kota Jawatkang sangat dekat namun dia tidak ingin menarik perhatian pejaga gerbang kota karena datang larut malam.
*****
Kicauan burung sikatan merdu mengiringi hembusan angin. Embun pagi meresap hingga mengetuk mata Arjunta yang mulai tersadar.
Arjunta melihat sekelilingnya berbeda dengan lokasi pertempuran semalam. Terlihat Isyana masih berbaring di bawah pohon besar sedangkan Sena sudah berlatih di tempat yang agak jauh.
"Apa yang terjadi semalam". Arjunta memegang kepalanya mencoba mengingat situasi setelah pertarungan dengan Siluman Kelelawar.
"Kau sudah baikan ? ". tanya Isyana mengagetkan lamunan Arjunta.
" Ehhhh iya saya sudah lebih baik. terima kasih telah menyembuhkanku". Ucap Arjunta dengan lembut. Dia meyakini bahwa Isyana yang telah menyembuhkannya. Kemampuan pengobatan Isyana memang tidak diragukan karena langsung belajar dari seorang Dewa Tabib.
" Bukan aku yang menyembuhkanmu tapi dia". Isyana menunjuk kearah Sena yang sedang berlatih.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Kota Jawatkang. Sena dan Arjunta berhasil lolos dari penjagaan gerbang karena identitas Isyana sebagai Anak Dewa Tabib.
Perjalanan mereka terus berlanjut hingga sampai di pinggiran Kota Jawatkang. Kota Jawatkang ini adalah wilayah yang berbatasan dengan Ibukota Kerajaan Kumbara bagian timur.
Kota ini terkenal karena tempat berdirinya salah satu padepokan terbesar di Kerajaan Kumbara yaitu Padepokan Cahaya Surga yang terkenal dengan teknik pertahanannya.
" Kita akan menginap di sini". Kata Isyana kepada Arjunta yang telah menjadi kusir kembali. Isyana berpikir tidak baik jika kita menginap di hutan, apalagi matahari akan segera terbenam.
__ADS_1
Di tempat itu mereka bisa melihat hamparan sawah yang luas dan puluhan rumah yang berjejer rapi di pinggir sungai. Sepanjang jalan mereka hanya mendengar rintihan penduduk di dalam rumah.
Isyana menyadari keanehan di perkampungan ini akhirnya menuju rumah kepala kampung. Untunglah rumah kepala kampung mudah di temukan karena terdapat papan nama di depan rumahnya.
Arjunta dan Sena hanya terus berjalan mengikuti Isyana yang masih sibuk dengan rasa ingin tahunya. Setelah beberapa lama mengetuk akhirnya muncul Kakek berambut putih. Kakek itu mundur beberapa langkah dengan raut muka yang pucat.
"Maaf Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?". Kakek itu mencoba berbicara walaupun nampak lemas.
"Kami hanya pengelana kek, Sebenarnya apa yang terjadi dengan penduduk di sini? Sepanjang jalan saya mendengar banyak rintihan kesakitan". Tanya Isyana yang semakin penasaran melihat raut muka kakek di depannya.
Melihat keteguhan hati wanita muda didepannya, kepala kampung itu menceritakan perihal keanehan di kampung yang bernama tandeang ini.
3 hari yang lalu penduduk kampung mengalami keracunan dengan gejala muntah muntah dan sering buang air besar. Hampir setengah penduduk di kampung ini mengalami gejala yang sama. Pihak Kampung telah mengirim utusan untuk meminta bantuan 2 hari yang lalu kepada pimpinan kota Jawatkang dan Padepokan Kuil Cahaya yang memiliki puluhan tabib. Namun bantuan tak kunjung datang.
"Kek !!! Bisakah saya memeriksa penduduk disini, kebetulan saya mengetahui gejala yang seperti Kakek sebutkan". Isyana yang mengerti gejala gejala yang di jelaskan kakek tua itu menawarkan diri untuk memberikan pengobatan. Awalnya Kakek tua itu menolak karena mengira penyakit ini menular tapi mengingat keadaan penduduknya yang mengkhawatirkan, Kakek tua itu menganggukkan kepalanya penuh rasa terima kasih.
Isyana mulai memeriksa beberapa penduduk yang datang karena panggilan Kepala kampung. Isyana meramu obat untuk di minum semua penduduk yang keracunan. Untung bahan bahan yang dibutuhkan tersedia di balai obat di kampung itu dalam jumlah banyak.
Hampir 60 penduduk terjangkit penyakit ini. Dengan tekun isyana meramu obat tanpa henti hingga pagi menjelang di bantu oleh Arjunta. Sedangkan Sena hanya bersemedi sepanjang malam.
Pagi hari di Kampung Tandeang, Puluhan penduduk berkumpul di rumah Kepala Kampung. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Isyana dan Arjunta karena mengobati mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka membawa uang sebagai imbalan namun di tolak oleh Isyana. Arjunta dan penduduk semakin kagum dengan sosok wanita cantik dan berhati malaikat ini.
"Mulai sekarang usahakan tidak membuang kotoran dan buang air besar di sungai karena bisa menimbulkan penyakit pada usus jika masuk kedalam perut". Isyana menjelaskan kepada penduduk Kampung tentang penyebab penyakit yang menyerang penduduk Tandeang. Pola hidup bersih harus di terapkan terutama pemanfaatan air sungai. Seluruh penduduk yang mendengar tertunduk malu karena ternyata mereka sendiri yang mengundang penyakit ini.
__ADS_1
Sena yang mengambil tempat agak jauh dari keramaian untuk bersemedi tiba tiba membuka matanya.
"Ada yang datang". Gumam Sena mulai berdiri.