
Isyana terus tersedu - sedu menatap ayahnya. Entah apa inti percakapan mereka, yang jelas saat ini Tungga Wijaya menikmati saat - saat terakhirnya bersama putri tercintanya.
Sena berjalan masuk menatap kedua orang itu tanpa di sadari. Hingga Isyana tersadar bahwa orang yang di tunggunya telah datang. Isyana segera berlari menghampiri Sena.
"Sena, Maafkan aku". Isyana menundukkan kepalanya sambil meremas tangannya. Dia teringat akan kata - kata kasar yang di layangkan ke Sena.
Sena hanya melewati Isyana menuju Tungga Wijaya. Tujuannya saat ini adalah menyampaikan pesan gurunya.
" Nak, Terima kasih telah menolong anakku dan memberiku waktu untuk bisa bertemu anakku kembali". Tungga Wijaya berbicara dengan tulus. Isyana telah menceritakan semua hal sejak pertemuannya dengan Sena hingga cara sena menyerap racun di tubuhnya.
" Saya Murid Jaya Bhaya, Ingin membalas budi atas nama Guruku". Tanpa basa basi Sena sedikit membungkuk dan mengutarakan tujuannya.
Tungga Wijaya sangat terkejut mendengar pernyataan Sena. Pikirannya melayang mengingat saat dia menolong seorang pendekar yang terluka parah dengan pusat tenaga dalam yang hancur. Dengan seluruh kemampuannya, Tungga Wijaya merawat orang itu hingga sembuh meskipun pusat tenaga dalam yang hancur tidak bisa di sembuhkan.
__ADS_1
Orang itu terus memohon kepada Tungga Wijaya untuk mengutarakan permintaannya karena dia tidak suka berhutang budi kepada seseorang apalagi ini menyangkut nyawanya. Orang yang dimaksud adalah Jaya Bhaya.
" Semua hal yang telah kau lakukan sudah melebihi hutang budi gurumu nak, bahkan tak sedikitpun saya mengharapkan balasan setiap saya mengobati seseorang". Dewa Tabib kembali menatap sena. Dia sejenak menatap Isyana yang berdiri di belakang Sena. Bukan dia takut meninggalkan dunia ini namun pikirannya berat meninggalkan anak gadisnya terlunta lunta di dunia yang kejam ini.
"Mungkin Ini Takdir". Gumam Tungga Wijaya dalam hatinya. Walaupun tak pernah mengharapkan balas atas segala jasanya namun saat ini dia membutuhkan pertolongan seseorang demi putrinya.
" Nak apakah kamu akan melakukan apapun jika saya punya permintaan ? ". Kata Tungga Wijaya menatap dalam wajah Sena. Sena tanpa ragu mengangguk. Bahkan jika Sena di minta untuk menyerahkan nyawanya, akan dia lakukan untuk mematuhi amanah gurunya.
"Bisakah kamu menjaga anakku Isyana sampai dia mendapatkan seseorang yang bisa menjaganya?". Ucap Tungga Wijaya sambil menarik nafas panjang dan menanti jawaban Sena.
Sena hanya bisa mengangguk atas permintaan itu. Walaupun dia berpikir amanat gurunya akan lebih panjang dari perkiraannya.
Tunggga Wijaya tersenyum melihat rasa tanggung jawab Sena yang besar akan amanah gurunya. Kini hatinya sedikit tenang dengan perlindungan anaknya kelak.
__ADS_1
Tiba tiba Tungga Wijaya merasakan efek racun seribu warna yang telah menjalar keseluruh tubuhnya melalui pembuluh darah. Tubuhnya kejang - kejang dan matanya melotot mengeluarkan darah.
Isyana berlari memegang tangan ayahnya. " Ayah apa yang terjadi ? bertahanlah". Isyana berteriak melihat kondisi ayahnya. Dia berbalik dan memegang kaki Sena.
" Tuan Sena, Tolong selamatkan ayahku, Saya bisa melakukan apapun untuk anda". Isyana terus memohon kepada Sena tanpa mempedulikan maksud ucapannya.
Sena segera mengeluarkan cincin pusakanya.
"Tidak Usah Nak, Racun ini sudah tidak bisa di sembuhkan lagi, karena seluruh organ tubuhku telah terjangkit. Saya hanya berharap kamu menepati janjimu". Ucap Tungga Wijaya terbata bata menatap Sena. Kini tatapannya beralih ke Isyana yang masih terus menangis menggenggam tangannya.
" Nak, Semoga kamu bisa bahagia". Tungga Wijaya mengusap rambut putrinya sambil menahan sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Hingga beberapa saat dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Teriakan dan tangisan isyana semakin menjadi. Tubuh Tungga Wijaya kini kaku akibat ganasnya racun yang menyerangnya.
__ADS_1
Tumenggung Raharja dan Arjunta yang baru sampai, termenung melihat kematian Dewa Tabib. Pikiran Tumenggung Raharja kacau karena belum sempat menuntaskan tugas yang di berikan Sang Raja, hingga dia teralihkan ketika melihat sosok yang selalu membuatnya bersemangat.
"Ternyata ini urusan penting pemuda bisu itu". Tumenggung Raharja menatap Sena yang berdiri di dekat mayat Tungga Wijaya.